Der Kreuzer

Der Kreuzer
CHAPTER 22


__ADS_3

Darek tidak terkejut mendengar itu, dia malah tersenyum ramah dan menyeruput kopinya lagi, "Apa kau yakin?" tanyanya.


"Yeah, aku sangat yakin. Aku terpicu dengan kejadian cewek yang kerasukan di asrama, setan yang merasukinya berbicara denganku,"


"Benarkah? Apa yang dia katakan?" tanya Darek sambil meletakkan cangkirnya.


"Dia tahu Der Kreuzer ada di Dusseldorf, dia memintaku untuk menyingkirkan iblis itu,"


"Kenapa dia bicara padamu?"


Ritter terdiam sesaat lalu menjawab, "Aku tidak tahu," jawabnya berbohong.


Darek menghela napas," Aku ada softcopy data mahasiswa baru, nanti akan aku kirim ke emailmu dan aku sudah membuat salinan jurnalku sejak beberapa bulan yang lalu." Dia membuka tasnya dan mengambil sebundle kertas lalu dia letakan di meja, "Karena aku yakin suatu saat aku akan menemukan waktu yang tepat untuk memberikan ini kepadamu dan tampaknya saat yang tepat itu adalah sekarang."


Ritter mengambil sebundle kertas tersebut dan melihat lihat sekilas beberapa halaman awal," Kau dulu pernah bilang padaku, untuk menyingkirkan Der kreuzer, orang yang kerasukan tersebut harus di bakar atau ditenggelamkan, benarkah seperti itu?"


Darek mengangguk, "Itu sudah dilakukan sejak zaman The Dark Ages, makanya di zaman itu juga banyak penyihir yang dibakar karena diduga dirasuki Der Kreuzer."


Ritter meletakkan bundle kertas itu dimeja, "Apakah hanya itu caranya?"


"Sampai saat ini hanya itu caranya,"


"Walaupun itu akan membunuh orang yang kerasukan tersebut?"


Darek mengangguk kembali. Setelah itu pelayan datang membawakan pesanan Ritter, Gulaschsuppe, sup kuah kental dari daging sapi dan disajikan dengan potongan roti. Aroma sup yang hangat dan lezat itu sangat menggugah selera, hampir memecah konsentrasi Ritter.


"Makanlah dulu," kata Darek lalu dia meminum kembali kopinya.


Ritter tertawa, dia menyendok supnya ke mulut dan menikmatinya. Rasa gurih dan hangat sup itu membuatnya lupa sejenak dengan masalah yang sedang dia hadapi. Gulaschsuppe adalah makanan favoritnya, sebenarnya dia juga menyajikan ini di resto nya tapi entah kenapa dia lebih menyukai buatan Restoran Maredo daripada buatannya sendiri.


Ritter sebenarnya menyadari jika Darek terus memperhatikannya selama dia sedang makan, dia sempat melihat sekilas, tatapan Darek sangat ramah seperti orang tua yang sedang menunggu anaknya selesai makan, tidak terlihat ekspresi kesal atau dendam padanya padahal Ritter sering membentaknya. Secara personal, Ritter sungguh menyesali jika dia dulu sering berdebat dengan ayahtirinya ini.


Setelah menghabiskan supnya, dia minum Kirschgluhwein, minuman hangat yang dibuat dari buah cheri yang di masak dengan tambahan kayu manis dan cengkeh. Minuman ini biasanya banyak disajikan saat menjelang natal tapi banyak resto yang menyajikannya sejak bulan Oktober.


"Terima kasih Darek, aku sudah lama tidak minum ini," kata Ritter sambil meletakkan gelasnya yang sudah kosong.


"Bukannya di Im Schiffchen juga menyajikan itu?"


"Tidak dibulan Oktober, Im Schiffchen menyajikan ini beberapa hari sebelum natal,"


"Oh iya, kata Aylin asistenmu mengundurkan diri? Kau sudah dapat penggantinya?"


Ritter menggelengg.


"Anaknya temanku ada berminat, dia lulusan tata boga, nanti aku suruh dia kirim resume ke emailmu. Tenang saja, dia tahan banting."


Ritter tertawa mendengarnya.


Darek melanjutkan," Jadi mengenai masalah yang sedang kita coba bereskan inikau mau mulai dari mana? Dari mahasiswa baru di asrama putra?"


"Sepertinya begitu," jawab Ritter berbohong.


"Beberapa temanku dari pihak gereja juga sudah menyebar, mereka mencari di tempat tempat yang berpotensi kedatangan orang baru dan aku ditugaskan untuk mencari dikampus ini dan aku sangat bersyukur kau mau membantuku,"


"Darek, mengenai yang tadi, aku minta waktu untuk memikirkan cara menyingkirkan Der Kreuzer tanpa harus dibakar atau ditenggelamkan,"


Darek agak kaget mendengarnya," Apa kau bisa? Aku dan pihak gerejapun belum menemukan cara selain itu,"

__ADS_1


"Maka dari itu aku minta waktu dan aku butuh referensi buku sejarah mitologi yang membahas ini,"


"Kau bisa lihat di website perpustakaan nasional, nanti aku kirim referensi judulnya." Darek menatap Ritter dengan serius, "Ritter, jika kau bisa menemukan cara selain itu, itu akan lebih baik, kami akan menerimanya."


Ritter tidak menyangka jika Darek dan pihak gerejapun mungkin menginginkan cara yang lebih manusiawi untuk menyingkirkan Der Kreuzer, hanya saja mereka belum menemukan itu hingga saat ini, hal ini memicu semangat Ritter.


Setelah menyelesaikan sarapannya dan berpamitan dengan Darek, Ritter kembali ke mobilnya hendak menuju ke asrama. Mungkin hari ini dia tidak ke restonya dulu, dia harus mengawasi Mike.


Ritter mengambil ponselnya dan menghubungi Mike, panggilannya di angkat setelah beberapa kali deringan," Mike, kau sudah bangun?"


"Yup, " jawab Mike dengan singkat dia terdengar ngos ngosan dan terdengar suara mobil lewat dilatarnya.


Mendengar itu Ritter menyadari sesuatu, "Kau ada dimana?"


"Aku dalam perjalanan menuju Thinks Art, aku tak bisa seharian di asrama, aku ada pekerjaan."


"What the hell? Dengan kaki dan tangan seperti itu apa yang bisa kau kerjakan disana? Lagipula bagaimana kalau-"


"Maaf Ritter, aku sudah terlambat." Jawab Mike lalu dia menutup telephonenya.


Ritter berseru marah dan memukul kemudi, "Sial!." Dia melajukan mobilnya menuju Thinks Art.


***


Mike membuka pintu Thinks Art bersamaan dengan seorang pelanggan yang baru selesai berbelanja keluar dari sana. Audric yang ada di counter kasir terkejut melihat Mike.


"Hay Mike, aku yakin Carel sudah mengatakan kepadamu kalau kita harus datang setengah jam lebih awal sebelum jam buka toko untuk bersih bersih dulu,"


Mike berjalan terpincang pincang menghampiri Audric, "Iya dia sudah bilang. Maafkan aku, jam tidurku jadi kacau karena obat yang harus aku minum. Aku janji besok tidak terulang lagi."


Audric mengamati Mike dari atas sampai bawah, "Okay," dia memperhatikan tangan dan kaki Mike yang diperban, sendalnya dan poni nya yang kusut, "Apa yang terjadi padamu?"


"Kau yakin?"


"Yeah, ini bukan masalah. Jadiapa yang akan kita kerjakan hari ini?"


"Carel meminta jumlah terakhir persediaan barang dagang yang ada disini, sebenarnya itu sudah ada di system tapi dia memintaku untuk menghitung ulang secara manual. Karena jumlah barangnya banyak jadi kau hitung yang dibagian sini dan aku akan menghitung sisa yang ada didalam kardus digudang," jawab Audric sambil mencetak sesuatu di printernya.


"Okay,"


"Ini table nya, nanti di cross check jumlahnya benar atau tidak," Audric memberikan kertas tersebut, Mike menerimanya lalu dia batuk.


"Kau yakin kau tidak apa apa?"tanya Audric.


"Aku baik - baik saja," sambil mengacungkan jempolnya.


"Kau kelihatan berbeda,"


"Berbeda bagaimana?"


"Maksudku, seperti ada yang berbeda ketika kau pertama kali datang kesini dengan kau yang sekarang tapiaku sendiri juga tidak bisa menjelaskan itu apa,"


"Apa karena tangan dan kakiku yang diperban dan aku memakai sandal?"


"Um...tidak juga sih, mungkin kau lebih kurus dari sebelumnya tapiah lupakanlah." Audric melenggang pergi ke gudang.


Sambil menghitung barang yang ada di gudang, Audric sesekali mengintip keadaan Mike dari balik pintu. Dia terlihat rajin dan mengerjakannya dengan cekatan, sesekali dia terlihat batuk tapi sepertinya itu tidak menghalanginya dia lanjut menghitung barang barang yang ada di rak. Yang Audric khawatirkan hanya satu, dia takut asmanya Mike kambuh disini, mudah mudahan dia membawa obatnya. Dia ngeri ketika teringat saat Mike hampir pingsan disini, jika itu terjadi lagi dia khawatir tidak bisa memberi pertolongan pertama dengan benar atau mungkin terlambat memanggil ambulance.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian pintu Thinks Art terbuka, masuklah Ritter dengan wajah menahan marah.


Mendengar lonceng kecil pintu bergemerincing, Audric keluar dari gudang untuk melihat siapa yang datang.


"Hay Ritter, tumben kau datang kesini?" tanya Audric.


Mendengar itu, Mike yang sedang berjongkok menghitung barang yang ada di rak bawah langsung berdiri untuk memastikan siapa yang datang.


"Hay Audric, um...ada yang harus aku bicarakan sebentar dengan Mike," jawab Ritter sambil memberi kode kepada Mike agar dia keluar toko sebentar.


"Okay," jawab Rob lalu dia masuk lagi ke gudang.


Mike mengikuti Ritter keluar ke depan toko, dalam hati dia sudah bersiap jika Ritter meledak dan memakinya. Dia tahu dia salah, seharusnya dia tidak keluar dari asrama hari ini.


Ritter menghela napas untuk meredakan amarahnya," Mike, aku sedang berusaha mengendalikan emosi ku untuk seharian ini,"


"Itu bagus, itu baik untuk tekanan darahmu," jawab Mike yang berusaha untuk tidak memancing emosi Ritter.


Ritter malah terlihat kesal mendengarnya, "Seriuslah Mike, tadinya aku mau mengunci pintu kamar dan memaku jendela tapi setelah itu aku berpikir kau pasti tidak akan pergi kemana mana dengan tangan dan kaki seperti itu."


"Ini hari pertamaku bekerja, aku tak mungkin bolos atau ijin sakit, itu memalukan,"


"Kau bisa jelaskan keadaanmu pada Carel, dia pasti akan mengerti,"


"Aku tak mau melakukan itu, sudah kubilang itu akan terdenger memalukan,"


"Mike, apa kau lupa apa yang terjadi tadi malam? Bahkan perawat di rumah sakit waktu itu mengatakan jika kau jangan berjalan dulu selama seminggu dan apa kau lupa? Bagaimana kalau kau tidur berjalan lagi?"


"Yeah aku tahu itu, aku akan berusaha untuk tetap sadar selama aku bekerja,"


"Masalahnya bukan itu, aku belum sempat cerita kepadamu apa yang sebenarnya terjadi tadi malam, yang terjadi adalah kau tiba tiba mencekikku ketika aku tidur dan bola matamu berubah warna menjadi abu abu, tangan dan kakimu sudah terluka saat itu tapi aku tidak tahu bagaimana bisa seperti itu sebelumnya,"


Mike kaget mendengarnya, dia sempat mengira Ritter salah ngomong atau dia menggunakan kosakata bahasa Jerman yang Mike belum paham, "Apa? Bisa kau katakan lagi tadi?"


Ritter membuka scarfnya dan memperlihatkan memar bekas cekikan dilehernya, "Kau tidur berjalan lagi tadi malam, matamu berubah warna menjadi abu abu dan kau mencekikku,"


Mike tak bisa berkata apa apa, dia merinding melihat memar bekas cekikan tersebut. Dia tak menyangka kalau tidur berjalannya sudah membahayakan orang lain. Ritter tak mungkin berbohong justru dirinyalah yang keadaannya semakin memburuk. Lalu matanya berubah menjadi abu abu? Dia masih belum mengerti yang itu, apakah Ritter menggunakan istilah kiasan?


"Aku...aku minta maaf Ritter," Mike jadi bingung sekaligus takut mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, Laluapa arti semua kejadian itu? dalam hati dia mulai menyadari apa yang mungkin dikatakan oleh Ritter namun dia enggan mengakuinya.


Ritter terdiam sesaat ketika ada beberapa pejalan kaki yang lewat di dekat mereka lalu dia merendahkan suaranya, dia terlihat sangat serius dan berkata, "Kau sudah menunjukkan gejala yang terakhir, Der Kreuzer benar telah merasukimu dan perlahan akan menguasai tubuhmu. Tadi malam kau mencekikku dengan tanganmu yang berdarah dan aku harap bukan seperti itu cara Der Kreuzer menandai korbannya,"


Mike tercekat mendengarnya, dia yakin darahnya berhenti mengalir sesaat dan membuat kedua telapak tangannya menjadi dingin, dia mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh dinding toko Thinks Art. Dia berharap ini hanya lelucon, dia berharap setelah ini Ritter akan tertawa dan mengejeknya bodoh karena mau saja dikerjain tapi bukan itu yang terjadi. Dia melihat Ritter menatapnya dengan kasihan sekaligus khawatir, seperti tatapan terakhir pada temannya yang sedang sekarat menuju ajal.


"Itulah sebabnya aku berharap kau tidak keluar dari kamar dulu, selain karena keadaan tangan dan kakimu, aku takut tiba tiba iblis laknat itu mengambil alih tubuhmu lagi dan membahayakan orang lain, kau bahkan bisa membahayakan Audric," Brad mengenakan kembali scarfnya.


Mendengar itu semua membuat Mike merasa pusing, entah hanya halusinasi atau tidak tapi dia merasa pemandangan disekitarnya berputar putar, dia bersandar pada dinding dibelakangnya dan mempertahankan keseimbangannya. Serasa ada beban berat yang memenuhi ulu hatinya yang bahkan membuatnya hampir muntah. Dia menarik napas dan menghembuskannya untuk menenangkan diri, dia berharap ini hanya mimpi buruk dan segera terbangun di kamarnya yang hangat di Jepang.


Bukan, seharusnya bukan seperti itu. Jangan lagi melarikan diri, dia harus menghadapi ini semua. Tuhan sedang menghukumnya dan dia harus menerima semua kenyataan ini.


Mike berusaha sekuat tenaga untuk bersuara, "Aku harus bagaimana? Apa kau bisa menolongku?"


Ritter merapatkan jaket denimnya ketika angin berhembus membawa rontokan daun maple berwarna merah kecokelatan," Aku akan menolongmu. Seperti yang aku katakan sebelumnya aku tidak akan mengikuti solusi dari gereja atau ayahtiriku, aku akan menolongmu dengan caraku sendiri. Jadi, percayalah padaku."


Mike merinding kedinginan ketika angin berhembus kembali, Terima kasih Ritter, dia memeluk dirinya yang gemetaran kedinginan. Kenapa tiba tiba jadi sangat dingin di luar sini?


"Aku ada di Im Schiffchen, aku akan secara berkala menghubungi Audric, jikalau terjadi sesuatu aku akan segera bertindak. Tetaplah tersadar." Setelah itu Ritter pergi menuju restonya yang hanya berjarak beberapa meter dari Thinks Art.

__ADS_1


Masih bergidik kedinginan, Mike masuk kembali kedalam toko dengan pikiran yang tidak karuan.


__ADS_2