Dear, My'Hawa

Dear, My'Hawa
TERHENYAK


__ADS_3

Ernest menghentikan sepeda motor di parkiran salah satu minimarket.


"Kenapa kita kesini? Buruan ke sekolah lagi!" pinta Aisya mengerucutkan bibirnya.


"Sebentar, aku mau jajan dulu. Emangnya kamu ngga haus gitu?" tanya Ernest tersenyum lebar membuka helm. Aisya menghembuskan nafas lelah, "ya udah deh kalo kamu maksa! Aku sih ayo-ayo aja!" angguk Aisya ikut turun, lantas Ernest tertawa melihatnya.


"Menurutmu aku dosa ngga?" tanya Ernest turun dan berjalan duluan, awalnya pemuda ini ingin berjalan bersampingan namun Aisya memintanya berjalan duluan.


"Dosa apa?" alisnya mengernyit dan saling bertaut.


Ernest mendorong pintu dan menahannya untuk Aisya, "silahkan tuan putri,"


"Makasih anak orang," jawab Aisya membuat Ernest terkekeh, "kok anak orang?"


Aisya lantas berkacak pinggang, "terus maunya kupanggil apa? Anak se tan?!"


"Astagfirullah!" jawab Ernest keceplosan, lama bergaul dengan Coki dan kawan-kawan lain, mensugestinya untuk berkata seperti mereka, bukankah kepribadian dan perilakumu akan terpengaruh oleh lingkunganmu?


Aisya sampai terperangah dibuatnya, kamu-----" tunjuknya.


"Aduh, maaf. Kebiasaan---kalo ngedenger si Coki ngomong!" Ernest kemudian menutup pintu dan berjalan ke arah showcase, memilih minuman yang ia inginkan.


"Emang artinya apa Sya?" tanya Ernest seraya mempersilahkan Aisya memilih saat ia telah mengambil satu kaleng minuman bersoda.


"Memohon ampun kepada Allah," jawabnya. Baru akan membuka penutup kalengnya, Aisya mengambil itu dari tangan Ernest, "jangan yang ini kalo haus!" tegurnya menyambarnya macam petir.


"Minuman bersoda itu jelek buat lambung tau!" Aisya lalu menaruh kembali kaleng berlogo coke itu di rak showcase dan menyambar sebotol air mineral, kemudian 2 susu kotak untuknya dan Ernest, tak peduli Ernest yang menganga seraya diam membatu tanpa melayangkan protes padanya.


"Yuk bayar!" Aisya menjiwir ujung seragam Ernest, menariknya macam narik ke bo.


"Sya, masa aku dikasih air putih doang. Terus kamu ngambilnya susu, 2 lagi!" sadar dengan sikap Aisya yang pelit, Ernest protes namun ia tetap membayar belanjaan keduanya di meja kasir.


"Terimakasih," senyum ramah pegawai berkaos wangky biru sambil mengatypkan tangan di dada. Tapi Aisya tak menggubris protes Ernest hingga mereka keluar dari sana.


Aisya dan Ernest tak langsung menghampiri motor namun menggeser kursi yang disediakan pihak minimarket untuk minum sejenak.

__ADS_1


"Nih, tuh! Aku mah baik, udah bukain tutupnya, jadi kamu tinggal minum!" ucap Aisya jumawa menyerahkan sebotol air mineral dengan tutup yang sudah terbuka.


"Wihh kuatnya! Aku harus bilang wow jangan?" jawab Ernest terkekeh, tak ayal ia mengambil dan meneguknya.


Aisya mendelik dan berdecak.


"Kamu tau ngga sebaik-baiknya minum waktu kamu haus itu bagusnya minum air tawar atau susu!" ucap Aisya menusukkan sedotan di susu kotak miliknya dan mendorong milik Ernest, pemuda ini mengerjap, strawberry...Aisya suka rasa strawberry.


Seteguk, 2 teguk...Aisya menjeda minumnya di tegukan ketiga, "kalo menurut ilmu kedokteran itu bagusnya kamu minum susu skim, susu skim itu bisa memenuhi asupan air dibanding air putih karena mengandung lemak, protein, gula laktosa, dan sodium rendah di dalamnya. Semua kandungan itu tuh baik buat memenuhi keseimbangan cairan dalem tubuh, ketika kamu merasa haus yang luar biasa, karena sodium, bisa membantu menyimpan kandungan air di dalam tubuh. Selain susu ada juga jus jeruk, susu full-fat, dan tablet minuman rehidrasi." Aisya melirik Ernest yang diam, memastikan jika pemuda ini tidak tidur atau pingsan saat ia memberitahu.


"Seperti di dalam kitabku, disebutkan dalam Q.S Al Mursalat 77 : 27, adanya gunung-gunung yang menghasilkan air tawar yaitu sebagai sumber air minum yang baik. Lalu ada juga air kafur, air jahe, susu, madu, minyak zaitun daan masih banyak beberapa makanan lain... Kitabku tak pernah keliru Ernest, semua ayat yang ada di dalamnya tak pernah keliru, itu dibuktikan dengan tercetusnya ilmu dan teori- teori pengetahuan mengenainya." Aisya menghabiskan susu miliknya lalu membuang bungkus yang sudah ia re mas ke dalam tempat sampah.


Ernest tersenyum di tempatnya, sekali lagi ia kagum dengan apa yang Aisya sebutkan, Keyakinan Aisya begitu indah, dan masuk akal, semua yang dijelaskan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Ia semakin....jatuh cinta.


Belum pernah Ernest se-spechless ini menghadapi orang, karena biasanya ia akan beradu argumen tentang apa saja.


"Ayuk buruan Nest, nanti keburu pulang!" pintanya memaksa.


"Iya, iya Sya." angguknya menurut.


"Aku boleh kasih kamu hadiah ngga?" tanya Ernest, sontak...Aisya mengerutkan dahinya, "hadiah buat apa? Aku ngga lagi ulang tahun?!"


Aisya tertawa renyah menerimanya, "di moment yang manis engga?"


"Emh, bisa jadi kalo manisnya menurut kamu itu waktu kita kabur gini!"



Ia sedang merapikan baju seragam yang ikut naik saat ia mengangkat tangannya, seusai keluar dari kamar mandi lalu berjalan bersama Celia, kemudian matanya membeliak ketika menangkap pemandangan bikin hati gelindingan di ladang duri, sakit!



Melihat Ernest masuk ke dalam sekolah dengan bergandengan tangan bersama Aisya meski hanya bertautan melalui media sebatang coklat membuat saraf matanya siap memuntahkan lelehan panas dari sana.


__ADS_1


"Lin..." tepukan Celia di pundaknya tak lantas membuat Caroline menoleh dan tersadar, hingga Celia ikut mengarahkan pandangan ke arah pandangan Caroline, "ya ampun Lin! Emang bener-bener si Aisya ini! Ngga tau malu, kerudungan tapi berduaan terus sama si Ernest! Ngga tau malu juga, udah tau beda masih aja nempelin Ernest!"



Ucapan menghasut berhawa kompor itu tentu saja langsung masuk ke dalam otak manusia macam Caroline, tangannya mengepal kuat penuh getaran, giginya menggertak hingga kemudian satu kalimat ia ucapkan, "Aisya, awas aja lo!"



"Aisya!" Geramnya berteriak. Rambut lurus panjang tergerai itu melambai ke samping kanan dan kiri, dengan nafas menggebu-gebu ia berlari menghampiri Aisya di ekori Celia.


Tanpa aba-aba, Aisya yang sedang berjalan bersama Retno dan Ayu ditamparnya di depan umum, apalagi ini adalah jam pulang sekolah.


Plakkk!


"Caroline!" sentak Retno.


"Dasar cewek ngga tau diri! Lo tuh katanya alim, tapi berdua-duaan sama Ernest!" jeritnya.


Mereka terhenyak, termasuk Aisya. Rasa panas, perih terasa di pipinya, Aisya memegang pipi yang terasa menebal, seraya menatap sengit pada gadis yang sedang meneriakinya tanpa adab.


"Lo tuh apa-apaan ?! Cewek rese," Ayu dan Retno bereaksi tak kalah menyalak, keduanya langsung merangkul Aisya.


"Lo dok trin apa pikiran Ernest sampe mau-maunya dengerin lo ketimbang gue sama keluarganya?!" sengaknya berteriak, terang saja kejadian itu menjadi sorotan anak-anak disekitarnya.


"Wey ada apa?! Ada apa?!"


Aisya menatap sengit ke arah Caroline, dengan gerakan kilat Caroline kembali ingin meraih Aisya, atau tepatnya ke arah jilbab gadis itu dan menariknya.


Greppp!


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2