
Rasanya Ritter baru tidur sebentar, dia bangun dan melihat jam digital dimeja. 8.15 pagi. Baginya ini sudah kesiangan, dia harus ke restonya karena biasanya akan banyak pengunjung di hari minggu ini. Ritter menghela napas dan meregangkan tubuhnya yang terasa agak pegal karena tidur di kursi lalu dia melihat Mike.
Mike masih tidur dengan posisi yang sama dengan yang terakhir dia lihat sebelum tidur. Dia masih meringkuk dibalik selimut, mulutnya setengah terbuka dan dia ngiler. Napasnya teratur dan tenang, menandakan bahwa dia masih tertidur pulas.
Ritter bangun dan membawa kembali bantalnya kekamarnya. Setelah tidur sebentar tadi, otaknya kembali bekerja, mengingat dan memikirkan kembali apa yang kemarin terjadi. Apakah aman jika Mike ditinggal sendiri sedangkan dia harus ke restonya. Mungkin tidak apa - apa. Mungkin tidak akan terjadi apa - apa jika disiang hari. Dia juga sempat berpikir apa dia harus menemui Darek, meminta maaf padanya dan bilang bahwa dia akan membantunya tapi dengan syarat beri dia waktu untuk memikirkan solusi yang tepat tanpa harus bergantung pada Bible dan Gereja, tanpa harus ada korban jiwa. Apakah dia bisa? Darek yang sudah meneliti hal ini hingga 20 tahun pun hanya menemukan solusi yang buruk. Ritter sebenarnya mengkhawatirkan Mike, padahal dia hanya teman sekamarnya yang baru. Dari hati nuraninya Ritter yakin Mike butuh pertolongan dan ini bukan salahnya, bukan karena dia datang ke Jerman dan ada iblis Der Kreuzer yang merasukinya tapi dia menyalahi takdir. Jika memang benar Mike itu Der Kreuzer kenapa Tuhan membiarkan iblis itu menguasai tubuhnya, padahal Mike religius. Dia sering berdoa dan bahkan memakai gelang rosario, apa itu tidak cukup?
Ritter menghela napas lalu dia mandi, dia memakai kemeja favoritnya dan slim jeansnya. Dia menatap wajahnya sesaat dicermin kamarnya. Sepertinya dia harus merapikan janggutnya, sudah seminggu ini dia tidak memperhatikannya. Ritter mengambil kunci mobilnya dan berjalan menuju pintu tapi langkahnya terhenti ketika dia melihat Mike. Mike masih tidur dengan posisi yang sama seperti sebelumnya padahal sudah berlalu hampir setengah jam setelah Ritter bangun tadi. Dia tidur atau pingsan?
Ritter menghampiri Mike. Dia menarik kursi dan duduk disebelah tempat tidur. Ritter benar - benar merasa kasihan pada Mike. Walaupun Ritter orangnya galak, tapi jika ada seseorang yang butuh pertolongan maka dia akan membantunya sebaik mungkin. Ritter mengusap bahu Mike dan memanggilnya, "Mike, bangun." Dia bernapas lega ketika melihat Mike bergerak sedikit dan membuka matanya perlahan. Dia melihat Ritter dengan mata yang masih mengantuk. Kelopak matanya terlihat berat dan sepertinya berusaha menahannya agar matanya tetap terbuka. Dia terlihat masih mengantuk.
Mike menjawab pelan dengan suara parau, "Hey Jason," lalu matanya perlahan tertutup dan dia tidur kembali.
Jason? Jasok adiknya? Mike masih setengah tidur dan mengira kalau dia Jason. Ritter tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ini sudah hampir siang dan Mike masih bermimpi tapi di lain sisi dia lega, untuk sementara ini. Dia bangun dan berjalan keluar kamar lalu mengunci pintunya.
Ketika berada diluar kamarnya, Ritter langsung dihampiri oleh tetangga sebelah kamarnya, Kuhlbert. Dia terlihat penasaran dan bertanya, "Hey Ritter, apa yang terjadi tadi malam? kau mencoba membunuh teman sekamarmu lagi?"
"Diam! itu bukan urusanmu," jawab Ritter dengan ketus sambil berjalan menyusuri koridor asrama.
Kuhlbert tertawa dan berjalan disebelah Ritter, "Kau tahu, ada kejadian heboh tadi pagi,"
"Apa?" tanya Ritter dengan enggan.
"Ada yang kerasukan di asrama putri," jawab Kuhlbert dengan santai.
Ritter kaget mendengarnya, "Benarkah? Siapa?"
"Bukan Aylin. Tenang saja, pacarmu baik - baik saja," kata Kuhlbert itu lalu dia mengekeh.
"Dia sepupuku, bodoh," jawab Ritter dengan kesal.
"Yeah, apapun itu. Kejadiannya tadi pagi sekitar jam 6, saat aku hendak kencing di danau aku mendengar suara teriakan di asrama putri ketika aku melewatinya. Karena penasaran, aku tahan kencing ku dulu dan masuk kesana. Aku menyeruak di antara cewek - cewek yang sedang mengerumuni sebuah kamar dan aku melihat seorang cewek yang sedang dipegangin oleh 3 cewek lainnya karena dia memberontak, berteriak dan matanya melotot. Salah satu dari mereka ada yang menyebut nama Jesus lalu cewek itu dipukul oleh cewek yang kesurupan."
"Kau tidak bohong kan?" tanya Ritter dengan curiga.
"Aku jujur," jawab Kuhlbert dengan wajah serius.
"Karena wajahmu tidak bisa dipercaya,"
"Kali ini aku jujur, sungguh."
Mereka berdua sudah berada diluar asrama putra dan melihat kerumunan mahasiswa di asrama putri yang penasaran akan apa yang terjadi.
"Kalau kau tak percaya, lihat saja sendiri. Aylin ada disana," kata Kuhlbert
Ritter hendak melangkah kesana tapi ditahan oleh Kuhlbert. Kuhlbert terlihat memelas kepadanya,
"Ritter, apakah ada lowongan pekerjaan di resto mu?" tanyanya sambil menggenggam siku Ritter. Ritter menepis tangan Kuhlbert dengan kesal, dia tidak menjawab dan lanjut berjalan ke asrama putri. Kuhlbert tidak menyerah, dia menghampiri Ritter lagi dan menghalangi jalannya, "Tolonglah, aku benar - benar butuh pekerjaan, jadi tukang cuci piring pun tak apa - apa."
"Enyahlah kau dari hadapanku," jawab Ritter dengan kesal lalu dia berlari menyebrangi halaman kampus menuju asrama putri. Kuhlbert terlihat kecewa, dia mengacungkan jari tengahnya dengan kesal.
__ADS_1
Ritter menyeruak diantara mahasiswa yang tampak berkerumunan di pintu masuk dan dikoridor,
"Entschuldigung," katanya. Ritter melihat Aylin dipintu kamar orang yang kesurupan sedang berbicara serius dengan salah satu temannya sambil melihat kedalam kamar tersebut dengan ketakutan.
"Aylin," panggil Ritter, dia menghampirinya.
"Hey Ritter," katanya.
"Aku dengar ada yang kerasukan?"
"Iya. Odile, mahasiswi baru jurusan science."
Ritter melihat kedalam kamar, gadis itu tengah diikat kekursi oleh dua orang mahasiswa pria yang tampaknya ikut membantu. Gadis itu menggeram, dan membuat 3 temannya yang ada dikamar itu ketakutan.
"Kau yakin dia kerasukan? bukan karena histeris atau semacamnya?" tanya Ritter.
"Tadi temannya ada yang menyebut Jesus, dia langsung dipukul lalu dia loncat dan hampir menggigit teman sekamarnya jadi mereka terpaksa mengikatnya. Mengerikan sekali," jawab Aylin.
Cewek yang kesurupan itu menunduk dan rambutnya menjuntai menutupi wajahnya. Cewek itu masih menggeram lalu tiba - tiba dia mengangkat wajahnya, menoleh melihat Ritter dengan mata yang melotot. Aylin menjerit dan Rittee tersentak mundur ke belakang karena kaget.
Cewek yang kerasukan itu melihat Ritter dengan melotot, dia bernapas dengan berat dan menggeram lalu dia tertawa. Tertawa dengan mengerikan sambil tetap menatapnya.
"Ritter, kenapa dia melihatmu?" tanya Aylin yang ketakutan.
Cewek itu masih menatapnya sambil tertawa, seolah seperti sedang menertawakan yang ada dalam pikiran Ritter lalu dia mengikik dengan nada mengejek dan berkata dengan suara berat dan parau, "Ritter Gilleasbuig,"
Cewek itu nyengir kejam dan berkata dengan suara parau dalam bahasa latin, "Kenapa kau bawa Der Kreuzer ke kamar mu? Kenapa kau masih membiarkan dia?"
Ritter tidak mengerti apa yang cewek itu katakan tapi dia menangkap satu kata. Der kreuzer.
Salah satu cewek yang ada dikamar itu bertanya,
"Dia bicara bahasa apa?"
Aylin menjawab, "Sepertinya bahasa latin, aku pernah dengar aksen seperti itu,"
"Apa kau mengerti artinya?" tanya cewek yang disebelah Aylin. Aylin menggelengkan kepalanya.
Cewek yang kerasukan itu tertawa lagi lalu wajahnya menjadi serius, "Kenapa kau tidak membunuhnya? Kau punya banyak kesempatan untuk melakukannya. Bakar saja dia atau tenggelamkan ke danau."
Ritter masih terdiam disitu. Dia tidak mengerti apa yang cewek itu katakan tapi dia yakin itu sesuatu yang penting karena dia menyebut Der Kreuzer.
Ekspresi wajah cewek yang kerasukan itu tiba - tiba berubah menjadi kecewa, lalu dia bicara dalam bahasa Jerman, "Kau tidak mengerti yang aku katakan tadi? Manusia bodoh." katanya lalu dia meludah.
Ritter tidak meresponnya, dia menahan diri, dia pernah dengar dulu ketika Darek menjelaskan kepadanya tentang Der Kreuzer, bahwa jangan terhasut oleh setan.
Cewek yang kerasukan itu bernapas berat dan terlihat marah, "Kau malah simpan wabah itu. Kau bisa kena imbasnya juga nanti."
Mendengar itu, orang - orang yang ada di sekitar terlihat bingung, mereka berbisik - bisik sambil menatap Ritter dengan heran.
__ADS_1
Cewek yang kerasukan itu berubah lagi emosinya, dia tertawa mengikik, "Apa kau tidak tahu caranya? Aku bisa memberitahumu cara yang mudah,"
"Apa maksudmu?" tanya Ritter. Dia mulai paham arah pembicaraan ini.
Cewek itu tertawa mengekeh, "Kau mulai mengerti rupanya, manusia lambat. Aku beritahu cara yang mudah, kau beri saja dia obat penenang yang banyak, saat dia teler kau masukan dia kebagasi mobil, bawa ke sungai Rhein dan ceburkan dia. Atau mungkin kau lebih suka dengan cara kekerasan? kau kuat, kau bisa hajar dia habis - habisan lalu nyalakan apinya. Mudah kan? Itu bukan pembunuhan, kau bisa jadi pahlawan."
Rasa marah Ritter bangkit, jika setan itu menampakkan diri mungkin dia sudah mencekiknya, "Setan brengsek!"
Cewek yang kerasukan itu terlihat marah, matanya melotot, "Kau tak mau melakukan itu karena dia temanmu? Kau benar -benar manusia bodoh. Kau tunggu saja, dia akan berubah menjadi iblis dan dia tidak akan mengenalmu lagi."
Ritter merasa ini sudah cukup. Pikirannya berkecamuk, setan itu sepertinya tahu semua apa yang terjadi, lagipula jika ini diteruskan orang - orang akan penasaran dan bertanya kepadanya. Ritter keluar kamar itu, menyeruak dengan susah payah diantara orang - orang yang menonton disitu lalu berlari keluar asrama putri.
"Ritter, tunggu." panggil Aylin, dia mengejar Ritter keluar.
Ritter mendengar teriakan Aylin tapi dia tidak mau menanggapinya. Aylin berhasil menyusulnya, dia menarik tangan Ritter dari belakang, sehingga dia hampir jatuh.
"What?" tanya Ritter dengan kesal.
Aylin ngos - ngosan setelah berlari mengejarnya, "Apa itu tadi? Apa yang setan itu bicarakan denganmu?"
"Bukan apa - apa. Setan itu berbohong," Ritter menarik tangannya dari cengkraman Aylin dan hendak pergi tapi Aylin menahannya lagi.
"Kau yang bohong Ritter, apa yang kau sembunyikan? Kelihatannya setan itu tahu persis apa yang terjadi,"
Ritter menghela napas menahan marah. Dia tak mau meledak didepan Aylin. "Kau percaya apa yang dikatakan setan itu?"
"Mungkin aku tidak akan percaya jika dia tidak menyebut Der Kreuzer, aku dengar itu tadi. Mungkin orang lain disana tidak ada yang mengerti tapi aku tahu itu."
"Dengar Aylin, jangan bahas ini sekarang. Ini tidak semudah yang kau kira."
"Siapa yang bilang ini mudah? Aku tahu yang kau rasakan, Darek meminta bantuanmu untuk melakukan hal yang sulit bahkan bisa dibilang diluar akal sehat oleh orang lain yang tidak mengerti ini. Lalu yang dikatakan setan tadi, dia menyuruhmu membakar dan menenggelamkan temanmu, siapa yang dia maksud?"
"Aylin, aku tak bisa jawab ini sekarang karena semuanya belum pasti. Kau ingat dengan pembicaraan kita waktu didapur ibuku? Aku akan cerita padamu jika aku sudah mendapat jawabannya."
"Jadi itu mengenai Der Kreuzer? Tunggu, bukankah waktu itu kau sedang memikirkan teman sekamarmu? Maksudmu yang dikatakan setan itu mengenai Tadashi? Jadi...Tadashi itu Der Kreuzer?"
"Aku tak bisa jawab itu sekarang, aku butuh waktu untuk berpikir,"
"Kenapa? Apa itu artinya kau mau membantu Darek menangani masalah ini?"
Ritter menghela napas, dia berpikir sejenak. Apakah tepat jika dia membantu darek dan meninggalkan akal sehatnya dan mulai berkutat dengan sesuatu yang tidak masuk akal bagi sebagian besar orang. Dia sebenarnya tahu jawabannya, hatinya tergerak ketika dia melihat hal ini menimpa temannya sendiri. Seharusnya tak perlu ada keraguan dalam hatinya, seharusnya dia mendengarkan Darek sejak awal.
"Iya, aku akan membantu Darek," jawabnya dengan yakin.
"Jadi kau yakin itu semua bukan mitos belaka?"
Mendengar pertanyaan Aylin, tekadnya jadi terpacu. Seperti ada nyala api yang menyulut semangatnya dan membuatnya yakin, "Justru aku yang akan membuktikan itu mitos atau bukan, jika hanya mitos biarkanlah ini menjadi dongeng turun temurun yang akan diceritakan ke anak cucu, tapi jika ini bukan mitos maka aku akan menghentikan ini semua tanpa harus ada korban jiwa, jika aku gagal jangan abadikan namaku untuk Dusseldorf, biarkanlah hilang ditelan waktu." setelah itu Ritter pergi meninggalkan Aylin yang masih bertanya - tanya.
"Ritter, kau menakutiku. Kau bukan sedang berwasiat kan? Ritter...!" teriak Aylin tapi Ritter tidak menaggapinya, dia berjalan menyusuri halaman kampus diiringi dengan rontokan daun maple yang tertiup angin.
__ADS_1