
Ernest begitu khusyuk menjalankan solatnya dan alhamdulillah sejauh ini lancar, ia dapat belajar dengan cepat karena bersungguh-sungguh.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..." Ernest menoleh ke samping kanan dan kiri.
"Alhamdulillah," gumaman bibir Aisya begitu lemah hingga hampir tak terdengar.
Ernest sampai belum menyadari jika Aisya sudah mulai tersadar, hingga ia berbalik----
"Ya Allah! Aisya?!!" serunya membeliak. Segera saja Ernest memencet tombol dan memanggil perawat.
"Alhamdulillah ya Allah!" serunya melihat Aisya, gadis itu menarik sedikit senyuman yang terasa kaku, maklum saja 3 hari ia terpejam tanpa bergerak dan membuka mata.
Seorang perawat datang ke kamar, melihat kondisi Aisya ia segera memanggil dokter dan mengambil alat-alat medis untuk melakukan serangkaian tes.
"Assalamu'alaikum my'Hawa..." gumam Ernest mengecup tangan Aisya tanpa sadar saking senangnya. Aisya mengulas senyuman seraya memejam masih mencoba menetralkan kondisi fungsi organ inderanya.
"Wa'alaikumsalam," gumamnya pelan. Hanya saja Aisya merasa ada yang aneh dengan tubuhnya saat ini, entah karena ia baru bangun dari koma atau memang karena ia baru mengalami kecelakaan. Selalu, yang terbayang dalam ingatan Aisya adalah terakhir kali ia merasakan sakit dan tarikan nafas terakhir kali saat di depan gerbang sekolah, begitu perih, sesak dan sakit.
Umi sudah masuk kembali, ia tak henti-hentinya menangis bersyukur melihat Aisya sudah bangun, bahkan ia mengabari seluruh anggota keluarga di rumah termasuk sang suami.
"Coba lihat telunjuk saya, jelas?" tanya dokter dengan menggerakan telunjuk di depan wajah Aisya, gadis itu mengangguk lemah.
"Jelas," gumamnya.
Disudut sana Ernest duduk melihat Aisya, di samping Aisya umi setia menuntun.
"Ada rasa sakit, pusing yang mendera di kepala?" tanya nya lagi. Aisya mengangguk, "pusing."
"Sus, suhu tubuh?"
"Sedikit tinggi dok," jawab suster.
Dokter lantas meminta Aisya menggerakan tangannya untuk melihat respon motorik.
"Ya, bagus..."
Kemudian giliran kakinya, dokter kembali meminta Aisya menggerakan kakinya. Terlihat jelas gadis itu sangat berusaha keras, entah apa yang terjadi disana, Ernest kini mengernyitkan dahinya dan mendekati umi.
"Umi...." panggil Aisya.
"Umi ini kaki Ai kenapa?" tanya nya mengerutkan dahi.
"Kenapa?" tanya Ernest tak sabar.
Aisya mulai panik, "kaki Ai susah digerakin. Keliatan ngga dok, gerak ngga kaki aku?" balas Ai balik bertanya. Dokter itu melihat ke arah kaki Aisya, "coba gerakin sekali lagi, tarik nafas dulu lalu coba pelan-pelan..." pinta dokter.
"Jangan panik neng," ucap umi mengusap lengan Aisya padahal sebenarnya ia pun sudah panik.
"Eunghhh---udah dok, tapi kok susah?" jawabnya meringis hampir menitikan air mata.
"Hey---hey, sabar dulu oke...mungkin efek koma atau karena abis kecelakaan," Ernest mencoba menenangkan Aisya yang sudah nampak ketakutan.
Dokter Fatimah kemudian mengetuk lutut Aisya dan meneteskan air di atas kulit Aisya. Namun tak ada respon yang terjadi.
"Bu, bisa bicara sebentar di ruangan saya?" tanya dokter pada umi.
Aisya dan Ernest bukanlah anak bocah yang bisa dibohongi atau tak mengerti dengan reaksi dokter saat itu.
"Umi," Aisya memelas melihat umi dengan getir. Namun umi hanya mengulas senyuman terhangat dan ternyaman untuk putrinya, "sebentar, umi mau ngobrol sebentar sama dokter. Ngga apa-apa, Ai ngga akan kenapa-napa," ucap umi mengecup kepala Aisya di balik jilbabnya.
"Ernest titip Ai sebentar ya, umi mau ngomong sama dokter..."
"Siap umi,"
Kedua remaja ini menatap kepergian umi dan dokter hingga hilang dari pandangan, "Ernest gimana kalo aku---"
"Sutttt!" Ernest menangkup wajah Aisya.
"Kamu meragukan kuasa Allah? Apapun yang terjadi itu yang terbaik buat umatnya, seberapa teguh keimanan dan ketakwaan kita, remember my'Hawa?"
__ADS_1
Aisya menatap Ernest secara dekat, karena Ernest memang berada dekat dengannya, tangan Ernest menggenggam kuat tangan Aisya seolah memberikan kekuatan.
"Ngga sadar 3 hari kamu ngga kangen aku, Sya?" tanya Ernest menggoda.
"Lantunan ayat kamu yang jemput aku pulang," jawab Aisya mengulas senyum kaku. Ernest terkekeh, "lantunan ayat yang ngga merdu dan banyak salahnya itu ya? Yang gusur kamu dari tidur panjang kamu?"
Keduanya tertawa kecil, namun tak lama setelah itu situasi terjalin begitu awkward, keduanya terdiam. Ernest melihat tatapan khawatir, ketakutan dari Aisya.
Ia menunjukan kelingkingnya di depan wajah Aisya, "ingat?! Kamu akan menemani hijrahku? Kamu akan selalu ada disini bersamaku? Janji kita di depan bukti kebesaran Allah, loh!" Ernest tersenyum lebar, "no matter what happens!" mantapnya.
"Ernest, kamu ngga bisa percaya janji manusia lebih dari janji Allah. Aku ngga mau salah satu dari kita akan sakit karena terlalu berharap dikala seorang lainnya ngga bisa tepatin janji nantinya, jangan bebankan sebuah janji di pundak. Karena jika kamu sudah berjanji maka kamu sudah berhutang," jawab Aisya menatap Ernest nyalang.
"Maksud kamu? Aku akan tetep pegang janji aku, Sya. Kecuali kalau Allah yang menghendaki aku mati hari sebelum kamu mati..."
Aisya tersenyum mendengar itu, tapi kenapa ia memiliki feeling yang buruk atas apa yang menimpanya kali ini.
"Miss you so much, Sya." Aisya kembali tersenyum dan merona, ia lebih memilih mengalihkan pandangan ke arah lain daripada pipinya semakin merah, netranya jatuh ke arah mawar merah di meja samping ranjangnya, "ini?"
"Aku yang bawa, tiap hari aku ganti. Biar ruangan kamu cantik dan wangi, kaya pasiennya...eh kaya penunggu pasiennya deh---umi!" tawa Ernest langsung mendapat tatapan mendelik tajam dari Aisya, ini dia yang Ernest rindukan, menggoda Aisya hingga gadis ini jutek dan marah.
Keduanya hanya terdiam saling tatap dan berpegangan tangan hingga dua orang memasuki kamar Aisya, "ya Allah Ai!" teh Arin langsung memeluk adik ipar bungsunya.
Ikhwan masih dingin terhadap Ernest, meskipun tak galak dan menolak keberadaan Ernest seperti sebelumnya, mungkin ia butuh waktu untuk menerima kenyataan jika adik bungsunya memiliki penggemar, dan seseorang yang sedang dekat dengannya.
"Dek," Ikhwan mengecup kening Aisya selepas Arin melepaskan Aisya, "umi mana?"
"Lagi ngobrol sama dokter," jawab Aisya.
"Ya Allah, adek teteh." Arin kembali memeluk Aisya, "alhamdulillah kamu sadar juga Ai, teteh meni udah takut, takut kamu ngga sadar lagi," ia kembali menangis mengingat mimpi buruk selama 3 hari yang dialami oleh seluruh anggota keluarga. Sementara ruangan ini diramaikan oleh obrolan Arin dan Aisya meski terkadang Aisya masih loading meladeni Arin.
"Teteh, Ai haus..." ujarnya.
"Sebentar, harus ditanyain dulu sama dokter sama suster...boleh dikasih minum engga-nya..."
Ernest yang memundurkan kursi sejak tadi dan menjaga jaraknya sejak kedatangan kedua kakak Aisya ini angkat bicara, "boleh teh, tapi sedikit-sedikit aja. Cuma boleh pake sendok dulu..."
"Oh, iya. Makasih ya Ernest." Arin tersenyum hangat.
"Iya," angguk Arin seraya menyuapi Aisya air putih.
"*Paraplegia*, cedera saraf tulang belakang yang mempengaruhi anggota gerak bawah dan organ panggul, sementara itu prediksi saya."
"Astagfirullah!" Umi kembali berurai air mata. Hati ibu mana yang tak sakit mendengar anaknya menderita penyakit kelumpuhan.
"Bisa bersifat sementara, bisa juga permanen. Tergantung dari tingkat cedera atau trauma pada tulang belakangnya," kembali dokter memberikan prediksinya.
Manusia hanya bisa memprediksi, meski ilmu kedokteran itu pasti namun tak ada yang tak mungkin bagi Allah. Jika Allah berkehendak maka apapun akan terjadi.
"Ya Allah," umi terisak kuat. Apa yang harus ia jelaskan pada Aisya.
"Kami akan segera melakukan serangkaian tes pada Aisya, untuk mengetahui tingkat keseriusan cedera. Lalu bagaimana cara meringankan gejala atau penyembuhan dan pemulihannya."
"Apakah itu bisa sembuh, dok?" tanya umi masih belum percaya jika Aisya mengalami kelumpuhan setengah badan bawahnya.
"Saya belum bisa memberikan keterangan bu, namun..." dokter Fatimah menatap umi dan memegang tangannya yang telah mendingin, "tak ada yang tak mungkin bagi Allah. Kita berdo'a semoga *ikhtiar* yang sedang kita lakukan untuk Aisya berbuah hasil manis, Allah tau yang terbaik untuk hamba-Nya."
__ADS_1
Umi keluar dari ruangan dokter dengan tatapan kosong tanpa arah tujuan.
"Umi," Ikhwan langsung menyerbu umi saat melihat umi keluar dari pintu dokter.
"Ikhwan!" Umi menangis memeluk putra pertamanya, Ikhwan yang awalnya terkejut dan tak mengerti setidaknya paham, kalau ada hal buruk yang terjadi.
"Ai lumpuh, Paraplegia....setengah bagian bawah Ai lumpuh," adunya.
"Astagfirullahaladzim,"
Badan umi masih bergetar memeluk Ikhwan saat Ikhwan membalas semakin erat pelukan ibu yang telah melahirkannya ke dunia ini, "umi harus ngomong apa sama Aisya? Umi ngga sanggup!"
"Mi, Allah tak akan semata-mata menurunkan ujian dan cobaannya jika bukan hendak meningkatkan iman dan ketakwaan umatnya. Ia tidak memberikan itu melebihi batas kemampuan hamba-Nya. lah menurunkan itu, itu artinya kita mampu termasuk Ai sendiri!" balas Ikhwan.
Umi mengurai pelukannya, dengan mata yang sudah sembab dan jilbab yang basah ia mengangguk setuju.
"Kita ke kamar, Aisya mungkin nunggu kita..."
Rupanya abi dan Raudhah sudah disana, Ernest dan Arin pun masib disana. Kini Aisya bahkan sudah boleh makan dan abi tengah menyuapi gadis kecilnya. Aisya adalah gadis yang kuat, buktinya ia sudah bisa tersenyum kembali dan bercanda dengan abi.
Umi refleks menangis kembali mengingat obrolan bersama dokter Fatimah, ia memilih keluar dari ruangan membuat semua yang ada disana keheranan.
Lirikan mata Abi sontak jatuh pada putranya yang kini malah menunduk tak kuasa. Tenggorokan Ikhwan ikut tercekat saat itu, tak tega melihat Aisya.
"Sebentar, abi mau keluar dulu ngobrol sama umi." Ia menyerahkan nampan makanan pada Raudhah dan keluar menyusul sang istri. Sementara Ikhwan mendekati Aisya dan ikut bergabung disana.
"Kayanya kamu mah betah-betah aja sama makanan rumah sakit!" cibir Ikhwan.
"Soalnya laper! Bayangin aja 3 hari puasa ngga buka-buka," jawabnya menggerutu.
Ernest yang sama-sama memperhatikan keanehan barusan, merasa jika ia harus mengekori abi Aisya. Maka Ernest menggeser posisinya.
"Nest, mau kemana?" tanya Aisya sadar akan posisi Ernest yang semakin mengarah ke pintu.
"Emh, aku ke toilet sebentar Sya, sekalian mau siap-siap solat ashar dulu," jawabnya.
Ernest menghentikan langkahnya saat menemukan abi yang memeluk umi seraya menangis, "umi ngga tega! Gimana reaksi Ai kalo tau dia lumpuh, bi? Paraplegia!"
DEG!
Ernest tersentak, "Paraplegia??" gumamnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Noted:
* ikhtiar : usaha yang bersungguh-sungguh.