
Sesosok tua yang setia mengawal keluarga Aisya kembali menjenguk Aisya setibanya di rumah, bukan karena tak memiliki pekerjaan namun sebagai pemilik perusahaan tugasnya hanya di belakang layar, mengawasi jalannya perusahaan dan kualitas kerja CEO tanpa harus repot-repot jalanin perusahaan.
Jujur saja, ia begitu nyaman berada dalam ruang lingkup keluarga Aisya. Mereka begitu hangat meskipun berbeda keyakinan. Ia merasa seperti sedang bersama...keluarga sesungguhnya.
"Bagaimana tawaranku Huda?" tanya grandpa dengan mulut yang mengunyah bakwan buatan umi Aisya. "Lama-lama disini aku bisa kembali gemuk!"
"Kalo gemuk tapi sehat ya ngga apa-apa pak. Cuma dijaga saja biar kolesterol dan kawan-kawannya tidak ikut gemuk." Tawa abi menyeruput kopi miliknya.
"Benar! Benar! Kamu benar! Kalau memang sudah waktunya aku pergi, maka aku hanya tinggal menyerahkan usahaku pada orang yang tepat!" jawabnya enteng. Ernest tidak disana, sebab ia kini sedang mengikuti latihan tes bersama para peserta OSN lainnya.
Umi tersenyum, "kematian rahasia Tuhan, pak."
Grandpa mengangguk setuju, "jadi?"
Umi dan abi saling lirik dengan tatapan getir untuk sejenak.
"Maaf pak. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, Aisya memilih untuk berobat jalan di Indonesia. Katanya, ia tak mau jauh-jauh dari keluarga dan teman-teman. Saya rasa dokter, rumah sakit, dan para perawat di Indonesia pun tak kalah bagusnya dengan yang ada di luar negri, ya meskipun tidak dipungkiri terkadang teknologi disana lebih canggih. Tapi untuk saat ini, kami memilih menjalani pengobatan di sini saja."
Grandpa kembali mengangguk-angguk paham, "ya...saya juga tak bisa memaksakan kehendak, lagipula obat yang manjur adalah kebahagiaan dan dukungan orang terkasih...tapi jika perlu bantuan, jangan sungkan mengatakannya."
Umi dan abi mengangguk, "insyaAllah..."
Aisya sudah bisa beradaptasi dengan kursi rodanya, meskipun terkadang ia kepayahan. Gadis itu memasang jilbabnya, sejak pulang dari rumah sakit, kamarnya bertukar dengan teh Arin dan a Ikhwan di lantai bawah, berhadapan dengan kamar abi--umi.
Ceklek...
Ia membuka handle pintu dan keluar dari kamar, "mi---bi, temen-temen mau kesini nanti pulang sekolah," ujarnya.
Aisya sudah bisa menerima keadaannya sekarang, ia ikhlas menjalani dengan semua cinta kasih dari orang sekitar. Guru-guru di sekolah tempo hari sudah datang menjenguk dan memberikan dukungannya, Aisya akan tetap diterima dengan hangat di sekolah, karena kekurangannya sekarang bukanlah halangan Aisya untuk tetap menjalani aktivitas juga meraih cita-cita. Bersyukurlah paraplegia yang diidapnya tidak menyebabkan komplikasi serius.
"Iya nak."
Retno memeluk Aisya begitu erat sampai gadis itu merasa sesak, "Ret, ini aku sesek ih!"
"Si Retno ih!" toyor Ayu.
"Hiks---hiks! Harusnya tuh aku yang kasih kamu semangat, tapi aku malah mewek gini!" Retno kembali menangis.
"Lebay ah! Aisya bagi gue tetap cantik dan sempurna! Ujar Ernest yang ikut bersama rombongan grup heboh.
"Kondisi begini bukan akhir segalanya ! Justru awal mula perjuangan kamu agar jadi manusia kuat," Ajeng ikut menimpali.
"Hemm, so tua!" cibir Coki.
"Manusia-manusia kuat, itu kita! Jiwa-jiwa yang hebat, itu kita!" Nistia berdendang.
"Eh iya, gue denger si Caroline dihukum aga lama, lebih dari 5 tahun emang bener ya, Nest?" tanya Retno, obrolan yang semula penuh canda kini lebih tegang dan serius. Aisya menatap Ernest dengan wajah yang terlihat dipenuhi dengan amarah, "pasti! Dia memang harus tanggung jawab!" Ernest menatap Aisya seolah memberitahu Aisya, jika Caroline pantas mendapatkan itu.
"Sokorin deh! Lagian gue gedek banget sama sikap so'nya! Tau ngga, Putri kelas X 4 sama anak-anak lain di kelas XI juga banyak yang kasih pengaduan kalo dia sering lakuin tindakan bullying, makin deh tuh berat hukumannya!" Retno dan Ajeng bertos ria sepaket wajah julidnya.
"Emang ya, lo berdua! Liat temen susah paling bikin happy!" ujar Gibran diangguki Coki.
__ADS_1
"Bukannya gitu, tapi emang karena dianya aja yang nyebelin, hampir satu sekolah ngga suka sama dia sih! Bukan cuma kita doang, mereka malah sampe pada traktiran sukuran denger Caroline di bui!" imbuh Ajeng. Ernest hanya menyunggingkan senyuman miringnya saja mendengar itu, miris!
"Udah lah, yang udah mah biarin aja berlalu. Aku juga udah ikhlas sama kondisi yang sekarang, semoga aja setelah ini Caroline kapok, dan dapet hidayah...aku juga bisa sembuh lagi," timpal Aisya.
"Aamiin!!"
Sementara yang lain sibuk mengobrol, Ardi malah sibuk menikmati kue bolu kukus buatan umi.
"Lo laper apa gimana Di? Gue berasa datang bareng gelandangan yang ngga makan 3 hari!" Gibran menyeruput sirup jeruk miliknya.
Aisya tertawa kecil dengan kelakuan kawan-kawannya yang nampak seperti biasanya, tidak terlalu mengistimewakannya karena kondisi Aisya saat ini, membuat Aisya tak canggung dan merasa dibedakan.
"Mumpung gratis! Enak pula, umi kamu ngga niat bikin toko kue gitu Sya?" tanya Ardi, dibalas gelengan manis Aisya.
"Kapan masuk, Sya?" tanya Nistia.
"Emhh, lusa kayanya..." jawab Aisya.
"Lo kalo mau jadi biang gosip jangan ajak-ajak my'Hawa!"
"Kenapa sih, biasanya juga gitu...ya Sya?!" tanya Retno meminta suara pada Aisya. Sontak saja semua pandangan mengarah pada Aisya, "e...engga...engga kok! Retno yang suka mancing-mancing buat gosipin orang!" Aisya tertawa kecil.
"Emang nih dia nih!" Ayu ikut bersuara.
"Ihhh Aisya, kita berdua sering ih!"
Sepulang dari rumah Aisya, Ernest tak langsung pulang ke rumah papa Edo. Ia meloloskan helaan nafas di atas motornya sebelum benar-benar masuk ke dalam halaman rumah papa Edo.
Besok ia akan mengikuti seleksi OSN tingkat kota, maka malam ini ia akan meminta do'a restu dari kedua orangtuanya, sesuai permintaan Aisya.
Ditatapnya rumah yang selama ia hidup ditempati, halaman tempat ia biasa melintas setiap harinya.
Ting---tong!
Ernest memencet bel rumah, hanya menunggu beberapa menit saja pintu rumah terlihat terbuka.
"Bang Ernest?" adiknya langsung menghambur memeluk Ernest.
"Abang kemana aja! Kata mama abang sekarang tinggal di rumah grandpa?" tanya nya, Ernest mengacak rambut adiknya, "iya. Dan kenapa kamu ngga pernah ke rumah grandpa?! Ngga kangen grandpa atau abang?"
__ADS_1
Kemudian datang lagi adiknya yang lain, "hey brother!" ia meninju bahu adiknya pelan, "bang!"
"Gue ada ke rumah grandpa tapi ngga pernah ketemu lo, bang. Katanya lo sibuk persiapan OSN!" keluhnya.
"Iya sorry--sorry. Mama sama papa?" tanya Ernest.
"Ada, papa lagi sakit bang!" jawab adiknya. Ernest masuk ke dalam dibarengi adik-adiknya, "mama ada bang Ernest balik, ma!"
Mama Iren langsung keluar dari kamar dan memeluk Ernest. Sementara papa Edo hanya melirik ke arah pintu kamarnya.
Pertemuan pertama kali setelah sekian lama Ernest pergi terasa canggung, namun papa Edo tak se sarkas terakhir kali mereka bertemu.
Besok ia akan mengikuti seleksi OSN, maka ia akan meminta do'a dan restu seperti apa yang dikatakan Aisya.
"Gimana Aisya?" pertanyaan itu lolos dari mulut papa Edo, Ernest sampai mengerjap beberapa kali tak percaya.
"B..baik..Aisya baik, alhamdulillah. Papa sendiri gimana ?"
"Ya yang seperti kamu lihat, semakin bertambah usia, malah ditinggal anak lelaki."
Ernest menegakan badannya, di samping mama Iren yang senantiasa memeluk lengan Ernest, "pulang ya Nest," pintanya memohon.
"Papa dengar keluarga Aisya menolak bantuan grandpa untuk berobat ke luar negri? Kenapa? Apa uang dari kami haram?" tanya papa Edo, Ernest menghela nafasnya berat. Di pertemuan pertama mereka, papa Edo sudah memancing emosinya.
*Hufffttt! Astagfirullah*!
Ernest menahan emosi dan meloloskan kalimat-kalimat istigfar, disitu papa Edo dapat melihat perubahan yang signifikan dari perangai Ernest.
"Kalau mereka merasa uang dari grandpa haram, tidak mungkin abi Huda menerima bantuan pengacara grandpa untuk kasus Caroline, kalau mereka merasa uang grandpa haram tidak mungkin mereka menerima bantuan biaya rumah sakit yang grandpa beri padahal sebenarnya mereka mampu. Bukan masalah status uangnya, tapi Aisya lebih memilih berada di samping keluarga dan orang-orang sekitarnya daripada harus jauh dari keluarga dan teman-teman. Abi Huda tidak ingin di cap sebagai parasit dan mengandalkan grandpa, mereka begitu menghargai grandpa dan orang lain yang tulus membantu."
"Apa kamu kesini disuruh juga sama Aisya?" tanya mama Iren.
"Aisya tidak menyuruh dan memaksa Ernest, tapi ia yang membuka mata Ernest jika surga ada di telapak kaki ibu, ma... Dan keberhasilan Ernest ada pada ridho kalian, bagaimanapun baik dan buruknya sikap orangtua..."
Mama Iren menggenggam tangan Ernest erat, "mama mau ketemu Aisya," pintanya dengan mata yang telah berlinang.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.