
...Sebenarnya apa yang aku cari selama ini ada pada Kak Arya. Semuanya ada padanya. Tapi aku memilih hati yang hanya bisa memberiku sakit. Bahkan aku rela melepaskan seseorang yang memberiku kenyamanan. ...
..."Dia menyakitimu?" tanya Kak Arya lembut....
...Aku hanya memandangnya sambil tersenyum, padahal mata ku sembab karena menangis. Kak Arya membalas senyum tipis ku itu dengan senyumannya yang hangat....
..."Aku gak bisa bilang kamu akan baik-baik saja, tapi aku hanya ingin bilang berbagilah cerita dengan ku kali aja bisa melegakan mu sedikit. Aku akan jadi pendengar yang baik."...
..."Kak Arya masih bisa baik sama aku. Padahal aku sudah menyakiti mu."...
..."Siapa yang menyakiti siapa. Gak ada." ucapnya sambil menggenggam tangan ku....
..."Sudah lah. Aku gak mau ambil pusing kak. Mungkin ini karma yang aku dapat dari perbuatan ku terhadap kak Arya waktu itu."...
..."Hei... ini mulut kenapa bahas begitu." Kak Arya menutup mulutku dengan jarinya....
..."Hari ini hari yang buruk, tapi hari yang baik buat ku."...
..."Kok gitu?"...
..."Aku melihat penghianatan, tapi aku bertemu kehangatan." aku memandang kak Arya yang juga memandangku....
...Jujur, aku masih menyimpan rasa terhadapnya. Mungkin tidak besar, tapi sikapnya yang selalu lembut membuatku tak bisa melupakannya. Kak Arya memelukku lembut....
..."Aku merindukan mu. Adakah sedikit kamu juga sama."...
...Aku hanya terdiam. Jantungku mulai terpompa hingga detak-nya semakin kencang. Aku tidak tau harus menjawab apa. Tapi aku juga merindukannya. Sebenarnya....
..."Aku senang bisa bertemu dan ngobrol lagi sama Kak Arya."...
..."Sekali saja kamu bilang merindukan ku. Aku akan mencoba mengambil mu kembali."...
...Deg. Aku tidak menyangka. Kak Arya mengucapkan hal itu sekarang....
..."Apa kak?"...
..."Jangan dihiraukan. Aku hanya bercanda. Udah aku antar balik ke penginapan ya. Kamu harus balik pagi kan."...
...Kak Arya mengantar ku ke penginapan. Sebenarnya aku masih ingin sekali bersamanya. Sebenarnya aku juga merindukannya. Tapi aku terlalu malu untuk mengucapkannya....
..."Sudah sampai. Masuk dan istirahat."...
__ADS_1
..."Terima kasih kak."...
..."Sudah jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin ku bakalan tau apa yang harus kamu lakukan."...
..."Siap."...
...Sekali lagi Kak Arya memeluk ku lembut. Kali ini, dia mencium kening ku. Rasanya sekujur tubuhku mengeluarkan energi panas. Tapi aku harus tetap sadar. Tetap waras. Dia bukan milik ku lagi....
..."Eh...Aku masuk ya kak. Makasih. Semoga bisa ketemu lagi lain kesempatan."...
..."Aku berharap seperti itu."...
..."Hati-hati baliknya kak. Bye. Daa."...
...Kak Arya kemudian pergi dan berlalu. Aku melangkahkan kaki sambil memeriksa ponselku yang sedari tadi aku abaikan. Ternyata ada puluhan miss call dan puluhan massage. Semua dari Andika. Ya semua dari Andika. Aku malas membukanya....
..."Kamu dari mana saja? Aku dari tadi menunggumu di sini!" Suara yang tidak asing....
..."Kamu." Aku menoleh...
..."Ponselmu ke mana?"...
..."Kenapa tidak menjawab telfon ku. Mengabaikan pesan ku?!."...
..."Perlu ya!"...
..."SESIL." Bentaknya...
..."APA?!!" balasku membentaknya juga....
..."Maaf." Memelukku tapi aku mencoba melepaskan pelukannya....
..."Apa. Maaf untuk apa? YANK. SAYANK."...
..."Sil. Bukan seperti yang kamu lihat dan dengar."...
..."Terus seperti apa? Aku harus pura-pura gak tau."...
..."Dia teman kampus, teman satu fakultas, teman satu jurusan."...
..."And Than. Why?"...
__ADS_1
..."Aku gak ada apa-apa.sama dia."...
...Aku hanya tersenyum kecut. Tidak ada apa-apa katanya. Gila saja. Masih saja dia mencari pembenaran seperti ini....
..."Dia cantik, modis. Aku gak ada apa-apanya. Aku juga tau diri. Siapa aku yang biasa saja."...
..."Cukup, sil."...
..."Kamu yang cukup. Aku tidak mau mendengar pembenaran mu. Cukup. Aku ke sini bukan untuk melihat hal kayak gini."...
..."Sil." Mencoba meraih tangan ku tapi aku melepaskannya....
..."Jangan menyakitinya." suara kak Arya. Ternyata benar....
..."Kak." Kagetku...
..."Tas mu ketinggalan di mobilku. Aku lihat itu laporan penting, jadi aku kembali."...
..."Kamu dari tadi bersamanya?"...
..."Iya. Kenapa?"...
..."Gak ada urusan sama kamu, dik."...
..."Bagus ya, kamu mengabaikan ku seharian karena bersama dia."...
..."Cukup. Cukup, Dik. Please, aku gak ingin bertemu dengan mu saat ini. Pergilah."...
..."Sil."...
..."Kamu gak denger Sesil bilang apa?! Pergilah."...
..."Gak ada urusan sama kamu."...
..."Kalau urusan dengan Sesil. Aku juga gak bisa tinggal diam."...
..."CUKUP. CUKUP. Kalian CUKUP. Jangan membuatku makin sakit dan malu. Tolo g pergilah."...
..."Masuk lah. Aku akan pergi setelah kamu masuk." Kak Arya memintaku lembut...
...Aku berjalan masuk. Aku sesekali memperhatikan mereka. Mereka masih juga berhadapan di taman depan penginapan. Semoga mereka tidak berbuat yang aneh-aneh hanya karena aku yang bukan siapa-siapa....
__ADS_1