
Ternyata Damian benar-benar mengajakku menemui orangtua ku. Damian dalam perjalanan menjemputku. Rasanya aku belum percaya Damian seserius itu. Kami baru saling mengenal, bahkan cara kami berkenalan tidak seindah di drama Korea yang memakai latar yang romantis dan penuh dengan kejutan yang manis. Malah cara bertemu kami tergolong memalukan karena aku terjatuh ketika kami berkemah. Ya Tuhan, jika aku mengingat hal itu, rasanya mukaku ini ingin aku buang ke sungai biar hanyut.
"Hai…" sapa Damian yang mengagetkan lamunan tadi.
"E ehh… Hai," sapaku balik dengan sedikit gelagapan.
"Ngelamunin apa? Maaf agak lama ya nunggunya. Tadi ada urusan sebentar di Rumdis."
"Enggak."
"Sepertinya kok kamu yang gugup. Padahal yang mau ketemu orangtuamu itu aku, Sayang," Damian merangkul pundakku sambil tersenyum manis.
"Kamu yakin?"
"Kenapa? Kamu gak yakin sama aku!!"
"Bukan seperti itu. Tapi… Kita baru saja bertemu. Kamu yakin dengan perasaanmu?"
"Prajurit selalu yakin dengan langkah yang dia ambil."
"Mm…" gumamku sambil menatapnya.
__ADS_1
"Percaya padaku." Damian memegang wajah kecilku dan mengarahkan tepat menghadap ke wajahnya yang tampan itu.
"Iya." aku mengangguk.
"Berangkat, yuk."
Sepanjang perjalanan, Damian hanya terdiam dan fokus menyusuri jalanan. Sesekali bersuara hanya karena menanyakan arah jalan. Apa Damian sedang memikirkan sesuatu? Apa dia sedang menyusun kata-kata untuk bertemu dengan orangtuaku nanti? Aku penasaran seperti apa dia nanti pas ketemu orangtuaku.
"Yank, masih berapa lama lagi sampai?" tanya Damian tiba-tiba dan membuyarkan lamunanku.
"Eh…" aku melihat jam di pergelangan tanganku. "Sepertinya 10 menit lagi."
"Baik, sudah dekat ya."
"Mau bertanya berapa kali lagi sampai kamu percaya?"
"Eemm iya, iya."
Akhirnya, kami sampai. Damian memarkir mobilnya. Kami pun turun dan berjalan ke arah rumah. Aku melihat kedua orangtuaku yang sedang berdiri di teras rumah. Seolah memang sengaja keluar untuk menyambut kedatangan kami. Mereka tersenyum ramah kepada kami.
"Ayah… Ibuk." aku menyalami tangan kedua orangtuaku dan memeluk ibuku, karena aku sebenarnya sangat merindukannya.
__ADS_1
"Inikah yang namanya Nak, Damian?" tanya ibuku sambil melempat senyum ramah ke Damian.
"Iya, Buk. Kenalkan ini Kak Damian yang Sesil ceritakan."
Damian mengulurkan tangan dan ikut menyalami kedua orangtuaku. Ternyata, ayah dan ibuku menyambut kami dengan senang hati. Tapi entah dengan ayahku, dia hanya tersenyum tanpa mengucapkan kata.
"Ayo masuk," ajak ibuku.
Aku dan ibuku masuk ke ruang dalam. Aku membantu ibuku untuk mengambil minuman dan kue untuk kami. Damian dan ayahku masih di ruang tamu. Entah mereka membicarakan apa yang jelas suasana di ruang tamu jadi terkesan serius dan tegang.
"Nah, ini kue dan minumnya. Ayokk dinikmati dulu. Terus kita makan ya. Pasti kalian lapar dari perjalanan jauh."
"Terima kasih, Bu," ucap Damian dengan lembut.
Aku dan ibu menyiapkan meja dan menata makanan yang sudah disiapkan sebelum kami datang. Kami menikmati makanan dengan lahap, karena masakan ibuku memang yang terbaik. Enak banget.
"Mohon izin. Ayah, ibu."
"Iya, Nak," sahut ibuku.
"Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih karena telah menyambut kedatangan saya kemari dengan senang hati. Sebenarnya, tujuan saya ke sini karena ada sesuatu hal yang ingin saya bicarakan dengan ayah dan ibu."
__ADS_1
Diluar dugaanku, Damian sangat luar biasa. Dia bahkan tidak gugup sama sekali. Bahkan, dia sangat tegas. Malah aku yang deg-degan.
"Saya ingin menjalani hubungan yang serius dengan Sesil. Saya ingin minta izin dan restu dari ayah dan ibu."