Dear, My'Hawa

Dear, My'Hawa
CURHAT COLONGAN


__ADS_3

"Aku pulang ya," Ernest melongokkan kepalanya ke arah halaman rumah Aisya, gadis itu ikut menoleh ke arah belakangnya dengan kernyitan di dahi, "kenapa?"


"Itu, motor siapa? Aa, teteh?" tembaknya. Aisya tersenyum usil seraya melirik singkat, "calonku!"


Ernest lantas menaikkan alisnya sebelah, "calon apa? Supir atau kakak ipar?"


Gadis itu kembali terkekeh usil, "ngapain kamu nanya-nanya?! Kepo!"


Ernest melengkungkan bibirnya, menggidikan bahunya acuh, "ya engga. Barangkali mulai saat ini aku harus sudah bersiap latihan..." jawabnya.


"Latihan buat ?" tanya Ai.


"Latihan buat duel sama orang. Latihan buat rayu dan gombal lebih giat lagi, latihan buat lebih posesif lagi." Kemudian Ernest turun dari motornya membuat Aisya terheran-heran.


"Yuk!" Ajaknya ingin masuk ke dalam halaman rumah Ai.


"Yuk kemana?"


Kini Ernest yang tersenyum usil, "maunya neng kemana? Kalo aku sih mau ngajak ke KUA!" kekehnya mengulurkan tangan ke arah Aisya yang langsung mendapat sambaran cubitan dari Aisya. Pemuda ini, panas-panas begini bikin muka Aisya makin memerah saja.


Tak jua menyambut tangan Ernest, ia malah menyalak galak, "gombal! Emang kamu tuh pangeran gombal!"


"Ck, suka geer...emang siapa yang ngajak kamu nikah?! Da aku mah ngajakin kamu buat pel'in lantai KUA," Ernest tertawa menggoda Aisya, begitu puas dan tergelak.


"Sana balik, katanya mau pulang!!!" jujur saja, ia malu dengan tingkat kepedeannya sendiri, bisa-bisanya berpikir jika Ernest mengajaknya menikah. Aisya membalikkan badannya malu.


"Iya atuh engga, becanda Ai...aku mau kenalan sama calon kamu, kali aja dia belum tau sasana judo buat nanti tarung, soalnya aku mau adu kekuatan sama dia buat dapetin kamu," ujar Ernest menahan. Aisya kini kembali tertawa kecil, ia suka---Aisya menyukai Ernest, terlebih saat pemuda itu sedang merayunya seperti ini, berasa dunia tuh warnanya pink, manis-manis aromanis.


"Suka ngaco deh!" Aisya mendorong pelan bahu Ernest.


"Ya udah atuh, aku pulang ya. Maaf atas kejadian di sekolah tadi..." ucap Ernest.

__ADS_1


Raut wajah sumringah itu berubah, "aku ngga suka kamu minta maaf kaya gitu, bukan kamu yang salah. Kaya yang mau pergi kemana aja tau ngga!" imbuhnya cemberut bernada sewot.


Tak ada jawaban dari mulut Ernest, ia hanya mengurai senyuman penuh arti pada Aisya, "bye..." Ernest kembali dan memundurkan motornya untuk sedetik kemudian menyalakan mesinnya lalu pergi.


Ia hanya melambai seraya tersenyum getir saat Ernest pamit undur diri dari mengantarnya pulang. Pemuda itu kekeh memaksa ingin mengantar Aisya, katanya takut Aisya ngga langsung pulang ke rumah, malah belok ke tempat main ding-dong, sungguh alasan tak masuk akal, mana ada permainan itu di jaman sekarang! Tau saja tidak.


Motor matic hitam terparkir cantik di carport, itu artinya teh Raudhah lah yang sudah pulang. Sementara motor-motor lainnya belum ada, pertanda bahwa a Ikhwan dan teh Arin belum pulang bekerja.


"Assalamu'alaikum," Aisya sedikit menunduk agar Raudhah yang kini sedang berdiri di depan meja makan seraya meneguk air mineral dingin tak bisa melihat wajahnya yang mungkin masih sedikit bengkak di bagian pipi, gila saja tenaga se tan memang kuat, iya se tan...orang yang sedang marah sudah pasti dikuasai se tan. Dengan segera Aisya berjalan cepat menuju kamarnya, namun Raudhah ya Raudhah, mulutnya selalu gatal jika sehari saja tak menggoda Aisya.


"Wa'alaikumsalam."


"Cieee! Ada yang dianterin lagi?" godanya pada sang adik seraya menghampiri.


"Apa sih!" jawabnya berkilah seperti biasa.


"Ngga usah boong dek, umi sama abi ngga ada, aa sama teh Arin juga belum balik...cerita aja lah! Jadi ntar kalo ngapel bisa kita barengan!"


Gadis itu terlihat salah tingkah di depan Raudhah, memang dasarnya Aisya tak pandai berbohong, ia malah dengan terang-terangan menutupi pipi dengan ujung kerudungnya lalu bergegas pergi ke atas.


"Dih," alis Aisya terangkat, "korban kejeblos sumur cinta!"


Bukannya menyerah, Raudhah malah mengikuti adiknya ke arah kamar Aisya dan masuk begitu saja.


"Teteh mau ngapain ih! Ngikutin aku, aku mau ganti baju!" sewotnya.


Raudhah hanya berdecak, dengan gerakan yang sudah merebahkan diri di atas ranjang Aisya, "biasanya juga kamu kalo ada teteh cuek aja, kamu juga gitu kok. Kalo masuk kamar teteh suka ngga ketok dulu!" ujarnya menggumam. Aisya hanya melirik saja kemudian memutuskan untuk melepaskan seragam dan jilbab yang melekat di badannya setelah sebelumnya ia bercermin.


"Aman, kayanya udah ngga bengkak lagi," benaknya seraya tersenyum. Aisya membuka lemari dan mengambil pakaian casualnya.


"Si Ernest itu rumahnya dimana?" tanya Raudhah sambil memainkan ujung sarung bantal bermotif doraemon.

__ADS_1


"Ngga tau." jawab Aisya.


"Udah sejauh mana sama Ernest? Masa ngga tau rumahnya,"


Kini Aisya tak bisa untuk tak duduk di atas ranjang samping Raudhah, "ini ceritanya lagi nginterogasi apa gimana?" ia memangku guling dan melihat ke arah kakaknya.


"Kamu ngga mau cerita gitu sama teteh, kaya teteh sering cerita tentang Ahsan sama kamu?" selidik Raudhah kini ikut bangun dan bersila. Lama keduanya bersitatap hingga akhirnya Aisya luluh dan menunduk, apa sudah saatnya ia ceritakan pada seseorang tentang perasaannya akhir-akhir ini, perasaan yang belakangan mulai membebani pikiran dan hatinya, jika ia mulai merasakan yang namanya jatuh cinta....


"Nah kan, diem! Teteh tau, pasti Ernest kan orangnya. Kamu tuh ngga bisa boong, selama ini belum pernah ada cowok yang deket sama kamu. Se-deket ini, sampe nganter-nganter pulang selain Ernest..." tersenyum puas karena tebakannya tepat lalu ia kembali menjatuhkan badannya hingga ter len tang disusul oleh Aisya yang mengikutinya.


"Teh, salah ngga sih kalo aku suka sama Ernest? Udah coba ditahan-tahan tapi ngga bisa," ucap Aisya memegang dadhanya seolah sedang memberikan gambaran jika perasaan itu terasanya di area dadha.


"Suka mah ngga salah. Da kita teh cuma manusia bukan robot yang ngga punya hati, kalo kata orang mah, cinta adalah anugrah, anugrah yang dikasih sama Allah, tergantung gimana kita yang menjalaninya." Jawabnya.


"Tapi salah engga kalo aku suka sama Ernest?" Aisya mengulangi pertanyaannya lagi, membuat Raudhah diam sejenak dan mencerna pertanyaan adiknya itu.


"Maksudnya gimana? Emang Ernest kenapa, ada yang salah sama dia, kalo menurut teteh mah sih wajar aja, Ernest ganteng, keliatannya baik, keliatannya juga humoris...perhatian, peduli mau nganterin kamu pulang, ketemu abi sama umi. Tapi waullahualam, itu menurut kesan pertama teteh...." ujar Raudhah memberikan first impression-nya terhadap Ernest.


"Teh," Aisya menghela nafas berkali-kali seolah sedang mencari kekuatan tambahan.


"Ernest non muslim," cicitnya. Mata Raudhah membeliak sebesar baso boraks.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2