Dear, My'Hawa

Dear, My'Hawa
AKU BERSAKSI


__ADS_3

Ernest benar-benar bersyukur dengan apa yang terjadi semalam. Selepas obrolan di Pusdai, grandpa memintanya untuk tidur di rumahnya, menemani si pria tua yang selama ini hanya berteman supir dan asisten rumah tangga saja di rumah.


Ia memang terusir dari rumah papa, namun rumah grandpa selalu terbuka untuknya. Begitupun fasilitas yang telah dicabut oleh papa Edo, kini diambil alih oleh grandpa, ia yang memberikan semua fasilitas kembali untuk Ernest.


Meskipun begitu, Ernest tak mengambil semuanya. Ia lebih memilih menginap di rumah Rama sampai ia benar-benar log in, katanya hitung-hitung ia pesantren.


Sabtu pagi, dengan disaksikan oleh Rama, grandpa, dan Nara, Ernest kini duduk bersila di antara beberapa santri dan pembimbing di salah satu ponpes.



"Siap?" tanya pimpinan bersorban dan berkaca mata, "jangan tegang atuh ah! Da bukan mau dimintain duit!" kelakarnya membuat Ernest tersenyum kaku. Tangannya mendingin dan gemetar, "silahkan ikuti saya..."



"*Asyhadu an laa ilaha illallah*.." Ernest menghela nafasnya sejenak.



"*Wa asyhadu anna muhammadarrasulullah*..."



(*Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi nabi Muhammad adalah utusan \[rasul\] Allah*)



"Alhamdulillah!" suara mereka menggema, dan grandpa menarik nafasnya lega, ia tak akan kehilangan Ernest, ia tak akan kehilangan cucu-nya, justru satu lagi manusia berhati teguh akan bertambah di sampingnya meskipun jalan yang diambil mereka kini berbeda.



Aisya menangis sesenggukan, di layar pipih miliknya, seseorang yang selalu ada dalam do'a dan kidung malamnya tengah berhadapan dengan seorang *pemuka agama* dan mengucapkan 2 kalimat syahadat, video call yang dilakukan Ernest lewat Rama agar Aisya dan teman-temannya menyaksikan mampu membuat Gibran dan yang lain ikut bergumam lirih, "alhamdulillah."



"Temen gue muslim juga, ya Allah! Kuy ngantin!!! Gue traktir permen kopiko!" seru Gibran heboh seperti sedang menyoraki tim bola jagoannya yang menang.



"Sedeng!" toyor Nistia di kepala Gibran.



"Emoh, kalo cuma permen mah, gue juga mampu beli sepack!" ujar Ajeng nyinyir.



"Yeee---segitu juga harusnya udah alhamdulillah, rejeki!" balas Gibran tak kalah sewot.



Aisya terkekeh melihat teman-temannya, tapi sedetik kemudian senyuman itu berubah redup, begitu banyak hal yang ia pikirkan terutama keluarga Ernest, apakah mereka dapat menerima Ernest? Bagaimana nasib Ernest kedepannya, bagaimana sekolahnya? Bukankah Coki bilang papa dan mama Ernest telah mencabut semua fasilitas dan hak Ernest, terakhir kali mama Ernest menemuinya pun, wanita itu dipenuhi dengan amarah dan kebencian.



Aisya yang lama menunduk tersentak saat suara yang dirindukannya memanggil namanya lirih, "assalamu'alaikum Aisya..."



"Cuuueeeee! Prikitiwww!" seru Gibran.



"Ekhem! Semvakk bapak!" dehem Ardi.



"Anjrittt ih!" sewot Retno, sementara yang lain tertawa.



"Lo berdua mendingan pergi deh, ganggu ih! Berisik!" ujar Ayu.



"Wa'alaikumsalam, Nest." Aisya tersenyum manis. Di belakang, Ajeng sudah mencubiti bahu Nistia saking gemasnya.



"Awwhhh ih! Jeng!" salak Nistia.



"Abisnya gue gemes tau!" balas Ajeng.



"Gemes sih gemes, pundak gue abis lo cubitin!" galaknya lagi.



"Elah, lo berdua berisik aja. Awas minggir, yang ngga kuat mental harap nepi!"



"Kaya yang lo engga aja!"



Aisya tertawa kecil melihat perdebatan teman-temannya.



"Lo semua mendingan pergi deh, gue mau ngomong sama my'Hawa...lo semua ganggu!" ujar Ernest disana.

__ADS_1



"Elah, Nest---kita juga pengen ngobrol sama lo, gimana---gimana bro? Rasanya masuk?" imbuh Ardi.



"Masuk pak Eko!!" seru yang lain.



"Sue lo semua!" decak kesal Ardi.



"Ya abisnya elo kalo ngomong ambigu! Masuk--masuk--masuk apa yang jelas, masuk goa?!" sarkas Gibran.



Ernest menatap Aisya sebelum menjawab pertanyaan Ardi, "ada manis-manisnya..." jawab Ernest.



"Kamvrett," dengus Ardi dan yang lain tertawa melihat ekspresi Ardi yang semakin keruh karena Ernest pun malah bercanda.



"Nest, lo--gue end!" Ardi mencebik dan melipat kedua tangannya di dada.



"Ngambek---ngambek---abang ngambek nih sama adek," ujar Ernest.



"Njirr ih!" decih Nistia.



"Dah ah! Gue mau ngomong bentar sama Aisya, lo semua pergi sana---biasanya juga jajan,"



Ajeng ikut muncul, "kan donaturnya lagi ngga sekolah, jadi jajan libur!"



Ernest berdecih, lalu mereka memberikan privasi untuk Ernest dan Aisya.



"**Dear my'Hawa**....aku udah log in nih!" ucap Ernest. Aisya kembali tersenyum, "*congrats and welcome*, Nest...semoga istiqomah,"



"Insya Allah, jalan kita sudah sama...apakah kamu masih mau temenan sama aku? Tunjukan aku semua keindahan Islam yang kamu tau?"




"Mau apa? Mau nikah sama aku, mau diajakin bangun bahtera adam-hawa?" kelakarnya membuat Aisya tak bisa untuk tersenyum lebar, "Ernest ih! Sekolah dulu yang bener!" serunya ketus.



"Sya, aku rindu..."



Aisya berdehem dan sempat salah tingkah dengan menoleh ke samping kanan lalu membenarkan letak jilbab yang sudah benar.



"Aku juga..." jawab Aisya.



"Aku rindu rasul..." lanjut Ernest, tersenyum usil, mendadak wajah Aisya memerah dan jutek, "i..iya aku juga, aku juga rindu rasul! Kamu jangan geer!" jawab Aisya, 1 detik, 2 detik, tawa Ernest menyembur membuat Aisya menggembungkan pipinya, "ihhh! Ernest jahat!"



"Canda Sya, sumpah aku rindu berat...rindu kamu," ucap Ernest sungguh-sungguh.



Aisya melihat wajah Ernest yang terlihat lega, wajah lelah yang kini sudah melepaskan seluruh beban.



"Kamu dimana?" tanya Aisya.



"Di hatimu," jawab Ernest tertawa.



"Ck. Aku matiin nih vicall nya!" sengit Aisya.



"Iya--iya, aku di rumah kang Rama."


__ADS_1


"Kapan kamu balik ke sekolah? Aku denger---" Aisya menjeda pertanyaannya dan mengerjap seraya menunduk.



Ernest mengernyit disana, "kenapa? Dikeluarin? Fasilitasku dicabut sama papa-mamaku? Diusir?" tebak Ernest mengulas senyum.



"Nest, sabar ya. Kita pasti nemuin jalan keluar masalah ini, aku sama temen-temen bakalan bantuin kamu," ujarnya lembut menenangkan.



Ernest tersenyum, "makasih kalian udah perhatian sama aku. Tapi Sya, kamu ngga perlu khawatir. Aku tetep bisa sekolah seperti biasa, tapi kalo kamu mau bantu aku cukup selipin namaku di setiap sujudmu," jawabnya.



Aisya menautkan kedua alisnya, "papa-mama kamu udah nerima kamu lagi Nest?" tanya nya.



Ernest menggeleng, "tapi aku akan selalu berusaha mendapatkan restu mereka. Saat ini aku punya Allah, grandpa, kang Rama dan keluarga, teman-teman, satu umat rasul, dan---" Ernest menghela nafasnya.



"Kamu...." lanjut Ernest.



"Sudah cukup buatku, kalian adalah support systemku."



Aisya tersenyum, "insyaAllah..."



"Kalo gitu, aku tutup dulu vicall nya ya Sya. Mau pamit sama kang Rama, soalnya sekarang aku ngungsi ke rumah grandpa, sampai aku punya hunian sendiri----buatku dan anak istriku kelak..."



Aisya tertawa, "kejauhan!"



"Assalamu'alaikum my'Hawa..."



"Wa'alaikumsalam."



Aisya menghela nafasnya, semoga ini menjadi awal yang baik untuk dirinya, diri Ernest dan semuanya.



\*\*\*\*


Mobil grandpa terparkir di halaman rumah Rama, "terimakasih Ramadhan dan keluarga, pak Haji...." senyuman ramah nan tulus yang jarang Ernest lihat dari grandpanya itu lemparkan untuk orang sekitar kini dapat ia lihat tertuju untuk keluarga Al-Kahfi.



"Ah, sama-sama Pak Yohanes. Ernest adalah pemuda tersesat yang mencari jati diri, saya sebagai seorang muslim hanya membantu ia menemukan kembali jalan sesuai pilihan hati, semuanya adalah pilihan dan usaha Ernest sendiri, kami hanya perantara Rabb..."



"Sekali lagi terimakasih banyak. Karena telah hadir menjadi penuntun untuk cucu saya yang memang tersesat, saya selaku kakek menunduk hormat untuk siapapun itu, apapun keyakinan yang dipenuhi kelemah lembutan. Keyakinan kalian memang indah, dan hangat...saya akui..." ucapnya mengangguk-angguk.



Sementara Grandpa sedang bercengkrama dengan abah haji soal bisnis dan burung kicau, Rama mengajak Ernest untuk bergabung di luar bersama yang muda-muda.



"Jangan lupa nanti setiap ada kajian datang, biar lebih mendalami lagi fiqih, tajwid sama yang lainnya. Biar nanti belajar ngajinya juga cepet kalo rajin, jadi bisa kasih hadiah surat buat cewek, jangan cuma gombal bahasa inggris doang! Biar cewek makin klepek-klepek!" ujar Rama, Ernest terkekeh, "siap kang!"



Aisya berjalan bersama Retno dan Ayu, kepalanya celingukan ke arah gerbang.


"Aa kamu belum jemput, Sya?" tanya Retno.


Gadis itu menggeleng, "belum kayanya. Katanya sih dari kerjaan langsung, soalnya mau jemput abi sama umi yang baru balik umroh!" jawab Aisya.


Tiba-tiba saja jilbab Aisya tertarik ke belakang, "dasar cewek kurang aj ar!!!!!"


"Gara-gara lo Ernest pindah keyakinan! Puas lo sekarang udah hancurin keluarga om Edo-tante Iren?! Puas lo sekarang udah rebut Ernest?!!!"


"Caroline!"


Hanya sepersekian detik saja, badan Aisya yang sedang menunggu a Ikhwan di gerbang terdorong ke arah luar gerbang pada saat yang bersamaan dengan sebuah mobil angkot melintas dengan kecepatan cukup cepat.


Brakkkkk!


"AISYAAAA!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2