Dear, My'Hawa

Dear, My'Hawa
INGIN BELAJAR BERSAMA KANG USTADZ


__ADS_3

Ernest melajukan sepeda motornya, kali ini tujuannya tidak seperti biasanya. Bukan arena balap, bukan bengkel, ataupun markas anak-anak motor, bukan pula tempat ibadahnya, melainkan tempat ibadah yang berbeda.



"Coki! Permisi!" ia mengetuk rumah kawannya itu. Sesosok perempuan membuka pintu, ia tersenyum ramah menampakan ekor mata dengan beberapa kerutan saat tersenyum.



"Eh Ernest, masuk Nest!"



"Makasih tante, Coki masih ada di rumah kan?" tanya nya langsung saja masuk. Ia sudah terbiasa datang kesini, hampir setiap waktu, jika membutuhkan teman, terkadang Ernest juga menyempatkan diri untuk menginap, begitupun sebaliknya.



Matanya mengedar, kondisi ruangan tamu masih sama seperti terakhir ia kesini.



"Ada. Tapi kayanya bentar lagi mau ikut kajian deh! Tumben baru kesini lagi, Nest! Kata Coki kepilih ikut OSN ya? Wah, selamat deh!" cerocos ibu Coki seraya berlalu ke arah dapur, karena kebetulan ia sedang membuat cemilan.



"Iya tante. Puji Tuhan, aku lolos di Fisika!" jawabnya menaruh tas begitu saja dan mengekori ibu Coki. Namun tak lama Coki turun dari lantai 2, pemuda itu sudah siap dan kece dengan kemko miliknya juga rambut yang cukup terbasahi air, sepertinya temannya ini baru saja menunaikan ibadah.



"Lu langsung kesini, Nest? Belum sempet makan dong?!" tanya Coki.



"Iya. Baru aja dapet pengumuman langsung kesini, karena lo yang whatsapp!"



"Wah, makan dulu atuh kalo gitu mah!" ujar ibu Coki pada Ernest. Sementara Coki sendiri malah masuk kamar kakaknya, "ma, bilang teh Rahayu, Coki pinjem Al-Qur'annya!"



"Ck! Punya kamu mana emangnya?" teriak ibu Coki, Ernest duduk di ruang makan dan mencomot bakwan jagung disana, masih hangat! Inilah yang membuatnya lebih nyaman berada di rumah Coki, ibu Coki selalu stay di rumah demi menjadi tempat pulang untuk anggota keluarganya.



Tangan-tangan lembut yang sudah mengalami banyak hal itu menaruh segelas es teh manis di depan Ernest, "minumnya."



"Aduh tante, aku jadinya ngerepotin! Makasih, tante orang paling the best ever!"



Coki mendesis, "ngerayu! Percuma, mama gue ngga akan mau sama anak tengil kaya lu! Cakepan bapak gue kemana-mana!"



Ernest tertawa.



"Kamu kalo mau nungguin Coki kajian, tidur aja di kamar atas!" tunjuk ibu Coki.



"Si Ernest mau ikut, ma!" Kini pemuda itu telah memakai peci hitam ngasal, jadi lebih mirip si kabayan, lalu menyenderkan pan tatnya di ujung meja makan. Ibu Coki sampai tersentak kaget, "apa?"



Ernest mendelik pada Coki, "emak gue ngga cepu, Nest!"


__ADS_1


"Kamu---gimana-gimana maksudnya?" tanya ibu Coki tak percaya, membawa puding roti buatannya yang masih panas lalu menaruh di atas meja, untuk didinginkan nantinya.



Ibu Coki menarik kursi dan duduk di sebrang Ernest, "kamu serius mau belajar?" alisnya terangkat seolah bertanya hal lebih spesifik lagi.



Ernest mengangguk, "aku tertarik tante, awalnya cuma penasaran...tapi makin kesini makin tertarik dan tergerak,"



Ibu Coki tersenyum getir, "alhamdulillah, tapi...keluarga kamu?"



Kini wajah Ernest meredup, ia menggeleng, "biar aja. Sampai nanti waktunya mereka harus tau maka Ernest akan kasih tau,"



Ibu Coki mele nguh panjang, di satu sisi ia senang tapi di sisi lain ia hanya bisa menelan saliva sulit, bagaimana jika keluarga Pradiawan sampai tau kalau salah satu putranya ingin pindah keyakinan? Terlebih Edo Pradiawan dan Yohanes Pradiawan.



"Tante do'ain jalan kamu dimuluskan Ernest, Allah bantu kamu menemukan jalannya," Ibu Coki memegang tangan Ernest.



"Amin!" jawab Ernest.



Coki merapikan tasnya, "Nest, lo bawa baju ganti kagak? Baju lo masih ada tuh di lemari,"



Ernest mengangguk, "sip!" ia beranjak dan mengekori Coki menuju kamarnya untuk berganti pakaian.



"Nest, lo yakin?" tanya Coki. Ernest melirik dengan malas, "yakin."


"Bukan karena Aisya kan?"


"Salah satunya, gue ngga bisa pungkiri. Aisya ambil bagian, tapi hanya sebagian, sisanya karena memang hati gue yang mau!"


Motor Ernest melaju menuju salah satu masjid yang terletak di salah satu kampung.


"Elu kajian jauh gini Cok?" tanya Ernest.


"Makanya itu, kadang gue males. Tapi biasanya sih kalo jadwal hari senin ngga disini, berhubung sekarang kamis jadi di masjid deket rumah guru ngaji gue! Soalnya dia ngajar di madrasah juga. Tapi gue yakin, lo bakalan suka sama guru ngaji gue, gokil abis! Makanya gue betah, dia juga mantan anak motor bro!"


Ernest menaikkan alisnya, "wah?! Siapa? Gue kenal ngga?"


"Ngga tau gue, tapi kayanya beda generasi!"


Hati Ernest mulai kembali berdebar saat di ujung mata kini terlihat bangunan yang didominasi warna hijau mulai dari hijau mint, muda hingga tua dengan ornamen tulisan arab. Suasana spiritual mulai terasa, entahlah! Ernest tak bisa menjabarkan itu dengan kata-kata, ia hanya bisa berkata, "gilaaa! Bisa kaya gini gue!"


Aura dingin menyejukan terasa menyapa kulit, begitupun saat kakinya menginjak lantai marmer seperti ada hembusan angin yang melambai mengajaknya untuk masuk dengan ramah, benar-benar pengalaman spiritual yang membuatnya spechless, seolah-olah semua beban yang ada di pikirannya sejak tadi mendapatkan ketenangan sejenak.


"Kang ustadz!"


"Masih inget kesini kamu?!" Rama sudah berada di sana sejak sejam yang lalu.


"Sibuk kang, maaf." Coki tau resikonya datang lagi kesini setelah sekian lama absen kajian. Tapi ia tak bisa menolak permintaan Ernest.


"Mau berapa juz?" tanya Rama.


"Aduh kang, jangan banyak-banyak lah!" mohonnya.


Ernest masih terdiam di batas suci, sampai Rama melirik ke arah belakang Coki, dimana Ernest berdiri, " itu temen kamu?"

__ADS_1


"Iya, kang!"


"Nest!" tegur Coki memanggil. Ernest mengangguk dan mendekat, ia lantas meneliti Rama dari atas hingga bawah, tidak macam kyai-kyai yang biasa ia lihat di google. Perawakannya malah terbilang macam lelaki biasa, berpeci dan bercelana sarung. Justru terlampau keren untuk ukuran seorang guru mengaji.


"Kamu temennya batu?" tanya Rama, Ernest menggeleng, "bukan kang!"


"Terus ngapain cuma diem membatu disitu?"


"Saya..."


"Kamu kesini mau ngapain?" tanya Rama, Coki melipat bibirnya melihat Ernest kewalahan dan gugup ditanya Rama.


"Mau kenal akang,"


Rama menyeringai usil, "ya jangan atuh! Mau ngapain kenalan, kalo udah kenalan terus sayang gitu?! Saya udah punya istri, anak,"


Coki menyemburkan tawanya, "kena lu!"


Rama ikut tertawa dan menepuk bahu Ernest, "saya cuma bercanda, biar lo---gue ngga cepet-cepet end! Masuk boy! Ambil wudhu, terus gabung sama yang lain," titahnya.


"Tapi kang," Ernest menahan langkahnya.


"Kang, saya masuk duluan! Nest," Coki mengangguk memberikan kodenya untuk Ernest berbicara secara pribadi dengan Ramadhan.


"Saya----" pandangan Ernest menunduk ke arah marmer yang memantulkan bayangannya.


Rama mulai melihat ada gelagat tak biasa dari Ernest, "kang saya non, ingin belajar tentang keyakinan akang, Coki, dan Aisya...." jawab Ernest menatap mantap.


Rama menyunggingkan senyumnya, "welcome to my world, and muslim world....kalo mau mengenal Rabb saya beserta umatnya, kamu datang ke tempat yang tepat. Rumah-Nya!" Rama memandang atap yang bersih, tak ada cicak sekalipun apalagi sarang laba-laba. Ernest otomatis ikut menatap ke arah atas hingga kemudian ia mengerutkan dahinya, "kita lagi liatin apa kang?"


Rama tertawa, "saya lagi liatin atap, siapa tau bocor! Terus kamu ngapain ngikutin saya?"


Kembali Ernest tertipu ke sekian kalinya oleh harus ia sebut apa Ramadhan Restu Al-Kahfi ini. Ernest akhirnya bisa terkekeh renyah, "ya saya kira akang lagi nunjukin Tuhan, liatnya ke atas soalnya bilang rumah-Nya!"


"Kamu bisa liat?" tanya Rama.


Ernest menggeleng.


"Kamu ngga bisa lihat sang pencipta, tapi kamu pengen belajar? Terus kamu percaya? Atas dasar apa kamu pengen kenal?" tanya Rama.


Sungguh pertanyaan sederhana namun sebenarnya tak se-sederhana itu pula jawabannya.


"Kamu tidak bisa melihat, tapi kamu bisa merasakan, kamu tidak bisa melihat tapi kamu selalu melihat bukti kebesarannya, siang---malam, makhluk di dunia, saya---Coki itu semua bukti kebesaran-Nya, perasaan kamu itu adalah bukti adanya Rabb saya..." tunjuk Rama ke arah dadha Ernest.


"Ikut saya dulu yuk!"


"Kemana kang?"


"Ke pelaminan!" jawab Rama, "ya ke tempat wudhu atuh, kalo mau mengenal, harus bersih dulu!"


"Cuma mau kenal dan mempelajari aja atau mau ikut log in nih? Sayang soalnya?!"


Ernest menelan salivanya sulit, "kalo udah log in jangan log out lagi, mur tad kamu!"


"Saya sih ngga akan memaksa kamu, coba kamu rasakan----kamu resapi dan ilhami, kalau memang sudah mantap, saya bantu log in!" ucap Rama berbalik pada Ernest.


"Iya kang,"


Rama kembali tersenyum usil, "asal pas lagi ngeresapi jangan tidur aja!" Ernest tertawa renyah kembali mendengar kelakar Rama.


"Tuh! Kaya temenmu si Coki, kerjaannya ngantuk, abis air seember dipake wudhu biar ngga ngantuk!" tunjuk Rama dengan dagunya ke arah dalam masjid, dimana Coki tengah duduk melingkar bersama yang lain.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2