
Siang ini Darek tengah berada dimobilnya yang sedang parkir dihalaman Albrecht - Durer High School di jalan Paulsmuhlen sambil membaca koran. Headline koran tersebut memberitakan kasus kerasukan yang menimpa seorang orang wanita di stasiun kereta Schloss Benrath yang menyebabkan kehebohan di stasiun itu, bahkan sempat mengganggu jadwal beberapa kereta yang berhenti di stasiun tersebut.
Darek melipat koran tersebut dan melemparnya ke kursi belakang. Dia melepas kacamata bacanya dan menatap gedung sekolah dihadapannya. Sejak pagi dia ada disini mengantar Father Hendrik untuk menangani kerasukan yang menimpa tiga orang siswi yang sedang mengikuti pelajaran olah raga. Tiga orang kerasukan sekaligus, baru kali ini terjadi di Dusseldorf. Darek menghela napas dan berpikir, keadaan sudah seperti ini tapi dia belum menemukan dimana Der Kreuzer walaupun ada satu hal yang membuatnya agak curiga. Ritter tetiba berubah pikiran dan dia mau membantunya dalam menyelidiki kasus Der Kreuzer ini. Darek yakin ini bukan tipikal Ritter, kecuali ada sesuatu yang memicunya. Darek kenal betul sifat Ritter walaupun dia anak tirinya, Ritter tidak akan pernah mau tahu tentang sesuatu yang diluar akal sehat, kecuali itu berhubungan dengan dirinya atau orang yang dia kenal.
Darek berpikir kira - kira apa yang membuat Ritter berubah pikiran, dan lagi Ritter pernah mengatakan kalau ada mahasiswa yang kerasukan dikampusnya dan setan yang merasukinya berbicara dengannya. Dia tahu setan tidak akan sembarang bicara dengan manusia kecuali dia tahu apa yang dikerjakan orang tersebut.
Darek membuka tasnya dan mengambil sebundle kertas yang sudah diklip. Dia membuka beberapa halaman dan mengambil selembar yang dia cari lalu mengembalikan sisanya kedalam tasnya. Dia membaca dengan seksama kertas tersebut, kertas tersebut berisi data seorang mahasiswa baru yang masuk tahun ini. Michael Tadashi yang tercatat sebagai teman sekamar Ritter. Ada beberapa hal yang membuatnya curiga, pertama Ritter tiba - tiba berubah pikiran, kedua setan yang merasuki mahasiswa berbicara dengannya yang ketiga Ritter tidak terlihat sibuk mencari. Walaupun dia jarang bicara dengan Ritter jika sedang dikampus tapi dia memperhatikannya, Ritter masih jarang hadir dikelas dan tidak terlihat berkeliaran di kampus. Seperti dia ingin menyelidiki Der Kreuzer tapi dia sudah tahu siapa orangnya dan tidak mau jujur mengatakan itu kepadanya, apa ini ada hubungannya dengan teman sekamarnya? Darek belum punya bukti apapun, dia menanyakan ini pada Ritter.
Suara pintu mobil yang terbuka membuat Darek terkejut. Father Hendrik masuk kemobil dan duduk di kursi penumpang disebelahnya.
"Bagaimana keadaan disana?" tanya Darek dengan penasaran.
Father Hendrik terlihat lelah, "Mereka benar - benar menguras tenagaku, tapi aku berhasil mengeksorsis mereka." Dia mengelap keringat didahinya dengan sapu tangannya.
"Apa setan yang merasuki mereka mengatakan sesuatu?"
"Dua diantaranya tidak, tapi ada satu yang berbicara,"
"Oh iya? Apa yang dia katakan?"
"Dia tidak menyebut nama seseorang tapi dia mengatakan seperti ini 'seseorang tampaknya harus mengawasi anak tirinya, dia tahu semuanya', sungguh aku tidak mengerti kenapa dia bicara seperti padaku, aku tidak punya anak tiri." Father Hendrik menatap Darek sambil menanti reaksinya, "Tapi kau punya." katanya.
Darek agak kaget mendengar itu, kenapa dia langsung berpikir kalau yang dimaksud setan itu adalah dirinya, "Bisa saja setan itu berbohong,"
Father Hendrik mengangguk, "Yah bisa saja, bisa saja itu tidak berarti apapun jika memang setan itu berbicara mengenai diriku, tapi jika setan itu hanya menitip pesan kepadaku lalu yang dia maksud sebenarnya adalah kau, itu bisa terdengar masuk akal."
Darek melipat kertas yang tadi dan memasukan kembali kedalam tasnya, dia tidak menjawab Father Hendrik karena pikirannya sedang dipenuhi banyak pertanyaan saat ini, dia menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya.
Father Hendrik melanjutkan, "Lagipula sepertinya setan - setan banyak yang jujur sekarang, beberapa hari ini ketika aku melakukan eksorsis, setan - setan itu mengatakan yang sebenarnya, seperti pada kasus gadis di Mendelweg. Seperti mereka sangat ketakutan terhadap sesuatu."
"Ketakutan terhadap Der Kreuzer." jawab Darek.
"Yes. Seandainya kita bisa segera menemukannya." Father Hendrik tampak tertawa sesaat, "Apa kita harus bertanya pada 'anak tiri', seperti yang dikatakan setan yang disekolah itu?"
Darek tertawa mendengarnya, "Anak tirinya siapa?"
Father Hendrik diam sesat, dia menatap pemandangan jalan dari jendela disampingnya lalu dia menoleh kembali melihat Darek, "Mungkin...pada anak tirimu."
Darek menggelengkan kepalanya, "Menurutmu dia tahu sesuatu?"
"Bagaimana menurutmu? Bukankah dia juga membantumu? Dia membantumu mencari Der Kreuzer di kampus kan?"
Darek mengangguk.
Father Hendrik melanjutkan, "Mungkin ada beberapa hal yang dia dapatkan, coba kau tanyakan padanya."
"Beberapa hari ini aku belum sempat bicara lagi dengannya."
"Kalau begitu bicaralah dengannya,"
Darek menghela napas, "Ya, aku akan bicara padanya nanti tapi sebelum itu aku mau mampir dulu ke daerah Strudel dulu."
"Strudel satu jam dari sini, ada apa disana?"
"Aku mau menjenguk keponakanku, dia sedang sakit. Orangtuanya mengabariku katanya dia histeris tadi malam di kampus dan langsung dijemput pulang oleh ayahnya."
"Histeris? Bukan karena kerasukan?"
"Bukan, entah karena apa. Dia belum mau bercerita pada orangtuanya. Mungkin dia mau bercerita kepadaku."
***
Rumah keluarga Hildegard berada di kawasan perumahan. Rumah bergaya Poland dengan tanaman bunga Begonia yang daunnya telah berubah warna menjadi cokelat dan merah. Darek membawakan sekotak cupcakes dari toko roti terkenal setempat untuk Aylin. Dia berharap Aylin sudah membaik dan bisa diajak bicara.
Darek menekan bel dan menunggu di depan pintu. Tak lama kemudian datang seorang wanita paruh baya berambut pirang pendek membukakan pintunya.
__ADS_1
"Dzień dobry, pani Hildegard." kata Darek dengan bahasa Polandia. Ibunya Aylin orang Polandia tapi dia juga lancar berbahasa Jerman.
"Cześć Darek, miło cię poznać." jawab Mrs. Hildegard sambil membukakan pintu, Darek melangkah masuk.
"Ayahmu meneleponku tadi malam, katanya Aylin sakit dan dia menjemputnya ke kampus tadi malam, aku bawakan dia cupcakes." kata Darek sambil memberikan sekotak cupcakes tersebut.
Mrs. Hildegard menerimanya, "Iya, entah apa yang terjadi dikampus, kata ayahmu sepanjang perjalanan pun dia menangis bahkan ketika sampai dirumah, dia langsung lari kekamarnya. Dia tidak mau bercerita apa yang terjadi."
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"
"Dia sudah tidak menangis lagi, dia sudah mau makan tapi dia belum mau bicara banyak. Apa kau tahu apa yang terjadi padanya dikampus? Apa ada mahasiswa yang melecahkannya?"
Darek menggeleng, "Aku yakin bukan seperti itu. Aku mau bicara dengan Aylin, dia ada dimana?"
"Dia ada di kamar, semoga dia mau bercerita padamu."
Darek naik ke atas dan menghampiri kamar Aylin. Dia mengetuk pintunya.
"Kto tam jest?" tanya Aylin dengan bahasa Polandia dari balik pintu.
"To ja Darek," Darek answered.
Ada jeda sesaat sebelum Aylin menjawab, "Proszę wejść."
Darek membuka pintunya perlahan, dia melihat Aylin duduk bersila di tempat tidurnya sambil menonton TV. Dia sedang menonton serial TV Good Doctors di channel Fox, tapi tampaknya dia tak benar - benar menontonnya, dia terlihat sedih.
Darek menarik kursi dan duduk disamping tempat tidur, "Aylin, bagaimana perasaanmu sekarang?"
Aylin menghela napas, dia menatap darek dengan sedih, "Aku tidak tahu, rasanya...aku bingung."
"Memang apa yang terjadi? Apa ada yang melecehkanmu?"
Aylin menggeleng.
Aylin mengangguk.
"Ritter tidak mengatakan apa - apa padaku. Ayahmu yang memberitahuku kalau kau histeris di kampus lalu kau dijemput pulang."
Aylin tidak menjawab, dia kembali melihat tayangan Good Doctors di TV tapi ekspresinya terlihat sedih.
"Aylin, apa yang terjadi disana?"
Aylin tidak menjawab tapi dia terlihat hampir menangis.
"Aylin, jika kau katakan apa yang terjadi, kami bisa membantumu dan kau pasti akan segera merasa lebih baik."
Aylin menggeleng, dia menangis sekarang, "It's...to late,"
"Kenapa?"
Aylin terisak - isak.
"Aylin, katakan saja apa yang terjadi."
"Tadinya aku berjanji untuk tidak mengatakan ini kepada siapapun, tapi akhirnya ini terjadi kepadaku," Aylin memeluk kakinya dan menangis sesenggrukan.
"Apa yang terjadi?"
"Dia...menandaiku."
"Apa?"
Aylin berusaha mengendalikan suaranya diantara isakan, "It's...Ritter's roommate...kau harus segera melakukan sesuatu."
***
__ADS_1
Mike perlahan membuka matanya dan melihat langit - langit kusam yang sudah dia kenal, entah langit - langit itu yang bertambah kusam atau karena pandangannya yang kabur. Saat ini dia tidak kedinginan lagi tapi dia merasa panas diseluruh tubuhnya terutama dikepalanya. Dia teringat kembali apa yang terjadi tadi malam ketika dia menyadari ada handuk basah di dahinya. Dia perlahan membuka selimutnya dan merasakan sakit disekujur tubuhnya, sepeti ada jarum yang menusuk - nusuk tulangnya. Damn it!...dia belum sembuh juga rupanya, dia pikir setelah tidur tadi malam keadaannya akan membaik besok, tapi ternyata tidak.
Besok?
Mike teringat sesuatu, dia melihat jam digital di mejanya. 12.30 siang?
Holly shit...Dia seharusnya ada di Think's Art dan dia ada kelas jam 1 hingga jam 5. Dia tertidur hingga siang dan bolos kerja, tapi memangnya apa yang bisa dia lakukan, bahkan dia kesulitan menggerakkan tubuhnya. Jika dia memaksakan diri pergi keluar dengan keadaan seperti ini, pasti akan merepotkan orang lain, tapi setidaknya dia akan menelepon Carel dan meminta maaf padanya, karena mungkin dia tak bisa datang ke Think's Art untuk beberapa hari ini. Semoga Carel bisa menerima alasannya karena dia merasa seperti orang yang bodoh yang manja.
Dia melihat ponselnya ada dimeja, tapi dia tak bisa menggapainya. Dia harus bangun untuk mengambil ponselnya. Mike menyingkirkan handuk basah di dahinya dan mengerahkan sisa tenaga yang ada untuk duduk.
"Oh...God..." Mike merintih ketika dia berusaha bangun dan duduk. Badannya benar - benar sakit. Setiap gerakan seperti ada yang memukul tubuhnya dari dalam. Kepalanya berdenyut pusing, terasa berat dan melayang dalam satu waktu. Bergerak seperti itu saja sudah membuatnya terengah - engah, apa dia bisa mengambil ponselnya?
Mike mengedarkan pandangannya yang berkunang - kunang ke sekeliling kamar. Sepi, tak ada suara apapun, bahkan di ruangan sebelah.
"Ritter..." panggil Mike dengan suara yang serak, dia tak bisa berteriak, bersuara pelanpun membuat kepalanya berdenyut pusing.
Tak ada jawaban. Mungkin Ritter tidur dikamarnya atau mungkin dia ada di I'm Schiffchen.
Tiba - tiba dia merasa mual luar biasa, perutnya bergolak dan terasa sakit. Seperti ada pisau yang merobek lambungnya dari dalam. Dia hendak muntah tapi dia tak mau muntah lagi di lantai. Dia tak mau merepotkan Ritter membuatnya membersihkan lagi muntahannya dilantai. Mike mengerahkan seluruh tenaganya dan mengabaikan rasa sakit dibadannya dan berlari ke kamar mandi, dia muntah di wastafel. Muntahan berwarna kuning dan terdapat darah on it. Kepalanya berdenyut pusing dan napasnya terengah - engah, tenggorokannya terasa panas. Perutnya masih bergolak dan membuatnya muntah lagi, sepertinya perutnya ingin mengeluarkan semua isinya atau bahkan mengeluarkan organ dalamnya sampai - sampai tenggorokannya terasa tercekat yang membuatnya mengeluarkan suara muntah yang mengerikan.
Hentikan! Dia sudah tidak kuat. Dia merasa sudah tak ada apapun di dalam tubuhnya yang bisa dimuntahkan. Tapi dia masih sangat mual, bahkan sekarang dadanya terasa sakit seperti ditusuk berkali - kali. Dia tak bisa menahannya lagi, rasanya hampir mati lalu semuanya menjadi gelap dan dia tak tahu lagi apa yang terjadi.
***
Ritter tengah berjalan cepat sambil membawa paper bag berisi makanan yang dia beli di cafetaria campus. Dia membeli makan siang untuk Mike dan dirinya, dia tak mau pergi jauh dari kampus hanya untuk mencari makanan jadi dia membelinya di cafetaria dan sayangnya tak ada makanan yang enak disana, dia hanya membeli makanan yang sekiranya masih sesuai dengan seleranya, sandwich dan apple. Lagipula dia juga harus memberi makan Mike, dengan keadaan seperti itu dia pasti tak mau makan makanan yang berat, dia bersyukur jika Mike mau makan sandwich ini.
Ketika sedang menyusuri halaman kampus, Ritter dihampiri oleh teman sekamar Aylin.
"Hay Ritter, Weißt du, was letzte Nacht mit Aylin passiert ist?" tanya Luana dengan penasaran.
Sebenarnya Ritter tidak mau meladeninya, "Ich weiß es nicht Ich fand sie in der Bibliothek weinen."
"Ketika di kamarpun dia juga tidak mau mengatakan padaku apa yang terjadi. Aku mau bertanya kepada petugas perpustakaan tapi Mrs. Frieda sedang cuti."
"Aku yakin Aylin hanya histeris sesaat, mungkin karena tugas akhirnya sudah hampir dekat. Dia pasti akan baik - baik saja."
Luana mengangguk dengan tidak yakin, "Kau bukannya ada kelas siang ini?"
"Aku harus ke I'm Schiffchen." jawab Ritter berbohong sambil menggeloyor pergi. Dia berlari secepat mungkin menuju asrama. Ketika di koridor asrama, dia cegat oleh Kuhlbert.
"Ritter, aku dengar ada keributan di asrama putri lagi tadi malam. Apa ada yang kerasukan lagi?" tanya Khulbert dengan penasaran.
Ritter tidak menjawab, dia menepis tubuh gemuk Khulbert dengan kesal agar dia menyingkir lalu dia berlari kekamarnya. Kulhbert mengacungkan jari tengahnya.
Ketika dikamar, Ritter tidak melihat Mike ada di tempat tidurnya. Dia meletakkan paperbag nya dimeja dan hatinya diliputi kekhawatiran.
"Mike, aku bawakan kau sandwich." Tak ada jawaban.
Ritter mulai menyalahkan dirinya, seharusnya dia tidak pergi terlalu lama, mungkin lain kali dia akan pesan delivery makanan saja.
Ritter berjalan ke kamar mandi. Mungkin Mike ada di kamar mandi tapi apa dia sudah kuat berjalan. Ritter membuka perlahan pintu kamar mandi dan mencium bau muntahan yang menusuk hidungnya. Reflek, dia menutup hidungnya dengan telapak tangannya.
"Mike, kau muntah lagi?" tanya Ritter.
Mike tengah berdiri menunduk di depan wastafel sambil mencengkram pinggiran wastafel. Poninya menjuntai menutup sebagian wajahnya sehingga Ritter tak bisa melihat ekspresi wajahnya.
Ritter meraih lengan Mike yang panas. Shit, panasnya belum turun juga, jika seperti ini aku harus membawanya ke rumah sakit tapi setidaknya dia harus makan dulu.
"Aku bawakan sandwich, ayo makan dulu." kata Ritter sambil menarik tangan Mike tapi Mike tidak beranjak.
"Come on Mike, you have to eat." Mike tidak merespon dan tidak beranjak. Dia masih menunduk ke arah wastafel yang penuh genangan muntahan.
Ritter menunggu reaksi Mike tapi dalam hati dia merasa ada sesuatu yang aneh, entah kenapa firasatnya mengatakan akan ada sesuatu yang buruk.
Tiba - tiba, Mike membenturkan kepalanya ke cermin wastafel hingga cerminnya pecah dan pecahannya berjatuhan ke lantai.
__ADS_1