Dear, My'Hawa

Dear, My'Hawa
AISYA NGGA APA-APA


__ADS_3

Ernest langsung berbelok menuju mushola rumah sakit.


Begitu banyak yang ingin ia adukan pada Sang Pemilik Hidup, kenapa cobaan dari-Nya begitu berat! Kenapa harus Aisya yang menebus ujian, kenapa---dan kenapa !


Ernest meninju-ninju tembok mushola dan hampir saja melemparkan tas berisi Al-Qur'an. Benar! Ujian dari Allah memang berat, ia tak akan menguji seseorang yang lemah, ujian seorang surviver hijrah memang tak akan mudah demi pahala dan syafaat yang akan di dapat.


"Astagfirullah!" gumamnya,


Kalau kamu marah, coba ambil air wudhu....


Ucapan Aisya terngiang di kepalanya saat di mushola sekolah siang itu, yeah! Di saat seperti ini saja, Aisya adalah pengingatnya.


Ernest mengantri dengan pengunjung lain yang hendak melaksanakan ibadah di depan tempat wudhu.



"Aa ashar dulu ya, nanti biar gantian..." Ikhwan keluar dari ruangan meninggalkan Aisya bersama istrinya dan Raudhah, seiring masuknya abi dan umi dengan wajah getir nan masam. Keduanya terlihat menghela nafas panjang berkali-kali. Sepertinya abi dan umi akan mengatakan kondisi Aisya sebenarnya pada Aisya sendiri.



"Bi, Mi...aa ashar dulu," pamitnya diangguki keduanya.



"Biar gantian saja." ujar Abi.



Ikhwan berjalan menuju mushola, sejujurnya ia tak tega untuk terus berada dalam ruangan. Hingga langkahnya telah sampai di selasar mushola, ia langsung saja menuju tempat wudhu dan melinting lengan baju juga celana.



Selesai melakukan wudhu, ternyata seorang imam mushola disana masih merapatkan shaf makmumnya, netranya jatuh ke arah sosok pemuda yang menggeser posisinya, dan tepat di sebelahnya lah terdapat kekosongan barisan, mau tak mau Ikhwan mengambil posisi itu.



"A," sapa Ernest mengangguk sopan, hanya balasan anggukan dari Ikhwan tanpa ada ucapan keluar dari mulutnya.



"Mi, tadi sama dokter ngomongin apa? Gimana kondisi Ai?" tanya Aisya, rupanya pertanyaan itu mewakili rasa penasaran Arin dan Raudhah.


Umi menatap abi dengan tatapan memelas dan getir, matanya kembali berlinang tak kuat menanggung beban, jika bisa ia ingin mengganti posisi Aisya saat ini.


"Nak, sayang...Aisya sehat kok! Tapi---" abi menjeda ucapannya seraya mengusap kepala Aisya di balik jilbabnya. Umi sudah terisak disana sampai membuat anak dan menantunya keheranan dan mulai khawatir, "tapi apa, bi?"tanya Aisya semakin penasaran.


"Tapi----Aisya tau kan kalau Allah tak akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuan dari hamba-Nya itu sendiri? Allah ingin menguji keimanan dan ketakwaan dari hamba-Nya itu,"


Aisya berdecak kesal, "ih abi! Ngga usah muter-muter kenapa sih? Iya Ai tau, makanya Ai nanya, kenapa?"


"Ai..." suara umi bergetar, ia menghembuskan nafas dan meloloskan getaran demi menguatkan diri, "untuk sementara waktu, kaki Ai ngga bisa digerakin dulu..."


DEG!


Raudhah dan Arin sampai tercengang mendengarnya, "ya Allah..."

__ADS_1


Raudhah bahkan langsung keluar ruangan dan menutup mulutnya, tak kuasa menahan sedih. Tapi Aisya, gadis itu hanya terlihat melolong di tempatnya saat hampir semua anggota keluarga menangis karena kondisinya saat ini.


Aisya bukanlah bocah Paud yang tak mengerti dengan maksud dari ucapan lembut nan penuh kehati-hatian umi.


"Maksudnya Ai lumpuh mi?"


Umi langsung sesenggukan memeluk Aisya bersama abi, "yang sabar nak, umi sama abi disini buat Ai!"


Aisya bukan malaikat yang tak memiliki rasa, ia juga bukan rasul yang begitu taqwa penuh keikhlasan, ia hanya manusia berlumur dosa berusia belum genap 17 tahun. Air mata langsung mengalir begitu saja dari pelupuk matanya, sangat deras bahkan jilbab umi, baju abi ikut basah.


"Cuma sementara neng, itu pun belum pasti. Makanya besok Ai menjalani serangkaian tes, biar tau seberapa parah dan pengobatan jenis apa biar Ai bisa sembuh!" tukas umi cepat seraya menyeka air mata putri bungsunya itu.


"Abi tau Ai kuat, Ai anak abi yang paling kuat!" kecup abi di kening Aisya, Arin sesenggukan di tempatnya, Raudhah hanya bisa menatap moment itu di gawang pintu.


Ernest bersama makmum lainnya menoleh ke kanan dan kiri seraya mengucapkan salam. Disaat yang lain mulai menghilang dari shaf, Ernest masih melangitkan do'anya disana. Tak peduli jika Ikhwan melihatnya dengan lekat.



Nama Aisya begitu keras ia gaungkan.



"Do'a apa kamu?" tanya Ikhwan.



"Minta biar Allah membagi ujian Aisya denganku," jawabnya. Ikhwan mengangkat alisnya sebelah, "apa kamu sudah tau Ai..."




"Masa depan Aisya tidak secerah kemarin, masih mau berteman dengan adik saya?" tanya Ikhwan.



"Dia lumpuh... tidak bisa berjalan, akan mengandalkan kursi roda sampai batas waktu yang tak dapat ditentukan, tak se sempurna seperti kemarin, bakalan banyak nyusahin..."



Ernest mengerutkan dahinya, "bahkan jika bisa dan diijinkan, saya ingin meminang Aisya sekarang, a..." balas Ernest, membuat kedua alis Ikhwan berkerut, " Kamu gila?! Kamu masih kecil, tau apa tentang menikah! Saya, Aisya dan keluarga tidak butuh belas kasihan dari kamu atau siapapun orang apalagi lelaki, kalau perlu! Aisya tidak perlu menikah dengan siapapun jika alasan mereka hanya karena iba!" jawabnya berapi-api cukup tersinggung dengan ucapan Ernest.



Ernest menggeleng cepat, "karena itu saya bilang, kalau bisa dan diijinkan. Tapi rupanya a Ikhwan masih berpikir seperti itu...bagi saya Aisya tidak memiliki cacat sedikit pun, masih Aisya yang sama."



"Kita lihat sampai kapan kamu bertahan dengan kata-kata kamu itu." Ikhwan beranjak dari duduknya dan keluar mushola. Tak lama setelah Ikhwan keluar Ernest ikut keluar mushola berjalan menuju kamar rawat Aisya. Tapi ia berhenti di pintu, mungkin ia salah moment karena yang dilihatnya adalah keluarga Aisya tengah menangis berjamaah.



Tak lama Aisya menyapu seluruh kulit wajah yang telah basah oleh air mata, "Ai ngga apa-apa mi, abi... Kan kata umi ini cuma sementara, berarti ada kemungkinan Ai bakal pulih, mungkin..." Aisya terlihat seperti sedang menahan tangis dan kesedihannya, "selama ini Ai kurang bersyukur sama Allah, atas nikmat berjalan, mungkin..." suara Aisya kembali tercekat membuat isakan seisi ruangan terkhusus isakan umi, Arin dan Raudhah terdengar begitu jelas, "selama ini, Aisya sempat berjalan ke tempat yang tidak seharusnya secara disengaja maupun tidak," lanjutnya.


__ADS_1


"Ya Allah, tabah ya nak. Insya Allah abi akan memperjuangkan pengobatan Ai sampai sembuh!" angguk abi mantap.



Ernest mundur beberapa langkah, lalu merogoh ponselnya, "Grandpa----" ia tersambung obrolan dengan grandpa.



Abi, umi, dan Arin sedang ke mushola, sementara Ikhwan tengah di cafe rumah sakit, jadi di dalam ruangan hanya ada Aisya, Raudhah dan Ernest.


"My'Hawa, aku pamit dulu ya. Ada jadwal kajian sama kang Rama.." pamitnya.


"Ekhem! Kacang---kacang!" sela Raudhah mencibir ke sweet'an sikap Ernest pada Aisya.


"Ngiri teteh ih!" serunya lagi mencibir dan menggoda.


"Ck, apa sih! Ya udah pergi aja yang rajin ngaji-nya! Semoga istiqomah....oh iya! Aku belum kasih hadiah atas hijrahnya kamu ih!" Aisya mengacak rambut Ernest gemas saat posisi Ernest sedikit dekat dengannya.


Ernest menggeleng, "ngga usah. Justru aku yang harusnya kasih kamu hadiah, kamu yang udah sadarin aku untuk berjalan di jalan yang lurus, membuka mata dan pikiran juga hati aku kalau keyakinan ini begitu indah dan damai...kehadiran kamu dan keluargamu adalah hadiah terindah buatku,"


"Uwuuuuu!" bukannya Aisya yang terharu namun Raudhah yang buka suara. Aisya tertawa, "teteh ih malu-maluin!"


"Ernest, aku boleh minta tolong?" tanya nya.


"Apa itu my'Hawa? Insya Allah aku bisa,"


"Untuk sementara, jangan kasih tau temen-temen kalo aku udah sadar...aku masih belum siap ketemu mereka, aku belum siap kalo harus jujur sama orang lain," jawabnya lirih membuat Ernest dan Raudhah terdiam sejenak. Ditatapnya wajah manis nan cantik bak bidadari, meskipun Ernest belum pernah melihat bagaimana sosok bidadari sesungguhnya.


"Oke," jawab Ernest.


Aisya tersenyum, "makasih."


"Cuma makasih doang?" tanya Ernest membuat senyuman Aisya berubah jadi ketus dan cemberut.


"Ngga ikhlas?" ketusnya sewot.


Ernest tertawa lalu menatap Raudhah, "adik teteh gemesin ya teh, kalo nanti aku lamar Aisya sebelum teteh nikah boleh engga?" tanya Ernest, Raudhah dan Aisya langsung sewot.


"Ya jangan atuh!" kompak mereka.


"Kompaknya, ck---ck!" Ernest menggelengkan kepalanya, kedua adik kakak itu lantas tertawa bersama.


Ikhwan yang sempat akan berbalik ke kamar menanyakan pesanan Raudhah terdiam sejenak di balik tembok dan menyunggingkan senyuman tipisnya.


"Saya pegang kata-kata kamu Ernest," gumamnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2