Dear, My'Hawa

Dear, My'Hawa
MENGGETARKAN KALBU


__ADS_3

Raudhah membeliak, perlu waktu sejenak baginya mengontrol perasaan.


"Kok bisa?" sungguh pertanyaan kon yol yang dilontarkan seorang manusia berpendidikan.


"Apanya?" tanya Aisya dengan wajah keruh.


Raudhah mengerjap ikut merasa bo doh, "sorry---sorry, maksudnya masa sih?!"


"Udah Ai duga, reaksi teteh bakalan gini...jadi salah kan teh?" Aisya turun dari kasur menuju kursi belajarnya, membuka laptop dan jurnal pribadinya, mencatat sesuatu disana yang sepertinya tiap hari ia tambahkan note serta jumlah katanya, macam diary.


Dear, my'Adam.....


Jemari lentiknya lihai menari di atas keyboard laptopnya.


"Ya engga juga sih, mungkin ada maksud lain Allah kasih rasa itu buat kamu, may be menolong seseorang untuk hijrah, bisa aja kan. Terus Ernest?" tanya Raudhah cukup penasaran dan tertarik dengan kisah cinta adiknya.


Gadis itu menghentikan aktivitasnya lalu menatap kakak perempuannya, "justru karena Ernest yang ngejar-ngejar aku, kasih aku rasa nyaman, akhirnya...." Aisya tak meneruskan kalimatnya, karena ia yakin jika Raudhah sudah paham.


"Teh, salah engga kalo alesan seseorang pindah keyakinan cuma karena pasangan?" tukas Aisya bertanya.


"Maksudnya?!!! Kamu mau??Amit-amit Ai, naudzubillahimindzalik!" serunya terjengkat seraya mengetuk-ngetuk jidat.


Aisya mencebik, dengan nada ketus ia berseru, "ya engga lah! Amit-amit teh!" pungkasnya.


"Jadi Ernest?"


Aisya menggidikkan bahunya tak tau, ia pun bingung dan tak yakin. Lantas gadis itu berjalan ke arah jendela, membuka dalah satu daun jendelanya lalu mengisi kekosongan ruang disana.


Yang Aisya lakukan adalah memandang lurus ke depan, jauh sekali! Seraya bibirnya kini mulai berkisah pada Raudhah awal kedeketannya dengan Ernest, yang awalnya Ai sendiri bingung harus memulai dari mana, pasalnya Ernest sudah berulang kali menyatakan perasaannya sejak dari pertama kenaikan kelas.


"Mungkin kemarin alasan dia adalah kamu, lalu sekarang alasan dia karena orang sekitar, besok bisa jadi karena menemukan ketenangan hati, lalu lusa lillahita'ala, insyaAllah!"



*Brummm! Brummmm*!



Bendera yang berupa scarf telah diterbangkan seiring seruan para penonton yang sebagiannya adalah teman-teman satu anggota kumpulan, Ernest menutup kaca helm fullface dan mulai menggeber gas, memacu adrenalin serta kemampuan laju motornya di arena balap liar malam ini untuk sebuah pengakuan kembali seperti biasanya.



Bukan karena uang, melainkan karena hobby nyelenehnya yang sering mencari kesenangan di luar.



Ia bermanuver epic melintasi belokan tajam yang telah di sterilkan sebelumnya, meninggalkan lawan seperti biasanya, mungkin ia harus berterimakasih pada *Azka's Garage* yang sudah setia menyetel motornya hingga membuat Ernest selalu menang saat race.


__ADS_1


Sesekali ia melirik ke arah spion demi memastikan Evan cukup jauh tertinggal di belakang, membuat pemuda itu berdecak kesal. Bagaimanapun usahanya melawan Ernest, ia selalu gagal mengalahkannya.



"Ah si al!" diliriknya speedometer motor, lalu mencoba menambahkan lagi kecepatan hingga hampir di ambang batas yang seharusnya, "gimana pun caranya, malam ini...gue mesti bisa kalahin Ernest!"



Langit malam ini gelap seperti malam-malam biasanya, namun Ernest merasa bulan berpendar lebih terang dari sebelumnya, ditemani sirius di atas sana. Pikirannya kembali menangkap kilasan moment tak terlupakan yang menari-nari di otak.



"Sirius..."



"*Syi'raa*..."



"*Aku sayang kamu, Sya*..."



"*Kamu tau, bukti adanya Tuhanku adalah adanya semesta alam beserta isinya termasuk langit malam bertabur bintang*."




*Aisya mengangguk, "sungguh kami, telah menciptakan manusia (Adam) dari segenggam tanah liat kering dan lumpur hitam lalu dibentuk. Q.S Al-Hijr : 26*."



"*Nabi Adam adalah manusia pertama yang Tuhanku ciptakan langsung dengan tangannya sendiri, Nest. Maka tak heran jika ialah kerupawanan yang sesungguhnya, dan nabi Yusuf memiliki separuh kerupawanan itu. Jika kaumku berkata definisi tampan itu nabi Yusuf, maka jelas nabi Adamlah yang lebih tampan nan rupawan karena nabi Yusuf hanya memiliki separuhnya*."



"*Lalu kemudian, disaat Adam tertidur, maka Tuhan ciptakan pasangannya darinya (Adam)...menurut hadits, Hawa diciptakan dari salah satu rusuk kirinya*."



*Dan bayangan di suatu siang, di ruang komputer menjadi kenangan pengetahuan Ernest berikutnya dari Aisya*.



"*Begitupula Hawa...Tuhanku memperindahnya dengan wujudnya yang lebih feminim, kecantikannya melebihi 1000 bidadari. Diceritakan Hawa memiliki 700 ikatan pada rambutnya, Rabb-ku menghiasi Hawa dengan perhiasan dan gelang yang mengkilap melebihi cahaya matahari...Hawa dan keturunannya adalah secantik-cantiknya wanita sampai nanti di akhir kiamat. Begitu pula Siti Hajar, keturunan Hawa yang memiliki kerupawanan Hawa, yang tak tertandingi oleh wanita lain di bumi. Oleh karena itu entah kebetulan ataukah memang teorinya mengacu pada teori Adam Hawa, tulang rusuk lelaki itu lebih sedikit 1 buah dibagian kiri*."


__ADS_1


"*Pantes. Kamu turunan Hawa kan, bisa secantik ini? Apa jangan-jangan tulang rusukku yang hilang itu kamu ya?" tanya Ernest membuat Aisya tertawa renyah*.



"*Para pujangga berkata, jika wanita itu adalah tulang rusuk lelaki. Maka bersama lelakilah ia akan kembali. Kodrat laki-laki itu berpasangan dengan perempuan sebagai makmumnya---orang yang harus dibimbingnya, karena pada dasarnya, wanita tercipta dari* (**bak sifat**) *tulang rusuk laki-laki, ia sifatnya bengkok jika dipaksakan diluruskan maka akan patah, jika dibiarkan akan selamanya bengkok, maka butuh treat dinasihat dan dibimbing untuk lurus bersama*."



*Aisya sempat diam dan menunduk sejenak, lalu kemudian menatap Ernest kembali dengan mantap, "makanya, kalau kamu nanya seperti apa tipe imam idamanku, adalah yang seiman. Karena kodratku sebagai makmum Ernest, sesuatu yang bengkok dan perlu diluruskan dengan bimbingan....gimana nantinya kita (aku dan imamku) akan berjalan bersama till jannah, jika kita saja berbeda jalan*?"



*Ernest mengangguk mulai paham, bukan karena kesombongan ataupun keegoisan Aisya menolaknya berulang kali. Aisya memang benar*.


"Wohoooo!" seru Evan puas mengejutkan Ernest saat ia melintas begitu saja melewati Ernest, membuatnya tersentak dan berhenti sejenak, apakah ia melamun? Yeah, ia melamunkan Aisya.


"Anjirrrr!" Ernest langsung tersadar dan mengejar laju motor Evan, tapi sejurus kemudian ia mengerem dan berdiam lama di jalanan. Tak ada lagi gai rah untuknya melakukan balapan malam ini, tak seperti biasanya. Ia membiarkan Evan untuk menang kali ini.


Tapi baru saja Ernest berpikir seperti itu, dari arah depannya suara keras tabrakan terdengar.


Ckiittt


Brakkk!


"Evan?!" Ernest segera menyusul ke arah sumber suara. Awalnya ia begitu khawatir dengan temannya itu, tapi sedetik kemudian ia tertawa tergelak, "hahaha, apes lu?! Niat hati ngalahin gue malah nabrak gerobak orang, untung orangnya ngga ada!"


Evan meringis kesakitan, "njirrr, bantuin gue Nest, lu malah ketawa-tawa!" omelnya.


Ernest turun dari motornya, lalu membuka helm dan segera menolong temannya itu.


"Aww! Njirrr, pelan-pelan kamvrettt!" aduhnya saat Ernest mengangkatnya dan memapah, "berda rah tuh Van,"


"Disitu dulu deh! Ada masjid terdekat tuh!" tunjuk Evan meminta untuk duduk di salah satu tempat ibadah, karena tidak memungkinkan untuk mereka hanya duduk atau berbaring di pinggiran jalan.


"Oke--oke!" jawab Ernest.


Evan yang dipapah Ernest langsung merebahkan dirinya di teras depan sebuah masjid. Ernest mendongak mendapati bangunan cukup sederhana namun bersih dan tenang, sejuk juga damai.


Sayup-sayup dari dalam terdengar seseorang melantunkan sebuah ayat suci, "Dan Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) Al Kitab (Al-Qur'an) dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab yang sebelumnya dan batu ujian bagi kitab-kitab yang lain itu. (Q.S Al-Maidah 5 : 48)


Evan meringis sambil tertawa, "muka lo Nest, kaya yang ngga pernah liat masjid aja!"


"Apa gara-gara kita non? Alahhh! Mereka baik kok, siapapun diterima di rumah Tuhan..." ujar Evan santai lalu memejamkan mata di dekat salah satu pilar masjid. Sementara Ernest, ia sudah bergetar seluruh jiwa dan raga. Hanya satu ayat, tapi mampu meruntuhkan seluruh keyakinan yang Ernest bangun selama kurang lebih 17 tahun ini.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2