
Der Kreuzer masih menggunakan tubuh Mike. Iblis ini sedang berusaha menguasai tubuh Mike tapi belum sepenuhnya, dia harus membuat pemilik tubuh ini sakit keras, dia sudah meletakkan penyakit di paru - parunya agar pemilik tubuh ini melemah dan tidak bisa mengambil alih kembali kesadarannya sehingga Der Kreuzer akan leluasa melakukan pekerjaannya. Seperti saat ini, pemilik tubuh ini tak lama lagi akan tersadar jadi Der Kreuzer harus segera menyelesaikan urusannya, menyingkirkan seseorang penganggu yang menghalanginya.
Darah masih menetes dari luka di telapak tangan kirinya, walaupun tidak sebanyak sebelumnya. Pecahan mug masih menancap di telapak kaki kanannya, meninggalkan jejak darah di daun - daun kering yang terinjak. Mata abu - abunya terlihat menyala mengerikan diantara gelapnya tengah malam ini. Der Kreuzer menggunakan tubuh Mike kembali ke asrama, dengan mudahnya dia melompat naik ke jendela kamar. Kakinya yang tertancap pecahan mug kembali mengucurkan darah segar ketika dia menginjak daun jendela. Dia melompat turun kedalam kamar Mike tanpa suara. Dia melangkah perlahan menuju kamar Ritter. Kakinya kembali menginjak pecahan mug yang masih berserakan dilantai. Pecahan - pecahan kecil merobek kedua telapak kakinya, itu tidak dirasakan oleh Der Kreuzer tapi rasa sakitnya akan dirasakan oleh Mike saat dia tersadar nanti.
Di kamar, Ritter tampak tidur lelap dengan posisi telentang. Dia hanya memakai kaos oblong dan boxer dimalam yang dingin ini, selimutnya terlipat jatuh kelantai. Dia tidak terbangun sedangkan Mike sedang melangkah mendekatinya dengan derak pelan bunyi pecahan mug yang menancap dikakinya dan tangan teracung hendak mencekiknya.
***
Ritter tersentak bangun ketika dia merasakan ada seseorang yang mencekiknya. Dia kaget Mike ada diatasnya, dengan gerakan cepat kedua tangan Mike mencekik leher Ritter dengan kuat. Dia gelagapan, dia berusaha melepas cengkaraman tangan Mike, tapi tangannya mencengkram lehernya dengan kuat. Dia lebih kaget lagi ketika melihat mata abu- abu Mike yang mengerikan. Dia mati - matian bernapas sambil menahan rasa sakit dilehernya, dia berusaha membangunkan Mike.
"Mike..." Ritter susah payah memanggilnya, dia berusaha kembali melepas cengkaram dilehernya, tapi terlalu kuat. Napasnya hampir terblokir di tenggorokannya, dia megap - megap berusaha bernapas, jantungnya berdetak keras didadanya, kepalanya berdenyut nyeri, matanya berair dan lehernya sakit luar biasa seperti ada tali mengikat yang makin lama ikatannya semakin kencang.
"Mike...ini aku...Ritter," dia tak bisa menjatuhkan Mike karena Mike menduduki pinggulnya dengan kuat, dia juga tak bisa melepas cengkraman dilehernya, Ritter hampir putus asa ketika cekikan dilehernya makin kuat, tangan kanannya berusaha menggapai wajah Mike.
"Mike...", mungkin itu suara terakhirnya Ritter jika dia tidak mengerahkan sisa tenaganya untuk memukul rahang Mike. Mike jatuh ke lantai dan tak bergerak.
Ritter langsung bernapas lega kembali, dia merasakan udara mengalir kembali ke paru - parunya dan keseluruh tubuhnya. Dia merasakan darahnya kembali mengalir ke kepalanya, seiring dengan denyutan dikepalanya yang perlahan mereda. Lehernya masih sakit tapi itu tidak sebanding dengan rasa leganya ketika dia kembali bisa bernapas. Dia masih menarik napas dan menghembuskannya dengan dalam, menikmati kembali udara yang masuk ke tubuhnya, meringankan tekanan didadanya walaupun itu membuat tubuhnya lemas. Dia tak peduli itu, yang terpenting adalah saat ini dia selamat dan entah apa lagi nanti yang akan terjadi.
Tubuhnya yang tadinya hampir mati rasa sekarang mulai membaik, Ritter mencoba bangun dan melihat kondisi Mike yang tergeletak di lantai.
"Mike...kau baik - baik saja?" tanya Ritter yang masih terengah - engah tapi dia masih lemas untuk bergerak. Dia menunggu sejenak untuk mellihat reaksi Mike, tapi Mike tidak bereaksi apa - apa. Ritter menggerakkan tubuhnya dengan susah payah untuk tirun dari tempat tidur dan menghampiri Mike di lantai.
"Mike...bangun," panggil Ritter, Mike tidak merespon juga. Ritter menggerakkan tangan kirinya dan mengguncang bahu Mike, dia tidak bangun juga.
Ketika Ritter sudah merasakan kembali tubuhnya, dia baru menyadari ada yang basah dilehernya. Dia menyentuh lehernya dan merasakan ada cairan lengket disitu, dia melihat jarinya dengan bantuan cahaya bulan pucat yang masuk dari sela - sela tirai jendelanya.
Darah.
"Holy shit...!" Ritter meraba lehernya dan mencari apakah ada luka disana.
Tidak ada. Ini bukan darahnya, ini darah darimana? jangan - jangan...
Ritter mengguncang - guncangkan kembali bahu Mike untuk membangunkannya, "Mike, bangun, ayolah!" tapi Mike tidak menjawab juga.
"Shit!" Ritter mengumpulkan tenaga lalu dia berdiri perlahan sambil menahan rasa sakit dilehernya "Arrghh...shit! ****!", dia meraba lehernya dan terasa nyeri jika tersentuh.
Ritter perlahan bangun dan menyalakan lampu kamar.
"What the ****!" seru Ritter ketika dia melihat tetesan dan jejak darah dilantai lalu dia melihat keadaan Mike. Entah Mike pingsan atau apa, tapi ada luka terbuka ditelapak tangan kirinya dan pecahan mug menancap ditelapak kakinya.
"****..." seru Ritter sambil mengernyit ngilu ketika dia melihat pecahan mug yang ukurannya agak besar menancap dalam ditelapak kaki kanan Mike dan masih meneteskan darah, menetes ke kasurnya.
Ritter membangunkan Mike, dia menampar pelan pipinya, "Mike, bangun! Hey...come on,"
Ritter sedikit lega ketika Mike perlahan membuka matanya dan matanya tidak abu - abu lagi tapi sudah kembali berwarna cokelat gelap. Dia bangun, dia terlihat bingung, ekpresi wajahnya sudah kembali rapuh dan polos seperti sediakala.
"Mike, apa - apaan ini? Apa yang terjadi?" tanya Ritter yang bingung sekaligus penasaran, dia mengambil kaos bersih dari laci bajunya.
"Ritter...apa yang terjadi?" tanya Mike dengan suara serak, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar dengan bingung, "Ouch...tangan dan kakiku sakit," Mike hendak melihat apa yang terjadi pada dirinya.
"Jangan lihat," Ritter membebat telapak tangan kiri Mike yang terluka dengan kaos bersihnya.
"Ouch..." Mike hendak bangun lagi tapi sulit karena kaki dan tangannya terluka karena sakit.
"Jangan bergerak, ini harus dijahit. Aku akan membawamu ke rumah sakit," seru Ritter dia mengambil ponselnya dan menghubungi Aylin.
"Yeah Ritter...ini jam satu pagi..." jawab Aylin yang mengantuk.
"Aylin, apa kau punya first aid? cepat kesini, aku perlu bantuanmu," kata Ritter.
"Hmm...sepertinya teman sekamarku punya, untuk apa?"
"Aku jelaskan nanti, CEPAT KESINI!" Ritter mulai tidak sabar.
"Okay - okay, tenanglah," jawab Aylin lalu dia mematikan teleponnya.
Ritter melempar ponselnya ke kasur, "Mike, apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan tadi?"
"Aku tidur...setelah itu aku terbangun disini...Oouchh..." Mike meringis menahan sakit.
"Jangan teriak- teriak, aku akan bawa kau kerumah sakit,"
"Nein...nein...aku benci rumah sakit..." Mike meringis menahan sakit.
"Jangan macam - macam, ini harus dijahit."
__ADS_1
"Nein...", Mike berontak hendak bangun tapi ditahan oleh Ritter.
"Mike, jangan bergerak! Nanti makan banyak darah yang keluar," seru Ritter. Mike masih merintih menahan sakit.
Tiba - tiba terdengar pintu diketuk.
"Jangan bergerak! Aku serius!" kata Ritter yang mengancam Mike agar jangan bergerak. Ritter membuka kunci pintunya. Aylin datang membawa kotak First Aid.
Aylin kaget melihat keadaan didalam, "Apa itu Tadashi? Apa yang kau lakukan padanya? What the **** Ritter,lehermu kenapa? Apa yang terjadi disini?"
"Aylin, aku jelaskan semuanya nanti, sekarang aku butuh bantuanmu, ambil mobilku bawa kedepan asrama, aku harus bawa Mike kerumah sakit." Ritter mengambil kotak First Aid dan memberikan kunci mobilnya ke Aylin.
Aylin yang masih bingung mengangguk, "Okay, tenanglah, jangan bentak - bentak aku," Aylin berlari keluar.
Ritter menutup pintunya. Dia membuka kotak first aid dan mencari cairan pembersih luka.
"Ritter...jangan bawa aku ke rumah sakit," Mike masih memohon.
"Diamlah, Mike!" jawab Ritter dengan menuang cairan itu ke kain bersih dan mengeoleskanya ke luka yang tertancap pecahan mug agar bersih dari kerikil halus dan rumput kering yang menempel.
"Ouuchhh..." Mike berteriak menahan rasa perih ketika lukanya dibersihkan.
Ritter tidak menghiraukan itu, dia membersihkan luka tersebut. Setelah itu dia mengambil kaos bersih dan celana jeans dari closetnya lalu memakainya.
"Ayo naik ke punggungku, aku gendong kau sampai ke mobil." kata Ritter dia duduk ditepi tempat tidur.
Mike tidak menjawab, dia masih merintih menahan sakit.
"COME ON!!" Ritter berteriak, sehingga Mike kaget dan ketakutan, akhirnya Mike perlahan bangun dan naik ke punggung Ritter.
"Jangan bergerak dan jangan bersuara, posisikan tanganmu yang terluka tidak lebih rendah dari jantungmu agar tidak banyak darah yang keluar," kata Ritter dengan tegas. Mike mengangguk .
Ritter bangun sambil menggendong Mike dipunggungnya, Mike berpegangan merangkul bahu Ritter. Awalnya dia merasa mungkin Mike berat tapi ternyata tidak, dia bahkan merasakan tulang - tulang ditubuh Mike.
Ritter keluar dari kamar dan tidak menutup pintunya. Beberapa tetangga sebelah kamarnya mengintip dari balik pintu kamar mereka untuk melihat apa yang terjadi. Ritter tidak peduli itu.
"Jangan tidur," bisik Ritter.
"Tidak," jawan Mike dengan pelan.
***
"Ritter," panggil Aylin.
"Apa?" tanya Ritter yang masih menatap lantai sambil mencengkram rambut keritingnya.
Aylin menatap bekas cekikan dileher Ritter sambil bergidik ngeri, "Ritter, apa kau berkelahi dengannya?"
"Tidak," jawab Ritter dengan singkat.
Aylin celingukan melihat keadaan disekitar lalu dia bertanya lagi dengan suara berbisik, "Apa kau mencoba membunuh dia?"
Ritter mengangkat kepalanya dan berseru marah, "NEIN AYLIN! NEIN! FUCKING HELL!" Teriakan Ritter menarik perhatian seorang perawat yang lewat didepan mereka, "Mohon tenang pak, ini rumah sakit."
Mereka terdiam. Ritter menghela napas untuk menenangkan dirinya.
Aylin yang masih penasaran bertanya lagi, "So what the hell is going on? Katanya tadi kau mau cerita padaku."
Ritter bersandar sambil mengarahkan pandangannya ke pintu IGD, "Tadi aku sedang tidur lalu tiba tiba Mike mencekikku."
"Memang apa yang sebelumnya terjadi?"
"Tidak ada apa apa, aku rasa dia tidur berjalan lagi tapi sepertinya ada yang aneh,"
"Dia tidur berjalan lalu mencekikmu? Itu bukan aneh lagi tapi mengerikan,"
Ritter sepertinya teringat sesuatu, sesuatu yang sejak tadi tidak sempat dia pikirkan karena mati matian bertahan hidup dari cekikan maut, "Tunggu, dia bukan tidur berjalan, waktu itu matanya terbuka dan bola matanya warna abu abu,"
Aylin heran mendengarnya, "Maksudmu bagaimana?"
Ritter tidak menjawab, dia berpikir lalu dia menyentuh lehernya yang terkena darah, matanya terbelalak kaget seperti seorang yang baru saja menyadari suatu kenyataan yang buruk, "Aylin, aku minta kau berjanji jangan katakan ini pada Darek atau pihak gereja manapun,"
"Memangnya ada apa?"
Ritter terlihat serius sekaligus khawatir terpancar dari matanya, "Ini bukan sesuatu yang bagus, aku pikir yang aku khawatirkan sepertinya terjadi,"
__ADS_1
"What the hell is that?" tanya Aylin yang luar biasa penasaran.
"Der Kreuzer telah bangkit. Mike adalah Der Kreuzer,"
Aylin kaget mendengarnya, "APA??"
Seorang perawat yang ada di sana memelototi Aylin agar dia diam.
Aylin merendahkan suaranya, "Kau yakin?"
"Ingat waktu aku bilang aku sedang memikirkan teman sekamarku dan aku akan cerita kepadamu jika jawabannya sudah pasti?"
"Iya aku ingat, dan itu tentang Der Kreuzer?"
"Iya itu tentang Der Kreuzer, sebenarnya sudah sejak awal aku curiga pada Mike karena dia menunjukkan gejalanya, dia orang baru di Jerman dan dia bisa melihat hantu,"
"Dia bisa melihat hantu? Ritter, kenapa kau tidak cerita ini sejak awal?"
"Karena aku sedang menunggu gejala terakhir,"
"Apa itu?"
"Darah," Ritter mengusap lehernya yang terkena darah Mike dimana darah itu sudah mengering," Der Kreuzer akan menggunakan darah orang yang dirasukinya untuk menandai pendosa,"
Aylin tak bisa berkata kata mendengar itu, mulutnya terbuka dan ekspresi wajahnya bingung," Ritter...mungkin ini hanya kebetulan,"
"Kebetulan macam apa? Apakah seseorang yang terbangun tengah malam dengan bola mata abu abu dan mencekikmu dengan tangan yang berdarah itu hanya kebetulan?"
Aylin menggeleng, dia terlihat ketakutan membayangkan itu. "Ritter, kau bilang Der Kreuzer akan menandai pendosa dengan darahnya?" Aylin menunjuk leher Ritter, "Apa itu artinya dia menandaimu?"
Ritter memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya ke tembok di belakangnya, "Entahlah..." katanya.
"Mungkin dia menganggapmu pendosa karena kau tidak percaya kristus?"
Ritter malah tertawa mengejek, "Aylin, yang kita bicarakan ini mengenai iblis, seharusnya dia senang jika aku tidak percaya pada Kristus,"
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Jika masalahnya seserius ini bukankah sebaiknya kau katakana ini semua pada Darek?"
"Tidak! Aku sudah bilang padamu tadi, jangan katakan apapun padanya mengenai apa yang terjadi pada Mike,"
"Tapi ini masalah serius, apa kau bisa mengatasinya sendiri? Darek pasti tahu cara mengatasi ini,"
"Darek pun tidak bisa menemukan cara untuk menghentikan Der Kreuzer, lebih tepatnya cara yang manusiawi,"
"Ritter, seperti yang tadi kau bilang, kita sedang membicarakan iblis, apa menurutmu ada cara manusiawi yang bisa menghentikan iblis?"
"Kau lupa? Der Kreuzer merasuki manusia. Jika mengikuti cara Darek, maka orang yang dirasuki Der Kreuzer juga akan berakhir mengenaskan,"
Aylin berpikir sesaat lalu dia terlihat seperti menyadari sesuatu,"Akhirnya aku mengerti apa yang dikatakan setan yang merasuki Odile, pantas saja dia bicara seperti itu kepadamu. Kau tidak mau melakukannya karena Mike temanmu? Sial! Baru kali ini aku mengerti apa yang dikatakan setan,"
"Kau sebaiknya jangan terhasut dengan apa yang dikatan setan,"
"Aku bukannya terhasut, tapi yang dikatakan setan itu benar kan? Aku yakin kau pasti sudah tahu ini sejak awal kenapa kau tidak melakukan apa apa?"
"Aku bukannya tidak melakukan apa apa justru aku berharap Mike seperti ini bukan karena Der Kreuzer,"
"Itu berarti kau menyangkalnya, kau ini bagaimana? Mike bisa membahayakan satu kampus, sebaiknya kau bicara pada Darek, dia pasti tahu cara mengatasi ini semua."
"Iya Darek memang tahu caranya, tapi aku tidak akan mengikuti caranya,"
"Memang bagaimana?"
"Kau ingat apa yang dikatakan setan yang merasuki Odile? Dia sempat menyinggung danau, sungai Rhine dan api,"
Aylin mengingat hal tersebut lalu dia seperti terkejut, "Oh Tuhan...maksudmu ditenggelamkan atau dibakar?"
"Ja, itu adalah cara untuk menghentikan Der Kreuzer, Darek juga berkata seperti itu, tapi itu tidak akan melenyapkan Der Kreuzer, itu hanya akan membuatnya keluar dari tubuh Mike lalu dia akan mencari korban yang baru. Jika Mike harus dibunuh karena itu, dia bisa mati sia sia."
"Lalu apa rencanamu?"
"Itu sedang kupikirkan dan aku butuh waktu,"
"Ritter, Der Kreuzer sudah ada didepan matamu, berapa banyak lagi waktu yang tersisa? Sebaiknya kau katakan ini pada Darek,"
Ritter hendak menjawab Aylin dengan marah, tapi ada seorang perawat yang menghampiri mereka.
__ADS_1