
Sudah 3 hari sejak Aisya dilarikan ke rumah sakit, ia masih belum sadarkan diri.
Dokter bilang jika kondisi Aisya sudah stabil sejak melakukan operasi, meskipun ia belum dipindahkan dari ruang HCU namun ia bisa dijenguk satu kali dalam sehari.
Sekolah mendadak sepi bagi Ernest dan kawan-kawan. Beberapa kali polisi mendatangi sekolah untuk melihat tkp dan keterlibatan Caroline, *yap*! Sejak Ikhwan dan grandpa menaikan kasus ini ke meja hijau, selain dari supir angkot...Caroline ikut terseret menjadi tersangka anak.
Grandpa menjadi backingan keluarga Aisya menghadapi keluarga Caroline, maka papa Edo tak bisa melakukan apapun hanya bertindak netral saja.
"Nest, dipanggil pak Wage..." ujar Gibran.
"Sip!" ia melempar bola basket ke arah Coki, "Ki, gue ke ruang guru dulu!" pemuda ini menyugar rambutnya yang klimis karena keringat.
"Oke!" diokei Coki, Ernest menyambar seragam putih dan memakainya.
Ia berjalan menelusuri beberapa anak tangga menuju ruangan guru diiringi sapaan teman lainnya.
"Assalamu'alaikum," Ernest mengetuk pintu ruang guru saat pak Wage sedang bercengkrama dengan guru lain.
"Wa'alaikumsalam. Eh, Nest! Masuk-masuk!"
Sebagian guru mengernyit karena belum mengetahui jikalau anak salah satu penyokong dana sekolah ini mualaf, namun tak berani bertanya.
Pak Wage terlihat sibuk mengambil sesuatu dari dalam lemari mejanya, lalu ia simpan ke atas meja.
"Modul buat kamu, yang lain udah terima."
"Modul?" nafas Ernest masih cukup memburu akibat permainan basket barusan.
"Iya modul. Minggu depan kalian akan bertanding membawa nama sekolah di tingkat kota, *keep fight*!"
Ernest melebarkan senyuman jika perjuangan belajarnya sudah sejauh ini, "terimakasih pak."
__ADS_1
Ia meraih lembaran demi lembaran modul materi fisika. Namun sejurus kemudian senyumnya luntur, "Aisya?" mengingat perjuangannya sampai di titik ini ada andil Aisya, gadis itu yang selalu mem-bersamainya menjadi penyemangat dan mood boosternya.
Pak Wage meredup, "dengan berat hati, kami mengganti nama Aisya di bidang astronomi mengingat kondisi Aisya saat ini."
Aisya telah berjuang, ini cita-citanya. Tak adil rasanya jika kesempatan di tahun terakhir ia bisa berjuang harus ia lewatkan.
Ernest menaruh kembali lembaran modul miliknya, "jika Aisya tidak maju. Saya pun mengundurkan diri," ucapnya membuat pak Wage mengernyit dan terkejut dengan keputusan Ernest, "loh! Kenapa?!"
"Salah satu alasan utama saya mengikuti OSN adalah untuk bersama Aisya, pak. Alasan selebihnya saya tak peduli...jika Aisya saja tidak ada di dalamnya, maka saya pun."
"Sebentar---sebentar! Saya masih ngga ngerti maksud kamu?!" ujar pak Wage menegakkan duduknya.
Ernest ingat betul saat Gibran mengatakan kalau Aisya ikut dalam seleksi OSN sekolah, maka Ernest yang saat itu hanya setengah hati melirik ajang OSN mengikrarkan diri akan masuk! Selain daripada alasan papa Edo yang memaksanya, adalah untuk mendekati Aisya.
"Aisya dan papa lah alasan saya ikut ajang OSN. Saya sudah kehilangan papa sejak memutuskan masuk keyakinan baru....maka alasan terbesar saya adalah untuk bersama Aisya. Jika sekarang Aisya tak ada di dalamnya, maka tak ada lagi alasan saya ikut ajang OSN, pak. Maaf..."
Pak Wage menghela nafasnya, ia mengenal Ernest dengan sifat kekeh dan teguh pendiriannya, "saya tidak bisa memaksa. Namun saya tidak akan mencoret nama kamu, silahkan pikirkan kembali....padahal saya dan pihak sekolah yakin, kalau kamu akan mampu menembus batasan kemampuan orang lain."
Sebuah rutinitas baru untuk Ernest, sepulang sekolah ia tak langsung pulang ke rumah grandpa, namun ia menyempatkan dirinya ke rumah sakit.
Seperti biasa, ia akan menemui umi yang sedang menjadi penunggu di samping si cantik Aisya.
"Assalamu'alaikum..." Ernest menyembulkan kepalanya di ruangan khusus yang hanya ada Aisya seorang saja, grandpa memaksa ingin membantu biaya pengobatan Aisya. Apapun yang dibutuhkan, maka ia tak akan segan menggelontorkan dana dan bantuan.
"Wa'alaikumsalam. Ernest..." senyuman umi tak pernah hilang meskipun Ernest tau wanita itu terlampau sering menangis, matanya selalu terlihat sembab dan bengkak.
"Umi sudah makan?" tanya Ernest membuka jaketnya dan telah berganti pakaian sebelumnya barusan di toilet rumah sakit.
Umi menggeleng, "belum." Pemuda itu menyerahkan satu tangkai bunga mawar untuk mengganti mawar kemarin, katanya biar kamar Aisya selalu wangi dan cantik, kaya pasiennya.
"Makasih ya Nest," umi menyerot kembali hidung yang mulai meneteskan air, pemuda semuda Ernest namun sweet bak pria dewasa.
"Umi baiknya makan dulu, biar Ernest yang nunggu Aisya."
Hati umi mencelos tak enak hati, "apa ngga repotin kamu? Setiap hari kamu kesini, bukannya kamu harus pulang, masih banyak kegiatan kajian sama lainnya, kan?" tanya umi, Ernest menggeleng. Baginya Aisya prioritas utama saat ini, "ada jadwal kajian tapi masih lama, mi. Mau nemenin Ai dulu baru ke masjid, setor absen takut nanti waktu Aisya bangun ngambek kalo aku ngga disini!" ia berkelakar dan tertawa kecil membuat umi ikut tersenyum.
"Hari ini umi gantian sama siapa?" tanya Ernest.
"Nanti umi gantian sama Teh Arin," balasnya.
__ADS_1
"Oh," Ernest mengangguk paham, "kalo gitu umi titip Ai sebentar boleh? Umi mau solat sekalian makan siang?"
"Boleh umi, boleh banget! Insya Allah Ernest ngga akan macem-macemin anak umi sebelum halal!" jawabnya sigap. Umi kembali tersenyum, sebelum umi benar-benar keluar ia mengambil tas mukena dan dompet serta ponsel. Kemudian Ernest menggeser kursi ke posisi enak untuk ia duduki menghadap Aisya. Umi masih memperhatikan dengan apa yang dilakukan oleh Ernest.
"Assalamu'alaikum My'Hawa...by the way aku sedang belajar ngaji sama kang Rama, jadi maaf kalo masih salah dan terbata bacanya, aku juga dibantu bacaan latinnya sih....mau denger ngga?" Ernest bermonolog dengan Aisya yang terpejam.
Hatinya terenyuh, Ernest mengeluarkan sebuah juz amma miliknya dari dalam tas, meskipun masih terbata dalam pelafalan pemuda itu terlihat berusaha keras untuk membaca surat-surat pendek beserta artinya.
"Masya Allah," umi menutup mulutnya dengan sebelah tangan sungguh terharu. Tepat di depan Aisya Ernest melantunkan beberapa surat pendek.
...Kata-kata cinta terucap indah...
...Mengalir berdzikir di kidung do'aku...
...Sakit yang kurasa biar, jadi penawar dosaku......
...Butir-butir cinta air mataku...
...Teringat semua yang kau beri untukku......
...Ampuni khilaf dan salah, selama ini ya illahi, muhasabah cintaku.......
..._Muhasabah cinta_...
Umi segera keluar, "umi keluar ya Nest."
"Oh, iya umi."
Ernest menatap wajah pucat yang tak bangun selama 3 hari itu, dengan selang oksigen menutup hidung, Aisya masih nampak cantik dalam balutan baju pasien hijau senada dengan jilbab instan hijau yang selalu dipasang di kepalanya.
"Sya, ayo dong bangun! Katanya mau berjuang buat ikut OSN di tingkat kota, katanya mau kuliah ke Turki...eh atau Mesir ya?" kekeh Ernest sudah menutup juz amma'nya.
"Kita baru juga mulai Sya. Aku belum sempet ngapelin kamu, tapi kamu ngga pernah bangun buat kuapelin...." kini pemuda itu menunduk menatap dan meraih tangan yang tertusuk infusan, telunjuknya bahkan dijepit alat.
"Tau ngga aku sekarang lagi nargetin apa?" tanya nya menatap Aisya diiringi suara alat rekam jantung yang selalu berdetak dan menunjukan jumlah detakan jantung Aisya.
"Aku minta private sama kang Rama buat belajar baca surat Ar-Rahman, aku mau hadiahin itu buat ulang tahun kamu...."
"Kamu udah solat belum, Sya? Mau aku imamin?"
Ernest beranjak dari duduknya lantas ia berjalan ke dalam kamar mandi ruangan untuk mengambil air wudhu, dari tasnya ia mengeluarkan selembar sajadah dan peci hitam.
"Jangan ngetawain aku, kalo aku belum lancar solatnya ya Sya..." Ernest menggelar sajadah, ia sempat kebingungan dimana kiblatnya hingga akhirnya ia bertanya pada seorang pengunjung yang melintas.
"Bismillah-----"
Ernest melakukan takbiratul ihram dengan membelakangi Aisya.
"Allahuakbar-----" (Allah Maha Besar)
Jemari lentik nan putih itu melakukan respon motoriknya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.