
..."Sil, kamu gak berubah ya?Masih seperti Sesil yang aku kenal."...
..."Lha emang aku power ranger bisa berubah wujud." Kesalku....
..."Hubungan kita juga masih sama. Bisa gak ya hubungan kita berubah status."...
..."Maksudnya?"...
..."Berubah status gitu lah, Sil."...
..."Oke. Oke Ntar deh tak ubah status. Sedang otw jalan-jalan." Godaku....
..."Seriusan lha, Sil. Malah dibercandai."...
..."Dika... Sepertinya kita lebih asik seperti ini aja deh." Aku merangkul pundak Andika yang lebar itu dan melemparkan senyum manisku....
..."Terserah lah apa katamu." Cemberut Andika sambil melepaskan rangkulanku....
...Entah kenapa setelah kita berbincang seperti itu. Andika semakin menjauh dan tidak seperti biasanya kepadaku. Andika yang super cerewet, tiba-tiba diam seribu bahasa. Aku sih tidak terlalu memikirkan hal itu, karena aku terlalu sibuk dengan urusan kuliahku. Beberapa bulan ini hampir bisa dihitung jari kita berkirim pesan dan bertelpon....
..."Mbak, kamu pulang gak?"...
...Ada pesan masuk dari Tika. Tika ini sepupunya Andika. Aku lumayan dekat dengan sama Tika. Kami sering jalan bareng waktu kami masih SMA dulu. Awal kenal sama Tika ya karena Andika juga sih....
..."Iya nih, aku lagi di rumah. Kenapa Tik?"...
..."Main ke rumah dong. Lama banget gak pernah main ke rumah. Jalan yuk, mbak. Gak kangen aku kah?"...
..."Maaf, akhir-akhir ini aku sibuk banget, Tik. Oke lah, aku meluncur ke rumah mu ya."...
..."Siap, ditunggu ya. Baik banget deh kamu mbak. Miss you."...
...Aku bergegas menuju rumah Tika. Rumah Tika sih gak jauh dari rumahku hanya sekitar 15 menit lah. Tapi yang jelas ketika Aku ke rumah Tika, pastinya akan melewati rumah Andika. Semoga saja dia gak ada di rumah. Entah kenapa aku tidak ingin bertemu dengan dia untuk saat ini. Rasanya hati ini masih berat untuk bertemu dengannya....
__ADS_1
..."Tika... Tika..."...
..."Iya... Sebentar. Aku datang."...
...Terdengar suara Tika sambil berlari menuju pintu rumahnya membukakan pintu untukku....
..."Masuk mbak. Kangen aku." Sambil menggeretku masuk dan memintaku duduk di kursi empuknya di ruang tamu....
..."Tumben rumahmu sepi, Tik."...
..."Mama lagi keluar mbak. Makanya aku cari temen. Sepi di rumah."...
..."Kan ada adikmu yang ganteng itu. Ajakin aja dia main."...
..."Mana dia mau mbak. Dia sibuk tuh sama para fans-nya.Hhmm kangen ya sama dia." Goda Tika kepadaku....
..."Lha... Siapa juga yang kangen. Tapi udah lama juga sih aku gak ketemu dia. Sekarang pacarnya pasti makin banyak ya dia."...
..."Banget, Mbak. Aku kadang kena imbasnya. Aku disuruh cari alasan buat nolak cewek-ceweknya itu."...
..."Kenapa kalian gak pacaran aja sih, Mbak?"...
..."Aku sama Andika!! Oh, tidak Bisa. Nanti bisa-bisa aku jantungan tiap saat. Lha Andika pacarnya udah banyak, pacarnya berkelas pula. Lha aku kan hanya remahan rempeyek, Bestie."...
..."Khan.... Remahan rempeyek kalau gurih ya enak kali mbak." Goda Tika membalasku....
..."Sudah, ah. Malah bahas si Andika. Bukannya tadi mau ngajak jalan nih." Selah ku mengalihkan pembahasan....
..."Eh... Iya lupa. Aku ganti baju dulu ya, Mbak. Jangan kabur lho. Sebentar ya." Tika seketika meninggalkan ruang tamu dan berlari ke kamarnya....
...Aku merebahkan punggungku dan menyandarkan kepalaku di sofa yang ku duduki. Sambil ku helakan napas sesekali. Merasakan nyamannya sofa ini, hingga mataku tidak terasa sedikit terlelap. Tiba-tiba pundakku terasa berat. Betapa kagetnya aku, ada cowok tinggi besar berparas tampan yang menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku sepontan kaget dan mendorongnya keras-keras....
..."Eh... Kamu..."...
__ADS_1
..."Aduh... sakit. Ini Dika, Sil. Andika" Sambil mengelus-elus jidatnya yang aku dorong karena saking kagetnya tadi. Tapi setelah itu Andika malah tersenyum manis ke arahku....
..."Astaga, Dika. Kamu..."...
..."... Kangen sekali sama kamu."...
...Andika memelukku erat hingga tulangku berasa remuk dan tak bertulang. Aku mau melawan, tapi aku tidak kuasa untuk menguras tenagaku dan melawannya. Aku membiarkannya memelukku erat selama beberapa menit....
..."Hai... Kalian ya..." Teriak Tika mengagetkan kita yang sedang terhanyut dalam kerinduan....
..."Kak Tika.... Ganggu aja sih kamu. Sana balik sana ke dalam." Gerutu Andika dengan nada agak sebal....
..."Enak aja. Ini Mbak Sesil aku yang undang lho. Kamu ngapain ke sini, hah!!."...
..."Oh, iya. Kak, kamu dicariin mamaku tuh. Aku ke sini tadi disuruh manggil kamu. Katanya mama ada perlu sebentar sama kamu. Gih sana ke mamaku dulu. Ntar kamu diomelin lho kalo gak buru-buru nemuin mama."...
..."Jangan bohong kamu!"...
..."Ngapain sih aku bohong, Kak. Apa untungnya juga aku bohongin kamu. Udah sana ke mamaku. Biar Sesil aku temanin sambil nunggu kamu balik, ya Sil!" ...
..."Hhmm. Cari kesempatan dalam kesempitan kamu, Dik. Sil, tunggu bentar ya. Hajar saja kalau Dika macam-macam. Aku ke rumah tanteku sebentar ya."...
...Tika bergegas keluar untuk menemui mamanya Dika. Suasana agak canggung antara aku sama Dika. Tidak ada yang mau memulai obrolan. Kita hanya diam dan sesekali saling memandang....
..."Kamu libur lama atau kembali besok?" Dika mencoba mencairkan suasana....
..."Belum ada libur panjang, Dik. Mungkin besok sore aku udah balik ngampus."...
..."Besok pagi jalan yok. Aku jemput ya."...
..."Emm.. gimana ya..."...
..."Jam 7.30 pokoknya aku ke rumahmu. Siap ya. Wes iya pokoknya. Gak boleh nolak. TITIK."...
__ADS_1
...Tanpa menunggu jawabnku. Dia berdiri,mendekatiku, kemudian mencium kepalaku. Aku hanya terdiam melihatnya pergi dari hadapanku sambil melambaikan tangannya. Aku hanya bisa menatapnya dan terperangah dengan kelakuannya itu. Andika, dia masih saja bersikap manis dan hangat seperti itu. Padahal kami sudah lama tidak bertemu. Bahkan kami juga hampir lost kontak selama ini. Tapi, bagaimana aku tidak menyukai Andika. Sikapnya yang manis dan sedikit manja itu membuatku kangen kalau tidak ada dia. Tapi aku takut memikirkannya apalagi menarih perasaan yang lebih dari pada menyukainya. Aku hanya takut. Siapalah aku menyukai dia. Apakah pantas seorang Sesil gadis biasa saja menyukai cowok yang luar biasa dengan bakat yang melebihi ekspektasi. Kalau pun aku menyukainya, aku yakin aku tidak akan mampu untuk menjaganya. Akan ada banyak mata, suara, dan hati yang akan mencemoohku. Maka dari itu, aku takut suatu saat akan kehilanganmu jika memilih bersamamu dan mencintaimu....
...(Bersambung)...