Dear, My'Hawa

Dear, My'Hawa
KERAGUAN


__ADS_3

Grepp!


Tangannya ditangkap Ernest, pemuda itu sudah mengeraskan rahang tegasnya menatap Caroline.


"Ernest,"


"Lo tarik jilbab Aisya, gue telan jangin lo disini sekarang juga!" ia menepis tangan Caroline yang awalnya mencengkram kuat jilbab putih Aisya, hingga kainnya kusut karena dicengkram begitu kuat.


"Ai," Retno membantu Aisya merapikan jilbabnya, bersama mereka sudah ada Nistia, Ajeng dan yang lain, "aku ngga apa-apa Ret," Aisya tersenyum getir, ia mengedarkan pandangan ke sekitar, dimana kini mereka menjadi tontonan satu sekolah.


"Astagfirullah---astagfirullah..." Aisya komat-kamit seraya menghembuskan nafasnya berat nan lelah demi menahan amarah.


"Ernest gue," ia mendengus seraya mengalihkan wajahnya ke samping dan melipat tangan di dada, saat netranya sempat jatuh ke arah mata Ernest yang kelam dan tajam, terlihat jelas jika Ernest marah dan kecewa.


"Ngga nyangka gue Lin, pikiran lo se sempit itu, nuduh Aisya. Dari awal lo yang paling tau kalo gue-lah yang ngejar-ngejar Aisya!" bentaknya dengan mata berapi-api. Caroline mengurai lipatan tangannya kasar, "justru itu! Aku tuh ngga ngerti sama kamu Nest! Nih cewek kasih pelet apa sih?!" tunjuknya ke arah Aisya yang berada di belakang Ernest dengan tatapan tak kalah tajam mengarah kepadanya.


"Kamu tuh mau-maunya di be go-be goin sama dia! Sampe rela ninggalin acara keluarga, sampe ngga denger omongan tante Iren, grandpa, om Edo?! Jangan-jangan dia kasih semua badan di balik kerudungnya dia sama kamu ya Nest?!" tuduhnya membentak, urat lehernya bahkan begitu tegang menonjol pertanda jika gadis ini diselimuti amarah yang begitu teramat.


"Astaga!"


"Astagfirullahaladzim,"


"Caroline! ! Cukup!!" bentak Ernest.


"Kamu tuh jadi kaya bukan kamu Nest, apa kamu mau pindah keyakinan juga hanya karena cewek ini?!"


DEG!


Bukan Ernest, tapi Aisya yang cukup terkejut dengan pengakuan dan perkataan Caroline. Aisya ingat betul dengan pertanyaan Ernest tempo hari, hal yang sama pernah mereka bicarakan.


"Dasar cewek an@$#^\=&$^@! Munafik!"


"Cukup!" Ernest membalikkan badannya ke arah Aisya, dan menutup kedua telinga Aisya dari umpatan dan hinaan Caroline. Mata bening Aisya tersenyum getir menatap Ernest, lalu kedua tangannya melepaskan tangan Ernest, "aku ngga apa-apa, udah denger juga dia bilang apa..." ucap Aisya.


Aisya memang sudah mengepalkan tangannya kuat, ia hanya manusia biasa, remaja pula. Yang ingin ia lakukan saat ini adalah berlari sambil menangis lalu mengadu pada a Ikhwan, teh Raudhah bahkan abi dan umi juga Allah, atau mungkin bahkan ia akan mengadu pada kementrian agama dan kaumnya di seluruh dunia, tapi tak ia lakukan.


"Kata abi, kalo kamu marah ucap astagfirullah...kalo masih marah juga cepetan pergi wudhu, kalo masih marah juga, duduk terus baringan...aku mau wudhu dulu ya," ijin Aisya, ia bukanlah rasul, ataupun malaikat, rasa sakit hati itu mampu membuat Aisya menitikkan air matanya. Tapi sebelum ia benar-benar pergi Aisya bergeser sedikit di balik badan Ernest, "aku udah maafin kamu, Tuhanku itu maha pemaaf, baginda rasul juga dihina---diludahin sama orang ngga marah, justru balik mendo'akan. Aku cukup kaget waktu kamu bilang aku cewek @n jink, aku cukup kaget waktu kamu nampar sambil nuduh jilbabku. Apa jilbabku punya salah sama kamu? Apa jilbabku rugiin kamu? Kamu tau Caroline, jilbabku ini bagai pakaian untukku, kalo kamu sampe lepas tadi---itu artinya kamu sudah menelan jangiku...dan hancur sudah harga diriku. Rasanya aku ngga perlu bikin pembelaan disini, dengan sikap kamu yang seperti barusan aja, semua bisa liat siapa yang sebenernya kurang aj ar...aku cuma bisa do'ain kamu, semoga Tuhanku---Tuhanmu maafin kamu dan kasih kamu hidayah," tatapan tajam yang netra beningnya mengembun itu membalikkan badan menuju mushola sekolah.


"Cewek daj jal!" desis Retno, sebelum akhirnya ia menyusul Aisya bersama Ayu, "Ai!"


"See---itulah bedanya Aisya dan lo, yang bikin gue muak!" ujar Ernest meninggalkan Caroline disusul Coki, Gibran, Duta dan yang lain.


Caroline menyapukan pandangannya ketika banyak pasang mata menganggapnya rendah sebagai manusia tak beradab, "Aargghhh! Apa lo liatin gue?!" bentaknya menggila.


"Lin," Celia menarik Caroline ke parkiran.



Aisya membuka peniti kerudungnya, lalu membasuh dirinya sesuai ajaran dalam hadist.

__ADS_1



*Cewek munafik*!



*Cewek an jinkkk*!



*Pake pelet apa*?!



Ia kembali menyematkan peniti di balik dagunya lalu keluar kamar mandi.



"Astagfirullah---" Aisya kembali komat-kamit dan meneguk air putih.



"Coba sini aku liat, Ai?!" Retno membalikkan wajah Aisya, dimana pipinya masih jelas memerah karena tamparan Caroline.




"Sya," Ernest membalut es batu dalam plastik itu dengan scarf miliknya di dalam tas, ia berjongkok di depan Aisya yang duduk di bangku depan mushola sekolah, di bawah rimbunnya pohon kersen.



"Maaf," ijinnya menempelkan itu di pipi chubby Ai, membuat Aisya cukup tersentak dan memejamkan matanya merasai dinginnya es.



"Sakit ngga Sya?" tanya Coki dengan polosnya, langsung saja dihadiahi dorongan Duta, "pertanyaan lo itu, mana ada di tampar enak, nyet!"



Ajeng tertawa bersama Ayu dan Retno.



"Perlu aa Ardi bales ngga Sya?"



"Huu! Aa, aa--ii, aa--ee?" sarkas Nistia. Kembali mereka tertawa.

__ADS_1



"Kamvrettt lo pada, temen lagi kesakitan juga malah dibecandain," ujar Gibran.



"Maafin aku ya Sya...aku janji kejadian ini ngga akan terulang lagi, semua yang berhubungan denganku ngga akan berimbas ke kamu lagi," ujar Ernest tak enak hati. Baru Caroline, bagaimana jika keluarganya yang tau ? Apakah jalan hijrahnya tak akan mulus?



Aisya menggeleng lalu mengambil alih es dari tangan Ernest, "aku ngga apa-apa Nest, beneran deh!" ia menyerot air hidungnya.



"Masih merah ngga Ret?" tanya Aisya menunjukkan pipi seputih susu yang sebagiannya tertutup jilbab.



"Dikit sih,"



"Emangnya bener Nest, apa yang dibilang si katrolin?" tanya Ardi, sontak membuat mereka mendengus tertawa, "elu yang katro, njirr!" ujar Duta.



"Ngga usah dibahas," jawab Ernest masih saja tak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari memperhatikan Aisya yang masih memegangi pipi.



"Urusan gue dan keyakinan gue, ngga ada sangkut pautnya dengan siapapun. Semua itu urusan gue sama Tuhan, urusan gue dan hati gue. Bukan Aisya, bukan *teman-teman gue yang berada disana*. Apalagi hanya cinta mo nyet..." Jelas Ernest, membuat Aisya balik menatap Ernest, keduanya seolah sedang berbicara melalui tatapan.



*Kenapa Nest, apa maksudnya omongan kamu*?



*Aku ragu, Aisya...bukan karena tekadku menpercayai. Tapi apakah ke depannya kamu dan keluargamu akan terjamin keamanannya? Bukan diriku yang ku khawatirkan tapi kamu*....


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2