
Darek tengah duduk di kursi belakang kemudi mobilnya sembari menulis beberapa catatan kecil di buku jurnalnya. Darek saat ini berada di halaman depan St. Maximilian sedang menunggu Pastur Hendrik. Sesekali dia menyandarkan kepalanya sambil menikmati hembusan angin musim gugur yang merontokkan daun - daun pohon mandelbaum yang seluruh daunnya sudah berwarna cokelat. Rontokan daunnya memenuhi halaman depan gereja dan sebagian terbang tertiup angin, beberapa lembar daun terbang dan masuk ke mobilnya. Darek menghela napas, dia mengambil daun - daun itu dan membuangnya keluar.
Saat ini rencananya, dia dan Pastur Hendrik hendak ke sebuah rumah diperumahan Mendelweg. Ada seorang gadis 17 tahun yang menurut orang tuanya dia mengalami sakit yang aneh sejak kemarin. Gadis itu tiba - tiba menjadi sering berteriak tanpa sebab, tidak mau makan dan tidak mau minum. Saat orang tuanya mencoba menenangkannya dengan membacakannya Bible, gadis itu semakin histeris, bersembunyi dikolong tempat tidur dan melukai orang yang mencoba membawanya keluar. Mirip seperti yang terjadi pada Sister Irene tapi dia tidak sempat melukai orang lain.
Darek menutup buku jurnalnya dan mengalihkan pandangannya menatap halaman depan St. Maximilian yang tenang dan sunyi. Hanya terdengar suara angin dan gemerisik daun yang berguguran. Dia berpikir, saat ini sudah ada 2 kasus kerasukan yang terjadi, apakah sudah cukup sebagai tanda kedatangan Der Kreuzer? sepertinya belum. Der Kreuzer bisa berada dimana saja, tapi paling tidak ada satu tempat yang bisa dia periksa, satu tempat yang bisa dia selidiki untuk saat ini adalah di Heinrich Heine University. Dia butuh data - data mahasiswa baru yang masuk tahun ini, mungkin dia harus membujuk bagian admnistrasi untuk memberikan datanya atau mungkin dia akan berbicara lagi mengenai ini dengan Ritter. Apakah Ritter akan menerimanya? mungkin mereka malah berdebat lagi seperti sebelumnya.
Darek melihat Pastur Hendrik tengah berjalan menuju mobil sambil menenteng sebuah tas hitam. Dia duduk disebelah Darek, menutup pintunya dan menghela napas.
"Jadi...kau yakin gadis ini kerasukan?", tanya Darek.
"Berdasarkan ciri - ciri yang diceritakan dari orang tuanya sepertinya memang seperti itu. Tapi aku harus memastikannya dulu," jawab Pastur Hendrik sambil melepas kacamatanya.
"Apakah mereka religius?". Darek menyalakan mesin mobilnya.
"Iya, bahkan gadis itu hapal Exodus 1 hingga 20," jawabnya.
"Apakah seperti pada kasus Sister Irene? Mungkinkah ini tanda - tandanya?"
"Masih belum cukup bukti. Kau sudah menyelidiki mahasiswa baru di kampus Heinrich Heine?"
"Belum. Aku agak sulit membujuk Ritter,"
"Kalau begitu kau kerjakan saja sendiri,"
"Tidak. Aku harus bisa meyakinkan Ritter. Dia harus percaya bahwa Der Kreuzer itu ada karena jika aku wafat lebih dulu, dia akan melanjutkannya."
"Jika seperti itu, akan butuh waktu lama untuk membuatnya percaya tapi...janganlah menyerah, aku yakin suatu saat dia akan mendengarmu,"
Darek mengangguk lalu menjalankan mobilnya menuju Mendelweg. Selama perjalanan mereka lebih banyak terdiam. Pastur Hendrik lebih sering menatap pemandangan dari jendela disampingnya sedangkan Darek masih terus berpikir. Dia sedang dilema, sebenarnya dia juga tidak mau terburu - buru menyimpulkan bahwa ini tanda - tanda Der Kreuzer tapi di satu sisi dia juga khawatir jika memang ini benar dan dia terlambat bertindak. Dia juga berpikir dengan cara apa lagi dia harus menyakinkan Ritter.
Mungkin dia bisa mengcopy jurnalnya dan memberikannya untuk Ritter sambil berharap semoga dia mau menerima dan membacanya, atau mungkin dia malah tambah membencinya. Darek sebenarnya ingin menjalin hubungan yang baik dengan Ritter, tapi sepertinya dia belum bisa menerima apa yang dikerjakan Darek, bahkan itu membuatnya pergi dari dari rumah. Darek tak bisa mencegahnya.
Setelah 45 menit perjalanan, mereka sampai di perumahan Mendelweg. Mereka parkir didepan sebuah rumah berdesign Tudor dengan tanaman Begonia Rex yang daunnya mulai mencokelat dihalaman depannya. Ada beberapa orang yang tampak berkumpul diteras rumahnya. Mungkin para tetangganya yang membantu dan penasaran atas apa yang terjadi. Beberapa dari mereka menoleh dan memperhatikan Darek dan Pastur Hendrik ketika turun dari mobil, beberapa diantara mereka juga ada yang berbisik - bisik.
"Benarkah ini rumah keluarga Othman?" tanya Pastur Hendrik.
"Benar Bapa, terima kasih sudah datang, mereka benar - benar butuh bantuanmu. Silahkan masuk," jawab salah satu yang ada di teras itu.
"Apa kau ibunya?" tanya Darek
"Saya tetangganya, Ibunya ada didalam," jawabnya.
Darek dan Pastur Hendrik melangkah masuk kedalam rumah. Mereka melihat beberapa pajangan rumah seperti frame foto dan porselein tampak pecah dan pecahannya berserakan dilantai. Sofa diruang tamu terbalik dan meja kaca hancur berkeping - keping.
Ditengah kekacauan tersebut terlihat seorang wanita berusia 50an sedang berdoa dengan khusyuk menghadap sebuah salib yang ada didinding dihadapannya. Rambut wanita itu terlihat kusut dan berantakan, wajahnya sembab dan matanya merah seperti habis nangis semalaman. Wanita itu terkejut melihat kehadiran Darek dan Pastur Hendrik.
"Bapa, tolong anak saya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan," kata wanita itu sambil menangis lagi.
"Tenang bu, saya harus melihat keadaannya dulu. Dimana anakmu?" tanya Pastur Hendrik.
Ibu itu menangis dan berjalan menuju sebuah kamar diujung ruangan, Darek dan Pastur Hendrik mengikutinya.
"Apakah ada yang menemaninya dikamar?" tanya Pastur Hendrik
"Tidak. Dia akan mencakar yang mencoba mendekatinya,"
"Kau tidak mengikatnya?"
"Tidak...aku tidak tega," jawab ibu itu. Dengan tangan gemetaran, dia membuka kunci pintu tersebut. Dia membuka pintunya perlahan dan memanggil nama anaknya.
"Malene..." panggil si ibu dengan suara yang bergetar. Anak itu tidak ada ditempat tidur,tidak ada dikolongnya dan tidak ada dipojok ruangan. Si ibu itu perlahan menengadahkan kepalanya dan melihat ke langit - langit sudut ruangan.
Anaknya ada di langit - langit. Kedua kakinya menempel di dinding dan dua tangannya menempel dilangit - langit. Rambut panjangnya terurai kusut, menjuntai kebawah. Matanya hanya terlihat putihnya saja, mulutnya meringis dan mendesis. Wajahnya pucat dan ekspresinya terlihat bengis.
"Malene..." si ibu itu menangis ketakutan dan terjatuh lemas di lantai.
Pastur Hendrik melangkah masuk ke kamar sambil membuat lambang salib. Anak itu mendesis lagi.
__ADS_1
"Turunlah sayang...turun..." seru si ibu itu. Darek membantu si ibu itu berdiri. Salah satu dari tetangganya yang ada diteras menghampiri si ibu dan memapahnya keluar. Si ibu masih berteriak dan menangis.
Darek memperhatikan gadis itu sambil berpegangan pada bingkai pintu. Baru kali ini dia melihat seorang yang kerasukan sampai seperti ini. Kerasukan? sudah pasti ini kerasukan, kau pikir apa yang membuat seorang bisa menempel di langit - langit jika bukan karena kerasukan.
"Malene," panggil Pastur Hendrik. Gadis itu mendesis dan memperlihatkan giginya seolah - olah hendak menerkam jika ada yang mendekatinya.
"Hendrik, kita harus menurunkannya," bisik Darek.
"Ya, kita coba dekati dia dulu pelan - pelan," jawab Pastur Hendrik.
Gadis itu masih mendesis, dia merayap ke tembok disebelahnya untuk membuat jarak antara dirinya dengan Pastur Hendrik.
"Atas nama Yesus Kristus, Tuhan dan Penyelamat Kami," kata Pastur Hendrik.
Tiba - tiba gadis itu berteriak kencang. Teriakan tajam yang membuat pengang telinga.
"Atas nama Yesus Kristus, Tuhan dan Penyelamat Kami," Pastur Hendrik mengucapkan kembali.
Gadis itu berteriak lagi. Teriakannya lebih keras dari sebelumnya. Darek sampai harus menutup telinganya dengan kedua tangannya.
Tiba - tiba gadis itu meloncat dan mendarat dilantai dengan keras. Gadis itu merangkak mundur dengan kedua tangannya mencakar - cakar lantai kayu dibawahnya. Beberapa kukunya terluka dan berdarah.
"Kita harus baringkan dia di tempat tidur," bisik Darek.
"Iya, pelan - pelan," jawab Pastur Hendrik sambil berjalan perlahan mendekati gadis tersebut.
Gadis itu merangkak mundur sambil mendesis. Dia berhenti ketika tubuhnya menyentuh tembok dibelakangnya.
Malene, raih tanganku," kata Pastur Hendrik sambil berjongkok dihadapan gadis itu dan mengulurkan tangannya.
Gadis itu menyeringai memperlihatkan giginya, dia masih mencakar lantai dengan kukunya, suara yang ditimbulkan membuat telinga ngilu.
Dengan gerakan cepat, gadis itu melompat dan menyambar Pastur Hendrik. Pastur Hendrik terjatuh, gadis itu diatasnya dan hendak mencekiknya. Pastur Hendrik menghalau tangan gadis tersebut dan menggenggamnya. Gadis itu berteriak histeris. Dengan kedua tangan yang masih ditahan oleh Pastur Hendrik, dia mencoba menggigitnya. Gadis itu hendak menggigit wajahnya, dia mengatup - ngatupkan giginya sambil mendesis. Pastur Hendrik melindungi wajahnya dengan sikunya sehingga gadis itu akhirnya menggigit tangan kanannya. Pastur Hendrik berteriak kesakitan.
"DAREK, AMBIL DIA!" seru Pastur Hendrik yang tangannya masih digigit.
Darek yang sedari tadi terpaku di daun pintu langsung menghampiri gadis itu dan merangkul pinggangnya dari belakang. Dia menarik gadis itu agar dia melepas gigitannya pada Pastur Hendrik. Darek masih menahan pinggang gadis itu. Gadis itu meronta - ronta sambil berteriak. Dengan sekuat tenaga, Darek membawa gadis itu ke tempat tidur dan menahannya dengan tubuhnya. Gadis masih meronta - ronta dan berteriak dibawahnya.
Pastur Hendrik berlari keluar kamar dan meminta tali kepada orang yang menunggu diteras lalu dia kembali kekamar bersama 2 orang tetangga yang bersedia membantunya mengikat gadis itu ditempat tidur.
Setelah gadis itu berhasil diikat, Darek bersandar ditembok sambil bernapas ngos - ngosan. Menahan gadis itu benar - benar menguras tenaganya. Dia merasakan tangannya gemetaran dan jantungnya berdetak keras.
Pastur Hendrik menghampirinya, "Darek, kau tak apa - apa?", tanyanya sambil membalut luka bekas gigitan dengan sapu tangannya.
Darek mengangguk, dia memperhatikan luka ditangan Pastor Hendrik, darahnya merembes di sapu tangannya.
Saat ini kedua tangan dan kedua kaki gadis itu didikat di tepi tempat tidur. Gadis itu masih mencoba meronta - ronta, karena kedua tangannya terikat pergelangan tangannya lecet terkena gesekan dengan tali.
Pastur Hendrik menghampirinya dan gadis itu mendesisi melihatnya. "Atas nama Yesus Kristus, Tuhan dan Penyelamat Kami," kata Pastur Hendrik
Gadis itu berteriak, "DIAM BRENGSEK," suaranya tidak seperti seorang gadis, suaranya terdengar berat dan parau.
"Siapa kau?" tanya Pastur Hendrik
Gadis itu mendesis lagi dengan ekspresi hendak menerkam siapapun saat itu juga. Pastur Hendrik membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah salib kecil dan memperlihatkannya kepada gadis itu. Gadis itu berteriak keras, Darek menutup kedua telinganya lagi.
"SINGKIRKAN ITU..." teriak gadis itu.
"SIAPA KAU?" tanya Pastur Hendrik. Gadis itu berteriak lagi, teriakan yang panjang hingga berakhir dengan suara tawa yang mengerikan.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Pastur Hendrik yang masih memegang salibnya.
"Kalian semua benar - benar bodoh," jawab gadis itu lalu dia tertawa mengekeh.
"Kenapa kau tertawa? siapa kau?". Gadis itu masih tertawa. Pastur Hendrik membuka kembali tasnya dan mengambil sebuah botol kecil berisi air suci. Dia membuka tutup botol itu dan mempercikan airnya ke tubuh gadis itu.
Gadis itu menjerit dan menggeliat - geliat mencoba melepaskan diri dari ikatan.
__ADS_1
"Siapa kau? kenapa kau masuk ke tubuh gadis ini?"
Gadis itu merintih kesakitan karena terkena air suci tapi setelah itu dia tertawa lagi. Pastur Hendrik menciprati air suci lagi dan gadis itu berteriak kembali bahkan teriakannya berubah menjadi lolongan mengerikan seperti hewan buas yang tengah mencari mangsa.
"Keluarlah dari badan anak ini! Dalam nama Yesus Kristus Tuhanmu serta malaikat agung Santo Mikael yang kepadanya kamu membangkang, keluarlah!" seru Pastur Hendrik.
Gadis itu berhenti menjerit lalu dia mendesis dan menatap Pastur Hendrik dengan penuh kebencian,
"Jangan sebut nama itu! Itu musuh kami."
Pastur Hendrik terdiam, dia menghela napas dan balas menatapnya.
"Apa kau takut, Bapa?" tanya gadis itu.
"Kamulah yang takut!" jawab Pastur Hendrik dengan tegas tidak mau terbawa suasana dengan setan yang merasuki gadis itu.
Dengan tatapan tajam gadis itu bertanya lagi,
"Mengapa kau mengusir kami? Kami juga anak Tuhan. Kalau tidak, tentu kami tidak ada."
"Kau anak Tuhan yang tidak taat dan sombong. Mengapa kamu merasuki anak ini?"
"Tempat ini nyaman, kami bisa bersembunyi dengan aman disini,"
"Kami? Ada berapa kalian?" Gadis itu tertawa lagi. Tertawa mengekeh yang mengerikan.
Pastur Hendrik bertanya lagi, "Siapa saja kalian?", Pastur Hendrik menempelkan salib tadi ke dahi gadis tersebut. Gadis itu menjerit keras dan seluruh tubuhnya bergetar hingga tempat tidurnya berderit.
"PANAS...SINGKIRKAN ITU..." jerit gadis itu. Pastur Hendrik melepas salib itu dan kembali bertanya,
"Siapa saja kalian?"
Gadis itu menatap salib yang dipegang Pastur Hendrik dengan penuh kebencian lalu dia mendesis dan berkata, "Kami adalah pendosa, kami bertiga disini, kami harus sembunyi,"
"Sembunyi dari apa?"
Gadis itu tertawa lagi. Ketika Pastur Hendrik hendak
menempelkan salib lagi, gadis itu langsung berteriak ketakutan dan menjawab, "sembunyi darinya."
"Siapa?"
Gadis itu meringis dan mendesis, "Sembunyi darinya...dia ada di sini...Der Kreuzer..."
Mendengar itu, Pastur Hendrik dan Darek terdiam sesaat.
"Kau tahu apa tentang Der Kreuzer?" tanya Pastur Hendrik.
"Tentu saja kami tahu, bodoh! Dia mengincar pendosa yang mati dan yang hidup untuk pasukan iblis di neraka." jawab gadis itu lalu dia meludah.
"Lalu kenapa kau malah merasuki gadis ini?"
"Kami harus sembunyi dibalik jiwa yang murni agar
Der Kreuzer tidak bisa menyentuh kita. Agar darahnya tidak mengenai kita, jika tersentuh darahnya akan menandai kita."
Darek mendekati gadis itu dan bertanya, "Kau bilang tadi Der Kreuzer ada disini dan darahnya bisa menandai kalian? Apa kalian berkata jujur?"
Gadis itu terlihat marah, "UNTUK APA KAMI BERBOHONG, ORANG TUA SIAL! Lihat itu, kau sudah puluhan tahun mencari Der Kreuzer dan bahkan kau tidak tahu dia ada dibawah hidungmu? BUKA MATAMU, ORANG TUA BODOH! DER KREUZER ADA DI DUSSELDORF!"
Pastur Hendrik berkata, "Cukup! Anak ini tidak bersalah, jangan bawa - bawa dia, keluarlah kalian!"
Gadis itu tertawa lagi lalu tiba - tiba dia pingsan. Dia diam tak bergerak. Pastor Hendrik menghela napas, dia mengelap keringat diwajahnya dengan telapak tangannya, "Kau dengar tadi Darek? Aku yakin mereka berkata jujur,"
Darek mengangguk, "Iya, aku dengar itu. Lalu bagaimana selanjutnya? mereka belum mau pergi dari gadis itu"
"Kita lanjutkan lagi nanti. Ngomong - ngomong, kau sudah rekam semua itu tadikan?"
__ADS_1
Darek mengangguk lagi, sedari tadi dia merekam pengusiran setan tadi dengan kamera ponselnya.
"Baiklah, biarkan tubuh gadis itu beristirahat dulu. Kita harus bicara pada orang tuanya." kata Pastur Hendrik lalu mereka keluar kamar dan mengunci pintunya.