Dear, My'Hawa

Dear, My'Hawa
DEAR MY'ADAM


__ADS_3

Status Caroline naik, bukan lagi tersangka anak, dikarenakan usianya yang telah 17 tahun maka tak ada lagi hal yang dapat meringankan hukumannya, belum lagi aduan dari teman-teman sekolah pasal bullying yang dilakukan Caroline semakin memberatkannya.


Keluarga Aisya memang sudah memaafkan tindakan Caroline namun hukum tetaplah berjalan sebagaimana mestinya, kedua orangtua Caroline berkali-kali datang menjenguk mulai dari parsel buah, sampai barang-barang yang tidak Aisya butuhkan mereka bawa dengan harapan tuntutan atas Caroline dicabut.


"Tidak." Grandpa mengetuk lantai kamar rawat Aisya dengan tongkatnya, "percuma saja kalian berdua membujuk keluarga Huda, semua sudah diserahkan kepada pihak berwajib, Caroline harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah ia lakukan, biarkan ia belajar...jangan dimanjakan! Ini semua salah dari didikan kamu berdua," grandpa buka suara saat ke sekian kalinya orangtua Caroline kembali datang.



Aisya memejamkan matanya diatas kursi roda, hanya bisa berbaring dan duduk saja di atas ranjang membuatnya bosan.



Ia tersenyum dengan wajah dan kulit yang tersorot hangatnya matahari, Ernest tersenyum mengagumi *sang Hawa*.



"Cewek cantik ngga baik loh pagi-pagi sendirian," sebatang coklat terulur di depan wajah Aisya sepaket wajah ganteng pemuda, bau harum Ernest begitu khas nan maskulin.



Aisya hanya bisa merona dibuatnya, sudah tak terhitung berapa ratus kali ia dibuat merona oleh Ernest, "ngga ikut try out bareng pak Wage? Bukannya 3 hari lagi OSN tingkat kota dimulai? Aku liat status facebooknya Nistia,"



Ernest menggeleng, ia berjongkok tepat di depan Aisya, "aku ngga mau ada di tempat yang kamu ngga ada..."



Aisya sontak menautkan alisnya, "kok gitu? Nanti kamu kesusahan waktu ikut seleksi OSN tingkat kota."



Ernest hanya mengatupkan mulutnya lalu beralih menatap wajah keruh Aisya yang sedang mengomel.



"Ernest!" sungutnya.



"Aku ngundurin diri dari OSN tingkat kota, aku ngga mau ikut kalo ngga bareng kamu, Sya."



Aisya mengerjap tak percaya lalu ia menyerahkan kembali dengan kasar, coklat yang baru saja ia terima dari Ernest, "nih! Aku ngga mau, ambil lagi!" kemudian Aisya melipat kedua tangannya di dada.



"Kenapa? Ngga suka?"



"Aku ngga mau terima apapun dari kamu lagi. Kalo kamu kaya gini! Ernest OSN itu cita-cita kita, bukan hanya aku tapi kamu, dan semua orang sekitar kita! Termasuk grandpa dan orangtua kamu, kamu tuh harusnya bersyukur! Orang-orang tuh mau ada di posisi kamu, tapi kamu malah kaya gini! Aku tuh ngga habis pikir otak kamu ditaro dimana?!" seperti biasa, pipinya akan menggelembung, wajahnya akan memerah kemudian alis Aisya akan bertaut menukik jika sedang marah, Aisya juga tak mau menatap lawan bicaranya.

__ADS_1



"Alasan aku mengikuti OSN adalah papa dan kamu...aku sudah kehilangan papa, sekarang kamu pun ngga ikut, daripada aku harus sibuk disana, mendingan aku nemenin kamu terapi..." jawabnya memohon.



"Ernest, hidup kamu tuh masih panjang...masa depan kamu masih cerah, bukan cuma buat nungguin aku yang kaya gini..." kini tatapan Aisya sendu terkesan berair dan terisak mengingat betapa ia berusaha dan menahan sakit saat terapi, ternyata sehat itu memang mahal. Ernest menggeleng kuat dan menghapus linangan di pelupuk mata Aisya, "hey...engga gitu."



"Jangan jadikan hidup kamu stuck di aku, entah besok atau lusa mungkin rejeki kamu itu jadi orang sukses, seorang pimpinan riset atau semacamnya...atau mungkin kamu jadi guru besar fisika seperti apa yang kamu sering ceritain sama aku, sementara aku...cuma bisa jadi beban kamu kalau kamu lebih memilih aku, hidup aku akan terus ada di seputaran kursi roda...." air mata itu jatuh tak tertahan.



"Kamu ! Engga Ai...jangan ngomong kaya gitu, *remember our promise*?"



"Entah besok atau lusa, akan ada seorang hawa lain yang lebih segalanya dari aku, lebih sehat tentunya," Aisya tertawa dalam tangisnya. Ernest tau, Aisya sering melakukan ini, di luar ia akan terlihat kuat, tapi ia tau jika Aisya selalu menangis dalam keheningan disaat semua orang terlelap.



Ernest menggeleng, "Aku akan datang memintamu jika aku sudah layak menjadi imam'mu Aisya. Aku akan datang memintamu jika pemikiranmu sudah terbuka....karena seberapapun aku memaksa dengan membawa grandpa kamu dan keluargamu akan menolak dengan alasan rasa iba."



"Berikan aku syarat berat, untuk meminang kamu nantinya---" lanjut Ernest. Di pertengahan semester 2 ini, Aisya belum bisa melanjutkan sekolahnya karena kondisi yang memaksa. Aisya memandang dengan penuh sorot tak mengerti, "kamu ngeyel...Ernest."




"Aku mau...kamu ikut OSN, *go get it boy*! Aku mau kamu minta restu papa Edo sama mama Iren," Aisya dapat melihat raut wajah malas dari Ernest saat nama kedua orangtuanya disebutkan, "ohh ayolah, Ernest!" mohonnya pada Ernest.



"Bagaimanapun tak ada yang namanya mantan orangtua ataupun mantan anak, aku ngga mau jadi alasan kebencian orangtua kamu terhadap keyakinan kita ataupun kamu...please! Dicoba ya?" bujuk Aisya.



"Aku akan siap kalau kamu sudah meraih apa yang kamu cita-citakan..." tambah Aisya.



"Wew! Berat ya! Lama dong Sya," serunya tertawa.



Aisya ikut tertawa, "katanya tadi minta syarat berat! Gimana sih!" Aisya menjiwir hidung Ernest.



"Tapi aku pun punya syarat buat kamu!" kini Ernest yang mengajukan persyaratan seraya menyerahkan kembali coklat pada Aisya.

__ADS_1



"Dih, kok gitu? Jangan yang berat-berat. Cukup gelang emas emak aja yang dipake waktu pengajian yang berat!" Aisya dan Ernest tertawa bersama.



"Tau aja, ketauan suka merhatiin emak-emak kalo mau ngaji ya?! Jangan-jangan kamu admin akun gosip yang julid itu! Lambe apa tuh---lambe nyinyir!" tembak Ernest membuat Aisya menepuk bahunya keras, "apaan deh!"



"Aku mau kamu ngga menyerah, aku mau...kita sama-sama kejar mimpi kita, kamu harus berusaha pulih, sekolah dan kuliah! Aku mau kita sukses sama-sama..." ujar Ernest.



"Dear my'Hawa....temani aku dalam perjalanan hijrah dan langkah menuju kesuksesanku..." pemuda itu mengulurkan telapak tangannya melayang di atas pa ha Aisya.



"Dear my'Adam...kita belum mahrom aku sampe lupa!" Aisya tertawa dibalas gelak tawa Ernest.



"Insya Allah Nest---insya Allah..." Aisya menatap Ernest, pemuda yang ia kenal memang seorang yang pemaksa, seorang pemuda absurd yang ngeyel dan tak pantang menyerah.



Aisya tersenyum geli menatap netra hitam Ernest, seolah bayangan kejadian lalu yang ia lewati bersama Ernest tergambar jelas menjadi satu kilasan memory indah dan menggelikan.



*Aisya Nurul Huda, aku suka kamu*!



*Hay Aisya! Bidadari-nya gue*!



Aisya menyemburkan tawanya, *boxer tengkorak*!!!



Ernest mengernyit, "kan---kan! Aku bilang juga apa, cewek cantik tuh bahaya sendirian pagi-pagi gini, kesambet se tan! Balik yuk ke kamar, kapan dokternya datang...aku kan kesini mau jemput kamu!" Ernest segera menarik handle kursi roda dan mendorongnya menuju kamar Aisya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2