
"Kami sebagai orang tua hanya ingin anak kami mendapatkan lelaki yang baik dan bertanggung jawab," ujar ayah ku, setelah Damian memberikan penjelasan panjang lebar. Aku sempat berpikir, apakah ayah ku tidak akan menyetujui hubungan kami?
"Nak, tugas kami sebagai orang tua hanya memberikan penghidupan dan pendidikan yang layak untuk anak kami. Untuk urusan jodoh, kami menyerahkan semuanya pada Sesil. Semua terserah Sesil, Nak. Sesil gimana?" sahut ibu ku.
Damian menoleh ke arahku yang sedang duduk di sebelahnya. Aku membalas tatapan mata Damian, yang seolah berbinar, seolah menginginkan jawaban yang bagus dari ku. Aku agak sedikit degdegan. Aku tidak menyiapkan jawaban apapun sebelumnya dan aku belum yakin apakah aku benar-benar menyukai Damian.
"Sil!" panggil ibu ku.
"Iya, Bu," jawabku agak gelagapan.
"Sesil gimana?"
"Iya, Bu. Sesil juga sudah dewasa. Sesil juga tidak ingin main-main terus."
"Berarti Sesil mau menerima Nak Damian?" tanya ibu ku, yang seolah tidak membutuhkan jawaban dari ku lagi.
Damian tersenyum lega, seakan melepas beban yang sangat berat. Aku melihat Damian menghela napas beratnya ketika aku memberikan jawaban itu.
__ADS_1
"Terima kasih sudah memilihku," ucap Damian sebelum menurunkan ku dari mobilnya.
"Aku yang seharusnya berterima kasih, karena kamu telah memilih ku," jawabku.
Damian meraih jemari ku, menggenggamnya kemudian mencium punggung jemari ku. Saat ini aku tidak sedang bermimpi, kan? Aku bukan sedang di drama Korea kan? Iya, Sesil adalah dunia nyata.
"Aku antar sampai depan pintu gerbang ya?" pinta Damian yang masih menggenggam jemari ku.
"Boleh."
Damian membukakan pintu mobil untukku, mengantar aku sampai depan pintu gerbang kos. Tangan Damian yang menggenggam jemariku seolah tidak ingin dia lepaskan, malah semakin erat. Damian tiba-tiba memeluk ku.
"Iya, aku janji."
Damian melepas pelukannya dan memegangi pundakku yang mungil. Dia memandangku lembut, sangat lembut, sehingga aku tidak tahan untuk tidak mencium pipinya.
"Selamat malam," ucapku, melepaskan diri dari Damian dan masuk melewati pintu gerbang dan menutupnya.
__ADS_1
Aku melihat Damian masih terpaku dan memegangi pipinya yang barusan aku cium dengan wajah yang akan terlihat memerah mungkin kalau ada cahaya terang. Tapi sayangnya momen itu tidak terjadi karena cahaya lampu tidak terlalu terang.
"Sudah, sana balik," seruku.
"Kamu... curang. Habis mencium orang langsung kabur gitu aja. Awas ya," gurau Damian.
"Hahaha...kan imbas. Waktu itu kamu juga kan! Udah sana balik. Udah malam, segera istirahat," kataku.
"Baik, sayang. Besok aku antar ke kampus ya... kan aku gak ada kerjaan. Boleh, ya?"
"Iya... iya...udah sana balik ke hotel biar bisa bangun pagi," sahutku.
"Boleh cium lagi gak? Tadi kan cuma pipi sebelah, nanti iri yang sebelahnya," goda Damian.
"Aahhh...enggak. Sudah sana balik," kataku.
"Pelit...ya udah aku balik ya. Sampai ketemu besok pagi," kata Damian, berjalan menuju mobilnya.
__ADS_1
Aku juga berjalan masuk ke dalam rumah kos. Setibanya di kamar, aku ingin menutup tirai kamarku, tapi mobil Damian belum juga pergi. Aku membuka jendela, mencoba untuk memastikan kenapa Damian kok belum juga pergi. Anehnya, Damian tidak sendirian. Ada sosok laki-laki yang sedang bersamanya. Laki-laki itu seperti tidak asing dan ternyata itu Andika. Kenapa dia ada di situ dengan Damian? Aku bergegas keluar dari kamarku dan turun menuju halaman. Tapi, sayangnya, mereka sudah tidak ada. Mereka sudah pergi.