Dear, My'Hawa

Dear, My'Hawa
JAUHI DIA!


__ADS_3

Seminggu berlalu, Ernest jalani dengan memahami keyakinan Aisya. Dengan bimbingan Rama, meski terhalang jarak yang lumayan jauh, kadang pula hujan yang mengguyur kota Bandung namun ia tetap meneguhkan hatinya untuk belajar.


"Tak ada yang mudah, apalagi berhijrah! Bakal ada banyak cobaannya, ibarat kata mau lamar kerjaan...kamu bakal di tes ini dan itu. Mau jadi calon mahasiswa aja susahnya ampun-ampunan apalagi jadi umat-Nya Al-Bashir! (Maha Melihat)"


"Hijrah itu adalah hidayah (petunjuk), iman, anugrah Tuhan...tidak semua orang bisa se-istimewa itu bisa dapetin hidayah berhijrah."


Rama mengambil nafas perutnya, lalu melantunkan tak kalah merdu dari Aisya, jika suara Aisya lembut nan syahdu, maka suara Rama memberikan sentuhan berat, basah namun menentramkan, membuatnya terenyuh dan bergetar.


"Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk (QS. Al Qasas 28 : 56 )"


Ernest bicara 4 mata bersama Rama, duduk bersila di depan mimbar masjid bersebrangan terhalang Al-Qur'an besar yang baru saja Rama dan anak-anak grup kajian baca, sementara Coki berada di pojokan masjid seraya memainkan game online-nya. Coki, teman yang setia menemani Ernest.


"Se-persuasif apapun seseorang mengajak orang lain untuk memeluk keyakinan-Nya dan menyembah Rabb saya, jika sang pemilik hari tidak berkenan...maka ia tidak akan pernah mampu mengubah keyakinan orang itu. Sebaliknya, se-persuasif apapun seseorang mencoba menjauhkan orang lain dari keyakinan-Nya...jika Rabb saya berkenan dan menghendaki, maka dijadikannya orang tersebut malah memeluk keyakinan-Nya dan dekat dengan-Nya."


Ernest mengangguk paham, itu kenapa Aisya tak pernah sekalipun mengutarakan jika Ernest haruslah satu keyakinan dengannya apalagi memaksa Ernest untuk mempercayai apa yang ia yakini, selain daripada memberikan seluruh keindahan kalimat kebesaran Rabb-nya.


"Apa itu artinya saya masuk ke dalam golongan manusia yang diberi hidayah?" tanya Ernest pada Rama, pria 3 anak itu menarik senyuman tipis, "bisa jadi! Kalau itu benar, alhamdulillah----Saya do'akan kamu segera log in dan istiqomah, biar saya bisa kecipratan pahala!" ujarnya tengil.


"Maksud akang?" tanya Ernest, kembali alisnya bertaut.


"Jika seseorang mendapatkan hidayah (menjadi muslim) karenamu, dia istiqomah dalam beribadah...maka itu lebih baik darimu ketimbang memiliki kumpulan unta merah. (HR. Bukhari 3701)."


Ernest diam menyimak, meski alisnya masih bertaut mendengar kata unta merah. "Kamu tau unta merah?" tanya Rama dan Ernest menggeleng, pemuda itu sedikit menggerakan kakinya yang sedikit kaku dan pegal.


"Beuhh, belajar lagi boy! Jangan cuma tau bilang i love you doang!" cebik Rama terkekeh dibalas dengusan tawa Ernest, "oh itu mah utama atuh kang! Masa ngga tau i love you, jatoh dong pasaran saya kalo cuma bisa bilang aku sayang kamu doang mah, ngga english--ngga keren!" akui Ernest langsung mendapatkan hadiah acakan kepala dari Rama, "ngga english ngga hits! Ngga puitis nggagal romantis!" balas Rama, Ernest percaya jika Rama dulunya adalah pemuda playboy! Terlihat dari kosakata wadidaww-nya yang tak terjangkau otak pemuda lain. Ia memuji Ramadhan.


"Ibunya anak-anak saya paling suka kalo dibacain surat Ar-Rahman. Kalo ulang tahun ditanya mau hadiah apa? Dia selalu minta itu buat syarat, sampe bosen saya bacanya. Katanya menurut dia surat itu surat paling romantis! Padahal saya tau lah! Bukan karena suratnya banget yang bikin romantis, tapi karena yang bacanya itu saya!" narsis Rama menaruh ujung telunjuk di pipinya.


Hahaha!


"Cihuyyyy! Narsis nih ye!" seru Coki yang mendengarnya ikut nimbrung.


"Sirik! Karena ngga punya orang buat diromantisin," seru Rama, kini Ernest yang tertawa.


Ernest bergumam, "Ar-Rahman ya, hmm!"


"Balik lagi ke unta merah, unta merah tuh kalo dulu di jamannya Fir'aun masih dagang gorengan, adalah harta dan kendaraan paling mewah, bergengsi, ibarat kata....kalo sekarang mah kaya kawasaki ninja H2 carbon, Ariel ace Iron horse, ducati, atau kalo mobil mah ferarri merah, Lambor, awas lambor bukan lampor! Dan itu tuh bukan hanya satu, tapi kumpulan! " jelas Rama.


"Sok itung sama kamu, satu orang hijrah saja kalo karena saya yang mengajak dan membimbing, maka saya punya pahala sebanyak itu, bisa kamu bayangin tah betapa saya teh nantinya angkaribung sama pahala di akhirat?! Apalagi nanti si orang yang hijrahnya itu! MasyaAllah kan?!" jelas Rama, Coki yang sudah mematikan ponselnya, akhirnya tertarik juga dengan obrolan Ernest dan Rama.

__ADS_1


"Emang yang hijrahnya dikasih apa kang?" tanya Ernest.


"Semua keberkahan yang tidak akan pernah bisa kamu hitung seberapa banyak pahalanya!" Rama tersenyum tipis.


"Tak ada kalimat yang lebih indah dan baik dari dua kalimat syahadat di dunia ini, bahkan 2 kalimat syahadat lah yang akan menjadi saksi mu nanti saat kematian telah menghampiri...." kini raut wajah Rama terlihat serius, parasnya memang tegas, Coki benar! Kalaupun Ramadhan adalah mantan anak motor, ia pastinya memiliki kabatan tertentu dulunya, wajahnya bisa mencerminkan itu, wibawa dan kharismatiknya masih menempel.


Dengan refleks, Coki berkomat-kamit melafalkan 2 kalimat syahadat berulang kali.


"Kamu ngapain, Cok? Takut lupa nanti di liang lahat?" tanya Rama terkekeh. Coki ikut tertawa karena tebakan Rama tepat sasaran. Ernest ikut tertawa, setelah Muhammad yang sering Aisya ceritakan, lalu Adam dan Hawa, berlanjut pada Ibnu Haitham, Aisya, abi dan umi Aisya, sosok Ramadhan menjadi idola Ernest selanjutnya.




Semakin hari, rasa dekatnya terhadap sang Rabb terasa begitu menyeruak di setiap rongga dada dan pikiran, menyejukan---seperti peppermint saat ia menye sap permen menthol. Terasa penuh ke setiap sudut rongga mulut.



Ernest menarik standar satu motornya, lalu melepas helm. Alisnya bertaut, "tumben udah pada balik," gumamnya setengah mencibir dengan senyuman miring.



Ernest membetulkan letak tas di sebelah pundak, seragam sekolah sudah biasa ia bekal saat pulang begini.




Dibukanya handle pintu rumah lalu ia masuk.



"Darimana?" tanya mama Iren yang ternyata sudah menunggunya di depan pintu.



"Rumah Coki,"


__ADS_1


"Setiap hari?!" tanya nya lagi mencecar, Ernest mengangguk.



"Ngga usah bohong sama mama Ernest, buat apa kamu tiap hari ke rumah Coki?! Ada apa, kamu lebih milih ke rumah Coki ketimbang bales pesan Caroline, dia sampe nangis-nangis karena kamu ngga dateng ke partynya dia? Mama tau, Nest! Kamu ngga suka, tapi hargai orangtuanya, mama juga tau kamu sering keluyuran tiap hari dan itu karena mama sama papa terlalu sibuk nyari uang buat kalian----tapi mama denger dari bibi sama adik-adikmu, kamu tuh setiap hari! Setiap hari pulang jam segini? Ngapain?!!! Ketemu Aisya?!" tembaknya penuh selidik dan tuduhan.



Ernest menatap ibunya, "ma, apa harus mama kaya gini tiap Ernest pulang? Mama sadar mama lebih sibuk dengan dunia sendiri, tapi mama pun ngga pernah mau melakukan pendekatan sama anak-anak? Mama terlalu egois," tatapan Ernest yang sendu menyayangkan sikap mamanya, ia lantas berlalu, lelah jika harus selalu berdebat dengan sang mama.



"Pasti ini kerjaan gadis berjilbab itu?! Udah mempengaruhi kamu?! Caroline bilang----"



"Caroline ! Caroline ! Caroline lagi!" sengit Ernest lelah nan geram.



"Stop bicarain orang lain kalo kita lagi ngomong, jangan bawa-bawa Aisya, Caroline atau siapapun ma...karena ini tentang kita..." jawab Ernest.



"Ada apa ini?!" papa Edo mendengar keributan di ruang depan dan ikut bergabung disana.



"Anak kamu tuh pa! Mainnya sama si Aisya terus, jadi kaya gini!" tuduh mama Iren.



"Jauhi dia Ernest! Mama ngga suka! ! Jauhi gadis itu dan semua tentang diaaaa! " teriaknya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2