Dear Captain

Dear Captain
Ekspektasi


__ADS_3

..."Mama senang banget bisa makan bersama seperti ini. Sepertinya kita sudah lama tidak makan semeja ya dengan anak-anak, Pa?" Celetuk Mama Damian sambil melihat ke arah Papa Damian yang sedang asik menyantap hidangan yang disiapkan Mbok....


..."Iya, Ma. Kita yang sibuk atau mereka yang sibuk ya sampai lupa pulang."...


..."Maaf, Pa Ma. Damian jarang pulang." Jawab Damian seolah menyesali diri....


..."Lain kali kita kumpulin saja anak-anak ya Pa. Biar sekalian kenalan sama Sesil. Gimana Pa?" Antusias Mama Damian....


..."Boleh. Kita cari waktu yang pas ya, Ma."...


...Aku merasa sangat diterima di keluarga Damian. Sebenarnya Aku sangat takut kalau orang tua Damian bakalan tidak merestui kami. Damian adalah seorang Captain dan Aku hanya seorang calon guru. Hanya seorang calon guru dari keluarga sederhana....


..."Sesil udah kenal kakak kok, Pa Ma!" Sela Damian....


..."Kenal? Di mana!!" Ucapku kaget....


..."Waktu itu kamu kan Camp bersebelahan sama Kakak ku."...


..."Ya Tuhan. Pasangan suami istri itu kakak kamu?" Aku menutup mulutku karena tidak menyangka....


..."Ternyata Dunia ini sempit ya." Ucap Papa Damian....

__ADS_1


...Pantas saja mereka sangat akrab waktu itu. Bahkan memang terlihat sangat dekat. Ternyata pasutri itu kakak Damian. Ya Tuhan, apakah ini takdir atau sejenisnya. Aku berasa berada dalam sebuah cerita yang semua serba kebetulan....


..."Aku belum cerita ke kamu ya, Sil?" tanya Damian sambil tersenyum kecil....


..."Belum." Jawabku seolah berbisik....


...Keluarga Damian sangat wellcome. Sangat menyenangkan dan nyaman berada bersama mereka. Aku yang baru pertama kali bertemu mereka, merasa sangat diterima. Entah Aku harus bersyukur atas segalanya atau harus terus terjaga agar semua ini bukan hanya sekadar mimpi....


..."Andika kapan hari bertunangan. Kamu datang kah waktu itu, Damian." Tanya Mama Damian tiba-tiba....


..."Iya, datang Ma. Damian hanya datang sebentar karena ada tugas."...


...Ekspresi wajah Damian yang tadinya ceria jadi sedikit berubah karena mendengar kata Andika. Aku hanya mencoba tersenyum meskipun Aku tahu tidak seharusnya melakukan hal itu di hadapan Damian. Tapi, suasana kali ini berbeda. Aku juga bersama orang tua Damian. ...


..."Sesil teman SMA-nya Andika, Ma." Lapor Damian kepada Mamanya....


..."Oh, ya. Kalian benar-benar dijodohkan oleh takdir ya." ...


...Aku hanya bisa tersenyum mendengar obrolan mereka. Aku tidak tahu dan tidak harus menjawab apa pun tentang Andika. Karena Aku tahu, Damian gak akan mau mendengar apa pun tentang Andika dari ku....


..."Maaf. Papa harus kembali. Ada hal mendesak yang harus Papa urus." ...

__ADS_1


...Papa Damian berpamitan dengan kami yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menikmati camilan. Papa Damian sudah memakai pakaian dinas lengkap dan bersiap untuk pergi. Mama Damian pun berdiri untuk mengantarnya....


..."Kalian ngobrol tanpa Papa, tidak apa-apa kan ya."...


..."Iya, Om." Jawabku pelan sambil Aku anggukkan kepala....


..."Mama antar Papa dulu ya."...


...Begitulah tugas seorang abdi negara. Kapan pun, di mana pun. Perintah adalah perintah. ...


..."Begitulah tugas kami. Kamu nanti harus bersiap seperti itu. Aku tinggalin tiba-tiba."...


...Aku hanya mengangguk-angguk seolah mengerti. Tanpa sadar Damian pun tersenyum manis melihatku seperti itu. Damian meraih kepalaku lembut dan menaruh badanku di pelukannya....


..."Anak baik. Nurut banget sih. hahahaha." Goda Damian....


..."Damian, lepas ah. Gak enak nanti dilihatin Mama kamu." Aku mencoba melepaskan pelukan Damian....


..."Kenapa harus malu. Kamu kan calon istriku." Damian makin mendekap ku erat....


...Aku berada di antara kenyataan dan sebuah mimpi....

__ADS_1


__ADS_2