
Setelah kejadian itu, ancaman papa Edo benar adanya. Ia tak pernah main-main sekalipun itu anaknya sendiri. Putra yang sebelumnya ia elu-elukan dan ia banggakan di depan orang lain. Putra kebangaan yang lebih memilih meninggalkan keyakinan beserta kepercayaan dirinya.
Ernest tak lagi mendapatkan haknya sebagai seorang anak, bahkan sebagai siswa di sekolah. Jika Ernest masih ingin bersekolah, maka ia harus mencari biaya sendiri. Papa Edo benar-benar telah melepasnya.
Mendengar kabar itu dari pesan yang mama Iren dan Caroline sampaikan lewat whatsapp membuat Ernest memejam sekali namun lama, Ernest sudah menduganya jika pada akhirnya papa Edo akan berbuat seperti itu.
Ernest terpejam di bawah guyuran air dingin, otak cerdas remaja yang sebentar lagi menginjak usia 18 tahun ini lelah. Setelah seharian belum tersentuh air, akhirnya ia bisa mandi. Begitu beruntung dirinya, Allah mengirimkan keluarga kang Rama untuknya.
Setelah dirasa kulitnya mulai meremang dingin, ia mematikan shower lalu mengusap seluruh butiran air di kulit dengan handuk.
Pemandangan pertama adalah kamar yang sedang ia tempati sekarang, kamar bernuansa biru langit dan dongker, tak banyak tempelan kecuali moto GP dan lafadz muhammad di sisi kanan dekat meja belajar. Azmi terbilang rapi dan bersih. Tangannya terulur mengambil baju kaos bersih yang terlipat di atas kasur, sudah pasti milik Azmi.
Suara riuh di bawah, adalah hal lumrah disini. Keluarga Ramadhan selalu ramai sepertinya setiap hari, hangat...
"Nest, kenapa ngga turun aja?" pemuda itu dengan tangan yang masuk ke dalam saku celana naik ke atas menyapa Ernest yang malah asik memperhatikan keadaan keluarganya dari balkon atas ke arah ruang keluarga.
Ernest terkekeh menggeleng, "engga. Keluarga lo seru Mi, kang Rama, gue kira orangnya diem, ternyata asik..."
Azmi menyenderkan pan tatnya di besi pembatas balkon seraya melihat Azza yang bercanda ria bersama Rama dan Nara, sesekali ia terkekeh, "teh Azza emang manja sama daddy, dari dulu...kalo a Yoga ke rumah aja malah jadi ngapelin a Azka, karena teteh nempelin daddy terus," Ernest memang tak heran, jika kang Rama akan jadi potret idaman putrinya dalam role model mencari kekasih, karena ayah adalah cinta pertama putrinya.
"Teteh lo masih sekolah?" tanya Ernest, bahkan sejak tadi ia memperhatikan Azza yang menggelayuti lengan Rama.
"Kuliah."
Bersamaan dengan itu Nara beranjak saat asisten rumah tangga menghampiri, "iya nyai..."
"Hey bujang-bujangnya bunda! Turun, makan dulu!" Nara mendongak melihat kedua remaja itu sedang mengobrol.
"Iya bun,"
Ernest cukup terhenyak, makan malamnya versi keluarga Ramadhan adalah makan bareng para pekerja mirip orang hajatan. Keluarga, karyawan, asisten rumah tangga bercampur jadi satu. Namun dari sekian banyaknya jiwa, tak satupun ia menemukan wajah sedih atau kecewa, mereka semua bersuka cita berada disini.
Jangankan mereka yang setiap hari, Ernest saja yang baru mengenal keluarga ini merasakan kehangatan dan keramahan Rama sekeluarga sampai terenyuh bahagia.
"Ini..."
Azmi tertawa kecil, "jangan kaget Nest. Disini mah gini kalo makan, se rt, bareng sama karyawan dari RPH, karyawan bunda, sama keluarga..."
__ADS_1
RPH yang letaknya memang tak terlalu jauh dari rumah, juga usaha skin care kecil-kecilan Nara yang juga rumah produksi serta kantornya tak jauh dari rumah selalu datang kesini untuk mengambil jatah makannya.
Rama menepuk pundak Ernest, "kamu mau kenal sama malaikat surga saya ngga?" tanya nya.
"Loh, bukannya udah kenal bunda Nara?" tanya Ernest. Rama menepis udara, "bukan atuh! Kalo itu mah malaikat surganya anak-anak, ibunya anak-anak, bidadari ranjang saya, kalo malaikat surganya saya....tuh!" tunjuknya pada ambu dan abah.
Azmi menggeleng terkekeh, "Nest, kalo udah nginjek rumah ini ngga afdol kalo ngga kenal sama sesepuh!" ujar Azmi, Ernest terheran namun Azmi dan Rana langsung membawanya ke arah gazzebo yang dimana seorang tua mirip grandpa dengan ciri khas peci hitam dan cincin batu ali duduk seraya mengobrol dengan para pegawai, dialah abah haji Nawir.
*Nikmat Tuhamu mana yang kamu dustakan*?
Ayat itu memang cocok untuk Ernest saat ini, Rama meminta Ernest untuk menginap sementara disini, katanya hitung-hitung menemani Azmi di kamar biar ngga berduaan terus sama guling. Padahal ia tau maksud Rama adalah untuk tak membiarkan Ernest luntang-lantung tak karuan.
Sepertinya tanpa harus bercerita, Azmi sudah tau apa masalah Ernest, dan Ernest kembali terkejut...Azmi tidak kaget dengan masalahnya, mungkin karena sudah terbiasa.
Ernest yang ter lentang berbantalkan kedua tangannya melirik Azmi yang tengah duduk seraya memainkan gitar.
"Disini kaya semacam penampungan ya," kekehnya miris dengan nasibnya sekarang.
"Hm, bisa jadi." Azmi mengangguk dengan tangan menyentuh kunci G.
"Mi, kira-kira daddy lo butuh karyawan tambahan ngga ya?" tanya Ernest. Azmi menoleh dan menghentikan petikan di senar gitarnya, "coba nanti lo ngobrol sama daddy. Sebenernya gue juga ada planing buat bikin usaha Nest, daddy tuh ngajarin anak-anaknya buat mandiri, biar nanti mau beli apa-apa ngga ngandelin uang ortu, biar bisa ngerasain nyari duit tuh gimana. A Azka aja punya usaha bengkel udah dari SMA, teh Azza punya usaha makanan online dari SMA juga, tinggal gue yang belum gerak..." akui Azmi.
__ADS_1
Ernest menarik kedua alisnya ke atas, "wew, salut gue! Ngga nyangka, gue aja ngga kepikiran sampe situ Mi. Dari dulu yang ada di otak gue ya dunia gue sendiri, menikmati gelimang harta yang orangtua kasih, tanpa mau tau gimana nyarinya, dan sekarang baru gue rasain setelah semuanya hilang...kang Rama bener, kita ngga bisa ngandelin milik orang, harus bisa mengandalkan diri sendiri...Sekarang gue baru nyesel setelah semuanya ngga ada," Ernest menggidikan bahunya acuh.
"*Allah tak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan umatnya, Nest*." lanjut Azmi.
Dan kini ucapan Azmi yang berujung ia menyanyikan lagu berjudul Para Pencari Tuhan dari band ungu itu membuat Ernest terhanyut dengan pikirannya sendiri termasuk memikirkan Aisya.
Rama mengajak Ernest ke masjid untuk ikut bergabung dalam forum kajian malam itu.
"Besok jadi kan kang?" tanya nya.
Rama menoleh, "kalau kamu benar-benar sudah yakin dan siap. Why not!"
Ernest mengangguk mantap.
Langkah mereka menyusuri pinggiran jalan kampung malam itu terhenti saat sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti begitu saja mencegat jalan Azmi, Rama dan Ernest.
"Siapa dad?" tanya Azmi, Rama menggeleng namun tatapannya meneliti tapi tidak dengan Ernest, ia seakan sudah tau siapa yang ada di dalam mobil tersebut.
Dan benar saja, awalnya mama Iren turun dari dalam, kemudian mama Iren membantu seorang lainnya turun dengan membawa tongkat hitam berkepala singa.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1