Dear Captain

Dear Captain
3. Kebohongan Besar


__ADS_3

...Dia beneran datang ke rumah ku pagi-pagi sekali, sesuai yang dia janjikan kemarin. Sebenarnya hati kecilku sangat bahagia dengan bertemunya kita kembali, tapi entah mengapa ada rasa mengganjal dalam hati....


..."Kenapa kamu belum siap-siap sih, Sil?"...


..."Kamu beneran ngajakin Aku jalan!" Jawabku polos....


..."Ya elah... Masak nggak jadi!!! Aku udah cansel semua jadwal ku lho demi main sama kamu, Sil." Kesal Andika....


..."Hmmm... Sok sibuk... Sok ngartis... Sok punya jadwal." Godaku yang sembari tersenyum kecil....


..."Udah sana ganti baju. Aku sabar kok nungguin. Sana cepet ah. Jangan bikin aku kesal."...


..."Sejak kapan... Sejak kapan kamu bisa sabar, hah!!"...


...".... Astaga... Udah sana ganti baju. Duh... cepetan ah."...


..."Iya... Iya... bawel banget deh." Aku bergegas masuk dan mengganti pakaianku....


...Andika memboncengku dengan motor moge kesayangannya. Aroma tubuhnya masih sama, wangi parfumnya juga masih sama. Harumnya menyejukkan jiwa ragaku. Aku suka banget sama wangi parfumnya yang selalu menenangkan ku dan membuatku selalu mengingatnya....


..."Sudah lama aku ingin mengajakmu ke tempat ini, Sil. Baru kesampaian sekarang. Bagus banget kan!"...


...Aku lihat kesekeliling. Pemandangan pegunungan yang indah dan membuat mata kembali segar dengan kehijauannya. Aku menghelah napas, memang sudah lama sekali Aku tidak memanjakan mataku dengan suasana seperti ini.Aku merebahkan tubuhku di panggung kayunyang tersedia di tempat ini....


..."Langitnya cerah, tapi sejuk. Nyaman sekali."...


...Aku memejamkan mata. Menikmati udara segar yang ada di sekitarku. Rasanya semua beban menghilang begitu saja....

__ADS_1


..."Sil."...


...Aku terperanjat mendengar ada suara yang berbisik ditelingaku....


..."Ya. Aku." Sambil ku buka mataku yang sempat terpejam....


..."Kamu malah tidur." Andika menatapku sambil tersenyum kecil ke arahku....


...Andika ikut merebahkan badannya di sebelahku. Kami berdua memandang ke langit yang cerah namun berawan itu....


..."Sil, kenapa kamu sering mengabaikan pesan dan telfonku?"...


...Andika tiba-tiba bertanya kepadaku dengan nada serius. Aku seketika menolehkan wajahku dan menatapnya. Kemudian Mencoba melemparkan senyuman termanis yang aku punya kepadanya. Sebenarnya senyuman itu untuk menutupi jantungku yang sedikit berdetak kencang karena bingung harus menjawab apa....


..."Em... Tugas kuliahku banyak banget, Dik. Maafkan aku ya."...


..."Maaf."...


..."Gak apa, lagian kan kuliah dan tugas-tugas itu jauh lebih penting dari pada aku."...


...Aku hanya terdiam dan mengalihkan pandanganku. Kita terdiam beberapa saat tanpa berbicara atau memandang satu sama lain. Sebenarnya Aku sangat merindukan candaannya, senyumannya, dan suara manjanya. Tapi... Aku tidak berani untuk mengungkapkan hal itu. Ingin sekali ku genggam jemarinya seperti dulu. Tapi kita sudah tidak bisa seperti dulu. Waktu sudah berlalu, semua sudah berbeda. Ponselku bergetar dan membuyarkan lamunanku....


..."Ada telfon, angkat sana. Kamu gak usah mengabaikannya. Apalagi sungkan karena sedang bersamaku. Kali aja itu telfon penting. Bukan hanya basa-basi sekadar Say Hai."...


..."Iya, sebentar ya."...


...Aku sedikit menjauh dari tempat duduk kami. Aku Mengeluarkan ponselku dari dalam tas kecilku. Ternyata kak Arya. Dia pacarku....

__ADS_1


...Dika terdiam dan hanya memandangiku dari tempat duduknya. Aku mencoba mengalihkan pandanganku untuk menghindari sorot matanya yang teduh dan mematikan itu. Dika sepertinya butuh penjelasan. Sorot matanya penuh pertanyaan yang seolah ingin tau siapa yang ada dalam pembicaraanku ditelfon. Tapi dia menahannya. Aku tau dia menahannya dan mencoba tidak ingin peduli. Aku yang sebenarnya tau, tapi aku juga mencoba pura-pura tidak tau....


..."Kamu... Masih sama dia? Anak itu!" Andika tiba-tiba membuka percakapan yang membuat jantungku berhenti sedetik...


..."Siapa?"...


..."Siapa lagi. Kakak itu lah, Sil."...


..."Kak Arya!"...


..."Iya. Dia. Kamu masih sama dia?"...


..."Em..."...


..."Ah ... Aku tau jawabannya. Sudah lupakan, ayok kita pulang. Kamu nanti balik kemalaman kalau kita baliknya kesorean."...


...Selama perjalanan pulang, Dika diam seribu bahasa. Sebenarnya aku tau perasaannya seperti apa. Dadaku juga terasa sesak. Tapi aku memilih untuk diam dan mencoba bodoh amat. Semua akan baik-baik saja. Seharusnya seperti itu. Baik-baik saja. Aku hanya ingin menjaga. Ah... Entahlah ingin menjaga apa! Apa memangnya yang harus dijaga, kalau harus saling menyakiti begini. Harusnya cerita kita tidak seperti ini. Bukan ini yang aku inginkan. Sekenarionya kok berubah. Salah alur apa salah plotnya. Aku... Entahlah...sesak rasanya....


..."Tetaplah jadi gadis yang aku kenal. Jangan mencoba menjadi orang lain di depan ku."...


...Kata-kata Dika membuat jantungku tak bisa berdetak. Aku menahan bulir-bulir air mata yang hampir saja menetes di hadapannya....


..."Aku pulang ya. Jaga diri baik-baik."...


...Aku hanya terdiam melihat Dika berlalu semakin menjauh dan menjauh hingga menghilang. Tangisku pecah. Pecah sejadi-jadinya. Aku... aku kira aku menyesal. Sangat menyesal karena aku telah membohongi diri ku sendiri. Menahan rasa yang seharusnya aku ungkapkan. Membiarkan rasa yang seharusnya bisa terbang bebas bersamanya. Tapi aku... iya aku. Aku yang mengurungnya. Mengurung semua sel sel tubuhku untuk tidak memilihnya....


..."Maaf. Aku... Sebenarnya aku sangat menyukaimu. Bahkan, aku sudah menempatkan mu dalam hatiku."...

__ADS_1


...(Bersambung)...


__ADS_2