Dear Captain

Dear Captain
16. Penuh Tanda Tanya


__ADS_3

..."Apa kabar, Sil?" Andika mengulurkan tangannya ke arah ku. Aku ragu, apakah aku harus meraih tangan Andika apa tidak dan aku putuskan untuk tidak membalas uluran tangannya....


..."Aku baik."...


...Andika menarik kembali uluran tangannya sambil menahan apa aku juga gak tau. Ekspresinya sungguh membuatku gak nyaman....


..."Selamat ya, Dik. Semoga lancar sampai hari H nanti." Ucap ku seolah mengalir begitu saja, tapi ada rasa sakit yang luar biasa di dalam dada ku....


..."Hm." Andika hanya mengangguk...


...Aku benar-benar bingung harus ngapain. Damian ke mana coba. Aku butuh pertolongan. Aku tidak yakin kalau aku bisa bertahan dengan hati yang sedang tidak baik-baik saja....


..."Aku..."...


..."... Aku cariin, ternyata di sini." Suara Damian membuatku sedikit lega. Aku tersenyum seolah aku terlepas dari cengkraman singa....


..."Kapten, Damian. Aku belum menyapamu secara pribadi." Andika memeluk Damian....


..."Kapten?!" Batinku dengan rasa penasaran...

__ADS_1


..."Jaga dia sepenuh hati, Dik. Jangan biarkan dia seperti Langit 17 Agustus mu. Aku mengalah bukan karena aku mau, tapi dia lebih memilih mu."...


..."Langit 17 Agustus ku sudah hidup bahagia, Dam." Andika menatap ke arah ku....


..."Damian." Panggilku dan membisikinya ditelinga....


..."Apa perlu aku antar?"...


..."Gak usah. Aku bisa sendiri."...


...Aku hanya mencoba menghindar dari situasi yang tidak membuat ku nyaman itu. Rasanya aku ingin menangis sejadi-jadinya. Kenapa bertemu dengan Andika lagi dalam acara seperti ini! Tulang ku rasanya tidak memiliki kekuatan untuk menyangga tubuhku. Aku mencoba menata hati dan kembali ke dalam ruangan. Namun, saat aku keluar dari toilet, Andika sedang menunggu ku....


..."Sebentar saja. Begini sebentar saja. Aku sangat merindukan mu. Aku tau ini tidak benar, tapi aku mohon sebentar saja." Bisik Andika dan aku tak kuasa untuk bilang tidak, karena aku pun merasakan hal yang sama....


..."Sesil." Suara Damian sepertinya khawatir sedang mencari ku. Damian berulang-ulang memanggil nama ku. Andika melepaskan pelukannya perlahan dari tubuh ki....


..."Sesil." Damian terlihat cemas dengan napas yang sedikit berat, mungkin dia berlarian....


..."Damian. Maaf."...

__ADS_1


..."Kamu ternyata di sini. Aku kira kamu tersesat." Damian menghampiri ku yang sedang bersama Andika....


..."Aku yang membawanya ke sini."...


..."Sesil datang bersamaku. Jadi dia harus bersama ku." Damian menarik ku bersamanya....


..."Dia Langit 17 Agustus yang dulu aku ceritakan padamu." Kata-kata Andika membuat Damian tiba-tiba menghentikan langkahnya. Aku juga gak paham,ada apa dengan Langit 17 Agustus?...


..."Sekarang dia sudah menjadi Langit ku. Aku gak akan biarkan orang lain menjadi bintangnya."...


...Aku tidak paham dengan apa yang dibicarakan mereka. Damian membawaku keluar. Kami tidak kembali ke dalam acara. Damian melajukan mobilnya. Kemudian dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Damian menghela napas. Kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi mobil sambil memejamkan mata. Aku hanya bisa melihatnya dengan banyak rasa penasaran dan bingung. Aku ikut menyandarkan badan ku ke kursi. Tiba-tiba Damian mendekatkan wajahnya ke arah ku yang membuatku sedikit kaget....


..."Damian."...


..."Ternyata kamu wanita itu?"...


..."Siapa?"...


..."Wanita yang membuat Andika benar-benar jatuh cinta waktu itu."...

__ADS_1


..."Aku?!"...


__ADS_2