
Tadinya Ritter hendak menyiapkan bahan - bahan makanan yang sudah disediakan lengkap didapur oleh ibunya tapi dia malah duduk terdiam sambil menatap paprika dan tomat yang ada dihadapannya. Dia sedang berpikir, mungkin ini keputusan yang tepat jika dia tidak mau membantu Darek tapi di lain sisi, dia kepikiran tentang Mike. Bagaimana kalau ternyata Mike adalah Der Kreuzer? Mike orang baru disini dan bisa melihat hantu. Jika memang itu benar, apa yang harus dia lakukan? Bagaiman kalau itu benar dan Darek mengetahuinya? Mungkin Mike akan dibakar atau ditenggelamkan oleh mereka. Apakah harus seperti itu? Itu sama saja dengan pembunuhan. Sepertinya Ritter memang harus mencari tahu sebelum Darek mengetahuinya lebih dulu lalu mungkin Ritter bisa menolong Mike tanpa harus terjadi pembunuhan. Dia harus segera memastikan Mike itu Der Kreuzer atau bukan.
"Ritter, kau dengar atau tidak?", teriakan Aylin menyadarkan Ritter.
"Oh, yeah, aku dengar. Apa tadi?" tanya Ritter yang kembali menyadari ada Aylin juga di dapur sedang membantunya menyiapkan masakan.
"Kau mau menggunakan panggangan atau wajan?" tanya Aylin sambil mencatat dibuku catatan kecilnya.
"Kedua - duanya," jawab Ritter sambil menatap paprika dan tomat dihadapannya.
"Okay, BBQ sauce atau Black pepper sauce?" tanya Aylin.
"Kedua - duanya," jawab Ritter sambil menyandarkan kepalanya ditangannya, dia memejamkan mata seperti berpikir keras.
"Okay, daging domba atau daging sapi?" tanya Aylin.
Ritter tidak menjawab. Dia meraih tomat yang ada dihadapannya dan melemparnya dengan kencang ke tembok. Tomat itu pecah ketika menghantam tembok dan isinya yang berwarna merah terciprat disekitarnya.
Aylin kaget melihatnya, "Apa - apaan itu? seriuslah Ritter, itu sebabnya Arvin mengundurkan diri. Mungkin kau harus ikut terapi anger management,"
Ritter menghela napas, dia duduk kembali dan menenangkan dirinya, "Apa kau mau mengantikannya? menjadi headchef assistant?"
"Tidak," jawab Aylin dengan tegas, "Di Im Schiffchen aku sudah cukup nyaman dibagian sayuran. Aku tidak sanggup mendengarkan makianmu setiap hari jika tepat ditelingaku," Aylin menatap Ritter dengan heran, "apa itu masalahnya?"
Ritter menyandarkan kembali kepalanya ditangannya, "Bukan. Aku sedang memikirkan sesuatu,"
"Memikirkan apa? kau berdebat lagi dengan Darek?"
Ritter menggeleng, "Aku memikirkan teman sekamarku?"
"Teman sekamarmu? Oh, aku tahu dia. Orang Jepang yang pakai poni itu kan?"
"Kau kenal dia?"
"Iya. Aku pernah ngobrol sebentar dengannya didekat danau kampus. Namanya...umm...tada...tada, ugh aku tidak ingat,"
"Mike Tadashi?"
"Yeah, itu dia. Kita berkenalan dan dia bilang dia teman sekamarmu. Memangnya dia kenapa?"
"Ada yang harus aku pastikan mengenai dirinya,"
"Mengenai apa?"
"Aku akan cerita kepadamu jika hasilnya sudah pasti,"
"Okay...sepertinya masalahnya serius,"
"Iya. Ini masalah yang serius. Jadi...aku harus menyelesaikan urusan pesta kebun ini dan segera kembali ke asrama," Ritter berdiri dan mengambil beberapa pisau daging dengan segala ukuran.
"Oh, kau tidak jadi menginap disini?" tanya Aylin yang hendak mencuci sayuran.
Ritter tidak menjawab, dia menatap Aylin dengan tajam sambil menggenggam erat pisau dagingnya.
"Maaf, aku tidak akan bicara lagi," jawab Aylin lalu dia membuat gerakan mengunci mulut.
***
Pukul 5 sore saat ini dan langit mulai gelap dan berangin. Angin musim gugur yang dingin menusuk kulit. Beberapa lembar daun kering terbang tertiup angin dan masuk ke kamar Mike melalui jendela. Mike menggigil kedinginan, dia menutup jendela itu dan kembali duduk didepan laptopnya. Dia sudah memakai kaos lengan panjang , kaos kaki dan menyalakan penghangat ruangan tapi tetap saja dia masih merasa kedinginan.
__ADS_1
Setelah pulang dari Mendelweg, dia berharap Ritter ada di kamarnya. Tapi ternyata tidak ada, mungkin dia sudah berangkat ke restonya pagi - pagi. Mike memberanikan diri sendirian dikamarnya sambil rebahan dan mengompres kepalanya. Setelah rasa sakitnya hilang, bekas benturan itu menginggalkan benjol didahinya dan terasa nyeri jika diraba. Benjolnya tidak terlalu besar tapi jelas terlihat. Itu tak masalah, dia bisa menutupinya dengan poninya.
Tapi sepertinya masalah tidak hanya disitu. Tak lama setelah itu dia merasa kedinginan, nyeri di tulang dan tidak enak badan. Mulai siang menjelang sore, dia merasa tenggorokannya gatal, batuk dan hidungnya agak tersumbat. Mungkin dia terserang flu karena cuaca yang dingin ini. Seingatnya dia jarang sakit, sudah bertahun - tahun yang lalu dia terakhir sakit dan itu hanya demam ringan. Mungkin tubuhnya sedang menyesuaikan diri dengan cuaca di Jerman.
Deringan diponselnya mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Dia membaca pesan yang masuk. Dari Carel,
Carel: Hey, terima kasih sudah melihat kami latihan tadi malam. Maaf, aku tidak membangunkanmu. Kau tidur pulas sekali.
Mike membalas pesan tersebut,
Mike : Tidak apa - apa, suaramu keren dan band kalian benar - benar luar biasa.
Carel membalas,
Carel : Terima kasih, dan jangan lupa kau mulai bekerja hari senin.
Mike tersenyum membacanya lalu dia kembali ke layar laptopnya. Tiba - tiba dia bersin lalu batuk, batuk yang berat dan dalam dan membuat dadanya sakit. Sepertinya dia benar - benar terserang flu, semoga hari senin dia sudah sembuh.
Pintu kamar terbuka, Ritter datang sambil membawa bungkusan makanan. Mike terlihat senang melihatnya datang.
"Hey Ritter, aku senang kau pulang," kata Mike, dia hendak bersin lagi tapi tidak jadi.
"Aku yakin kau belum makan, ini aku bawakan makanan," jawab Ritter sambil menaruh bungkusan makanan itu dimeja Mike.
"Dankeschon, aku kelaparan." jawab Mike dengan wajah berseri - seri sambil membuka bungkusan makanan tersebut, "Wow, was ist das?"
"Spatzle. Dalam perjalanan pulang dari Ernst Abbe-Weg aku mampir sebentar ke resto ku, aku buatkan ini untukmu," jawab Ritter sambil membuka mantelnya.
"Kelihatannya enak," Mike memejamkan mata dan menyilangkan jarinya, "Bless us, O Lord, and these, Thy gifts, which we are about to receive from Thy bounty. Through Christ, our Lord. Amen."
Ritter memperhatikan Mike yang sedang melahap spatzle tersebut, kelihatannya dia benar - benar lapar. Ritter berpikir apakah seorang yang religius seperti ini bisa menjadi Der Kreuzer?
Ritter menghela napas, lalu dia rebahan di kasurnya Mike, "Tadi malam kau pergi kemana?"
"Kelihatannya kau sudah diterima di Think's Art,"
"Iya, untuk paruh waktu aku mulai bekerja hari senin. Kau benar, dia baik dan lucu. Bandmu konsepnya bagus dan suaranya Carel benar - benar luar biasa, kenapa kau tidak ikut latihan kemarin?"
"Aku memasak di acara ulang tahun pernikahan ibuku dengan ayah tiriku,"
"Itu manis sekali, seandainya aku masih punya orangtua,"
"Apa yang terjadi pada mereka?"
Mike terdiam sesaat, "Mereka meninggal karena kecelakaan waktu aku masih SMA,"
"Aku turut berduka cita. Lalu setelah itu hanya kau dan adikmu saja?"
"Iya, sampai...sampai akhirnya dia meninggalkanku juga," Mike terdiam lagi, tenggorokannya terasa tercekat, mengingat adiknya membuat hatinya sakit. Hatinya serasa pecah tanpa ada seorangpun yang bisa menyatukan kembali pecahannya. Dia meletakan sendoknya dan tangannya gemetaran. Ingatannya kembali saat dia berada di beranda ketika adiknya melompat tanpa keraguan dihadapannya. Sesaat setelah melihat tubuh adiknya hancur di jalan, dia merasa kehilangan jiwanya, dia tidak menyadari apa yang terjadi pada dirinya waktu itu, dia hanya meringkuk diberanda berteriak dan menangis entah sampai berapa lama, sampai dia melihat sesuatu di beranda yang menatapnya balik. Entah itu sudah ada sejak tadi atau tidak tapi sesuatu itu membuatnya tersadar, membuatnya bisa merasakan kembali tubuhnya, merasakan tenggorokannya sakit karena menangis, merasakan wajahnya yang basah karena air mata, merasakan dinginnya lantai beranda karena dia lama meringkuk disitu dan merasakan ketakutan mulai merayapi tubuhnya.
Sesuatu yang mengerikan menatapnya balik. Sosok hitam dengan mata merah mengerikan yang memancarkan aura gelap yang menelan cahaya disekitarnya . Entah itu apa, monster? atau iblis?
Mike tak bisa bergerak, tak bisa berteriak hanya bisa gemetaran ketakutan melihat sosok hitam bermata merah itu makin lama makin mendekatinya. Dia tahu itu sesuatu yang jahat, apakah dia yang membuat adiknya terjun dari beranda? Apakah dia akan membunuhnya juga?
Mike hanya bisa merengek sia - sia saat sosok hitam itu mendekapnya dan menutupi penglihatannya. Dia tak bisa melihat apa - apa dan sulit bernapas, seolah - olah semua udara ditarik keluar dari paru - parunya, membuat tubuhnya lemas dan mati rasa. Dia pikir dia akan mati waktu itu tapi sepertinya dia hanya pingsan karena tak lama kemudian dia tersadar dan melihat paramedics mengelilinginya memberikan pertolongan diiringi dengan tangisannya yang pecah kembali ketika dia teringat apa yang terjadi. Adiknya...semua keluarganya...mereka sudah pergi.
"Mike," panggil Ritter. Mike tersadar dari ingatannya lalu dia batuk. Batuk yang berat dan menyakitkan sampai dadanya nyeri serasa ditekan.
"Kau sakit? batukmu terdengar mengerikan," tanya Ritter, dia duduk di tepi tempat tidur.
__ADS_1
Ketika batuknya mereda dia menarik napas dan menghembuskannya sambil mengusap dadanya yang nyeri, "Maaf, aku hanya teringat tentang sesuatu yang tidak mau aku ingat,"
"Tentang apa?" tanya Ritter dengan penasaran.
Mike terdiam sesaat sebelum menjawab, seolah - olah mengumpulkan keberaniannya terlebih dahulu,
"Tentang adikku, ketika dia melompat dari beranda,"
"Apa? Adikmu bunuh diri?" Ritter kaget mendengarnya.
Mike mengangguk, "Aku tidak tahu kenapa dia melompat. Kita selalu berbagi cerita dan dia tak pernah menyembunyikan apapun dariku. Kita sudah berjanji setelah orang tua kita meninggal, jangan ada lagi rahasia diantara kita. Dia orangnya bijaksana bahkan dia lebih berpikir dewasa dari pada aku. Setelah dia melompat, seolah - olah ada bagian dari diriku yang hilang,"
Ritter menghela napas, "Isi hati orang siapa yang tahu, walaupun kalian selalu berterus terang."
"Aku yang paling mengenalnya tapi pada akhirnya aku tidak pernah tahu." Mike menunduk menatap kakinya yang tertutup kaos kakinya.
"Sebenarnya bukan hanya itu, setelah adikku melompat, aku melihat sesuatu diberanda. Awalnya aku pikir itu hanya halusinasi karena pikiranku tidak karuan saat itu. Tapi itu ada disana dan menatapku balik seolah - olah hendak menerkamku,"
"Apa itu?" tanya Ritter, dia mulai larut dalam peristiwa yang diceritakan Mike.
"Sosok hitam dengan mata merah yang mengerikan. Aku tidak tahu itu apa, mungkin hantu atau semacamnya. Saat itu aku ketakutan dan tak bisa bergerak, dia seperti mendekapku dan menghisap semua udara yang ada disekitar lalu aku pingsan. Aku rasa itulah pertama kalinya aku melihat hantu." Mike menatap Ritter dan menunggunya memberi reaksi tapi Ritter hanya menatapnya balik dengan ekspresi kasihan.
"Apa kau percaya kepadaku?" Awalnya Mike lega karena dia bisa menceritakan dan mengeluarkan semua itu dari pikirannya tapi setelah itu dia merasa seperti orang bodoh.
Ritter tersenyum hangat dan menenangkan hati Mike yang sedang gundah, "Aku percaya padamu," katanya.
"Dankeschon," jawab Mike. Dia senang akhirnya seseorang percaya kepadanya dan tidak menganggapnya gila. Dia batuk lagi. Batuk yang berat seperti tadi sampai paru - parunya serasa diremas dan seluruh udaranya dipaksa keluar. Dia sampai membungkuk karena menahan sakit didadanya.
"Seriuslah Mike, kau sedang sakit atau bagaimana? berbaringlah" kata Ritter sambil membantu Mike berdiri dari kursinya.
"Sepertinya aku kena flu, mungkin aku belum cocok dengan cuaca di jerman," jawab Mike yang dipapah Ritter ke kasur. Mike duduk ditepi tempat tidur.
"Tunggu sebentar, aku ambilkan air," kata Ritter lalu dia berlari kekamarnya dan kembali membawa sebotol air mineral.
Dia minum dan merasakan air segar mengalir melalui tenggorokannya. Dia merasakan airnya mengalir ke perutnya dan membuatnya tubuhnya terasa adem. Setelah itu dia menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan menyandarkan kepalanya di bantalnya yang empuk, dia sesaat merasa nyaman. Kenapa dia tak berbaring saja sejak tadi.
Ritter duduk didekatnya, dia masih menatapnya dengan khawatir, "Mike, Darf ich sie etwas fragen?"
"Ja, was?" tanya Mike, dia berbaring telentang sambil bernapas sedalam - dalamnya seperti seseorang sudah lama tidak menghirup oksigen.
"Kau tahu tentang Der Kreuzer?"
"Tidak. Itu apa?"
"Mitos dalam sejarah Dusseldorf,"
"Ugh, aku tidak terlalu suka sejarah. Memangnya bagaimana?"
"Tidak penting. Lupakanlah,"
Mike batuk lagi tapi tidak terlalu berat, hanya saja dadanya sakit. Dia berbaring dengan sisinya, meringkuk menghadap dinding. Dia kedingingan lagi, dia mencari sesuatu yang hangat dikasurnya tapi tidak ada. Melihat itu, Ritter mengambil selimut dan membentangkannya menutupi tubuh Mike. Kehangatan dari selimutnya yang lembut membuatnya merasa nyaman kembali dan...mengantuk.
"Sejak kapan kau sakit? Sepertinya kau baik - baik saja kemarin pagi" tanya Ritter.
"Sejak kemarin. Ketika di Think's Art, aku melihat penampakan sekelompok hantu tentara zaman perang dunia. Mereka memakai simbol NAZI diseragamnya. Ketika mereka mendekatiku, dadaku sesak, aku hampir tidak bisa bernapas, aku tidak tahu kenapa bisa seperti itu tapi waktu aku melihat hantu di danau, aku tidak apa - apa,"
"Apa kau punya penyakit asma?"
"Tidak. Aku sudah lama tidak sakit, baru ini aku kena flu lagi," Dia merasakan kelopak matanya mulai berat. Dia mengantuk.
__ADS_1
"Ya sudah, kau istirahatlah, sebaiknya besok jangan pergi keluar dulu, apa sudah lebih baik sekarang?"
"Ja, dankeschon," jawab Mike dengan lirih. Memejamkan mata membuatnya merasa lebih nyaman, pikirannya mulai mengantuk, perlahan membawanya jatuh tertidur.