Der Kreuzer

Der Kreuzer
CHAPTER 11


__ADS_3

Mike benar - benar terpesona melihat Carel dan kawan - kawan berlatih band. Lagu Nu Metal Alternative Rock yang mereka bawakan sungguh keren, apalagi ditambah dengan unsur elektronik dari Keyboard yang dimainkan oleh Fremont. Suara Carel sebagai vokalis benar - benar amazing. Suaranya unik, mampu mencapai nada tinggi, emosional, serta di satu bisa menjadi merdu dan di sisi yang lain menjadi teriakan yang gahar. Mereka bisa menggabungkan semua itu dengan sempurna dan menghasilkan musik yang luar biasa. Mike baru kali ini melihat band yang memiliki konsep seperti itu. Band di Jepang tidak ada yang seperti itu. Sebagian besar disana bergenre J-Rock.


Setelah berlatih beberapa jam, mereka beristirahat sambil menonton film IT chapter 2 dari website streaming ilegal di ruang keluarga. Mereka manghabiskan pizza dan birnya sambil sesekali berteriak ketakutan ketika adegan badut laknat itu muncul. Mike geleng - geleng kepala melihat kelakuan teman - teman barunya, padahal tetangganya sedang kerasukan tapi mereka sempat - sempatnya menonton film horror.


Entah sampai pukul berapa saat itu tapi Mike tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya. Sepertinya dia tertidur. Mungkin?. Sepertinya dia bermimpi. Mungkin?. Entah ini nyata atau tidak tapi rasanya seperti mengambang. Dia mendapati dirinya tengah berbaring di sofa di ruang tempat mereka nonton IT 2 sebelumnya tapi tidak ada orang disana. Mungkin yang lain sudah pulang dan Carel sudah tidur dikamarnya. Dia pasti tertidur disini, bagaimana dia bisa sampai tertidur di rumah orang?


Mike bangun dan menapakkan kakinya dilantai. Rasanya aneh, dia tak merasakan dirinya tengah berdiri, dia tak merasakan kakinya menyentuh lantai, dia tak bisa merasakan badannya. Dia tak bisa menggerakkan tangan dan kakinya, dia hanya bisa melihat melalui matanya.


Tiba - tiba kakinya melangkah, padahal dia tidak menggerakkannya. Dia ketakutan, apa yang terjadi padanya? Dia mau menghentikan langkah kakinya tapi dia tidak bisa merasakan kakinya, dia tidak bisa mengendalikan kakinya. Dia mau berpegangan pada tembok agar langkahnya berhenti tapi dia juga tidak bisa menggerakkan tangan dan badannya. Kakinya tetap melangkah membawanya menyebrangi ruangan dan menuju kesebuah pintu.


Apa yang terjadi padanya? Apakah ada sesuatu yang buruk pada dirinya?


Tangan kanannya menggapai handle pintu dan membukanya. Dia tak bisa merasakan handle pintu itu, dia mencoba berpegangan pada pintu itu agar tidak melangkah lagi tapi sia - sia, badannya seperti punya pikiran sendiri, dia tak bisa mengendalikannya.


Dia masuk kesebuah kamar tidur dengan penerangan remang - remang dari cahaya bulan yang menyeruak masuk disela - sela tirai yang menutup jendela. Dia melihat Carel sedang tidur di kamar itu. Dia menghampirinya dengan tangan teracung kedepan seperti seseorang yang siap menerkam.


Tunggu, apa yang dia lakukan? hentikan!


Dia bisa melihat dengan jelas tubuh Carel, dia bisa melihat dengan jelas boxersnya, dia bisa melihat dengan jelas tato yang ada didadanya dan kedua tangannya sekarang teracung hendak mencekik leher Carel.


Hentikan ini! Hentikan!


Entah bagaimana sepertinya yang mengendalikan tubuhnya mendengarnya. Dia lega sejenak karena tidak jadi mencekik bosnya lalu kakinya membawanya melangkah keluar kamar. Melangkah menyebrangi ruang keluarga dan menuju pintu depan.


Apa lagi ini? Cukup! Hentikan ini!


Tangan kanannya membuka pintu depan. Dia bisa melihat dengan jelas pemandangan malam hari di Mendelweg. Dia bisa melihat dengan jelas langit malam yang dihiasi bulan sabit yang terlihat samar karena tertutup awan.

__ADS_1


Kakinya melangkah keluar dan menginjak rumput halaman depan. Dia baru sadar jika dia tidak memakai sepatu, tapi tetap saja dia tidak bisa merasakan rumput yang dia injak.


Kakinya melangkah membawanya melintasi halaman depan. Apa - apaan ini? dia akan dibawa kemana? Apakah ini mimpi? Apakah dia berjalan sambil tidur? Jika benar, dia harus segera bangun. Bagaimana kalau nanti ada kendaraan yang melintas?


Bangun!


Percuma, sepertinya tubuhnya diambil alih.


Dia melangkah menuju rumah yang ada disebelah rumah Carel. Rumah keluarga Othman. Kenapa kesana? Kenapa harus kesana?


Kakinya melangkah tanpa ragu menuju rumah tersebut. Dia bisa melihat dengan jelas ada beberapa orang yang sedang berkumpul diteras rumah. Dia bisa melihat jelas setiap wajah yang ada disitu, dia bisa mendengar dengan jelas apa yang orang - orang itu bicarakan.


Ini bukan mimpi. Ini lebih mengerikan dari mimpi buruk.


Kakinya melangkah menaiki undakan anak tangga menuju teras rumah tapi orang - orang yang diteras itu seperti tidak manyadari kehadirannya. Tidak ada yang menoleh kepadanya sedikitpun. Dia melewati mereka dan melangkah masuk kedalam rumah.


Kakinya tetap melangkah melewati ruang tamu yang berantakan dan lantainya penuh pecahan kaca, bahkan dia bisa mendengar suara pecahan kaca yang terinjak kakinya tapi dia sama sekali tidak merasakannya.


Dia terus berjalan menuju sebuah pintu yang ada diujung ruangan. Dia bisa mendengar suara teriakan seorang gadis dan suara seseorang yang sedang membacakan Bible.


Ini kamar gadis itu. Gadis yang kerasukan itu. Dia tidak mau kesini. Hentikan ini.


Dia masih berdiri diam didepan pintu tersebut, kedua tangannya teracung siap menerkam. Dia mendengar suara teriakan gadis itu makin keras dan suara seseorang yang membacakan Efesus 6 semakin membuat telinganya sakit. Entah kenapa dia merasa marah mendengar Efesus 6 dibacakan dan dia langsung menyerbu kamar tersebut.


Mike merasakan benturan keras menghantam dahinya lalu dia jatuh kelantai. Rasa sakit dan kaget menyadarkannya. Dia perlahan membuka matanya dan melihat sebuah pintu tepat dihadapannya. Pintu depan rumahnya Carel. Dia masih ada didalam rumah.


Rasa nyeri luar biasa didahinya membuatnya pusing dan matanya buram. Hantaman tadi sangat keras seperti ada seseorang yang mendorong kepalanya dari belakang dan menghantamkannya ke pintu.

__ADS_1


"Ouch..." rintih Mike sambil mengusap dahinya.


Dia mencoba berdiri dan berpegangan pada tembok tapi kepalanya terasa berputar dan rasa nyerinya bertambah. Dia jatuh lagi ke lantai lalu dengan sekuat tenaga dia berjalan merangkak ke sofa tempat tadi dia tidur. Dia duduk disofa itu dan menyandarkan kepalanya. Dia memejamkan mata sambil mengusap dahinya.


"Oh Tuhan..." rintih Mike. Sambil menahan sakit dia berusaha mengingat apa yang tadi terjadi. Apakah dia tidur berjalan? Seumur hidup dia tidak pernah tidur berjalan, ada apa sebenarnya ini? Apakah tadi semua hanya mimpi? Mimpinya terasa nyata sekali.


Lalu dia teringat tadi dia hampir mencekik Carel.


Dia berdiri dan berjalan pelan - pelan kekamar Chester. Kepalanya berdenyut nyeri seiring dengan langkah kakinya. Mike menghampiri kamar yang tadi dia lihat di mimpinya. Pintunya setengah terbuka, Mike melangkah masuk kedalam. Dia melihat Carel sedang tidur dengan boxersnya, posisi tidurnya sama dengan yang dia lihat tadi mimpinya, tato yang ada di dada Carel juga sama dengan yang dia lihat dimimpi.


Mike mendekat ke leher Carel untuk memeriksa apakah ada bekas cekikan atau tidak.


Tidak ada.


Carel juga terlihat masih bernapas. Mike bernapas lega dan bersyukur Carel tidak bangun karena suara benturan tadi.


Dalam mimpinya tadi dia tidak jadi mencekik Carel lalu dia keluar rumah. Tunggu dulu? kenapa yang dia lihat dikamar ini sama dengan dimimpinya tadi? Sebenarnya ini mimpi atau bukan?


Mike mulai bingung. Dia berjalan tanpa suara keluar dari kamar Carel dan kembali ke ruang keluarga. Dia memperhatikan sekeliling ruangan, tidak ada orang lain. Sepertinya yang lain sudah pulang dan dia benar tertidur disini. Dia melihat jam di dinding. Jam 5 pagi.


Dia harus kembali ke asrama. Dia harus mengompres dahinya dan rebahan. Dia juga tidak enak jika membangunkan Carel, dia tidak mau merepotkan orang lain.


Sambil menahan pusing, dia mengambil hoodienya di sofa lalu dia membuka pintu depan. Pintunya tidak terkunci, sama seperti yang ada dimimpinya.


Mike menutup kembali pintu tersebut perlahan dan berjalan menyusuri halaman depan yang dipenuhi daun kering. Dia melihat keadaan disekelilingnya, sama seperti yang dia lihat dimimpinya. Dia jadi merinding, dia memakai jaket hoodienya dan mengenakan tudungnya. Dia berjalan dan melewati rumah keluarga Othman, sekilas dia menoleh kesana dan melihat ada beberapa orang yang berkumpul dan berbicara serius diteras rumah, sama seperti didalam mimpinya.


Dia merapatkan tudung hoodienya agar wajahnya tidak terlihat oleh mereka. Mike mempercepat langkahnya. Perasaannya campur aduk, takut, bingung dan kepalanya sakit. Dia pergi dari jalan Mendelweg mencari halte bus terdekat dan berharap sudah ada bus yang lewat jam segini.

__ADS_1


__ADS_2