Dear, My'Hawa

Dear, My'Hawa
RAMADHAN FAMILY


__ADS_3

Aisya pulang membawa sejuta rasa sedih, terharu dan tak karuan, seolah jiwanya baru saja dicabut separuh tak tau kemana harus berpijak, pokoknya ingin cepat-cepat pulang.


Ceklek....


"Ai, kamu darimana! Tadi Retno kesini anterin tas kamu, katanya kamu pergi dari sekolah ngga balik lagi?!" teh Arin yang khawatir dengan adik iparnya langsung berteriak, "aa! Ai pulang!"


Dengan baju daster panjang dan jilbab instan, teh Arin meneliti wajah adik iparnya itu tanpa terlewat satu pun. Ikhwan turun masuk ke dalam rumah, sejak tadi ia menelfon seluruh kawan Aisya menanyakan dimana rumah Ernest.


"Kamu tuh ih! Hape kamu ngga aktif!" Raudhah berseru sewot sekaligus lega melihat adik bungsunya pulang.


"Kamu diapain sama mama Ernest?! Dibawa kemana?! Kenapa ngga ijin dulu sih, kaya bukan orangtua aja, bawa-bawa anak orang tanpa ijin!" tentu saja si singa keluarga ini marah, ia adalah orang yang paling bertanggung jawab atas rumah dan para penghuninya sekarang.


"Ai, kenapa? Eh, malah nangis?! Kamu diapain?!" Arin menaikkan alisnya khawatir, semakin intens saja ia memeriksa badan Aisya, takut jika ternyata mama Ernest berlaku kasar sampai main fisik. Dari sikapnya yang membawa Aisya tanpa ijin saja sudah menunjukkan niat tak baiknya.


"Aa," Aisya menatap Ikhwan pilu.


"Bantuin Ernest, a..." gadis ini tiba-tiba bersimpuh untuk kedua kalinya, namun kali ini di hadapan kakak lelakinya.


"Eh!" sontak saja ketiganya terkejut dengan sikap Aisya. Gadis ini kembali menangis, wajah yang sudah kuyu karena menangis kini basah lagi.


"Kenapa nih?!" Ikhwan membungkuk.


"Ernest mau hijrah, a..." Aisya menangis tergugu, sesenggukannya begitu dalam.


"Tapi dia diusir papa'nya. Dia barusan ngga sekolah, dia semalem ngga pulang, dia juga belum makan..." Aisya benar-benar terisak sampai cekungan di lehernya menyeruk dalam.


"Masya Allah..." Raudhah menutup mulutnya.


Ikhwan mengangkat kedua alisnya, "yang bener kamu? Apa dia cuma main-main, ingat! Hijrah itu bukan untuk main-main, Aisya... Apalagi cuma karena cinta mon yet!" balas Ikhwan.


"Kalian masih kecil, belum ngerti dengan kerasnya hidup dan teguhnya hati!"


Aisya tak percaya Ikhwan malah meragukan Ernest.


"Kamu ngga bisa main-main Aisya, aa tau siapa keluarga Ernest! Mereka bisa lakuin apa aja, jangan ikut campur! Kamu ngga tau kalo orang rumah udah khawatir denger kamu ngga ada di sekolah dibawa orang?! Gimana kalo mereka lakuin hal lebih dari cuma bawa kamu pergi?!"


Aisya menatap nyalang kakaknya, ia menggeleng tak mengerti dengan jalan pikiran Ikhwan. Apakah harus dewasa dulu baru semua orang akan percaya jika seseorang mendapatkan hidayah dari Tuhan?


"Sekarang kamu masuk ke kamar! Dan satu lagi, aa ngga mau sampai kejadian ini terulang lagi! Jauhi Ernest!"


Derrr!


Aisya menggeleng, "ngga mau! Bukankah sesama muslim harusnya saling membantu?! Siapapun tau, jika jalan hijrah itu tidak mudah!" Ikhwan menggusur adiknya ke dalam kamarnya. Lalu mengunci Aisya disana.


"Aa! Aa buka A....!" Aisya menggedor-gedor pintu kamarnya. Ikhwan menyigar rambutnya, "astagfirullahaladzim," ia bergumam.


"A, gimana kalo Ai bener? Tuh anak emang mau hijrah?!" tanya Raudhah.


"A, itu adek kamu ih! Masa kamu tega kunciin gitu, sini kuncinya. Aku mah ngga tega! Kalo abi sama umi ada, kamu pasti kena marah!" desis Arin.


Namun Ikhwan menyembunyikan kuncinya di saku celana, ia menggeleng, "maka dari itu, jalan hijrah tidak mudah. Kalau dia tidak istiqomah, lalu malah kembali ke keyakinan sebelumnya...sementara Aisya, akan jadi target keluarga Ernest! Aa cuma mau lindungin keluarga kita," ia pergi dari sana padahal Aisya sudah menjerit-jerit di dalam kamarnya, "aa bukaaaa! Ai mau anterin makanan buat Ernest!"


Badannya merosot di balik pintu, ia menarik jilbab dan menampakan rambut hitam terikat yang sudah semrawut, "aa, Ai mau nolong Ernest...a...Ernest digebukin papa'nya!" gumam Aisya.


Aisya menenggelamkan kepalanya di lipatan tangan.


Mama Iren pulang setelah tak mampu membujuk Ernest pulang, mungkin ia akan berunding bersama suami, membujuknya agar mau menerima Ernest kembali. Atau mungkin mertuanya?



Rama yang berdiri sejak beberapa menit lalu, melihat sekilas saat mama Iren meninggalkan masjid. Rupanya ucapannya tempo hari benar terjadi, keluarga....selalu menjadi masalah utama, entah itu pro atau kontra.



"Assalamu'alaikum,"


__ADS_1


"Wa'alaikumsalam. Kang!" wajah putih Ernest menunjukan jika pemuda ini belum makan dan belum mandi.



"Ke rumah yuk!" ajaknya. Bagaimana pun ia tak bisa membiarkan Ernest berjuang sendiri, di usia semuda ini sudah benar-benar anugerah manusia berpikiran luas dan *se-extraordinary* ini.



"Jangan kang. Ngga apa-apa, nanti saya ke rumah Coki aja..." tolaknya.



Rama menggeleng, "saya maksa loh! Kalo ngga, saya nangis nih," balas Rama, ia sebenarnya belum pulang sama sekali ke rumah, entah kenapa hatinya menggerakan ia untuk mampir sejenak ke masjid dekat rumahnya itu.



Ernest tersenyum kaku, "akang baru pulang?"



Rama mengangguk, "saya baru pulang jihad...cari nafkah buat anak istri, ya walaupun anak saya yang satu sudah bisa cari uang sendiri," kekehnya merangkul Ernest.



Rama tak bertanya motor Ernest kemana, ia sudah dapat menduga apa yang terjadi dengan anak ini.



"Naik!"



Ernest melirik motor guru ngaji satu ini, woww! Layaknya anak muda, tidak ketinggalan jaman.




"Belum kang, dulu pernah punya. Tapi sekarang udah dijabel..." jawabnya naik.



"Dijabel leasing?"



"Bukan, dijabel sama yang punya duit!"



"Kalo gitu nanti beli pake duit sendiri, biar ngga dijabel orang!" jawab Rama melajukan motornya.



Sebuah rumah besar dengan pagar hitam menjulang besar, bahkan menurut Ernest tak kalah besar dengan rumahnya.


"Ini rumah akang?" ia menengadah melihatnya.


"Rumah babarengan!" katanya (bersama-sama)


"Kaya panti gitu, kang?" tanya Ernest.


"Betul! Tapi pantinya, panti asuhan anak-anak abah haji Nawir!" tawa Rama.


"Masuk!" pinta Rama. Ernest berdecak, ia tak menyangka jika guru mengajinya ternyata horang kaya!


"Sayanggg!" teriak Rama.

__ADS_1


"Ada anak baru nih, mau ngekost!" jeritnya lagi.


Ernest mengedarkan pandangan ke arah deretan mobil, lapang olahraga, halaman samping dan gazzebo. Aktivitas disana pun cukup ramai, banyak orang...lebih tepatnya ada beberapa lelaki yang hilir mudik membawa barang.


"Assalamu'alaikum," kecup Rama di kening Nara.


"Wa'alaikumsalam!" jawab Nara. Sesosok wanita cantik menerima tas gendong Rama, "siapa?"


"Yang kemaren aku ceritain," balasnya.


"Mandi ahhh! Biar nambah ganteng pas sujud menghadap Allah! Biar do'aku punya baby lagi diijabah! !" teriak Rama masuk ke dalam lewat pintu dapur.


"Dasar gila, anaknya udah mau nikah, masih ngga mau kalah!" gumam Nara terkekeh geli.


Ernest menggelengkan kepalanya dengan tingkah absurd ustadz satu ini.


"Kamu, Ernest?" tanya Nara tersenyum. Ernest mengangguk, Nara dapat melihat kondisi Ernest, ia dan Rama bukan orang dengan kehidupan normal yang tak tau dengan apa yang terjadi, ia dan Rama sudah terbiasa menghadapi para remaja dengan krisis, entah itu ekonomi, hati, jati diri, broken home...


"Masuk deh! Panggil aja saya bunda, anak saya yang bungsu mungkin seumuran kamu. Nanti saya panggilin..."


"Mi! Azmi---ada temen, temenin!" jerit Nara masuk, sementara Ernest duduk di gazzebo belakang.


"Siapa bun?" tanya nya turun dari kamar. Nara sedikit berbisik padanya.


Sesosok pemuda lain dengan gaya kalem nan meneduhkan menghampiri Ernest, awalnya Azmi mengernyit, temen dari mana?! Si bunda suka ngaco! Tapi kemudian saat bunda menyebutkan namanya Ernest, bawaan daddy, Azmi paham.


"Azmi, lo?"


"Gue Ernest."


"Si daddy kalo mandi lama, pasti luluran dulu...duduk aja dulu disini, ntar gue temenin---gue ambil dulu hape ya," ujar Azmi.


Baru saja Azmi masuk, Nara kembali keluar, "diminum dulu!" ia membawa es teh lemon dan sepiring bolu ketan buatannya bersama cakue.


"Ngga usah repot-repot tant...bunda..." jawabnya, padahal perutnya sudah keroncongan sejak tadi pagi.


"Ck! Wajib dimakan loh, ngga terima kalo isinya masih utuh!" jawab Nara, ia lantas mendorong minum dan makanan itu ke depan Ernest, "sok atuh dimakan, itung-itung jadi orang ke sekian yang taster buatan bunda!" ucapnya, "kalo enak bilang enak, kalo ngga enak paksain aja dienak-enakin!" tawa Nara membuat Ernest akhirnya mau mencomot kue dan meneguk minumnya.


"Tunggu dulu ya, aa mandi dulu katanya..."


"Bun, a Azka ngga pulang hari ini? Padahal motor Azmi mau ganti kanvas rem," tanya Azmi.


"Samperin aja ke bengkelnya, kayanya lagi riweuh sama bengkel, sama planning nikahnya..."


Tunggu! Ernest mengernyit, Azka? Bengkel? Apakah Azka yang itu?!


"Kang Azka, yang punya Azka's Garage?" tanya Ernest setelah meneguk es teh lemonnya hingga setengah habis.


"Kenal?" tanya Nara.


"Iya, saya kalo modif motor buat race pasti di Azka's garage..." jawab Ernest, "si akangnya kocak, baik, top lah kalo udah ngotak-ngatik mesin!" puji Ernest.


Nara tersenyum, "salam kenal dari Ramadhan junior yang pertama, Ernest..."


Ernest sampai menegakkan badannya, dunia begitu sempit, "oh! Jadi kang Azka itu anaknya Kang Rama sama bunda?"


Nara mengangguk sementara Azmi terkekeh, "aa mboy emang rasa geser otaknya, Nest..mirip daddy,"


Ernest tertawa, pantas saja jika mendengar Rama bicara ia seperti mengenal seseorang.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2