
Mike merasa seperti di dunia lain, ini tidak terlihat menakutkan lagi, hantu itu sekarang seperti memancarkan sesuatu yang hangat dan damai. Dinding ruangan latihan paduan suara perlahan terlihat mengering dan terkelupas, langit - langit ruangan terlihat mengelupas dan rontok ke lantai, seperti berganti dengan sesuatu yang lain. Dihujani rontokan serpihan kecil langit - langit, Mike tahu ini hanya ilusi, sesuatu yang hendak di tunjukan hantu itu, sekelilingnya perlahan berubah seperti waktu berputar ke masa lalu. Dinding ruangan tersebut terus berganti bentuk, seperti memperlihatkan bangunan yang ada disini sebelum ruangan ini menjadi ruang paduan suara Heinrich Heine University, seperti mundur ke puluhan tahun sebelumnya.
Hantu itu masih menari di hadapannya dan Mike masih memainkan part ke 3 sambil sesekali memandang kagum dengan ilusi disekitarnya. Dia memetik pelajaran dari kejadian ini bahwa tidak semua hantu memperlihat sesuatu yang buruk, jika hantu itu baik dia akan memperlihatkanmu sesuatu yang tak mungkin bisa dilihat orang biasa, sebuah pengalaman yang tidak akan bisa dilihat orang biasa, mungkinkah ini sisi baik dari keadaannya saat ini, bahwa seberat apapun cobaan itu pasti akan ada bagian yang baik.
Ruangan paduan suara itu berhenti berubah dan keadaannya sekarang sama sekali tidak seperti ruang paduan suara tapi ruangan itu menjadi sebuah ruang keluarga di abad 1800an. Ruangan itu terlihat cantik dan klasik, ada banyak vas berisi macam - macam bunga, ada perapian yang menyala didekatnya dan membuatnya merasa hangat.
Hangat? Apa dia bisa merasakan ilusi ini secara nyata?
Tapi dia benar merasakan hangat dan tidak kedinginan lagi, jari jari tangannya tidak kaku lagi dan tangan kirinya yang diperban tidak terasa nyeri, dia juga merasa tubuhnya ringan dan bisa bernapas dengan lancar dan lega, dia merasa kembali sehat. Dia menyelesaikan bagian akhir lagu itu dan dia melihat seorang wanita dengan gaun khas abad 18 sedang duduk didepan sebuah grand piano berwarna putih, wanita itu memainkan Sonata No. 14 dengan anggun dan gemulai.
Hantu itu berhenti menari, dia menghampiri salah satu vas berisi mawar merah dan mengambil setangkai, dia memberikan itu untuk Mike.
Mike yang masih terpesona dengan keadaan disekitar, menerima bunga itu. Bunga itu terasa nyata, dia bisa memegangnya, dia bisa merasakan tangkainya, dia bisa melihat tekstur kelopaknya dan samar samar mencium wanginya.
Ini ilusi atau...
Hantu itu tersenyum, "Kau tidak kedinginan lagi kan sekarang?"
Mike mengangguk, dia bahkan tidak sanggup berkata apa apa.
Hantu itu menoleh melihat wanita yang sedang bermain piano di sudut ruang, lalu dia menatap Mike kembali, "Itu ibuku, dulu ini rumahku, kami selalu bermain piano di ruangan ini. Ini ingatan yang selalu aku simpan hingga kematianku, indah kan?" Hantu itu menghampiri Mike dan hendak memegang tangan kanannya tapi dia tak bisa menyentuhnya, "Aku tahu apa yang terjadi padamu, mungkin kau tak akan bisa melalui ini semua tapi kau tidak akan mati sia sia, semua pengorbananmu akan membawamu ke surga, kau tidak akan kedinginan lagi disana."
Mike sepertinya hampir nangis mendengar itu, sudah dua hantu yang mengetahui keadaannya dan mengatakan kalau dia akan mati.
Hantu itu tersenyum lagi, "Jika kau sudah sampai di surga, nanti cari aku ya." Hantu itu berlari menghampiri ibunya dan memeluknya, dia melambai kepada Mike dan berkata, "Dankeschon..." lalu perlahan mereka lenyap. Ruangan disekitarnya secara cepat berubah kembali menjadi sediakala, menjadi ruang latihan paduan suara yang sunyi dan dingin.
Napas Mike seperti ditarik dari paru parunya saat dia merasakan hawa dingin lagi merasuki tubuhnya dan membuat kedua telapak tangannya menjadi dingin. Dia kembali gemetaran kedinginan seperti tadi, padahal sebelumnya dia merasakan hangat dan damai tapi itu semua hanya ilusi. Dia merasakan air matanya mengalir ketika dia teringat kembali yang dikatakan hantu itu dan bagaimana keadaannya saat ini.
Apa sebaiknya dia mati saja sehingga iblis itu bisa dengan leluasa menggunakan tubuhnya sehingga dia tak perlu memikirkan lagi raganya?
Tapi dia teringat Ritter, Ritter bilang dia akan menolongnya.
Mike berdiri dan berjalan terpincang pincang keluar dari ruang paduan suara, namun dia kaget setengah mati ketika ada 4 biarawati tengah berdiri menghalangi jalannya di tengah koridor. 4 biarawati mengerikan dengan rongga mata berwarna hitam seperti yang pernah dia lihat ketika tidur berjalan.
Dia berlari menghindari mereka tidak mempedulikan kakinya yang diperban terasa nyeri dan perih ketika dia berlari. Dia berlari secepat mungkin menuju koridor utama yang ramai sambil berharap biarawati itu tidak mengejarnya. Mike berlari melewati mahasiswa yang sedang ngobrol dan berjalan santai di koridor itu, mereka melihat Mike dengan heran. Dia tidak mempedulikan itu, dia ingin segera kekamarnya dan mungkin sembunyi dibalik selimut. Mike berlari tanpa henti sampai ke kamarnya. Setelah sampai dikamarnya, dia langsung mengunci pintu dan merosot duduk dilantai sambil bersandar dipintu.
Napasnya terengah - engah dan jantungnya berdetak keras, keringat dingin mengalir dipunggungnya. Dia berdoa dalam hati agar biarawati itu tidak mengejarnya sampai kesini. Dia jadi teringat gelang rosarionya hilang, dia tidak tahu gelang ada dimana sekarang.
__ADS_1
Setelah yakin tak ada yang mengejarnya, dia perlahan berdiri sambil berpegangan pada pintu. Dia berjalan perlahan sambil menahan sakit pada kakinya yang diperban ke kamar Ritter. Dia mencari sesuatu di meja nya tapi tidak ada yang dia cari. Dia membuka laci meja tersebut dan mencari diantara tumpukan buku dan kertas yang ada disitu lalu dia menemukannya.
Pisau cutter.
Pisau cutter yang hampir dia gunakan untuk membunuh Ritter saat tidur berjalan. Dia mengeluarkan pisau cutternya dan menatap mata pisaunya yang tajam dan berkilau.
Dia hampir putus asa, atau mungkin sudah. Dia merasa sepertinya dia tidak akan kuat menghadapi ini semua, dia juga tidak mau membahayakan Ritter ataupun orang lain. Keteguhan hatinya seakan sirna setelah apa yang dia lalui hari ini, padahal dia yakin sebelumnya kalau Tuhan segera menjawab doanya, tapi sepertinya tidak. Mungkin tidak dalam waktu dekat ini, mungkin Tuhan mau melihat sampai berapa lama dia bisa bertahan.
Tapi dia hampir putus asa, atau mungkin sudah?
Dia benar - benar butuh pertolongan secepatnya tapi apakah tidak ada yang mengerti itu? Apakah tidak ada yang bisa? Apa dia harus bertindak sendiri? Dia down dan hampir tak bisa bertahan, apakah tak ada yang bisa menolongnya saat ini?
Dia benar - benar lelah dan hampir menguras kewarasannya. Apakah dia akan menyerah sekarang? Dalam hati yang paling dalam dia telah menyerah, tapi dia tidak mau mati, dia hanya mau mengakhiri penderitaan ini, jadi yang bisa dia lakukan hanya satu,
Mike menggenggam pisau cutter itu dan berjalan menghampiri cermin yang menempel didinding dikamar Ritter. Dengan tangan yang gemetaran, dia mengerahkan ujung cutter itu ke mata kanannya.
Jika dia kehilangan kedua matanya dia tidak akan bisa melihat hantu lagi dan mungkin iblis yang merasukinya tidak akan bisa menggunakan tubuhnya lagi.
Mungkin hanya itu yang bisa dia lakukan. Dia menatap pantulan wajahnya yang mengenaskan dicermin dan pisau cutter ditangannya yang gemetaran makin mendekati mata kanannya.
Satu tusukan cukup untuk mencungkil matanya keluar dan dia tinggal mengulang hal yang sama untuk mata kirinya.
Namun tiba - tiba terjadi sesuatu yang mengganggunya, dia merasa sangat mual dan perutnya bergolak. Dia muntah dan memuntahkan semua isi perutnya, muntahannya berwarna kuning dan terasa asam dan pahit di pangkal lidahnya. Kepalanya berdenyut pusing dan matanya berair, perutnya masih bergolak dan dia muntah lagi, hingga tak ada sisa makanan yang keluar kecuali air liurnya, tenggorokannya sakit dan terasa hampir seperti tercekik. Dia bernapas terengeh - engah ketika rasa mualnya reda dan dia berhenti muntah. Dia menjatuhkan pisau cutter itu ke lantai, dia menatap dirinya yang berantakan di cermin, matanya yang sayu terlihat merah dan berair, wajahnya pucat dan ada bekas muntahan di mulut dan dagunya. Sesaat dia seperti tidak mengenal dirinya sendiri, dia kelihatan beda, seperti yang dikatakan Audric, seperti ada yang beda pada dirinya tapi dia sendiripun tak bisa menjelaskan itu. Mike tak sempat memikirkan apa yang terjadi, dia merasakan tekanan didadanya seperti ada tali yang makin lama mengikat makin kencang, dia batuk, batuk berat yang menyakitkan hingga terasa ada cairan hangat yang keluar dari tenggorkannya, awalnya dia mengira dia muntah lagi tapi pikirannya terasa jungkir balik ketika yang dia lihat adalah muntahan darah.
Apa yang terjadi? apa dia semakin buruk? apa dia sudah tak bisa diselamatkan?Apa dia akan mati? Mike tak bisa berpikir jernih, pikirannya berputar - putar dan kepalanya semakin pusing, dia bahkan tak bisa bernapas dengan benar saat dia merasa paru - paru nya seperti diremas dari dalam.
Mike kesulitan menarik napas seperti ada yang menghambat saluran pernapasannya, napas nya jadi mengi dan dadanya sakit. Dengkulnya lemas dan dia merosot jatuh ke lantai. Dia merasakan kepalanya berdenyut pusing dan penglihatannya berputar - putar, dia megap - megap mencari udara karena semakin sedikit udara yang bisa dia hirup. Dia berusaha merangkak dan meraih ponselnya yang ada di sling bagnya yang tergeletak dilantai didekatnya, dia hendak menghubungi Ritter tapi dia tak sanggup menggerakkan tubuhnya. Dia hanya bisa berbaring dilantai, megap - megap dengan napas mengi dan menatap langit - langit kamar yang berputar - putar. Perlahan dia tidak bisa merasakan tubuhnya mulai dari ujung kaki dan merambat pelan - pelan hingga ke dadanya lalu penglihatanya perlahan memudar seiring dengan kesadarannya yang hilang, seperti ada yang menariknya ke kegelapan yang dalam.
***
Tubuh Mike masih tergeletak tak berdaya dilantai, dia masih bernapas dengan tarikan napas yang berat dan mengi tapi dia tidak sadar dan matanya terpejam. Tak lama setelah itu perlahan napasnya kembali normal dan matanya terbuka.
Mata yang berwarna abu - abu dengan pupil runcing tajam.
Tubuhnya perlahan bangun dan tangannya meraih pisau cutter yang terjatuh didekatnya. Tangan kanannya menggenggam pisau cutter itu dengan erat hingga mata pisaunya merobek telapak tangan kanannya dan darah mengalir pelan menuju pergelengan tangannya dan menetes ke lantai.
Mike tidak merasakan itu, Der Kreuzer telah mengambil alih tubuhnya.
__ADS_1
***
"Cepatlah nona Hildegard, aku harus pulang, diluar sudah gelap dan dingin." panggil Bu Frieda si petugas perpustakaan, wanita kurus setengah baya dengan rambut putih yang digelung ketat. Mahasiswa disini diam - diaa menjulukinya si nenek lincah.
Aylin menjawab dari balik rak - rak buku yang tinggi, "Sebentar lagi bu, Aku masih mencari referensi yang bagus untuk makalah ku."
Bu Frieda terlihat gelisah, dia memandang langit malam yang sunyi namun terasa mencekam dari jendela. Dia bergidik dan mencoba mengusir kegelisahannya dengan browsing internet di komputernya.
Seharusnya perpustakaan sudah tutup sejak setengah jam lalu dan sudah tak ada pengunjung yang datang tapi Aylin masih berkutat mencari buku untuk referensinya, dia sebenarnya merasa tidak enak dengan bu Frieda tapi tugas makalahnya harus dikumpulkan besok, mungkin dia akan bergadang untuk mengerjakannya. Dalam hati dia sangat berterima kasih pada bu Frieda yang bersedia menunggunya di perpustakaan.
"Nona Hildegard, aku khawatir tak ada bus lagi jika sudah lewat jam 7," kata bu Frieda yang mulai resah.
"Kau bisa pesan Uber," jawab Aylin mungkin dia terdengar menyebalkan dan tidak memikirkan keadaan orang yang lebih tua, tapi bu Frieda menanggapinya dengan santai.
"Aku kapok pesan Uber. Terakhir naik Uber, sopirnya genit dan dia menggodaku, apa dia tak pernah lihat nenek - nenek berpergian sendirian," Bu Frieda menanggapinya sambil curhat.
Aylin tertawa sambil mengambil buku yang dia cari dari rak, "Apa dia tampan?"
"Amit - amit, dia botak dan bau keringat." Bu Frieda menjawab dengan lantang.
Aylin tertawa lagi, "Tenang bu, sebentar lagi aku selesai."
Bu Frieda bangun dari kursinya dan berjalan cepat keluar dari perpusatakaan, "Aku mau ke toilet dulu."
"Okay," jawab Aylin sambil memeriksa kembali daftar referensinya lalu dia menaruh buku - buku itu dimeja baca yang ada di tengah ruangan, di antara rak - rak buku yang menjulang tinggi. Aylin mengambil ponselnya dari tas dan mengirim pesan ke temannya. Namun setelah itu konsentrasi Aylin terpecah, itu karena dia baru menyadari jika dia sendirian di perpustakaan saat ini. Perpustakaan yang terlihat membosankan jika di siang hari, tiba - tiba jadi terasa menyeramkan saat ini. Aylin bergidik, dia memasukan ponselnya kembali ke tas dan memutuskan segera kembali ke asrama setelah ini.
Aylin terlonjak kaget ketika mendengar suara buku jatuh ke lantai yang entah berada dimana, tapi dia yakin sumber suara itu ada didekatnya.
Aylin menelan ludah dan menenangkan dirinya,
"Bu Frieda," panggilnya.
Tak ada jawaban. Sepertinya bu Frieda belum kembali dari toilet dan dia masih sendirian di perpustakaan ini.
Aylin terperanjat kaget lagi ketika dia mendengar suara pintu perpustakaan dibuka, dan pintunya berderit pelan, namun tidak terdengar suara sepatu high heelsnya si nenek lincah.
"Bu Frieda," panggil Aylin. Tak ada jawaban.
__ADS_1
Aylin benar - benar ketakutan sekarang.