
Aku tidak berani bertanya tentang apa yang aku lihat kemarin malam kepada Damian. Aku hanya banyak diam saja hari ini, karena aku tidak ingin keceplosan soal hal itu.
"Kenapa kok jadi pendiam?" Damian membuka obrolan sambil menyetir.
"Enggak, dari tadi juga udah ngobrol kan?!" elak ku.
"Kamu jangan tegang. Orang tua ku baik kok." Damian mengelus kepala ku lembut dan tersenyum manis.
Hari ini aku bersama Damian melakukan perjalanan ke rumah orang tua Damian. Memang aku sedikit gugup karena baru kali ini aku bertemu orang tua Damian dengan perkenalan sesingkat ini. Aku seolah masih ragu apakah ini memang jalan ku.
"Sebentar lagi kita sampai, sayang." Ucap Damian membuyarkan lamunan ku.
"Beneran." Aku mencoba merapikan dandanan ku, aku kan harus tampil dengan baik.
"Hahahaha. Udah gak usah gugup. Ini kita udah sampai."
Damian memasuk kan mobil ke halaman rumahnya. Astaga, rumahnya gede banget. Apakah aku bisa bersama Damian? Pikiran ku jadi campur aduk tidak karuan. Bagaimana bisa ini disebut rumah, ini adalah istana. Benar-benar besar dan indah.
"Ayok turun, sayang." Damian membukakan pintu mobil untuk ku.
"Terima kasih." Aku pun turun dan tidak menghentikan mata ku untuk memandang sekeliling.
"Mohon izin. Selamat siang. Biar kami parkir mobilnya, capt." Tiba-tiba ada sosok laki-laki yang cukup gagah mendatangi kami dan memberi hormat.
"Siang." Damian memberikan kunci mobilnya kepada laki-laki itu. Mungkin lebih tepatnya disebut Ajudan kali ya.
"Masuk yok." Damian menggandeng tangan ku dan membawaku masuk ke dalam istananya yang megah.
"Pa... Ma... Damian datang."
"Selamat malam mas Damian. Akhirnya pulang juga." Sapa wanita yang sudah separuh baya, hampir seumuran Ibu ku tapi lebih tua wanita ini sedikit terlihat dari rambutnya yang sudah banyak beruban.
__ADS_1
"Mbok..." Damian melepaskan pegangan tangannya dan memeluk wanita yang dipanggilnya mbok itu.
"Mbok kira sudah lupa rumah." Wanita itu menepuk-nepuk punggung Damian seperti sangat merindukannya.
"Aku sibuk banget mbok."
"Wanita cantik ini siapa?"
"Oh, iya mbok. Kenalin, ini calon istriku." Damian dengan bangganya mengenalkan ku dengan sebutan calon istrinya.
"Anak nakal." Si Mbok memukul punggung Damian keras-keras tapi menurutku tidak akan sakit.
"Kok anak nakal sih, Mbok."
"Bagaimana bisa, pulang-pulang malah bawa calon istri. Mana cantik pula."
"Mbok... Cantik kan beneran kan. Cantik banget lho."
"Hust. Kenapa berdiri terus. Kasihan kan Mbaknya. Ayo nak masuk. Namanya siapa?"
"Aduh... boleh." Mbok merangkul tanganku dan membawaku duduk di ruang keluarga yang begitu luas namun sepi.
"Mbok, Papa Mama ke mana?"
"Mereka baru pulang. Mungkin masih bersih-bersih badan. Tunggu sini dulu ya. Si Mbok siapin makanan buat kalian."
"Saya bantuin Mbok." Tawarku.
"Mana boleh tamu ikut repot. Mbok bawakan minum sama camilan dulu ya." Mbok berdiri dan menuju ke dapur.
"Kok sepi banget rumah kamu." Tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Kakak ku ikut suaminya di Singapura. Kakak ke dua ku lagi satgas luar negeri dan istrinya lagi ke rumah orang tuanya. Terus aku kan sedang di sini. hehehe."
"Jadi rumah segede ini..."
"Hanya ada Papa Mama, sama pengurus rumah. Kalau Papa dan Mama ada dinas luar kota, ya tinggal Mbok dan para pengurus rumah lainnya."
"Sayang banget ya..."
"Nanti kan jadi ramai kalau ada kita."
"Kita?!!"
"Iya... Kan kita." Damian memeluk ku.
"Hem." Mbok berdahem mengagetkan ku.
"Mbok Ah, ngagetin aja." Seru Damian.
"Dunia berasa milik berdua. Emang gitu ya orang lagi jatuh cinta." Goda si Mbok sambil menaruh minuman dan camilan yang dibawanya.
"Damian..." Ada suara lembut yang memanggil nama Damian. Damian langsung berdiri dan beranjak memeluk wanita bersuara lembut tersebut
"Mama. Damian kangen banget."
"Mama juga."
Ternyata Mama Damian sangat cantik dan lembut. Pantas saja, Damian se ganteng itu. Apa gen Mama Damian yang diturunkan untuk kegantengannya.
"Oiya Ma, ini gadis yang mencuri hati anak kesayangan Mama." Damian mngalihkan pandangannya ke arah ku yang sedang berdiri agak gugup.
"Selamat malam tante." Sapa ku.
__ADS_1
"Selamat malam, Sesil." Wanita cantik nan lembut di hadapanku membalas menyapaku dengan ramah.
"Ya Tuhan... makin gugup aku." Batin ku.