
"Apa kalian keluarganya Tadashi?" tanya perawat itu.
"Yes," jawab Ritter.
Perawat itu menjelaskan, "Kita sudah selesai melakukan tindakan, lukanya sudah dijahit beruntung lukanya tidak terlalu dalam namun robekannya panjang sehingga butuh banyak jahitan terutama yang ditelapak kaki kanan. Untuk seminggu ini jangan biarkan dia menapakkan kakinya dulu dan perbannya harus diganti setiap hari. Dia sudah boleh pulang sekarang tapi aku yakin sebentar lagi dia akan mengantuk karena tadi dia diberikan pain killer. Aku sudah siapkan kursi roda di dalam sana dan ini resep obatnya." Perawat itu memberikan secarik kertas kepada Ritter lalu melenggang pergi.
Setelah itu Ritter menoleh ke Aylin dengan serius, "Aylin, aku minta kau berjanji jangan katakan ini pada Darek,"
Aylin menghela napas, "Apa kau yakin? Ini berbahaya sekali,"
"Percayalah padaku, aku pasti bisa mengatasi ini, Dengar, apa aku pernah memohon sebelumnya?"
Aylin menggeleng, "Tidak, aku belum pernah lihat itu seumur hidupku,"
"Aku mohon padamu, jangan katakan ini pada Darek,"
Aylin kaget mendengarnya, "Dan sekarang aku melihat seorang Ritter yang galak sedang memohon kepadaku...baiklah, aku akan tutup mulutku rapat rapat tapi kau juga harus berjanji padaku,"
"Apa?"
"Mungkin untuk sementara ini aku tidak mau dekat dekat dengan kalian karena aku juga takut tapi aku minta padamu singkirkan segera iblis laknat itu dan selamatkan Mike,"
"Okay, deal! Jadi sekarang...tolong kau urus ini," kata Ritter sambil memberikan resep obat yang tadi lalu dia membuka dompetnya dan mengeluarkan kartu kreditnya, "Jika sudah selesai, ambil mobilku dan tunggu aku di loby."
Aylin mengangguk lalu dia pergi ke farmasi.
***
Mike tengah duduk ditepi tempat tidur ruang tindakan di IGD. Dia menatap telapak tangan kirinya yang diperban. Dia benar benar bingung atas apa yang terjadi pada dirinya, yang dia ingat adalah dia tidur lalu dia terbangun dikasurnya Ritter dengan tangan dan kaki yang berdarah. Apa dia tidur berjalan lagi? Jika iya, kenapa dia tidak melihat keadaan disekitar ketika dia tidur berjalan seperti sebelumnya? Dia merasa dia benar benar tidur tadi, tidak merasakan apapun dan tidak melihat apapun sampai dia terbangun tadi. Apa keadaannya makin memburuk? Apa Der Kreuzer sudah menguasainya dan melukai tubuhnya? Dia ingat apa yang dikatakan Ritter, nantinya akan ada darah dan sekarang dia berdarah, apakah ajalnya semakin dekat?
Mike jadi pusing memikirkannya, ditambah dengan suasana IGD yang penuh dengan suara rintihan pasien yang sedang diberi tindakan dan bau obat steril yang memenuhi ruangan membuatnya mual. Itulah kenapa dia tidak suka rumah sakit, lebih tepatnya dia tidak suka dengan baunya.
Tirai dihadapannya terbuka tiba tiba dan Ritter berdiri disana, "Hey, bagaimana? Sudah merasa lebih baik?"
Mike menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Kakimu masih sakit?" tanya Riter dengan khawatir.
__ADS_1
Mike menghela napas, "Apa yang terjadi padaku Ritter?" lalu Mike kaget melihat bekas darah dan memar bekas cekikan dileher Ritter, "Lehermu kenapa?"
"Itu tak penting, ini masih lebih baik daripada lukamu, ayo pulang." Ritter mengambil kursi roda yang ada didekat sana dan meletakkannya disamping tempat tidur, dia memapah Mike ke kursi roda lalu membawanya keluar dari ruang IGD.
"Ritter, berjanjilah padaku," kata Mike dengan tatapan kosong.
"Tentang apa?" tanya Ritter sambil mendorong kursi rodanya.
"Ceritakan semua kepadaku apa yang terjadi,"
"Iya. Aku akan ceritakan semuanya setelah sampai di asrama."
***
Suara getaran ponsel terdengar jelas dikamar yang hening. Suara tersebut merasuk perlahan ke telinga dan membuat Mike terbangun. Mike membuka mata perlahan dan melihat langit langit kamarnya. Hal itu membuat Mike kembali teringat apa yang terjadi sebelumnya. Pengalaman mengerikan yang baru kali ini dia rasakan. Dia jadi takut membayangkan apa lagi yang akan terjadi padanya setelah ini. Dia berharap Ritter menceritakan apa yang terjadi tadi malam tapi sepertinya dia terlampau ngantuk karena obat dan pagi ini Ritter tidak ada dikamar.
Mike perlahan bangun dan menatap telapak tangan kirinya yang diperban lalu dia melihat telapak kaki kanannya yang juga diperban, ini semakin buruk, semoga dia masih bisa hidup sampai ini semua teratasi.
Mike celingukan mencari cari dimana ponselnya, ternyata ada dilantai. Dia perlahan turun dari tempat tidur dan menapakkan kakinya. Rasa sengatan perih langsung menghujam telapak kaki kanannya dan membuatnya terjatuh ke lantai.
"Ouch...!" dia merintih menahan sakit di kakinya sambil merangkak meraih ponselnya. Dia melihat tampilan layar ponsel, ada dua panggilan tak terjawab dari Audric.
Sial, Dia seharusnya sudah pergi ke Think's Art, kenapa dia malah tidur sampai sesiang ini? Think's Art buka jam 8, sekarang 10 menit lagi menuju jam 8 dan dia belum bersiap sedikit pun. Ini hari pertamanya kerja disana, apa kata bosnya jika dia datang terlambat.
Mike mencoba berdiri perlahan dengan menapakkan kaki kirinya yang hanya terdapat beberapa luka lecet tapi dia tak bisa menapakkan kaki kanannya, lukanya ada ditengah telapak, itu artinya kaki kanannya hanya bisa berjalan dengan berjinjit. Jika dia berjalan seperti ini bisa memakan waktu lama, dia bahkan belum mandi dan pasti butuh waktu lama jika mandi dengan tangan dan kaki yang diperban. Mike berjalan terpincang pincang ke kamar mandi dan memutuskan untuk mencuci muka dan sikat gigi saja. Dia mengambil pakaian dari closetnya, kemeja kotak kotak biru dan slim jeans hitam. Setelah berpakaian, dia kesulitan memakai jeansnya. Telapak kakinya yang diperban akan terasa nyeri jika terkena sesuatu jadi dia memakai jeansnya perlahan dan melihat jam dimeja sudah sepuluh menit berlalu. Ini terlalu lama. Tapi tampaknya masalahnya tidak hanya disitu, dengan keadaan kaki seperti ini, dia tak bisa pakai sepatu.
Awalnya dia bingung harus bagaimana tapi dia melihat sandal milik Ritter yang ada dikamar. Apa boleh buat, jika Carel nanti ada di Think's Art dia akan minta maaf karena datang terlambat dan memakai sandal, ini sangat tidak sopan bagi karyawan baru, mudah mudahan Carel akan mengerti.
Mike meraih sling bangnya dan keluar dari kamar. Dia berjalan terpincang pincang menyusuri koridor asrama sambil berpegangan pada dinding. Beberapa orang yang lewat di koridor melihatnya dengan heran. Seorang mahasiswa gendut berambut panjang menghampirinya.
"Hey, kau tak apa apa? Perlu bantuan?" tanya si rambut panjang.
"Nein, aku bisa berjalan sendiri, terima kasih," jawab Mike, mungkin bantuannya bisa mempercepat langkahnya tapi dia tidak mau ditanya orang mengenai apa yang terjadi pada dirinya jadi dia menolaknya.
"Okay, hati hati." Kata si rambut panjang.
Mike berjalan susah payah dengan terpincang pincang menyebrangi halaman depan asrama menuju jalan raya didepan. Berjalan seperti ini membuatnya ngos ngosan dan batuk, batuk yang berat dan membuat dadanya sakit. Beberapa mahasiswa yang lewat disekitarnya ada yang menatapnya dengan kasihan dan ada juga menatapnya dengan ekspresi takut ketularan tapi Mike tidak sempat memikirkan itu, dia sudah sangat terlambat, dia memesan taxi online melalui aplikasi ponselnya karena dia tidak bisa naik bus dengan keadaan seperti ini.
__ADS_1
***
Ritter tengah memarkirkan mobilnya di depan resto Maredo Konigsallee. Dia berencana mau berbicara dengan Darek hari ini, dia tahu Darek selalu sarapan di resto ini jika ada jadwal mengajar di kampus. Hari ini Ritter memakai scraf dibalik denimnya untuk menutupi memar bekas cekikan dilehernya. Dia melangkah masuk ke resto, dia mengarahkan pandangan kesekeliling, beberapa orang tengah di sana dan Darek duduk di dekat jendela tidak jauh dari pintu masuk. Ritter lega Darek masih ada disana, dia tidak menghubungi Darek terlebih dahulu karena merasa tidak enak jika berbicara melalui telepon, dia lebih memilih bicara langsung.
Darek sedang meminum kopinya sambil membaca koran. Ritter menghampirinya dan duduk diseberang mejanya, Darek kaget melihat siapa yang duduk didepannya.
"Ritter?" kata Darek, dia meletakkan cangkir kopinya dan melipat korannya, "Bagaimana kabarmu?"
"Kabar ku baik," jawab Ritter yang mencoba tersenyum.
Darek seperti salah tingkah, "Jadi...kau masih ingat kalau aku sering sarapan disini?"
"Iya, tentu saja, dulu kau juga sering mengajakku makan disini,"
"Benar, itu sudah lama sekali. Apa kau sudah sarapan?"
Ritter menggeleng, Darek memanggil pelayan dan memesankan menu yang biasa dipesan Ritter ketika dulu makan di sini.
"Kau masih ingat menu favoritku?" tanya Ritter.
"Tentu saja, bagaimana aku bisa lupa, kau sudah seperti anak kandungku sendiri,"
Mendengar itu hati Ritter agak melunak. Dia sebenarnya tahu Darek itu orang baik, jarang ada ayah tiri yang baik sepertinya, hanya saja itu semua seolah tertutup oleh kasus Der Kreuzer yang diselidikinya.
"Jadi...ada apa?" tanya Darek
Ritter terdiam, dia menatap wajah tua Darek dan
rambutnya yang kelabu.
Darek berkata, "Aku yakin kau ke sini bukan hanya untuk sarapan denganku saja,"
Ritter tersenyum, dia sedang belajar mengendalikan emosinya, dia berharap hari ini berjalan dengan tenang, "Aku minta maaf...untuk perdebatan kita beberapa hari yang lalu."
Darek kaget mendengarnya, dia melepas kacamata bacanya dan menatap Ritter dengan serius seolah penasaran dengan apa yang akan Ritter ungkapkan.
Ritter menghela napas dan melanjutkan, "Kau berusaha begitu baik untuk ibu dan...untukku, seharusnya aku tidak pantas membentakmu waktu itu. Aku mengakui aku sudah kelewatan dan aku seharusnya bisa mengendalikan emosiku, aku harusnya bisa berpikiran lebih dewasa dan membuang keegoisanku,"
__ADS_1
Darek masih menatapnya dengan penuh perhatian.
Ritter melanjutkan, "Jadi...mulai hari ini aku akan membantumu dalam kasus Der Kreuzer ini."