Dear, My'Hawa

Dear, My'Hawa
MENEGUHKAN HATI


__ADS_3

Ikhwan dengan api emosi yang tersulut bak api unggun persami berjalan mencari ruangan yang disebutkan Caroline tadi, langkahnya saja cepat, secepat sonic. Namun nyatanya ia tak menemukan adik bungsunya disana. Lantas ia mencari ke lain tempat, ia sangat tau adiknya itu kalau tidak berada di perpus ya sudah pasti, kantinlah tempatnya berada, tak mungkin di lubang semut.


Jujur saja, hatinya marah, kesal, bukan karena letak perbedaan Ernest, meski itu pun salah satu faktor lain yang membuat perasaannya tak karuan saat ini. Namun lebih kepada--- ia belum rela adik kecilnya itu didekati lelaki, apalagi sampai berpacaran, No---Big No!


Akhirnya Ikhwan menemukan Aisya yang tengah bersantai sambil mengobrol ria, tidak seperti apa yang dikatakan Caroline, justru Aisya tengah duduk bersama Nistia dan Ajeng sambil nyemil, dengan segelas cup jus jeruk dan berbagai aneka keripik di depan mejanya. Sementara Ernest? Malahan pemuda itu tak berada disana. Ia meloloskan kalimat istighfar dari mulutnya, percaya pada sesuatu yang belum ia ketahui kebenarannya itu artinya ia sudah menuduh. Bahkan ia lebih percaya pada orang asing ketimbang Aisya.


"A Ikhwan?!" suara berat khas remaja lelaki menyapa pendengarannya dari arah belakang, membuat ia menoleh seketika, sedikit terkesiap macam orang yang ketauan lagi ngintipin orang.


Dengan cengiran lebar, ia meraih punggung tangan Ikhwan, "ehhh ada a Ikhwan! Apa kabar a? Eh kenapa cuma diem di pintu, ngga masuk aja?!" Ernest berjalan bersama Ardi.


"Aisya! Ada aa kamu!" teriak Ernest berseru justru membuat Ikhwan tergagap dibuatnya tak sempat ia berucap apalagi memarahi Ernest, karena kini mereka semua menoleh ke arahnya.


"Aa?" alis Aisya berkerut, tumben. Ia berdiri lalu beranjak dari sana. Aisya pun melakukan hal yang sama dengan Ernest, meraih punggung tangan Ikhwan dan salim takzim.


"Aa ngapain kesini?" tanya Aisya.


"Kok gitu nanya nya, Sya?" balas Ernest cepat, Ikhwan masih tetap diam, namun wajahnya tak sekeruh tadi.


Aisya menurunkan ketegangan raut wajahnya setelah mendapatkan pertanyaan dari Ernest, tapi setelah itu Aisya menyipitkan matanya usil dan tersenyum jahil pada Ikhwan, "pasti mau ngawasin Ai kan?! Mau nuduh Aisya yang engga-engga?!" tembak adiknya itu, seolah tau isi kepala sang kakak yang posesifnya ngga ada obat.


"Negatif thinking!" Ernest terkekeh.


"A, masuk lah sekalian minum!" ajak Ernest, seolah tak memberikan Ikhwan kesempatan untuknya marah-marah congkak ataupun mengomel seperti saat pertama bertemu.


"Bu, es jeruk satu lagi ya!" tak diminta ataupun di request Ernest memesan segelas jus jeruk untuk a Ikhwan, semakin melolong saja Ikhwan dibuatnya.


"Mau makan sekalian, a?" tanya Ernest. Ikhwan menggeleng, "ngga usah."


Ardi mengehkeh tanpa suara dan berbisik pada Ernest, "cakep! Calon kakak ipar sampe nganga gitu, spechless!"


Ernest menoleh dan menaik turunkan alis, lalu ia lakukan hal yang sama pada Aisya, sebelum Ikhwan menyemprotnya sewot ia duluan mengguyur Ikhwan dengan segelas es jeruk, biar kakak Aisya itu tetap dalam mode kalemnya.


"Udah selesai?" tanya Ikhwan datar pada Aisya, akhirnya ia angkat bicara.


"Udah. Tinggal nunggu hasil aja bentar lagi, do'ain ya?!" angguk Aisya.


"Oh, kenapa hape kamu ngga aktif? Dari tadi aa hubungin kamu?" tanya nya. Ernest yang dengan so kenal so akrabnya duduk di samping Ikhwan.


Pria itu sontak menoleh ngeri, "kamu ngapain duduk disini?"


"Masa mau duduk di samping Aisya, kan katanya belum mahrom!" jawab Ernest, Aisya melipat bibirnya kencang.


"Ya udah bagus kalo ngerti!" jawab Ikhwan, Aisya benar-benar salut dengan keberanian Ernest, usia boleh jauh di bawah Ahsan, tapi kecerdikan dan keberaniannya melebihi kekasih Raudhah itu, ia bahkan tak lagi berani datang ke rumah setelah pertemuan pertamanya dengan a Ikhwan dan lebih memilih bertemu Raudhah di luar.


Ernest tersenyum mendengar jawaban Ikhwan, itu artinya kakak Aisya itu tak menolak dan mengusirnya.


"Umi sama abi ada telfon lagi hari ini?" tanya Ikhwan.


"Ada," Aisya mengangguk. Ikhwan memang tengah berbicara dengan adiknya namun fokusnya terbagi dengan sesekali si ekor mata memandang pemuda di sampingnya.

__ADS_1


"Kamu ngga mau pindah gitu? Tuh temen-temen kamu pada pindah, mungkin karena takut sama saya, atau lebih pada menghargai privasi saya dan Aisya?" tanya Ikhwan galak, mengusir secara halus.


Ernest menggeleng, "kalo ngobrol atau nimbrung sama mereka mah udah bosen, mau cari suasana baru!" jawabnya, Aisya benar-benar sudah tak kuat untuk menahan tawanya, baru kali ini si killer 'asadnya keluarga dapet lawan sepadan.


"Maksud kamu suasana baru kaya gimana?" Ikhwan berkerut.


"Suasana baru, ngobrol sama orang-orang berilmu, orang-orang pinter...siapa tau kepinterannya nular!" kekeh Ernest.


Ikhwan berdehem, "emangnya temen-temen kamu ngga pinter? Mereka kan juga berilmu?! Saya sama Aisya ngomongin masalah keluarga, bukan pasal pelajaran!"


"Ya engga apa-apa, saya tetep bisa ambil pelajarannya. Gimana caranya seorang abang yang punya adek-adek cantik ini bicara sama adeknya, gimana sikap a Ikhwan memperlakukan Aisya, gimana rasa sayang a Ikhwan sama Aisya, itu bisa diliat dari obrolannya!"


"Maksud kamu, adek cantik saya itu, Aisya?" tatapannya sengit.


Ernest mengangguk, "masa harus dibilang ganteng?!"


Aisya kembali menutup mulutnya agar tak menyemburkan tawa menjadi penonton Ikhwan dan Ernest.


"Terus dari obrolan singkat barusan kamu bisa dapet pelajaran apa?" tanya Ikhwan sengak.


"Sekarang saya tau, kalo a Ikhwan sayang dan peduli sama Aisya, buktinya aa ada hubungi Aisya, sampai nyusulin kesini, aa sangat menjaga adik-adik aa. Cara a Ikhwan ngomong sama Aisya yang agak galak itu adalah cara a Ikhwan biar Aisya tau kalo a Ikhwan ingin di turuti tak ingin dibantah. Saya memaklumi dan paham, a Ikhwan ngelakuin itu karena aa peduli dan tak mau adik aa sampai melakukan kesalahan, lalu menyesal di kemudian hari! Aa begitu menjaga dan melindungi Aisya," jelas Ernest.


"Saya salut sama a Ikhwan, aa bukan galak atau menakutkan! Tapi aa ingin menjaga Aisya dari orang-orang yang ingin menyakiti ataupun kesalahan yang mungkin akan Aisya lakukan secara tak disengaja..."


"Saya memang non-muslim, a. Dan saya sangat menghargai juga mengapresiasi aturan keyakinan itu. Justru saya begitu memuji dan memuja, karena dengan begitu kaum perempuan selalu terjaga martabatnya. Tidak dipandang murahan, dan begitu mahal."


Ikhwan terdiam, pandangannya tentang remaja nakal dan tak mengerti apapun tentang keyakinan-Nya terpatahkan. Ernest boleh non, tapi ia begitu menghargai mereka (muslim).


Aisya dan Ernest segera beranjak, "a, Ai ke sana dulu ya. Hayuk Nest!" ajaknya. Ikhwan kembali tercekat saat Ernest meraih sedotan dari gelas kosong bekas es jeruk dan menyodorkannya pada Aisya, kemudian adiknya itu meraih ujung satunya dan bergandengan menuju luar kantin dengan saling bertautan melalui sedotan tanpa bersentuhan.


"Aa tunggu disini, langsung ambil tas terus kita pulang!" Aisya mengangguk dan berjalan di belakang Ernest dengan memegang sedotan.


"Ada ya, kaya gitu?!" Ikhwan menganga.


****


"Yeee! Lolosss!"


Jika ada yang lolos maka ada pula yang gugur, begitulah siklus kehidupan.


Matematika \=> ----


Fisika\=> Ernest Pradiawan XI MIPA 2


Kimia\=>


Ekonomi\=> ----


Astronomi \=> Aisya Nurul Huda XI MIPA 1

__ADS_1


Kebumian\=> -----


Geografi \=> ----


"Yeeee!"


"Alhamdulillah!"


Ardi dan Nistia terlihat lemas karena namanya tak ada disana, sementara Gibran dan Ajeng berhasil mewakili sekolah di kategori Kebumian dan Kimia.


"Selamat ya guys!" tampak betul mata gadis itu sudah berkaca-kaca.


"It's oke Nis! Jangan sedih, belum rejeki," Ajeng dan Aisya memeluk Nistia.


Ernest mengulas senyuman saat kembali bisa bersama Aisya, setidaknya Tuhan masih sayang padanya.


Drrtttt


Ernest menerima pesan dari Coki.


Nest, katanya mau ketemu guru ngaji gue?! Ke rumah deh sekarang!


Ernest tak membalas pesan Coki, ia kemudian meneguhkan hatinya dan membuang nafas kasar, "oke. Gue yakin sekarang!" Apapun yang terjadi, ia sudah yakin.


"Sya," tepuknya di pundak Aisya yang masih menenangkan Nistia.


"Hm?"


"Kan a Ikhwan jemput, jadi aku ngga khawatir kamu pulangnya ngga bakalan sendiri. Aku punya urusan penting, jadi harus pergi sekarang." Ucap Ernest.


"Kamu mau kemana? Jangan pulang malem terus, Nest. Hati-hati."


Ernest tersenyum simpul, "tenang aja. Siap my'hawa !" ia membuat gerakan hormat pada Aisya.


Lalu menepuk-nepuk pundak Ardi dan Nistia, "kegagalan bukan akhir segalanya bro---sist, masih ada jalan lain buat sukses! Gue lagi ada urusan, nanti kalo senggang...gue traktir lo berdua," ucapnya.


"Gue Nest?!" tanya Gibran.


"Idih, gue gimana?!" sewot Ajeng tak mau kalah.


"Ck, iya lo juga! Gue balik ya guys!" Ernest meraih tasnya lalu memberikan lambaian tangan pada Aisya yang sejak tadi menatapnya getir.


"Love you!" gerakan bibir tanpa suaranya membuat Aisya merona seketika.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2