Dear, My'Hawa

Dear, My'Hawa
HAVE A NICE DREAM


__ADS_3

Ernest sudah mengepalkan tangannya, namun ia mencoba menahan emosinya.


"Stop!" papa Edo menengahi istri dan anaknya itu.


Ia mendekati putranya, "siapa Aisya? Dia berbeda?" tanya papa Edo dengan alis menukik. Perawakan Edo yang besar tak membuat Ernest gentar. Ia kembali ingat, apapun resikonya ia akan hadapi.


Hidayah tak datang untuk semua orang. Akan banyak ujian yang menghambat seorang pelaku hijrah. Ernest memang masih terbilang muda, namun ia cukup cerdas, bijak dan dewasa untuk menilai.


"Iya."


PLAKKKK!


Satu tamparan keras dari telapak tangan besar papa Edo mendarat di pipi Ernest, membuat mama Iren tergelonjak, "pa!"


Rasa perih, panas yang teramat kini mulai terasa setelah rasa kebas. Tapi Ernest sudah biasa mendapatkannya, ia bukan pemuda rumahan yang kerjanya hanya rebahan. Setidaknya Ernest sering mengalami insiden kecil di luar entah itu kecelakaan ataupun berkelahi tanpa orangtuanya tau, lebih tepatnya mereka tak mau tau. Jadi tamparan begini sudah biasa ia dapatkan.


"Jauhi dia! Buruk buat masa depanmu, papa mau kamu fokus olimpiade dapatkan gelar, karena papa ngga mau mendengar kegagalan! Untuk urusan pendamping, kalau kamu tidak suka Caroline, papa masih punya banyak kandidat calon untukmu yang seiman denganmu !"


"Dimana letak bagusnya wanita tertutup begitu?!" cebiknya berlalu masuk lagi ke dalam.



Ernest menatap lantai rumahnya dan berlalu begitu saja melewati mama Iren tanpa bicara, kedua orangtuanya sendiri yang telah mematikan karakter Ernest di rumah. Sel-sel otaknya mati saat itu juga.



"Ernest!"



"Ernest!"



Bahkan teriakan mama Iren tak ia dengarkan, ia masuk begitu saja ke dalam kamar.



Alisnya menukik, gejolak marah memayungi Ernest, dilemparkannya tas hingga menabrak laptop di atas meja, ia sapu seluruh barang yang tertata rapi hingga berjatuhan dan berantakan tak karuan.



Ia meluruh duduk di atas lantai kamar dan menekuk lututnya.



Jika biasanya Ernest tak akan menunggu lama untuk mendatangi sebuah club malam dan menenggak minuman keras jika sedang stress begini, sejak saat ini ia menyatakan dirinya sebagai anak *broken home*. Setan-setan mulai bersarang di kepalanya begitu keras mereka berbisik untuk melakukan hal negatif.



Ernest merogoh kantung kecil tas miliknya, dimana kunci motor dan ponselnya berada.



Netranya yang berkaca-kaca penuh kilatan amarah menatap bergantian antara kunci motor dan ponsel.



Biasanya ia tak akan berpikir 2 kali untuk meraih kunci motor kemudian mengarahkan motornya ke depan tempat yang bisa membuatnya happy. Tapi kali ini ia bingung, hingga akhirnya yang Ernest lakukan adalah meraih kasar ponsel dan menghubungi Aisya.



*Tuuuttt...tuuttt*....



"Hallo?" suara lembut menenangkan itu menjawab panggilan Ernest. Deru nafas memburu Ernest sedikit bisa lebih tenang mendengar suara Aisya.



"Sya, kamu lagi apa?"



"Lagi belajar Nest, kenapa? Kamu dimana?" Aisya menatap jam yang berdiri di atas meja di depannya.



"Kamu udah makan malem?" tanya Aisya.



"Sya, aku rindu...." jawab Ernest. Tentu saja Aisya mengerutkan dahinya di tempatnya sekaligus mendengus, "gombal!"

__ADS_1



Mendengar cebikan Aisya yang mengatakannya gombal Ernest tersenyum.



"Sya, aku boleh minta sesuatu sama kamu?"



"Apa?" Aisya menjawabnya sedikit ragu, khawatir jika pemuda ini akan meminta hal macam-macam, kaya ngadepin dracula, may be.



"Aku mau denger surat Ar-Rahman beserta artinya, boleh bacakan buatku?" tanya Ernest.



*Deg*!



Aisya sampai melolong di tempatnya, ia menganga sejenak dibuatnya.



5 detik....10 detik....20 detik...Aisya terdiam tanpa suara, sampai suara Ernest sukses membuatnya tersadar.



"Sya?"



"Ah, boleh--boleh!" tukas Aisya cepat.



"Kenapa Nest, tumben? Tau dari mana surat Ar Rahman?" tanya Aisya, gadis itu tak kesulitan mencari Al-Qur'an miliknya karena itu ada di depannya. Al-Qur'an dengan sampul beludru biru dongker, indah seperti si pemilik. Kemudian Aisya mencari urutan surat yang diminta Ernest.



"Tau dari kang Rama, guru ngaji Coki...." jawab Ernest.




"Bismillah---" gumam gadis itu, kemudian Ernest mulai terlihat memejamkan matanya mendengarkan lantunan ayat yang entah sejak kapan, ayat-ayat ini selalu bisa menjadi penenang hatinya di kala gundah.



Hatinya kembali mereda dikala surat yang terkandung di dalamnya semua kenikmatan yang Tuhan berikan pada semua makhluk hidup Aisya bacakan. "*Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan*? Dialah Tuhan yang Maha pengasih,


Yang mengajarkan Al Qur'an,


Matahari dan bulan beredar menurut perhitungannya,


Dia menciptakan manusia dan mengajarnya pandai berbicara,


Tetumbuhan dan pepohonan keduanya tunduk pada-Nya,


Dan langit telah ditinggikan-Nya dan dia ciptakan keseimbangan agar kamu jangan merusak keseimbangan itu.


Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk-Nya dimana di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang memiliki kelopak mayang.


Biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.


Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?"



Lelehan bening itu mengalir deras hingga turun ke bawah runcingan hidung Ernest yang menunduk seraya meresapi lantunan ayat dari Aisya beserta artinya.



Terdengar isakan pelan dari ujung telfon, membuat Aisya menghentikan bacaannya, ia jadi khawatir dengan Ernest, "Nest, kamu kenapa?" tanya Aisya.



"Ernest, kamu baik-baik aja kan?!" Aisya bangkit dari duduknya.


__ADS_1


"Ernest bilang sama aku, kamu dimana?! Kamu ngga apa-apa kan Nest?!!"



"Kok berenti, Sya? Udah beres ya?" tanya Ernest mengelap seluruh air mata dan dari hidungnya.



"Ernest! Jawab aku dulu!" galaknya. Ernest malah terkekeh renyah disana, " aku ngga apa-apa Sya, cuma terharu aja. Aku lagi di rumah..."



Tapi rupanya gadis itu tak percaya begitu saja, "boong. Kamu tuh aneh tau ngga?!"



"Aneh kenapa, Sya?"



"Tumben-tumbenan minta dibacain surat, lagian siapa kang Rama?! Dia ngapain kamu?! Dia siapanya Coki?! Awas aja kalo kamu kenapa-napa," ketus gadis itu.



Ernest kembali tertawa, "cie, khawatir nih sama aku?"



Aisya langsung menutup mulutnya tak menjawab, ia lebih memilih diam.



"*Sya, i love you*...." ucap Ernest. Aisya malah diam saja disana, membuat Ernest semakin penasaran, apakah Aisya malah tidur?



"Kok diem aja Sya?" tanya Ernest.



"Sya....."



Ernest tak tau saja kata-katanya barusan membuat gadis ini tremor, jantungnya berdegup kencang *kepingin bungee jumping! Aaaaaahhhhh*!



"Ya udah kalo ngga mau jawab. Jangan terlalu malem tidurnya...*have a nice dream* Sya," ujar Ernest tapi saat ia benar-benar mematikan panggilannya Aisya meloloskan kalimat yang membuat Ernest bergantian membatu di tempat.



"*Love you too, Nest*."



Ernest melolong di tempatnya.



"Ya udah deh! Aahhhh maluuu!" serunya di ujung telfon sana membuat Ernest gemas, kalau dekat ia pasti sudah mendaratkan cubitannya di pipi Aisya.



"*Have a nice dream, Nest*...."



Ernest mematikan panggilannya dengan Aisya, kemudian beberapa waktu kemudian ia mengirimkan pesan pada Rama.



***Kang, saya mau log-in***.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2