Dear, My'Hawa

Dear, My'Hawa
SEDANG MENGADU


__ADS_3

Retno melirik tas Aisya saat pelajaran telah dimulai sejak 15 menit yang lalu, namun si empunya tak ada di sampingnya.


Tadi Aisya ijin keluar bersama mama Ernest, hanya mama Ernest. Karena ia menyuruh Caroline untuk sekolah saja meskipun Caroline memaksa ingin ikut.


Tangan-tangan berkutex itu mengaduk capuccino miliknya, lalu menyeruput di bibir cangkir. Menusuk pie apel teman kopi miliknya, sementara gadis di depannya hanya diam mengatupkan melihat perempuan paruh baya yang telah melahirkan Ernest itu makan padahal ia tengah berpuasa.


"Yakin ngga mau pesen apa-apa?" tawarnya congkak dengan kaki dinaikkan ke sebelah kaki lainnya. Mungkin Aisya bisa melihat perbedaan umi dan mama Ernest, jika umi lemah lembut penuh tensi rendah, lain halnya dengan mama Ernest yang memiliki karakter kuat, wanita karir...


Aisya menggeleng, tatapannya teduh tanpa balasan congkak apalagi jutek, "saya puasa, tante." Ia menunduk dan netranya tertumbuk pada jam tangan yang sudah menunjuk ke angka 07.20 wib.


"Saya mau to the point aja, dimana anak saya?!" tanya nya tanpa menurunkan ke angkuhan. Aisya mengerutkan dahinya, "Ernest? Bukannya kemarin Ernest di rumah?"


"Ngga usah pura-pura naif Aisya, kalau kamu sudah berhasil mencuci otak putra saya maka kamu pasti mengerti kalau saya mau dia kembali saat ini! !"


Brakk!


Hampir seluruh pengunjung cafe terkejut dibuatnya termasuk Aisya, ingin rasanya gadis itu menangis saat ini, tapi ia berusaha tegar, IA TIDAK LEMAH!


"Maksud tante apa ya? Saya bener-bener ngga ngerti,"


"Ernest mau jadi muslim, seperti kamu! Kamu puas?!!!" wajahnya bahkan sudah maju dengan melotot dan berapi-api.


Aisya menganga dan menutup mulutnya dengan tangan, "masyaAllah," gumamnya.


"Demi Allah tante, Aisya ngga tau. Terakhir kali Ernest nelfon Ai itu waktu malem. Ernest tiba-tiba minta Ai bacain surat Ar-Rahman," wajah Aisya pun sama terkejutnya, ia tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi dengan Ernest.


"Jangan bohong kamu!" sebenarnya mama Ernest memiliki option lain mencari keberadaan putranya, tapi entah kenapa ia lebih memilih untuk melampiaskan semuanya terlebih dahulu pada gadis yang menurut Caroline adalah biang keladi dari masalah yang sekarang sedang terjadi.


Tapi sedetik kemudian raut wajah tegas itu tak dapat berbohong, ia tak dapat menyembunyikan rasa duka'nya, ia sesenggukan di depan Aisya, "kembalikan putra saya, Ernest...." tangisnya pilu, membuat Aisya jadi serba salah, karena kini mereka tengah dilihat oleh semua pengunjung tak terkecuali.


Aisya hanya bisa tersenyum getir seraya mengangguk dalam pada setiap pengunjung, "maaf kalau kami mengganggu..."


"Tante, kalau tante mau numpahin semuanya Aisya bersedia, tapi jangan disini....nanti bikin tante malu," ujarnya hati-hati.


"Biarin!!! Saya mau putra saya Ernest!" ia semakin berteriak histeris. Aisya menggigit bibir bawahnya dan menhentak kakinya cepat di lantai, ia bingung harus bagaimana.


"Gini aja tante, Aisya bakalan bantu sesuai apa yang tante mau, kalau memang menurut tante Aisyalah biang dari permasalahan Ernest kabur dan ingin berpindah keyakinan," ucapnya. "Aisya akan bantu sebisanya,"


"Emang harus!" tatapnya sengit. Ia menghapus air matanya kasar, "karena ini semua gara-gara kamu!" Aisya tidak membentak, apalagi melawan dan mendebat, ia juga tidak membela diri karena belum mendapat kejelasan alasan Ernest.


"Kalau memang Ernest jadi membangkang, berpindah keyakinan, kabur, karena Aisya...maka Aisya siap menjauhi Ernest...." ucapnya dengan tenggorokan tercekat, seharusnya dari awal Tuhan tak pernah menciptakan perasaan sayang ini di hatinya, namun jika memang Ernest bukan jodohnya maka ia akan berusaha ikhlas.




Mobil bergerak meninggalkan cafe, Mama Ernest berada di bangku depan, sementara Aisya berada di bangku belakang. Beberapa kali Aisya menelfon Coki demi mencari keberadaan Ernest, karena terakhir kali ia mendengar nama Rama, guru mengaji Coki.



Tapi rupanya mama Ernest sudah melajukan mobilnya jauh masuk ke dalam gang kampung dimana ia menemukan Ernest kemarin.



Aisya mematikan ponselnya, ketika mama Ernest menghentikan mesin mobil.



"Ini dimana tante?" tanya Aisya melihat ke arah luar jendela mobil. Ia tak menjawab namun meminta Aisya untuk turun, "turun!"



Gadis itu mengangguk patuh, Aisya menatap sebuah masjid cukup besar bernuansa hijau di depannya.



"Kemarin saya melihat Ernest di dalam sana bersama seseorang." Ia kemudian berjalan dengan kaki-kaki terbalut sepatu heels menjejak tanah berpaving block, diekori Aisya.



Ia melepaskan sepatu tepat di batas suci untuk melihat ke dalam masjid.



*Tap*..

__ADS_1


*Tap*...


*Tap*...


Ia dan mama Ernest memasuki pelataran masjid, lalu menyerbu pintu masuk.



"Assalamu'alaikum..." ucap Aisya membuat mama Ernest menoleh dan menaikan alisnya sebelah, "gila. Ngga ada orang pake ngucap salam," hardiknya, namun Aisya tersenyum hangat, "ini rumah Tuhan, mau itu ada ataupun tidak, tidak sebaiknya kita nyelonong mirip maling tante," jawabnya.



"Kamu ngatain saya maling?!" sengitnya langsung digelengi Aisya.



Mengesampingkan perdebatan, keduanya kembali menyisir area dalam masjid.



Aisya tergagap, ia menganga dibuatnya hingga mata yang membeliak, ketika menemukan satu sosok yang hampir beberapa jam ini dicarinya sedang bersujud dengan badan bergetar, sepertinya Ernest sedang mengadukan semuanya pada Allah, apa benar Ernest memang sudah teguh untuk berpindah keyakinan? Apa jangan-jangan benar karena dirinya?"



"Ernest!" teriak mama Iren, Aisya hanya bisa melolong di tempatnya hampir tak percaya.



"Mama?" ia bangkit dan menoleh, tatapannya berair menatap mama Iren juga orang yang ada di belakangnya.



"Aisya...."



Mama Iren menangis, "pulang Nest! Mama rindu kamu, minta maaf sama papa biar kamu diterima lagi di rumah, akhiri semua hal konyol ini Ernest!"




"Ma, bukan Aisya yang bikin Ernest akhirnya memutuskan untuk pindah, tapi ini keteguhan hati Ernest yang mau..."



"Aisya ngga ada sangkut pautnya, ma. Ini murni maunya Ernest," tatapannya nyalang dengan wajah yang lebam di beberapa area dan luka di sekitaran bibir.



Mama Iren menyerah! Ia menjerit meminta Ernest kembali, kalau saja dulu ia tak terlalu sibuk dengan dunianya, ia tak akan kehilang Ernest, kalau saja ia memperhatikan anak-anaknya dan juga dekat dengan mereka, mungkin Ernest tak akan memilih mencari jati diri di luar, kalau saja dulu ia menanamkan nilai-nilai agama mungkin hari ini ia tak perlu menangisi Ernest disini. Tapi kembali, semua ini kehendak Yang Kuasa. Tak akan ada yang bisa menolak kehendak-Nya.



"Heh! Kamu! Saya tagih janji kamu!" sengaknya pada Aisya yang seketika tergelonjak kaget.



"I...iya tante..." jawabnya menunduk.



"Ma, mama ngapain Aisya? Mama jangan apa-apain Aisya, dia ngga tau apa-apa...lagipula dengan mama mendatangkan Aisya, Ernest tetap teguh pada pendirian Ernest!" Pemuda itu bangkit dan segera menghampiri Aisya yang juga berjalan ke arahnya.



Semakin dekat....semakin dekat....air mata Ai tak dapat dibendung lagi. Gadis berjilbab putih dengan pakaian seragam putih abu ini menangis sesenggukan saat Ernest tak lagi berjarak dengannya.



"Hey, kok nangis..."



"Ernest kamu kenapa?" ucapnya bergetar seraya menangis tergugu. Arah tatapan Aisya tepat ke beberapa titik luka Ernest.

__ADS_1



"Kamu ngapain disini? Pulang, Nest..." pintanya menangis.



"Eh, eh kok bidadari nangis...nanti bumi hujan loh," kelakarnya namun tak membuat Aisya menghentikkan tangisannya.



"Apa semua ini karena aku, Nest? Kalau iya, aku sangat memohon sama kamu untuk kembali...." Aisya sampai bersimpuh di depan Ernest, membuat Ernest ikut berjongkok menangkup kedua pundaknya, untuk membangunkan Aisya.



"Engga--engga Sya, bukan karena kamu....tapi memang hati aku yang sudah yakin untuk memeluk keyakinan ini, bukankah seperti apa yang Al Qur'an bilang...sepersuasif apapun kamu mengajak seseorang untuk masuk menjadi muslim kalo Allah tidak menghendaki, maka ia tak akan masuk. Sebaliknya, sepersuasif apapun kamu menghindar, jika Allah sudah menghendaki, maka masuklah ia..."



Aisya semakin menangis tergugu, tak tau harus bagaimana sekarang...harus senang apa sedih?



"Ernest, mama kamu..."



"Sutttt!" Ernest menaruh telunjuk di bibir Aisya, "biar itu jadi urusanku, maafin mama aku ya...pasti dia neror kamu di sekolah sampe kamu ngga masuk hari ini,"



"Kamu semalem tidur dimana?"



"*Di rumah Allah*,"



"Kamu kenapa ngga sekolah?"



"*Lagi mengadukan semua masalah sama sang pemilik hidup*,"



"Kamu udah makan?"



"*Aku mau belajar puasa kaya kamu*,"



Aisya semakin terisak, saat Ernest menjawabnya tanpa mengeluh.



"Ernest kamu nyiksa diri sendiri,"



"*Aku sedang diuji sama Allah, apakah aku layak untuk menjadi hamba-Nya, maka aku pun akan menunggu pertolongan-Nya*."



.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2