Dear, My'Hawa

Dear, My'Hawa
SEPOTONG KENANGAN PUSDAI


__ADS_3

DEG !


Sosok tua, mirip abah haji dengan stelan yang masih berkharisma di usia senja-nya itu menatap cucu pertamanya dengan sorotan mata tajam, pekat nan mengintimidasi, memang seperti itu grandpa menatap lawan bicaranya, siapapun.


"Kang, akang sama Azmi duluan aja. Nanti saya nyusul," ucap Ernest menatap Rama sendu nan getir, tapi sepertinya pemuda itu lebih tegar dibandingkan sebelumnya, kekuatan keteguhan hati Ernest menguat saat ini.


"Itu keluargamu?" tanya Rama, Ernest mengangguk, "mama sama grandpa."


Rama maju ke depan keduanya, "saya Ramadhan..." tangannya terulur di depan grandpa Yohanes. Mata yang sudah menjadi saksi kehidupan lebih dari setengah abad itu mengerjap melihat sosok ayah muda di depannya, lebih pantas disebut abangnya Azmi ketimbang disebut ayahnya.


"Yohanes, Yohanes Pradiawan..." grandpa menjabat tangan Rama yang diangguki Rama. Lalu ia mengatupkan kedua tangan di dada saat beralih melihat mama Ernest, begitupun Azmi yang salim takzim pada keduanya.


Rama kembali melihat Ernest, "oke Nest, kalo kamu butuh tempat buat ngobrol sama keluarga kamu..." Rama mengangguk sopan ke arah mama Iren dan grandpa, lalu dibalas oleh anggukan sopan grandpa Yo.


"Kamu bisa pake gazzebo halaman rumah saya, atau di halaman masjid dekat pos."


"Iya kang, makasih."


"Kalo gitu saya sama Azmi duluan, mari..."


"Nest," Azmi menepuk-nepuk bahu Ernest seolah memberikan tepukan penyemangat, seraya berlalu.



Selepas kepergian Rama dan Azmi, grandpa meminta Ernest untuk masuk ke dalam mobil.



"Grandpa ingin bicara sama kamu, bisa kita cari cafe terdekat?"



"Iya grandpa," jawab Ernest menurut. Sementara mama Iren diam saja tak berani menyela jika grandpa sudah angkat bicara.



Ernest masuk di bangku belakang, duduk bersampingan dengan grandpa dan mama Iren berada di samping supir.



Mobil mulai bergerak melewati masjid dan rumah-rumah warga ke arah gerbang keluar kampung. Yang Ernest lakukan adalah menatap dengan nanar ke arah luar jendela mobil, hingga akhirnya ia memutuskan untuk buka suara, mencairkan suasana yang sejak tadi hanya diisi oleh suara mesin mobil.



"Grandpa apa kabar?" tanya nya. Netra hitam kelam dengan kantung mata di area bawahnya itu menoleh, tatapannya kini meredup pada sang cucu.



"Baik...awalnya."



"Setelah mendengar kabar jika putra grandpa mengusir cucu grandpa, kondisi grandpa masih baik, tapi saat menantu grandpa bilang jika alasannya adalah karena cucu grandpa berniat berpindah keyakinan, tekanan darah grandpa cukup naik..."



"Hm," Ernest menunduk, "maaf..."



Mama Iren melihat interaksi itu dari kaca spion, dan mendengarkan bagaimana mertuanya beraksi. Ernest memang akan selalu patuh dan menurut apa yang dikatakan oleh grandpa, ia cukup dekat dengan CEO Pradiawan group itu.



"Disini pak?" tanya supir menyela pembicaraan saat mobil tepat berada di samping sebuah coffeshop.



"Boleh." Jawab grandpa singkat. Bukannya turun grandpa malah menyuruh mama Iren untuk turun.



"Iren, kamu bisa tunggu disini? Biar Ernest papa bawa sebentar?"


__ADS_1


Gerakan Ernest tertahan saat hendak turun lalu menatap grandpa dan mamanya bergantian.



"Loh, Iren kirain papa mau ngobrol sama Ernest di cafe bareng Iren?" mungkin ia cukup keberatan, karena ingin ikut bergabung dalam obrolan mertua bersama anaknya.



Namun tatapan grandpa membuat mama Iren mendadak luluh dan terima, "ya udah. Iren tunggu disini," akhirnya ia mengalah dan turun.



Dalam netranya, dapat Ernest lihat jika mama Iren menatap mobil kemudian masuk ke dalam cafe, sementara dirinya...entah kemana grandpa akan membawanya.



"Yus, Pusdai ya..." pinta grandpa, sontak saja Ernest mengerutkan dahinya, bukankah....



"Grandpa, bukannya Pusdai..." akhirnya Ernest buka suara.



"Pusat dakwah Islam? Kamu bener!" angguknya. Ernest masih tak mengerti kenapa grandpa membawa mereka ke kawasan pusat dakwah Islam, sejak kapan grandpa suka?



Semua pertanyaan menumpuk di otak cerdasnya, namun belum berani Ernest kemukakan, ia lebih memilih menyimpannya rapi-rapi sampai grandpa nanti menjelaskan.



Grandpa mengehkeh, "grandpa sengaja tidak mengajak mama'mu. Dia terlalu cerewet, selalu jadi kompor dan cuma bisa nangis sambil jerit-jerit, berisik!" keluh grandpa sungguh-sungguh membuat Ernest menarik senyuman miringnya, *begitulah mama*.



"Menantu grandpa," balas Ernest. Grandpa mengangguk, "menantu grandpa."




Tangan-tangan yang sudah tua itu memegang tangan Ernest sebagai tumpuan membantunya berjalan selain dari tongkat kesayangannya.



"Pusdai, the place...where my first love blossomed..." ucapnya lirih seraya menatap bangunan itu penuh makna diantara gelap malam dan cahaya lampu-lampu masjid yang berpendar.



"Kita duduk disana, sambil jajan cuanki! Yus, coba panggil tukang cuanki keliling!" pintanya pada sang supir.



"Iya pak." Ia mengangguk dan pergi. Sementara grandpa membawa Ernest duduk di taman dengan bangku tembok yang dikelilingi pepohonan dan kaca-kaca dengan berlafadzkan ayat Al-qur'an, tampak indah berkilau karena sengaja ditaruh lampu dibawahnya agar tersorot, setidaknya itu yang Ernest lihat.



"Maksud grandpa apa?" keduanya duduk di salah satu bangku tembok.



Grandpa menumpukan kedua tangannya di atas tongkat kepala singa-nya, matanya memandang lurus bangunan yang kini berada di samping, seolah sedang menjelajahi waktu ke masa dimana ia menikmati secuil moment manis terdahulu, terlihat dari garis bibir yang menekuk tersenyum.



"Nisa, my first love....dia lah yang menunjukan semua keindahan dunia buat grandpa, dia lah keindahan di balik jilbabnya. Karenanya lah, grandpa jadi seseorang yang taat dalam beribadah seperti sekarang....dia bersama keyakinannya, dan grandpa bersama keyakinan grandpa..." Ernest mengangguk paham.



"Dan disinilah, kisah indah itu bermula, Pusdai...." grandpa menatap Ernest dengan sorot mata sayu menyiratkan jika ia sedang rindu masa-masa itu.



"Apa kamu sudah mengucapkan 2 kalimat log in?" tanya grandpa tiba-tiba. Ernest cukup terkejut, bukan karena heran grandpa tau dengan kalimat syahadat, namun kenapa grandpa tiba-tiba menanyakan itu.

__ADS_1



"Belum grandpa," balas Ernest.



"Hm. Seumur hidup, grandpa tak pernah mengajarkan anak-cucu grandpa untuk menentang aturan keyakinan apalagi hanya karena seorang manusia yang bisa mati." Kini tatapan Yohanes kembali menajam pada Ernest.



"Tapi jika itu datangnya dari hatimu, maka apapun yang terjadi bahkan membunuhmu sekalipun maka baik mamamu, papamu, grandpa tak akan bisa menghalangimu untuk mengejar damaimu...."



Ernest cukup tersentak dengan ucapan pria tua yang terkenal karena ketaatannya jadi jemaat, pria tua yang begitu taat akan kitab dan keteguhan hati terhadap *umat Tuhan-nya*. Ia yang terkenal tak mengenal toleransi akan kesalahan apalagi aturan.



"Apa yang membuat kamu sampai bikin geger seisi rumah, bikin papa dan mamamu murka? Alasan apa yang mrmbuatmu ingin *hijrah*?" tanya nya kembali.



Ernest kini menunduk, "Disana aku menemukan kedamaian. Disana aku menemukan jawaban atas segala ke-*tersesat* an'ku."



Grandpa tersenyum seiring datangnya Yusin bersama seorang pedagang cuanki.



"Nah, ini dia favoritku dan Nisa! Cuanki!" ia menaruh tongkatnya di samping.



Grandpa langsung memesan baso dan siomay plus tahu putih, jajanan favoritnya dulu bersama *seseorang yang indah, Nisa*. Begitupun Ernest dan Yusin.



Ernest menghentikan gerakan tangannya yang tengah memotong baso, "Lalu Nisa kemana?"



Grandpa melirik Ernest sekilas namun tetap mengunyah siomay, untung saja gigi-giginya masih bagus, jadi ia masih bisa menikmati makanan-makanan favoritnya di usia yang sudah tak lagi muda.



"Dia sudah bersama Rabb-nya." Terlihat jelas pria itu seperti sedang menahan tumpukan kesedihan dan kerinduan, meskipun sudah sekuat mungkin ia tahan, namun mata tak dapat berbohong jika ia tengah kembali berduka.



"Cancer, adalah jalan yang Tuhannya berikan untuk mengambil Nisa 47 tahun lalu. Tapi Nisa tak pernah terlihat menangis disaat orang sekelilingnya termasuk grandpa sudah banjir air mata, dia justru tersenyum..."



Ada helaan nafas berat dari grandpa Yohanes, "tau apa yang dia katakan?" tanya grandpa.



Ernest menggeleng, "katanya biar sakit yang dirasakan jadi pelebur dosanya selama hidup di dunia." dan kini tangan-tangan tua yang sedang memegang mangkok ayam ini tak bisa untuk tak bergetar. Asap aroma kuah baso dari dandang si mamang cuanki tak serta merta dapat menyaingi aroma sesak di hidung grandpa.



Grandpa kembali menatap Ernest, "jika kamu sudah yakin akan keteguhan hati kamu untuk berhijrah, jangan pernah kamu mempermainkan keyakinan. Maka grandpa akan menjadi orang yang mendukungmu untuk berhijrah..."



Ernest melolong di tempatnya, Allah memang maha membolak-balikan hati manusia...tak ada yang tau bagaimana cara indah Allah untuk jalan hamba-Nya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2