
"I love it when you call me senorita, i wish i could pretend i didn't need ya. But every touch is ooh la la la ooh la la, Ooh i should be running...Ooh you keep me coming for ya..." Carel sedang menyanyikan lagu Shawn Mendes and Camila Cabello - Senorita yang dia dengar di radio di mobilnya. Dia berjoget dibelakang kemudi dan meliuk - liukkan tangan kanannya dan menarik rambut Audric yang duduk disebelahnya.
"Ouch..." teriak Audric sambil menepis tangan Carel dari rambutnya.
"For ya...Ooh she loves it when i come. For ya....For ya..." Carel masih bernyanyi dengan mulutnya didekat telinga kanan Audric. Dengan reflek, Audric menutup hidung dengan tangannya.
"Geez...apa yang kau makan tadi?" tanya Audric dengan mulut tertutup tangannya.
Carel tidak mempedulikan Audric, dia lanjut bernyanyi dengan nada yang lebih tinggi. Audric geleng - geleng kepala, "Ganti lagunya. Kenapa kau mendengarkan lagunya Camila Cabello?"
"Dia sexy. Bentuk pinggul dan dadanya membuatku ingin memeluknya. Dan bibirnya...ugh...aku ingin menggigitnya." jawab Carel.
Audric geleng - geleng kepala lagi lalu dia membuka ponselnya yang berbunyi dan membaca pesan yang masuk, "Ooh...Ritter tidak bisa datang malam ini,"
"Sayang sekali, kenapa?" tanya Carel sambil menurunkan volume radionya.
"Dia agak sibuk malam ini, asistennya mengundurkan diri," jawab Audric sambil menutup ponselnya dan menyimpannya kembali di saku celananya.
"Makanya jadi orang jangan galak - galak," jawab Carel yang hendak menarik lagi rambut Audric.
"Jika segalak itu, siapapun juga tidak akan ada yang kuat," Audric menghindari tangan Carel.
"Hey, bagaimana kalau aku yang menggantikan asistennya?"
"Memangnya kau bisa?"
"Bisa. Hanya memasak saja kan? Aku bisa memasak."
"Oh yeah? masak apa?" Audric bertanya dengan sarkas.
"Mie instan," jawab Carel dengan percaya diri.
"Pfft...". Mike yang duduk dibelakang dari tadi menahan tawa melihat kelakuan Carel.
"Hey yang dibelakang sana, apa kabar? Sepanjang perjalanan baru ini kau bersuara, aku kira kau tidur,"
"Tidak. Dari tadi aku mendengarkan obrolan kalian. Sebenarnya kau membuatku mau ngakak sejak tadi," jawab Mike.
Setelah kejadian penampakan hantu tentara perang dunia tadi pagi dan setelah melewati 2 kelas kuliah tadi siang, tadinya Mike tidak mau ikut ke rumah Carel, dia sebenarnya mau istirahat tapi karena dia merasa tidak enak karena sudah diajak langsung oleh bosnya dan lagipula dia takut sendirian di kamarnya karena Ritter pasti pulang malam, jadi dia memutuskan untuk ikut.
Sepanjang perjalanan, Mike melihat pemandangan malam hari kota Dussledorf yang luar biasa. Deretan banguanan, pertokoan dan rumah susun bergaya Poland, Bergen dan Dutch dengan lampu - lampu yang menghiasinya dimalam hari benar - benar terlihat indah. Jalanan lancar dan tidak ada macet sejak tadi, pejalan kaki yang terlihat di trotoarpun hanya sedikit berbeda dengan di Jepang, disana padat akan kendaraan, suara klakson mobil sering terdengar, sering macet dan banyak orang dimana - mana.
"So...Mike, bagaimana dengan Jepang?" tanya Carel. Suaranya memecahkan lamunan Mike, dia sebenarnya tidak mau membahas tentang tempat tinggalnya yang dulu. Mungkin nanti, tapi tidak sekarang. Dia perlu waktu untuk menghapus trauma di memori masa lalunya.
"Jepang itu...bagus," jawab Mike dengan enggan.
"Hanya itu? Apakah ada yang menarik disana?" tanya Carel dengan penasaran.
Mau tak mau, Mike jadi harus mengingat kembali tentang Jepang. Dia menghela napas dan menyandarkan kepalanya, dia berusaha memblok ingatan mengenai adiknya yang meloncat dari beranda dan mengalihkan ingatannya ke hal yang lain.
"Banyak, aku pikir yang menarik adalah makanannnya. Makanan disana kaya akan bumbu dan terasa pedas kalau makanan disini rasanya kurang bervariasi. Selama aku disini, aku belum menemukan makanan yang pedas. Maksudku bukan pedas dari saus dan lada tapi pedas dari cabe," jawab Mike sambil menatap pemandangan dari jendela.
"Kau benar, disini cabe kurang diminati. Mereka biasanya menggunakan lada untuk membuat rasa pedas. Bukan pedas sebenarnya, tapi untuk membuat rasa hangat ditenggorokan. Aku rasa aku tidak bisa makan makanan yang mengandung cabe,"
Audric menoleh kebelakang melihat Mike lalu bertanya, "Apa kau bisa makan cabe?"
Mike mengangguk, "Bisa. Aku bahkan bisa makan cabe mentah. Langsung tanpa campuran apapun,"
Audric menelan ludah mendengar itu, "Entah kenapa tenggorokanku terasa ngilu,"
Carel tertawa, "Hentikan membahas cabe, mendengar kau makan cabe itu membuatku jadi sakit perut,"
"Dia yang makan cabe kenapa kau yang sakit perut?" Audric tertawa juga.
Carel bertanya, "Mike, kau bisa bicara dengan bahasa Jepang?"
Malah Audric yang jawab, "Tentu saja dia bisa. Dia tinggal disana, bagaimana mungkin dia tak bisa bahasa Jepang,"
"Okay, bagaimana cara mengatakan 'Aku mencintaimu Audric' dalam bahasa Jepang?"
"Bagaimana cara mengatakan 'tutup mulutmu' dalam bahasa Jepang?"
__ADS_1
"Oh ayolah Audric. Kau tahu aku sangat menyayangimu, kau sangat penting dalam hidupku,"
"Penting apa? maksudmu untuk jagain toko Think's Art?"
"Bukan, kau drummer terbaik yang pernah aku miliki. Aku jujur,"
Mike tertawa terbahak - bahak melihat lelucon mereka. Dia bersyukur bisa mendapatkan teman baru yang cocok dengannya disini. Satu teman yang galak dan dua teman yang konyol. Itu cukup untuk membuat hari - hari mu di Eropa lebih berwarna.
Carel melihat Mike sekilas dari kaca spion tengah, "Kau ini pendiam ya?"
"Tidak juga. Aku terkadang agak sulit untuk memulai percakapan, biasanya aku memilih diam sampai ada orang yang mengajakku bicara," jawab Mike yang menatap jendela disampingnya.
Sesaat Carel dan Audric terdiam mendengar jawaban Mike.
"Maaf, aku pasti kedengaran aneh," jawab Mike sambil melihat Carel sekilas dari kaca spion tengah.
"Tidak. Jujur saja aku pikir tidak ada lagi yang lebih pendiam dari Audric,"
"Menurutmu aku pendiam? dilihat dari apanya?"
"Dari dentuman drummu, diam - diam menghanyutkan." Mike tertawa lagi melihat mereka mulai berdebat konyol kembali.
"Hey Mike, kau sudah ke kota tua?" tanya Carel.
"Belum, Aku baru sempat ke balai kota," jawab Mike.
"Kita akan mampir kesana sebentar. Oh itu Balai Kota, cantik ya. Aku tidak bosan melihat bangunannya, seperti membawamu ke masa lalu."
Mike melihat gedung Balai Kota itu. Bangunan berarsitektur kuno dan bergaya Baroque yang indah. Berbeda dengan yang dia lihat sebelumnya ketika pergi kesini bersama Ritter, yang dia lihat waktu itu bangunannya belum jadi. Baru jadi pondasi bagian bawah. Sekarang sudah berdiri megah dan menawan. Berarti benar dia melihat hantu saat itu bukan sedang bermimpi. Tunggu dulu, sepertinya ada yang aneh. Kenapa dia bisa melihat bangunan Balai Kota itu ketika belum jadi? Jika dia melihat hantu yang dulu pernah membangun Balai Kota, itu masih terdengar masuk akal baginya tapi kenapa dia melihat bangunannya ketika masih dibangun? Apa dia bisa melihat masa lalu sebuah benda? Oh tidak, apa keadaannya makin memburuk. Mike jadi pusing memikirkan ini, seperti mengalami disorientasi ruang dan waktu.
"Mike, kau baik - baik saja?" tanya Carel yang melihat Mike dari kaca spion tengah.
Suara Carel menyadarkannya. Ternyata dia meringis dan mengusap - usap dahinya, dia bahkan tidak menyadarinya. "Yeah, i am okay," jawab Mike sambil menyandarkan kepalanya.
Melihat itu, Audric berbisik ke Carel, "Aku pikir dia punya masalah kesehatan," bisiknya ditelinga Carel.
"Benarkah?" tanya Carel dengan berbisik.
"Oh, kasihan sekali,". Carel melihat Mike lagi dari kaca spion tengah, sepertinya dia tidak mendengar bisikan Carel dan Audric karena dia sedang memejamkan mata sambil mengusap - usap dahinya.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di Kota Tua Altstadt. Altstadt artinya kota tua dan daerah ini adalah yang tertua di Dusseldorf. Daerah Altstadt mempunyai 300 bar bahkan sampai mendapat julukan 'The longest bar in the world'. Puluhan orang terlihat berdesakan di beberapa bar dan brewery untuk menikmati bir.
Salah satu brewery terkenal di Altstadt bernama Zum Eurige. Tempat itu unik karena pengunjung akan mendapatkan bir tanpa henti. Jika pelayan melihat gelas yang kosong, tanpa diminta gelas akan direfill. Pelayan baru berhenti apabila gelas ditutup dengan tatakan. Di Brewery ini hanya disediakan bir jenis Altbier yang dibuat dari resep tradisional. Selain bar dan brewery, di Altstadt terdapat jalan - jalan berbatu dan bangunan - bangunan berasitektur indah.
"Jadi...inilah bar dengan bir tradisional terenak yang ada di Jerman, jika kau mau mencoba bir tradisional pastikan kau mencobanya disini," kata Carel ketika mereka masuk ke bar tersebut. Bar itu ramai, hampir semua meja telah terisi.
"Kau terdengar sepeti pemandu turis. Apa kita bisa dapat meja disini?" tanya Audric sambil memperhatikan keramaian disitu.
"Aku sudah booking sebelumnya. Oh itu Edwar. Hey Edwar," panggil Carel. Tak lama muncul seorang pria dari balik kerumunan. Dia memiliki rambut dan janggut berwarnapirang dan wajah yang ramah. Dia waiter disini.
"Hey Carel, meja kalian ada disebelah sana. Ngomong - ngomong kita jadi latihan kan? shift ku selesai jam 10 ini, nanti aku menyusul kerumahmu."
"Okey, aku tunggu. Oh iya, kenalkan ini teman baru kita, Mike Tadashi, dia membantu Audric di Think's Art. Mike, ini Edwar Baldwin dia pemain bas kita." Carel memperkenalkan mereka berdua. Mike dan Edwar berjabat tangan.
"Mike siapa?" tanya Edwar.
"Tadashi," jawab Mike.
"Kau dari Jepang ya? Senang bertemu denganmu. Oh iya, dimana Ritter?"
Carel menghela napas, "Dia tidak bisa datang, dia masih sibuk di restorannya,"
"Jadi kita latihan tanpa Ritter?" tanya Edwar sambil menunjukkan jalan menuju meja mereka. Mereka bertiga mengikutinya.
"Tak masalah. Aku bisa memainkan bagiannya.". Meja mereka didekat jendela sehingga mereka bisa melihat dengan jelas pemandangan kota tua yang indah.
"Okey, akan ku ambilkan bir untuk kalian bertiga,"
"Umm... aku tidak minum. Aku pesan makan dan air saja." jawab Mike dengan malu - malu. Dia benar - benar lapar seharian ini dan belum sempat makan. Dia hanya makan sarapan yang dibelikan Ritter tadi pagi.
Carel kaget mendengar jawaban Mike, "Kau tidak minum bir? Kau lucu sekali."
__ADS_1
Audric bertanya dengan bingung, "Apa hubungannya antara tidak minum bir dengan lucu?" .Mike tertawa melihat Carel dan Audric berdebat konyol lagi.
"Tak usah dengarkan mereka. Ada menu spesial hari ini. Kohlroulade. Kau mau?" tanya Edwar.
"Apapun itu, aku benar - benar kelaparan." jawab Mike sambil menahan tawa melihat rambut Audric ditarik lagi oleh Carel.
***
Rumah Carel di Mendelweg bergaya Belanda dengan instrumen band di basemantnya. Instrumen yang lengkap termasuk speaker dan amplifier. Melihat itu, Mike jadi kembali teringat dengan bandnya di Jepang.
"Jadi...inilah tempat latihan kami. Apa kau bisa bermain gitar?" tanya Carel kepada Mike.
"Tidak," jawab Mike. Dia berbohong. Dia hanya tidak mau menyentuh peralatan band dulu untuk sementara ini. Dia tidak mau mengingat Jepang.
Bagus Mike, larilah dari ingatanmu, larilah dari masalahmu, teruslah melarikan diri sampai mati.
"Bermain gitar itu menyenangkan, nanti aku ajari," jawab Carel sambil mengambil gitar akustik.
Audric yang duduk di sofa disebelah Mike bertanya, "Ngomong - ngomong, ada ramai - ramai apa ditetanggamu? Tadi aku lihat ketika kita baru sampai."
"Itu keluarga Othman," sambil memainkan gitarnya,
"Katanya anak gadisnya kerasukan sejak kemarin."
"Kerasukan? kerasukan setan?" tanya Audric dengan heran.
"Memang kerasukan apa lagi kalau bukan kerasukan setan? Kelihatannya parah, tadi pagi jeritannya sampai terdengar kesini," jawab Carel dia bergidik ngeri.
"Apa anak gadisnya tidak apa - apa?" tanya Mike.
"Entahlah, tapi jika dirumahnya masih ramai seperti itu mungkin dia belum sembuh," jawab Carel.
"Aku belum pernah melihat orang kerasukan, aku cuma melihat itu di film," jawab Audric sambil membuka ponselnya.
"Diamlah, jangan bicarakan itu. Nanti setannya datang kesini," jawab Carel lalu dia bersenandung.
"Carel, sepertinya mereka sudah sampai," jawab Audric sambil membaca pesan di ponselnya. Carel menaruh gitarnya dan berlari keatas.
"Siapa?" tanya Mike.
"Edwar dan Fremont. Fremont juga anggota band, dia pemain keyboard." jawab Audric sambil menyimpan kembali ponselnya.
"Wow, aku jadi penasaran seperti apa lagu kalian,"
"Yeah, kita mencoba mencampurkan itu semua dan hasilnya luar biasa."
Tak lama kemudian, Carel datang dengan dua orang lainnya dibelakangnya. Yang satu Edwar, yang satu lagi seorang pria berwajah Eropa asli dengan rambut hitam yang lurus. Dia membawa 2 kotak pizza dan beberapa kaleng bir.
"Hey Mike, ini Fremont, keyboardis kita," kata Carel sambil membantu Fremont meletakan kaleng bir di meja
"Mike Tadashi," jawab Mike. Dia dan Fremont berjabat tangan.
"Fremont. Apa kau menggantikan Ritter?" tanya Fremont lalu dia membuka kotak pizza.
"Was? tidak." jawab Mike dengan bingung.
Carel menjawab, "Mike bekerja di Think's Art bersama Audric. Ritter tidak bisa datang, dia masih sibuk direstorannya," Dia menggigit pizza nya.
"Yeah, kelihatannya dia lebih sibuk dari kau, Carel." kata Edwar sambil membuka kaleng birnya. "Ngomong - ngomong, tetanggamu kenapa? Ramai sekali disana?"
"Anaknya kerasukan," jawab Carel sambil mengunyah pizza lalu dia menelannya, "Tolong jangan ada yang bertanya mengenai itu lagi, aku tinggal sendirian disini dan tetangga disebelahku kerasukan. Bisa kau bayangkan itu?"
Mereka malah tertawa mendengarnya.
"Aku serius. Bagaimana kalau tiba - tiba nanti anaknya lari kerumahku? itu mengerikan,"
"Carel, kau serius atau tidak itu tak bisa dibedakan," kata Audric lalu dia tertawa.
Carel cemberut mendengarnya lalu dia menjambak rambut Audric. Audric balas menarik rambut Carel lalu mereka bergulat bercanda di sofa. Mike berdiri dan menghindari mereka.
"Audric, kau harus potong rambutmu," seru Edwar lalu dia minum birnya.
__ADS_1
Mike tertawa melihat mereka. Dia benar - benar menyukai mereka.