
"Bisakah kau menggambar kami?" tanya gadis kecil itu. Berbeda dengan hantu gadis kecil yang Mike lihat dikamarnya, hantu gadis kecil yang ini ada sedikit ekspresi diwajahnya. Hanya adiknya saja yang berekspresi datar.
Mike melihat ke sekelilingnya, ada beberapa orang yang lewat tapi tidak memperhatikannya. Dia menjawab, "Tidak,"
"Kenapa?" tanya hantu itu dengan kecewa.
Mike melihat lagi kesekelilingnya khawatir ada orang yang melihatnya bicara sendiri, tapi tidak ada yang memperhatikannya, "Aku tidak mau,"
Hantu gadis kecil itu menunduk dan terlihat sedih lalu dia menengadahkan lagi wajahnya dan tersenyum tipis, "Baiklah, tak apa - apa." dia melepaskan genggaman tangan adiknya, lalu adiknya berlari - lari disekitar pinggir sungai, tetap tanpa ekspresi diwajahnya. Hantu gadis kecil itu duduk disebelahnya.
Hantu gadis kecil itu menatap Mike lekat - lekatnya, "Kau tidak takut padaku?"
"Sepertinya aku mulai terbiasa," jawab Mike sambil memasukan kembali buku sketch ke tasnya karena mood nya sudah hilang.
Hantu itu tersenyum, "Aku dan adikku sudah lama berkeliaran disini, tapi baru kali ini aku bertemu manusia yang bisa melihatku,"
Mike sebenarnya bukannya takut jika melihat hantu yang seperti ini, tapi dia merasa kasihan melihat mereka yang meninggal di usia muda, "Bagaimana kau meninggal?"
"Aku tidak tahu, yang aku ingat hanya deru suara pesawat tempur diatas rumahku dan suara ledakan dikejauhan,"
"Kau korban perang dunia?"
"Perang dunia?" ekspresi gadis kecil itu jadi sedih, "Aku pernah dengar istilah itu tapi aku tidak mengerti, kenapa harus ada perang dunia? untuk apa? kenapa kita harus mati karena itu?"
Entah kenapa Mike tidak merasa canggung berbicara dengan hantu, mungkin benar dia sudah mulai terbiasa atau mungkin karena dia pasrah menerima keadaan yang menimpa dirinya.
"Kenapa kalian masih ada disini? Kalian tidak ke surga?", Mike berbicara dengan hantu selayaknya berbicara dengan manusia.
Hantu gadis kecil itu tersenyum, "Aku bisa pergi kesana tapi aku masih ingin disini dan adikku masih ingin bermain dipinggir sungai Rhine, jika ke surga maka tak bisa kembali lagi kesini. Aku tidak tahu disurga ada sungai atau tidak."
Mike merasa pembicaraan ini sudah cukup, dia tidak mau terlibat percakapan terlalu jauh dengan hantu manapun. Dia memakai sling bagnya.
"Kau mau kemana?" tanya gadis kecil itu.
"Aku mau cari makan," dia hendak berdiri dari bench tapi hantu itu berseru.
"Tunggu," kata hantu gadis kecil itu.
Mike menghela napas, "Apa?"
Ekspresi hantu gadis kecil itu jadi serius, "Aku tahu apa yang terjadi padamu,"
Apalagi ini? apa maksudnya dia tahu tentang apa yang terjadi padanya?
"Apa maksudmu?" tanya Mike, dia agak khawatir atas apa yang akan dikatakan hantu itu.
Hantu itu menatapnya dengan serius, "Aku tahu apa yang terjadi padamu. Der Kreuzer merasukimu."
"Aku tak mengerti, apa artinya?", Mike bingung sekaligus khawatir karena sebelumnya Ritter sempat menyebut Der Kreuzer juga.
__ADS_1
"Kau tidak tahu Der Kreuzer?"
"Tidak, tapi aku pernah dengar nama itu dari teman sekamarku,"
"Der Kreuzer adalah iblis yang membantu raja Heinrich IV tahun 1600an untuk memperoleh kejayaannya, tapi iblis itu jahat, dia meminta jiwa untuk pasukannya di neraka. Jiwa pendosa yang hidup dan yang mati. Iblis itu masih melakukannya sampai sekarang. Sekarang dia memilihmu, dia akan menggunakan darahmu untuk menandai jiwa pendosa."
Mike setengah tidak percaya dengan apa yang dikatakan hantu gadis kecil itu, apalagi itu terdengar seperti cerita dongeng, tapi wajah serius hantu itu tampaknya membuat bingung sekaligus penasaran dengan Der Kreuzer yang dimaksud.
Hantu gadis kecil itu masih menatapnya dengan serius, "Keliahatannya kau belum menyadari ini, tapi inilah keadaanmu sekarang. Der Kreuzer hampir menguasai tubuhmu, itu sebabnya kau sering tidur berjalan dan melihat jiwa pendosa dan jiwa murni diluar sana tapi keadaannya akan lebih parah jika kau sedang sadar. Jika kau melihat jiwa pendosa saat sedang sadar Der Kreuzer akan mengambil napasmu karena dia berusaha menguasai kembali tubuhmu tapi kau akan baik - baik saja jika melihat jiwa yang murni, seperti kami karena kau tidak akan bisa menandai kami."
Mike terkejut mendengarnya. Semua yang dikatakan hantu gadis kecil memang terjadi pada dirinya. Kebingungan mengenai sesak napasnya jika melihat hantu sepertinya terjawab. Itulah sebabnya mengapa dia baik - baik saja jika melihat hantu anak - anak. Apakah hantu ini berbohong? tapi yang dikatakannya memang sesuai dengan keadaannya. Ketakutan mulai merayapi dirinya.
Hantu gadis kecil itu sekarang menatapnya dengan ekspresi kasihan, "Lebih baik Der Kreuzer menguasai tubuhmu ketika kau sedang tidak sadar, itu tidak akan menyakitimu, tapi tetap saja dia akan menguasai tubuhmu perlahan - lahan, membuatmu jatuh sakit hingga sekarat lalu dia akan menggunakan tubuhmu dan kau tidak akan selamat."
"Bagaimana kau bisa tahu ini semua?" tanya Mike yang sedang shock.
Hantu gadis kecil itu menengadahkan pandangannya ke langit, matanya menatap jauh ke atas sana seperti sedang mengingat sesuatu yang terdapat pada ingatannya yang tersisa, dia menjawab, "Ibuku sering menceritakan ini untukku sebelum tidur, kisahnya memang terdengar menakutkan tapi itu agar aku selalu membaca doa sebelum tidur," Hantu gadis kecil itu kembali menatapnya dengan serius, "Lalu setelah aku mati, aku sadar itu bukan dongeng. Mahluk itu sungguh ada."
Mike bahkan sampai tak bisa berkata apa - apa, semua yang dikatakan hantu itu benar terjadi padanya. Rasanya seperti seluruh beban ini ada pada pundaknya, padahal dia hanya ingin memulai hidup baru di Jerman tapi kenapa malah jadi seperti ini? Apa seharusnya dia tidak meninggalkan Jepang?
"Aku tidak bohong, sebaiknya kau tanya pada teman sekamarmu, dia tahu tentang Der Kreuzer," Hantu gadis kecil itu tersenyum tipis, "Jika kau tidak kuat melalui ini semua lalu kau mati, datanglah kesini, kita bisa bermain bersama ditepi sungai."
Cukup. Ini sudah cukup. Mike berlari pergi dari situ sambil menggenggam erat tali sling bagnya.
***
Pemandangan Dusseldorf yang indah entah kenapa baginya saat ini menjadi tidak indah lagi. Rontokan daun kering berwarna cokelat dan merah yang memenuhi trotoar hanya menjadi tumpukan sampah yang tidak berarti baginya. Kenapa ini semua harus terjadi dimusim gugur? Musim gugur yang dia sukai yang seharusnya memberikan kenangan yang indah di iringi daun - daun yang berguguran tertiup angin.
Setumpuk pertanyaan mulai memenuhi pikirannya. Apakah yang dikatakan hantu tadi benar? Mengenai Der Kreuzer? Dia tak pernah dengar apa itu sebelumnya, dia baru dengar itu kemarin dari Ritter.
Ritter sempat menanyakannya tapi dia tidak menceritakan detilnya. Apakah benar yang hantu itu bilang kalau Ritter tahu tentang ini? Kenapa Ritter tidak pernah menceritakan ini sebelumnya? Dia mulai merasa gila, dia harus bertanya mengenai ini semua pada Ritter, tapi mungkin dia baru bisa bertemu Ritter nanti malam. Dia harus pendam dulu semua kegundahan hati ini sampai nanti malam.
Mike batuk lagi, berat dan menyakitkan. Dia berpegangan lagi pada tiang halte sampai batuknya reda. Setelah batuknya reda, dia menarik napas dalam - dalam dan menghembuskannya, napasnya terasa agak berat. Sepertinya ini bukan flu biasa, dia pernah flu sebelumnya tapi batuknya tak pernah sampai seperti ini. Mungkin dia harus ke dokter? tapi dia benci rumah sakit. Dua orang bapak - bapak yang sedang duduk di halte sepertinya merasa terganggu dengan hal itu, mereka melirik Mike dengan tatapan tajam lalu mereka agak menggeser posisi duduknya. Mungkin lain kali dia akan memakai masker jika akan pergi keluar. Beberapa menit kemudian, datang sebuah bus yang entah kemana tujuannya, Mike tidak peduli itu, yang penting itu membawanya pergi dari sini. Dia naik ke bus tersebut dan duduk dibelakang dekat jendela. Dua bapak - bapak tadi juga naik dan masih menatap Mike dengan tajam dan mengambil tempat duduk jauh darinya. Bus ini tidak terlalu penuh, penumpangnya sebagian besar didominasi oleh orang tua. Mike sepintas melihat tulisan trayek bus yang ada didekat supir.
Kaiserwerth.
Dia tidak tahu itu wilayah apa dan ada dimana, dia juga tak berniat mencari tahu wilayah itu di aplikasi map ponselnya dan dia juga tidak berniat bertanya pada penumpang lainnya. Yang dia butuhkan saat ini adalah berjalan, jika dia diam di sesuatu tempat, dia khawatir akan melihat hantu lagi. Dia juga belum ingin kembali ke asrama, dia takut hantu gadis kecil yang mencari adiknya masih menunggunya dikamar. Dia akan pulang ke asrama jika Ritter sudah ada disana.
Kaiserswerth adalah kawasan pinggiran di tepi sungai yang santai dengan suasana desa, yang terkenal akan reruntuhan Kaiserpfalz, kastel abad ke-12 dengan panorama memukau Rhine dan desa di sekitarnya. Jalan berbatu dipenuhi dengan bangunan bergaya barok yang ditempati butik, toko suvenir, dan pertokoan yang menjual keju, sosis, dan permen. Alun-alun utama, Kaiserswerther Markt, dikelilingi dengan kafe dan tempat minum bir di ruang terbuka yang juga menyajikan makanan Jerman klasik. Sepertinya Mike salah perhitungan, dia seharusnya tidak datang kesini. Kaiserswerth kurang lebih sama seperti Kota Tua, tempat seperti ini justru banyak hantunya. Akhirnya dia berjalan lagi melalui Kittelbachstrasse menuju stasiun kereta terdekat.
Ini adalah pertama kalinya dia mencoba naik kereta di Dussledorf. Ketika dia melihat peta jalur transit kereta yang terpampang di stasiun, tak ada daerah yang namanya dia kenal kecuali Kota Tua dan kampusnya. Dalam hati dia agak menyesal, apa seharusnya dia ikut Carel ke Ratingen? Dia jadi terlunta - lunta di jalan hanya karena tidak mau berpapasan dengan hantu. Setidaknya jika dia ikut Ratingen dan melihat hantu disana, ada Carel yang akan menolongnya.
Tunggu, itu malah lebih buruk, setelah itu mungkin Carel akan menganggapnya orang gila dan dia akan dipecat sebelum sempat bekerja di Think's Art.
Mike menghela napas. Mau tidak mau akhirnya dia kembali ke kampus. Mungkin dia bisa menunggu Ritter di perpustakaan sampai dia pulang, entah itu jam berapa, atau mungkin dia bisa menunggunya didepan restorannya seperti waktu itu. Dia jadi ingat kalau dia belum sempat makan sejak tadi, padahal dia sudah berniat mencari makan sejak beberapa jam yang lalu tapi semuanya jadi terlupakan gara - gara hantu.
Dia harus membiasakan ini, melihat hantu akan menjadi bagian dari rutinitasnya setiap hari sampai...mati. Mike jadi ingat apa yang dikatakan hantu gadis kecil di tepi sungai Rhine, dia akan sakit parah hingga sekarat lalu Der Kreuzer akan mengambil alih tubuhnya dan dia sendiri akan mati. Mengingat itu dia merasa seperti sedang berjalan menuju kematiannya. Apakah ini tak bisa di atasi? Apakah keadaannya tak bisa 'diobati'? Apakah Ritter tahu solusinya?
Kereta yang dia naiki saat ini adalah U79 dengan tujuan stasiun Uni Ost/ Botanischer Garten, stasiun terdekat dengan kampusnya. Tidak ada bangku kosong dikereta, sudah terisi penuh oleh penumpang yang kebanyakan adalah orang tua. Mike berdiri didekat sepasang kakek nenek yang sedang membahas sesuatu dengan bahasa Jerman Mittelhochdeutsch dengan dialek Westfallisch. Sambil berpegangan pada handlegrip, Mike mengambil ponselnya dan menghubungi Ritter. Tidak ada jawaban. Mungkin dia sedang sibuk dengan kompor dan wajannya. Mau tidakĀ mau, dia harus menunggu Ritter sampai nanti malam.
__ADS_1
***
Pastor Hendrik keluar dari mobilnya dan berjalan menyusuri halaman Heinrich Heine University. Dia baru selesai bicara dengan Darek melalui ponselnya, Darek berkata bahwa dia tidak bisa ikut kali ini, jadi Pastor Hendrik akan melihat sendiri kondisi mahasiswi yang dilaporkan kerasukan tadi pagi.
Masih ada beberapa mahasiswa yang berkumpul didepan kamar wanita yang kesurupan walaupun tidak sebanyak tadi pagi. Gadis yang kesurupan itu masih diikat dikursi dengan wajah menunduk dan rambut panjang menjuntai menutupi wajahnya. Aylin dan tiga orang temannya masih ada dikamar itu.
Pastor Hendrik melangkah masuk ke kamar tersebut, empat orang mahasiswi yang ada dikamar itu menatapnya dengan diam, ketakutan masih terlihat diwajah mereka. Di kamar ini sunyi, tak ada yang bicara hanya terdengar suara hembusan napas berat dan geraman gadis yang kesurupan itu.
Aylin memberanikan diri berbicara, "Terima kasih sudah datang kesini Bapa. Saya yang meminta Darek menghubungi anda,"
"Oh, kau Aylin Hildegard keponakannya Darek?" tanya Pastor Hendrik sambil meletakkan tasnya dilantai kamar.
Aylin mengangguk, "Saya harap anda bisa melihat keadaannya dan memberikan tindakan, orang tuanya akan datang menjemputnya beberapa jam lagi,"
"Siapa namanya?" tanya Pastor Hendrik.
"Odile, 20 tahun." Aylin dan ketiga temannya mundur perlahan ke tembok kamar ketika Pastor Hendrik mendekati Odile perlahan.
"Odile," Pastor Hendrik memanggil gadis tersebut.
Gadis yang kerasukan itu tidak menjawab, wajahnya masih tetap menunduk tertutup rambut panjangnya yang menjuntai.
"Atas nama Yesus Kristus, Tuhan dan Penyelamat Kami", panggil Pastor Hendrik.
Tiba - tiba Odile mengangkat wajahnya dan menggeram. Dia menggeliat berusaha melepaskan ikatan ditangannya. Aylin dan 3 temannya menjerit melihatnya.
"Aylin, tolong kau rekam ini dengan kamera ponselmu." kata Pastor Hendrik sambil tetap menatap Odile yang masih menggeram kepadanya.
Dua orang teman Aylin pergi dari kamar, tinggal Aylin yang merekam dengan ponselnya dan satu temannya yang takut berdiri berlindung dibelakang Aylin.
Pastor Hendrik berseru dengan tegas, "Atas nama Yesus Kristus, Tuhan dan Penyelamat Kami"
Odile berteriak lalu dia tertawa mengekeh, "Datang lagi orang bodoh yang lain,"
Pastor Darek menahan diri agar terpancing oleh iblis yang merasuki Odile, "Siapa kau?"
"Dengan bangga aku katakan padamu, aku pendosa,"
"Kenapa kau merasuki Odile?"
Odile tertawa lagi hingga air liurnya mengalir dari sudut mulutnya.
Pastor Hendrik teringat dengan apa yang dikatakan oleh setan yang merasuki gadis di Mendelweg, mereka adalah pendosa yang sembunyi dari incaran Der Kreuzer.
"Apa kau sedang sembunyi?" tanya Pastor Hendrik dengan sabar.
Raut wajah Odile berubah, seperti tersinggung. "Sembunyi?" lalu dia meludah. "Aku tidak sembunyi. Untuk apa aku sembunyi?" Air liurnya menetes lagi lalu dia menyeringai dan berkata dengan nada mengejek, "Kau pikir aku sembunyi dari apa?"
Pastor Hendrik tidak menjawab, dia membuka tasnya dan mengambil botol kecil berisi air suci. Melihat itu Odile menggeram dan matanya melotot marah.
__ADS_1