
Pagi hari ini di Dusseldorf, langit berwarna biru muda dengan bentangan awan tipis yang menghiasinya dengan suhu 20 derajat celcius, tidak terlalu dingin sebenarnya karena angin belum berhembus saat ini.
Trotoar mulai dipenuhi dengan pejalan kaki yang sibuk ke tujuannya masing - masing. Michael Tadashi tengah berjalan di trotoar jalan Wiesbadener sambil mengambil foto dengan smartphonenya beberapa bangunan bergaya Poland yang memiliki cat warna - warni. Sekilas dia terlihat seperti turis tapi sebenarnya dia perlu foto itu untuk digambar di sketch booknya.
Setelah turun di halte bus terdekat, dia memutuskan berjalan kaki agar bisa lebih jelas melihat pemandangannya. Indahnya pemandangan di jalan ini membuatnya lupa sejenak tentang pelariannya dari Jepang, seolah - olah daun - daun kering yang rontok dari pohon - pohon disekitar turut mengubur dan menutup masa lalu kelam dalam pikirannya. Dia sangat menyukai musim gugur, karena seperti warna disekitarnya berubah menjadi merah dan cokelat dan angin dingin yang berhembus membuatnya harus memakai scarf agar dirinya tetap hangat. Scarf itu pemberian Jason untuk hadiah ulang tahunnya tahun lalu dan dia menyukainya. Dia bisa memakai scarf itu sepanjang musim gugur berlangsung.
Setelah puas mengambil beberapa foto pemandangan, dia selfie dengan latar belakang rumah susun khas Eropa bercat merah dan hijau yang terdapat pohon Mandelbaum yang sedang meranggas. Hasil fotonya bagus. Dia mengupload foto tersebut ke medsos Instagram nya dan menulis caption 'start a new day in Europe', tak perlu menunggu lama, postingannya langsung dipenuhi likes dan comment dari teman - teman dan fans bandnya di Jepang. Mike scrolling layar ponselnya untuk membaca komen - komen tersebut, ada satu komen yang membuatnya menahan napas sejenak, komen itu dari Hiroki, salah satu anggota bandnya di Jepang, katanya 'there you are shithead, you better go to hell'. Sebenarnya tidak salah Hiroki menulis komentar seperti itu. Mike pantas menerimanya karena dia mengundurkan diri tiba - tiba dari band dan membuat anggota bandnya membencinya.
Mike menutup ponselnya dan menyimpannya disaku celana. Dia lanjut berjalan di trotoar melewati beberap pejalan kaki lain yang ada disekitarnya. Hari ini adalah pagi pertamanya di Dusseldorf, dia berniat jalan - jalan sebentar sebelum jam kuliahnya nanti siang, sekalian dia mau membeli beberapa art supplies baru karena peralatan lamanya sudah tidak bisa digunakan. Menurut aplikasi map di ponselnya disekitar sini ada toko art supplies. Think's Art. Toko itu hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri. Bangunan bercat putih dengan gaya vintage yang cantik.
Mike membuka pintu toko itu dan terdengar bunyi gemerincing lonceng kecil yang ada diatas pintunya.
"Guten morgen, kann ich dir helfen?" tanya seorang pria yang sedang membereskan beberapa kanvas segala ukuran. Orang itu tidak melihatnya, dia sibuk dengan kanvasnya.
"Aku mau melihat - lihat," jawab Mike sambil melihat - lihat aneka jenis pensil yang ada di rak.
"Bitee," jawab orang tersebut yang masih menyusun kanvas.
"Apa kau punya Derwen?"
Orang itu menaruh kanvasnya dan melihat Mike, dia tampak seusia dengannya berambut gondrong hitam, memiliki janggut, memakai kacamat dan mata yang sayu. Nametag di dadanya tertulis 'Audric'.
"Ja, di rak dekat jendela itu." Jawabnya lalu dia lanjut membereskan kanvas.
Mike menghampiri rak tersebut dan memilih pensil dengan berbagai jenis ketebalan warnanya. Setelah menemukan pensil yang dia inginkan, matanya tertuju pada kertas yang ditempel dijendela di dekat rak itu. Kertas itu bertuliskan lowongan pekerjaan di toko ini. Mungkin dia bisa mencoba melamar pekerjaan disini. Lumayan untuk menambah tabungan Euronya. Mike membawa pensilnya ke meja kasir dan Audric menghampiri dan menghitung belanjaannya dimesin kasir.
"15 Euro, aku harap kau punya uang tunai karena mesin EDC nya sedang rusak." kata Audric sambil membungkus belanjaan dengan paper bag.
"Ja, habe ich," jawab mike sambil memberikan uang tunainya, lalu dia bertanya lagi, "Aku lihat pengumuman lowongan pekerjaan di jendela, apa itu masih berlaku?"
"Masih, kita perlu karyawan lagi disini. Aku agak repot kalau sendiri, apalagi jika sedang ada barang datang, aku harus menghandle itu dan tak ada yang mengawasi kasir dan melayani pembeli."
"Apa kau pemiliknya?"
"Bukan. Ownernya jarang datang kesini, hanya seminggu sekali. Kau tertarik?"
"Ya, aku mau melamar pekerjaan itu."
"Kau isi form ini dan tinggalkan nomor ponselmu, nanti akan kuberikan ke bosku dan dia akan menghubungimu kembali."
Mike mengisi formulir itu lalu mengembalikannya ke Audric. Audric membacanya sejenak.
"Kau kuliah di Heinrich Hein?" tanya Audric.
"Iya, jurusan seni."
"Hebat. Aku juga ingin kuliah disana, aku sedang menabung untuk itu."
__ADS_1
"Ich hoffe ihre wunsche werden wahr."
"Dankeschone,"
Setelah belanja di Think's Art, Mike mau lanjut jalan - jalan lagi menyusuri trotoar sepanjang jalan Wiesbadener ini. Dia berjalan menyusuri trotoar yang dipenuhi rontokan daun berwarna cokelat dan merah. Dia suka menginjak daun - daun kering itu dan mendengar suara gemerisik yang ditimbulkannya. Beberapa meter setelah itu, Mike melihat sebuah mobil Opel Mokka X warna putih parkir dipinggir trotoar didekat situ, pengemudinya keluar dan dia tahu betul siapa itu.
"Hey Ritter," panggil Mike sambil berlari menghampirinya.
Ritter kaget melihat Mike ada disitu, "Was machst du hier?"
"Jalan - jalan, ngomong - ngomong mobil yang bagus. Kau mau kemana? Kau tidak ada kelas hari ini?"
"Kau mulai terdengar seperti sepupuku. Dengar, aku harus mengurus restoranku."
"Restoran mu?"
"Iya, ada anggota parlemen yang booking untuk makan siang nanti, aku harus mengawasi dapur karena asistenku tidak masuk lagi."
"Maksudmu kau punya restoran?"
Ritter menunjuk bangunan dihadapannya. Bangunan bergaya Bergen dengan cat berwarna ash brown dengan aksen batu bata didindingnya. Terkesan megah dan antik. Tertulis Im Schiffchen di atas pintu masuk utamanya.
"Wow..." kata Mike yang menatap restoran itu dengan terpesona. "Kau tidak cerita kepadaku kalau punya restoran."
"Apa aku harus bilang kepadamu?" tanya Ritter dengan ketus.
"Apa kau menyediakan sarapan?"
"Kenapa kau kejam kepadaku? tak bisakah kau menjawab pertanyaanku dengan ramah?" tanya Mike ketika Ritter sudah menghilang ke dalam restorannya. Mike menghela napas menenangkan diri dan memutuskan untuk kembali ke kampusnya.
Setelah melalui tiga mata kuliah, Mike beristirahat sejenak dipinggir danau sambil menggambar pemandangan danau yang indah dihadapannya. Dia belum mendapat teman baru disini selain si galak Ritter. Bahkan saat dikelas tadi dia duduk dibelakang, tidak mau menarik perhatian karena wajahnya yang terlihat sedikit Asia, itu akan membuat orang - orang penasaran dan bertanya kepadanya. Mungkin nanti dia akan membuka diri, tapi tidak untuk saat ini karena setiap dia mengingat Jepang yang terlintas dibenaknya adalah Jason yang terjun dari berandanya. Benar kan? ingatan itupun sekarang menganggunya, dia menghentikan goresan pensil di sketch booknya karena konsentrasinya terpecah karena ingatan itu sekelebat lewat dipikirannya. Dia menaruh pensil dan sketch booknya. Dia menghela napas, memeluk kaki ke dadanya dan membenamkan wajah dilututnya.
"Hey, bist du ok?" tanya seorang wanita.
Mike mengangkat kepalanya dan menoleh ke sumber suara. Seorang wanita berambut panjang cokelat muda duduk disebelahnya.
"Ja, mir geht es gut."
"Ngomong - ngomong, gambar yang bagus."
"Dankeschon"
"Kau mahasiswa baru disini?"
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Mahasiswa baru biasanya sering terlihat sendiri untuk beberapa waktu, tapi tidak akan lama, setelah itu mereka akan gila - gilaan dengan teman - teman barunya. Aku sudah hampir 4 tahun disini jadi aku tahu persis hal - hal seperti itu. Aku Aylin Hildegard."
__ADS_1
"Michael Tadashi."
"Michael siapa?"
"Tadashi."
"Dari mana asalmu?"
"Jepang."
"Apa? jauh sekali, tapi kau tidak terlihat seperti orang Jepang. Maksudku hanya sedikit. Kau tinggal di asrama?"
Mike mengangguk sambil membereskan pensil dan sketch booknya.
"Siapa teman sekamarmu? mungkin aku kenal."
"Ritter Gilleasbuig."
Aylin terbelalak kaget mendengarnya, "Apa kau bercanda?"
"Tidak. Kenapa? Apa kau kenal dia?"
"Dia sepupuku."
Mike tertawa mendengarnya.
Aylin bertanya lagi, "tapi dia tidak menamparmu kan? atau memukulmu dengan gitar?"
Mike tertawa lagi, "tidak. Apa dia seperti itu?"
"Sebelumnya ada 2 orang yang menjadi teman sekamarnya. Yang pertama pindah kamar karena dia dilempar dari jendela oleh Ritter karena mabuk dan berkelahi dengannya, tak lama setelah itu ada lagi yang menjadi teman sekamarnya dan hanya bertahan seminggu karena ketika tidur bokong nya terbakar amplifier Ritter yang meledak."
Mike tertawa, "Bagaimana bisa pantatnya terbakar ? apa orang itu tidur diatas amplifier?"
Aylin juga tertawa, "Aku tidak tahu kejadian pastinya tapi kuharap kau bisa bersabar satu kamar dengannya. Walaupun dia agak ketus tapi sebenarnya dia baik."
Mike mengangguk lalu dia kembali menatap danau dihadapannya.
Aylin berkata, "Aku harus pergi sekarang, senang bertemu denganmu." Dia berdiri dan berjalan cepat menyusuri halaman depan kampus.
Setelah Aylin pergi, Mike kembali menatap danau dan deretan pohon maple yang daunnya berwarna cokelat berguguran jatuh ke permukaan danau. Tiba - tiba penglihatannya terpaku pada seseorang yang ada di antara pohon itu. Ada anak kecil disitu, berambut pirang pendek wajah putih pucat dan memakai kemeja putih gading dan celana pendek cokelat dengan tali yang terhubung ke kedua bahunya. Itu aneh karena gaya pakaiannya seperti di tahun 30an. Anak kecil itu tengah menatapnya dengan ekspresi datar. Apakah tak ada orang lain yang melihat anak itu? padahal disekitarnya ada beberapa mahasiswa juga yang sedang beristirahat dipinggir danau.
Mike berdiri dan menyandang ranselnya. Anak itu masih berdiri menatapnya. Mike jadi penasaran, bagaimana bisa ada anak kecil masuk kesini? Mike berjalan menyusuri pinggir danau menghampiri anak tersebut, ketika jaraknya tinggal beberapa meter, anak itu tiba - tiba lari. Mike mengejarnya, anak itu berlari masuk menuju aula utama kampus. Anak itu berlari melewati beberapa mahasiswa yang ada di aula itu tapi seperti tidak ada yang menyadarinya, tak ada yang menoleh melihat anak itu. Mike masih mengejarnya, anak itu berlari menyusuri koridor panjang ke bagian selatan gedung. Lalu dia berbelok ke lorong panjang area kelas bahasa , dia berhenti diujung lorong dan menoleh kembali menatap Mike. Ekspresi anak itu masih datar seolah tidak seperti orang yang habis berlari. Setelah Mike hampir mendekatinya, anak itu tiba - tiba masuk keruangan yang ada diujung koridor itu. Pintu ruangan itu setengah terbuka. Diujung lorong ini tak ada orang yang lewat, tak ada yang melihatnya dan karena rasa penasarannya, dia membuka pintu ruangan tersebut dan masuk kedalam.
Sepertinya ini adalah ruangan tempat latihan paduan suara. Disitu terdapat alat - alat musik perkusi dan grand piano. Diujung ruangan terdapat lemari berisi penghargaan dan trophy hasil prestasi paduan suara tersebut. Mike melayangkan pandangan sekeliling mencari anak tersebut. Tidak terlihat dimanapun, tidak ada dikolong piano, tidak ada dibalik alat - alat perkusi dan tidak ada dibalik tirai panjang yang menutup jendela.
"Hallo," panggil Mike. Tidak ada jawaban.
__ADS_1
Seperti tidak ada kehidupan diruangan ini, bahkan tidak ada suara apapun, kecuali suara detak jantungnya yang mulai dirayapi rasa takut karena apa yang dia pikirkan. Bagaimana bisa anak itu hilang? tadi jelas dia masuk keruangan ini. lagipula diluar tadi orang - orang seperti tidak melihat anak itu.
Mungkin dia salah lihat atau berhalusinasi. Atau mungkin itu hantu? Hantu disiang hari dan sejelas itu? Mike bergidik ngeri dan keluar dari ruangan tersebut.