Dear, My'Hawa

Dear, My'Hawa
KEHIDUPAN SEKEJAP SIRNA


__ADS_3

Ernest duduk bersila di depan Rama, "kamu sudah mantap?"


Ernest mengangguk mantap, "iya kang."


"Sebelumnya saya mau nanya sama kamu." Rama membenarkan posisi duduknya, lantas ia menatap Ernest serius penuh selidik, "apa keluargamu tau?"


Mendapatkan pertanyaan seperti itu Ernest terdiam menunduk, butuh beberapa waktu baginya menjawab dan Rama tau akan hal itu, dengan reaksi Ernest saja, ia bisa menebak apa jawaban pemuda 17 tahun ini.


"Saya pasti kasih tau kang, tapi nunggu waktu yang tepat dan kepala dingin," jawab Ernest membuang nafas berat.


"Udah saya duga. Baik atau buruk kamu tetap harus bicara sebelumnya Ernest, di luar konteks entah mereka menerima atau tidak yang penting kamu sudah bicara dan meminta restu," jawab Rama.


"Pasti kang, saya pasti bilang. Tapi..."


"Orangtuamu tidak terima? Atau justru kamu lagi ada problem sama keluarga," tembak Rama tepat.


"Kontroversi pasti ada Ernest, jalan hijrah tidak akan mudah, tapi jika kamu masih tetap yakin, dan semakin yakin...saya pun dengan senang hati membantu, nanti hari Sabtu saya akan kosongkan jadwal, nanti kita datangi ponpes kerabat saya di daerah Gerlong, Sukasari."


Ernest mengangguk sambil tersenyum, tunggu aku Sya, benaknya.


Tanpa mereka sadari dari jalanan depan masjid, sebuah mobil mewah sedang terparkir memperhatikan Ernest dan Rama bercengkrama di dalam sana, meskipun ia tak dapat mendengar percakapan keduanya.


Bugh! Bugh! Bugh!


Tangan yang dihiasi arloji dan gelang emas putih itu memukul stir beberapa kali.


"Selama ini kamu bohong sama mama, Nest!"


"Tante," Caroline mengusap lembut pundak mama Iren, ikut merasakan marah, kesal dan sakit.


Butiran air mata menetes membasahi pipi, "tante salah! Selama ini tante kira, tante sudah mengenal anak-anak tante, anak tante baik-baik aja meskipun tante sama om kerja di luar, terlebih Ernest!" ia menundukan kepalanya di atas stir dengan badan yang bergetar.


"Tante, ini tuh bukan salah tante atau om....ini tuh salahnya Aisya tan, sebelum Ernest kenal sama dia, Ernest baik-baik aja!"


"Ini tuh pengaruhnya si Aisya," lanjutnya dengan wajah yang sudah di penuhi kedengkian dan berapi-api.


Mama Iren menyenderkan kepalanya di senderan kursi lalu memejamkan matanya, apa yang harus ia katakan pada sang suami? Apa yang harus ia katakan pada ayah mertuanya? Ernest memilih jalan hidupnya sendiri?! Apakah lantas harus ia relakan?


"Tante, mau kita samperin Ernest sekarang?" tanya Caroline, mama Iren menggeleng, "dan kita cari ribut di kampung orang..." untuk saat ini, pulang sepertinya akan menjadi pilihan terbaik untuknya seraya memikirkan tindakan apa yang akan ia ambil selanjutnya.


Pertemuannya dengan Rama barusan akan menjadi awal rencana indahnya untuk hijrah, tapi ucapan Rama tadi ada benarnya, tak seharusnya ia diam tanpa kabar berita pada keluarga, tapi sejujurnya ia belum sanggup jika harus jujur pada keluarga, karena sudah pasti penolakan yang akan ia dapat.



*Jalan hijrah tidak mudah, Ernest*.



Handle pintu rumah dibukanya. Dan saat itu terjadi, yang Ernest tau, itu adalah kedipan mata terakhir yang ia ingat sebelum akhirnya ia tersungkur di halaman rumah.



"Kamu mau belajar **keyakinan orang**?!"



*Bughhh*!


*Bughhh*!

__ADS_1



"Paaa!" jeritan histeris mama Iren membahana yang menahannya.



"Sudah saya duga! Gadis si alan itu bawa pengaruh buat kamu! !" teriaknya.



"Dia sudah mendoktrin kamu!"



"Dan kamu! Gimana bisa sampai kecolongan, anak kamu sampai ngikutin orang!" Kini bergantian teriakan itu menggema ke arah mama Iren dari papa Edo.



Caroline membantu Ernest beranjak, dengan lelehan merah kental di sudut bibirnya, Ernest menepis bantuan Caroline.



Ernest tak mendebat papa'nya, orang yang sampai detik kemarin masih memuji dan mengelu-elukan dirinya di depan rekan bisnis, kerabat, keluarga, kini adalah orang pertama yang menghajarnya saat mengetahui ia belajar keyakinan lain.



"Ernest mau jadi muslim, pa...ma..."



"Kamu anak kurang aj ar! Mulai detik ini, kamu bukan lagi anak saya! Pergi !!!" usirnya berteriak.




"Papa!" mama Iren menangis seraya berteriak-teriak.



Apakah ini jalanan terjal yang sering Rama katakan, keteguhan hatinya yang diuji oleh jalan berliku nan curam, menghantarkan Ernest ke dalam jurang hati yang paling dalam. Seperti mimpi buruk yang datang tanpa permisi dan tanda-tanda, papa Edo mengusir dan membuangnya. Sekejap, kehidupan bergelimang harta Ernest raib. Ataukah memang ini maunya Rabb, agar tak menyisakan apapun saat menghendaki Ernest masuk? Benar-benar hanya diri Ernest saja.



"Yang ada di otak kamu tuh apa sih, Nest?! Kamu pengen seiman sama Aisya?! Kamu Gilaaa?!" tanya Caroline menepuk dadha Ernest.



"Ernest tarik ucapan kamu, Nest! Bilang kalo semua ini cuma candaan kamu, cuma keusilan kamu aja?!" pinta mama Iren memegang kedua lengan putranya, tapi tatapan Ernest getir penuh kesedihan.



Mama Iren menangis melepaskan Ernest.



"Jangan pernah kembali ke rumah ini! Tinggalkan semua fasilitas yang saya kasih! Mulai detik ini, kamu tidak berhak pulang ke rumah ini!" murka papa Edo menarik istrinya masuk dengan paksa dan kasar.


__ADS_1


"Nest!" Caroline mengguncangkan pundak Ernest, tapi hanya tatapan tajam yang Ernest berikan.



"Apa sih yang Aisya kasih buat kamu?! Apa yang Tuhan Aisya kasih buat kamu? Ini mau mu? Diusir om Edo, bikin tante Iren nangis, dan keyakinan kita malu?!" tanya Caroline berapi-api menampar Ernest. Ernest meludah yang bercampur da rah, mengelap ujung bibir dan sudut tulang pipinya.



"Bilangin mama, gue pamit!"



"Nest! Ernest!"



Tak ada yang harus Ernest jelaskan lagi sekarang, bahkan pertanyaan Caroline pun sulit ia jelaskan dengan rangkaian kata, karena apa yang ia rasakan tak akan mampu terlukiskan dengan kata-kata selain ketenangan, ketentraman, kehangatan, dan getaran hati.



Ia mencangklok tas punggungnya, dan berjalan tak tau arah tujuan, hanya satu yang ada di otak pintar yang mendadak nge-blank, masjid. Bukan minuman ataupun club malam melainkan bersimpuh pada *yang menggerakan hatinya*.



"Nest, kamu mau kemana?!" teriak Caroline ingin menyusul.



Dengan wajah yang sudah babak belur Ernest berjalan meninggalkan rumahnya. Tak mungkin ia ke rumah grandpa, kakeknya itu adalah salah satu jemaat yang paling taat beribadah, tidak menutup kemungkinan hal yang sama akan ia dapatkan bahkan lebih dari ini, dan Ernest belum siap untuk itu.



Berkali-kali Aisya menghubungi Ernest, tapi pemuda itu tak mengangkat panggilannya, tidak biasanya. Padahal sedang apapun Ernest, jika Aisya memanggil sudah pasti akan segera menjawabnya.



"Ck, Ernest kemana?"



Aisya sengaja datang lebih awal demi menunggu Ernest datang, ia sampai menunggu di depan gerbang sekolah, berjaga-jaga jika mon cong motor besar Ernest terlihat ia akan mencegatnya seperti begal. Terserah orang lain mau berkata apa, karma kah? Karena sering menolak Ernest lalu kini berbalik.


Beberapa kali ia melirik jam di tangan, tapi dari sekian banyak siswa yang masuk melewati gerbang tak terlihat batang hidung Ernest.


"Aisya!"


"Tante, itu yang namanya Aisya!" tunjuk Caroline.


Sesosok wanita paruh baya nan modis menghampiri Aisya bersama Caroline, dari raut wajahnya ia nampak kesal, marah, dan sembab.


"Kamu yang namanya Aisya?!" tembaknya judes.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2