Der Kreuzer

Der Kreuzer
CHAPTER 2


__ADS_3

Aylin Hildegard, seorang mahasiswi tingkat akhir di universitas Heinrich Heine Dussledorf, tengah berjalan dikoridor asrama kampus. Rambut hitamnya yang panjang digerai berayun - ayun seirama dengan langkah kakinya ditambah dengan tubuhnya yang ramping dan gemulai membuatnya seolah - olah tampak berjalan melayang. Dia menyandangkan ranselnya dibahu sebelah kanan dan melangkah santai menuju kamar diujung koridor tidak mempedulikan tatapan nakal beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya. Asrama putra tampaknya lebih parah jika dilihat dari dalam, suara musik rock terdengar kencang dibeberapa kamar, sekumpulan mahasiswa yang berteriak - teriak tidak jelas dikamar entah apa yang mereka mainkan dan sepasang kekasih yang memadu asmara dikamar yang bahkan mereka tidak menutup pintunya. Aylin berdecak dan geleng - geleng kepala melihat itu semua, pada kenyataannya asrama putri juga hampir seperti itu tapi paling tidak mereka menutup pintunya.


Aylin sudah sampai didepan kamar diujung koridor lalu dia mengetuk pintunya. Samar - samar dia mendengar suara gitar yang sedang memainkan lagu yang dia kenal, Paramore - The Only Exception. Aylin mengetuk sekali lagi tapi suara gitar itu tampaknya terdengar lebih keras dari sebelumnya. Dia menghela napas dan hendak mengetuk lagi sebelum suara pria dibelakangnya mengagetkannya.


"Hey manis, apa kau hendak bercinta dengannya? sayang sekali dia hanya bercinta dengan gitarnya." Kata pria tersebut yang entah muncul darimana.


"Diam kau. Dia sepupuku,bodoh." Jawab Aylin setengah berteriak. Pria itu cekikikan dan pergi menyusuri koridor.


Aylin menghela napas lagi untuk menenangkan diri, dia mengetuk lagi pintunya dan mendengar suara sepupunya menyanyikan bait pertama lagu tadi. Dia berkesimpulan bahwa mungkin sepupunya tidak mendengar ketukannya, dia mencoba membuka pintu dan berharap pintunya tidak dikunci. Ternyata memang tidak dikunci. Apa semua mahasiswa putra disini tak pernah menutup pintu atau bahkan mengunci pintu? Aylin membuka pintunya dan melangkah masuk. Dia melihat sepupunya sedang duduk dikasurnya dan bersandar ditembok sambil memainkan gitar dan bernyanyi dengan suaranya yang lirih, dia bahkan tidak menoleh melihat Aylin.


Aylin memperhatikan sekeliling kamar sepupunya. Kasur berantakan, kaleng kosong bekas minuman dilantai, beberapa buku dan kertas berserakan dimeja disebelah kasurnya.


"Ritter?" panggil Aylin. Sepupunya tidak menjawab, dia masih menyanyikan lagu paramore dan memainkan gitarnya dengan lebih keras.


"Ritter?" teriak Aylin yang mulai tidak sabar.


Akhirnya sepupunya itu menghentikan nyanyian, dia memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya ke dinding dibelakangnya sambil menghela napas.


"Oh sial..." jawab Ritter. Dia meletakan gitarnya dikasur lalu dia menegakkan kepalanya menatap Aylin. "Ada apa?"


"Ada apa? seharusnya aku yang bertanya begitu, bukannya kau ada kelas hari ini?" tanya Aylin sambil memungut kaleng - kaleng kosong dilantai.


"Aku masih belum menemukan jawabannya." Jawab Ritter sambil menatap jendela disampingnya.


"Jawaban apa?" tanya Aylin. Dia membuang kaleng - kaleng tersebut ke tempat sampah kecil dipojok kamar lalu dia menatap sepupunya, Ritter Gilleasbuig. Mahasiswa kurus tingkat akhir yang memiliki bola mata yang hitam pekat, rambut hitam keriting kribo dan kulit yang putih pucat.


Ritter mengusap - usap dahinya, "Jawaban atas diriku yang menjadi satu - satunya mahasiswa hukum yang tak berminat dengan hukum."


Aylin terdiam. Dia tahu sebenarnya Ritter tidak mau kuliah tapi ayahnya yang merupakan dosen disini memaksanya.


"Lihat, kau tampaknya juga tidak tahu jawabannya." Kata Ritter yang masih bersandar di dinding.


"Aku yakin maksud ayahmu baik."


"Ayah tiriku."


"Yeah,,,dia tetap ayahmu juga. Ayolah, kau bisa melalui ini, kau bahkan sudah di tingkat akhir."


"Untuk apa aku membuang - buang waktuku disini, aku bahkan sudah sukses berbisnis tanpa harus kuliah."


"Bisnis usaha restoran peninggalan orang tuamu."


"Yeah, intinya restoran ini berkembang setelah diurus olehku. Aku bahkan punya 8 karyawan termasuk kau."


"Iya, aku tahu itu. Tapi coba lihat sisi baiknya, kuliah akan menambah pengetahuanmu."

__ADS_1


"Pengetahuan tentang hukum?" tanya Ritter dengan nada sarkas.


Aylin menghela napas lagi, mereka sering berdebat mengenai ini. Hampir setiap hari.


"Seharusnya aku kuliah bisnis tapi tanpa itupun aku sudah berhasil mengembangkan bisnis yang kau bilang 'bisnis warisan' itu."


Aylin mengangguk. "Yeah kau benar. Restoran milikmu berkembang pesat, interiornya bagus, pengunjung bertambah dan makanannya juga enak dan kau memperoleh rate tinggi dari surveyor lokal."


"Itu kau paham, lalu apa alasan yang tepat aku melanjutkan kuliahku?"


"Itu akan membuat ayahmu bangga."


"Ayah kandungku atau ayah tiriku?"


Aylin menggelengkan kepalanya dan duduk disebelah sepupunya. "Ritter, aku tahu sebenarnya bukan ini masalah utamamu."


"Benarkah?" tanya Ritter yang hendak mengambil gitarnya lagi tapi ditepis oleh Aylin.


"Yeah, aku tahu kau muak dengan Darek, ayah tirimu itu."


Ritter terdiam. Dia kembali mengusap - usap dahinya lalu menggaruk rambut keritingnya.


Aylin melanjutkan, "si tua Darek yang masih saja terbenam dalam kepercayaannya atas mitos abad pertengahan, yang bahkan menghabiskan hampir separuh hidupnya untuk meneliti mitos tersebut dan sekarang dia hendak mewariskan mitos ini juga kepadamu dan meminta bantuanmu untuk penelitiannya. Yang belum aku pahami adalah jika itu memang mitos kenapa pihak gereja juga bekerjasama dengannya? Kau tahu? sepertinya terlalu banyak warisan dikeluarga kita."


Aylin menghela napas lagi dan menepuk pundak Ritter. "Kau harus sabar. Darek sebenarnya baik, orang tuaku pun mengakuinya, mereka bahkan mengatakan bahwa ibumu membuat keputusan yang tepat dengan menikahinya."


Ritter mengusap - usap wajahnya seolah menghilangkan penat dalam pikirannya. "Oh Tuhan, kenapa ini harus terjadi kepadaku?"


"Ini salah satu takdirmu, bersabarlah." Jawab Aylin sambil mengusap bahu Ritter.


"Oh iya, apakah shiftmu nanti malam?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan."


"Tidak. Aku serius karena tadi Arvin mengirim pesan kepadaku kalau dia tidak bisa masuk kerja hari ini. Jika dia tidak ada, tak ada yang mengawasi dapur."


"Jadi kau mau ke restoran nanti malam?"


"Sepertinya."


"Das ist gut so, ngomong - ngomong kemana teman sekamarmu?"


"Si gendut Tibalt?"


"Ja, memang siapa lagi teman sekamarmu?"

__ADS_1


"Dia pindah kamar kemarin karena sebelumnya aku bermain gitar semalaman sampai amplifierku meledak. Katanya kalau terus seperti ini dia takut terpanggang ketika tidur."


Aylin geleng - geleng kepala, dia bangkit berdiri.


"Jadi...kau akan ke kelas kan?"


"Akan kucoba, tapi aku tidak janji."


"Ritter...ayolah,"


"Baiklah!" jawab Ritter, dia berjalan, masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras sehingga membuat Aylin terlonjak kaget. Dia menghela napas menenangkan diri lalu dia pergi dari situ.


***


Dusseldorf adalah kota dengan jumlah penduduk sekitar 700 ribu jiwa. Ini membuatnya menjadi salah satu dari tujuh kota berpenduduk terbanyak di Jerman. Tapi jangan bayangkan kepadatan penduduk di Dusseldorf akan sama seperti di Asia atau di Amerika. Jika dibandingkan dengan Asia dan Amerika, jalan raya disini jarang terjadi kemacetan. Selalu lancar disetiap ruas jalan. Orang - orang yang berjalan di trotoarpun juga tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan pejalan kaki di New York atau Hong Kong. Terlebih jika sudah memasuki musim gugur dan musim dingin karena suhu dimusim gugur saat ini bisa mencapai 15 derajat celcius. Langitnya akan berwarna putih dan pohon - pohon akan menggugurkan daun - daun coklat keringnya.


Transportasi umum didaerah ini pun memadai. Seperti Bis Metro dan Taxi. Taxi disini menjadi kendaraan umum dari bandara favorit turis yang hendak berlibur di Dusseldorf. Tidak hanya turis sebenarnya, tetapi juga untuk imigran, pelajar dan perantau dari luar negeri, taxi akan menjadi kendaraan yang tepat untuk mereka yang tidak mengetahui rute jalan di Dusseldorf. Seperti salah satu perantau dari luar negeri ini yang baru sampai di Dusseldorf, Michael Tadashi.


Michael tiba dibandara pukul 4 sore ini dan sudah hampir setengah jam menempuh perjalanan dengan taxi menuju universitas Heinrich Heine Dusseldorf. Selama perjalanan itu juga sang sopir sepertinya sering memperhatikannya dari kaca spion tengah dan membuatnya jadi kurang nyaman. Dia mengalihkan pandangannya menatap deretan pertokoan, rumah susun dan apartment dipinggir jalan Julicher Strasse yang dia lewati saat ini.


"Darimana pak? sepertinya kau bukan orang sini." Tanya si supir itu tiba - tiba. Memecah lamunan Michael yang sedang menatap pemandangan dari jendela.


"Dari Jepang." Jawab Michael yang agak kurang nyaman jika ditanya oleh orang asing.


Si sopir terperanjat kaget. "Was denn? Jauh sekali, itu seperti terbang mengitari separuh dari bola dunia."


Michael hanya menanggapinya dengan tertawa. Dia menatap pemandangan dari jendela sambil berharap si sopir tidak mengajaknya bicara dulu.


"Tapi bahasa Jermanmu lancar."


"Ja, danke schon. Aku sudah mempelajarinya sejak kecil." Michael agak kecewa karena supir itu masih mengajaknya bicara.


"Ada gerangan apa kau jauh -jauh datang ke Jerman? Kau mau kuliah di Heinrich Heine?" tanya si


sopir lagi.


"Ja." jawab Michael dengan singkat tanpa mengalihkan pandangan dari jendela.


"Das ist gut so, tapi...kenapa harus jauh - jauh ke Jerman? Bukankah di Jepang lebih baik? Maksudku aku pernah lihat di TV kalau disana teknologi lebih maju, seperti dimasa depan." Si supir itu berbicara lagi.


Michael tidak menjawab, dia cemberut dan mengalihkan pandangan dari jendela ke smrtphonenya. Dia lebih memilih memainkan smartphonennya dan berharap kali ini si supir mengerti bahwa dia sedang tak ingin diajak bicara.


Rupanya si supir itu menyadarinya, "Verzeih mir," katanya.


Sebenarnya ada alasan tersendiri kenapa Michael pergi jauh ke Jerman. Kuliah disini hanya sebagai bonus atas pelariannya. Tak mungkin dia tidak menyukai Jepang, dia lahir dan besar disana, tapi ada satu masalah serius yang membuatnya terpaksa harus melarikan diri dari Jepang. Mungkin ini sudah menyangkut nyawa dan kewarasannya.

__ADS_1


__ADS_2