Der Kreuzer

Der Kreuzer
CHAPTER 23


__ADS_3

"Ritter, ini ke tiga kalinya kau menghubungiku dalam satu jam ini," kata Audric yang merendahkan suaranya saat menjawab telephone dari Ritter, dia masuk ke gudang agar Mike tidak mendengar pembicaraannya.


"Maaf kan aku Audric, tapi aku benar - benar harus tahu bagaimana keadaannya," jawab Ritter, terdengar suara dentingan perlatan masak dilatar belakangnya.


"Jika seperti ini malah aku yang seharusnya bertanya kepadamu, apakah Mike benar - benar baik - baik saja? Apa yang terjadi padanya?'


"Apakah kau sudah tahu jika dia punya penyakit asma?", Ritter berbohong.


"Hmm...yeah, dia pernah kena serangan asma disini, dan aku benar - benar bingung waktu itu,"


"Kemarin juga kambuh di asrama lalu dia pingsan dan jatuh ditangga oleh sebab itu tangan dan kakinya terluka," Ritter berbohong dengan lancar walaupun cerita karangannya terdengar agak janggal tapi sepertinya Audric mempercayainya.


"Kasihan sekali tapi kau tak usah khawatir, aku akan menghubungimu segera jika terjadi sesuatu,"


"Okay, maaf merepotkan," jawab Ritter. Audric mematikan telephonenya lalu dia keluar dari gudang.


Mike memberikan kertas list inventory yang tadi, "Sudah selesai. Jumlahnya sama dengan yang ada di rak."


"Terima kasih, setelah ini kau bantu aku packing pesanan seseorang, nanti orangnya datang untuk mengambil pesanannya satu jam lagi,"


Mike mengangguk sambil batuk dia menutup mulutnya dengan tangannya dan memalingkan wajahnya.


"Kau yakin tidak apa - apa?" tanya Audric dengan khawatir.


Mike menarik napas dan menghembuskannya, "Aku baik - baik saja,"


"Maksudku jangan terlalu dipaksakan jika kau sedang tak enak badan. Rasanya sudah mulai dingin beberapa hari ini dan sepertinya akan turun hujan."


Mike memikirkan apa yang dikatakan Audric barusan. Apa Audric menyuruhnya pulang secara tidak langsung? Ini hari pertama dia bekerja dan dia mengecewakan Audric dengan datang terlambat, tangan dan kakinya yang diperban yang sebenarnya agak menghambat gerakannya dan penyakitan. Mike menoleh ke pintu kaca dimana cuaca pagi hari yang redup dengan langit yang berwarna putih hampir kelabu pucat. Beberapa hari sebelumnya pagi tidak seredup ini mungkin karena suhu yang mulai menurun.


"Aku tidak apa - apa, sungguh. Lagipula untuk hari ini aku hanya bekerja sampai jam 12, aku masih bisa bertahan." Mike merasa seperti seseorang keras kepala yang menyebalkan.


"Okay." jawab Audric lalu dia menjawab ponselnya yang berbunyi lagi.


Setelah selesai membantu Audric dan waktu menunjukan tengah hari, Mike bergegas kembali ke kampus karena dia ada jam kuliah siang hingga sore ini. Sebenarnya dia merasa tidak enak badan lagi sejak beberapa jam yang lalu, dia merasa pusing dan tulang - tulang dibadannya terasa ngilu, sepertinya dia terserang flu lagi, apalagi luka jahitan ditangan dan kakinya yang mulai terasa nyeri karena dia sempat mengangkat beberapa kardus berisi kanvas dan tripod tadi. Didalam hati dia mulai kesal dengan keadaan dirinya sendiri, kenapa tubuhnya malah down di saat banyak yang harus dia kerjakan ditambah lagi dengan keadaan psikis nya yang sedang kacau. Dia berusaha mempertahankan akal sehat dan keteguhan hatinya untuk menerima kenyataan bahwa dirinya tengah dirasuki oleh iblis yang kapan saja bisa mengambil alih tubuhnya dan bisa melukai orang lain disekitarnya. Sejujurnya dia marah terhadap iblis tersebut karena telah merengut kehidupan normalnya di Jerman, dia berdoa dan menyebut nama Kristus dalam hati dan berharap iblis yang mendiami tubuhnya mendengarnya dan segera pergi, tetapi tidak ada yang terjadi.


Sempat terlintas dalam pikiran Mike kalau dia mau bolos kuliah dulu hari ini, dia mau merebahkan tubuhnya dan menenangkan kepalanya yang pusing tapi jika dia bolos kuliah maka beasiswa nya bisa dicabut jadi dia urung melakukan itu. Mudah - mudahan dia bisa bertahan di kelas dan tak ada hal buruk yang terjadi.


Mike berjalan ditrotoar menuju halte bus terdekat. Dia menggigil ketika angin berhembus, dia merapatkan jaketnya dan memeluk dirinya. Dia tak pernah merasakan angin musim gugur sedingin ini sebelumnya. Dia melihat orang - orang yang ada disekitar, semua terlihat biasa - biasa saja tak ada yang terlihat menggigil kedinginan seperti dirinya, mungkin ini karena tubuhnya yang sedang tidak fit. Dia mempercepat langkahnya menuju halte bus sambil terpincang - pincang dan tak mempedulikan orang - orang disekitarnya yang memperhatikannya.


***


Ritter melihat jam digital di pergelangan tangannya, 12.30. Dia berpikir pasti Mike sudah kembali ke kampus, dia yakin Mike tidak mungkin bolos kuliah walaupun keadaannya seperti itu. Dia mulai mengerti watak Mike yang keras kepala. Apakah dia sebaiknya ke kampus juga? Tapi ini jam makan siang dan banyak pengunjung yang datang. Ritter bergumam masa bodoh dan membuka celemeknya.


"Ritter, kau mau pergi?" tanya Pepin, dia tampak khawatir jika Ritter pergi dari dapur.


"Aku ada kuliah siang ini," jawab Ritter berbohong.


"Kau tidak lupa kan actor terkenal Willem Dafoe sudah booking reservasi untuk makan disini bersama 3 temannya jam 2?"

__ADS_1


"Yeah? Lalu kenapa?"


"Dia meminta Headchef langsung yang memasaknya,"


"Yeah, memangnya kenapa ?"


"Apa kau mau melanggar aturan resto yang kau buat sendiri, bahwa kau akan memasak langsung jika ada permintaan dari tamu khusus?"


Ritter menghela napas, "Kau katakan saja kalau aku yang memasak, lagipula dia tidak akan melihat siapa yang memasak di dapur,"


"Ritter, dia memesan Schweinshaxe untuk 4 orang, hanya kau dan Arvin yang bisa memanggang itu dengan sempurna, tekstur luar yang krispi dan empuk di bagian dalam. Apa aku harus memaksa Arvin masuk lagi ke sini?"


Ritter mengumpat kasar sehingga membuat para pekerja dapur terdiam sesaat. Melihat itu, dia menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya untuk meredakan emosinya, dia mengambil ponselnya dan menghubungi Mike.


"Hay Mike, kau dimana?"


"Aku ada di bus dalam perjalanan kembali ke kampus,"


"Mungkin sore aku baru bisa kembali ke asrama, kau tak apa apa kan?"


"Aku baik - baik saja Ritter, kau tenang saja,"


"Aku akan secara berkala menghubungimu, jika kau sedang tak bisa menjawabnya setidaknya kirim pesan,"


"Okay, tak usah khawatir,"


Ritter menutup ponselnya sambil menghela napas, "Okay, aku akan tetap disini sampai actor itu pulang." Pepin terlihat lega dan girang mendengarnya.


"Apa?" tanya Ritter dengan penasaran sekaligus khawatir.


Si waiter menelan ludah tapi tak sempat menjawab karena Ritter segera keluar dari dapur menuju meja pelanggan. Disana beberapa pengunjung terlihat mengerumuni sesuatu, Ritter bertanya pada seorang pengunjung yang ada di dekat situ.


"Apa yang terjadi bu?" tanya Ritter pada seorang ibu ibu yang terlihat ketakutan mengamati kerumunan itu.


"Ada seorang wanita yang tiba tiba histeris, dia memberontak dan berteriak teriak," jawab ibu itu.


Rittee agak curiga dengan apa yang terjadi, dia menghampiri kerumunan tersebut, "Permisi, apa yang terjadi?"


Melihat Ritter, pengunjung yang berkerumunan minggir member jalan. Ritter melihat seorang wanita tengah dipegangi oleh seorang pengunjung pria dan salah satu waiter. Mata wanita itu melotot dan napasnya memburu. Tiba tiba wanita itu menatap Ritter dengan tajam, persis seperti ketika Odile tengah kerasukan.


Seorang pengunjung bertanya pada Ritter, "Kenapa dia melihatmu?"


Ritter tidak menjawab, dia menunggu apa yang selanjutnya terjadi.


Wanita yang melotot itu tiba tiba tertawa, tertawa dengan keras sambil tetap menatap Ritter. Tawa mengekeh yang mengerikan seperti ketika Odile kerasukan. Wanita itu berkata dengan suara parau, "Kau tidak akan bisa menolong temanmu."


Para pengunjung yang ada disekitar saling bergumam bingung atas apa yang terjadi tapi Ritter mengerti betul apa maksud yang dikatakan wanita itu. Setelah itu, wanita itu tertawa lagi lalu tiba tiba dia terdiam dan pingsan.


"Tolong panggil 112," teriak si waiter. Seorang pengunjung menghubungi 112 dengan ponselnya.

__ADS_1


Pengunjung yang berkerumunan tadi menatap Ritter seolah meminta penjelasan atas apa yang dikatakan wanita tadi kepada dirinya, tapi Ritter tidak menjawab mereka, pikirannya kalut dan gundah.


***


Segalanya akan baik - baik saja. Segalanya akan baik - baik saja. Mike berulang kali mengucapkan itu dalam hati ketika dia sedang mengikuti kelas hari ini bahkan dia menuliskan itu di bukunya, dia tengah menahan pusing dan nyeri di tangan dan kakinya yang dijahit, dia sesekali terbatuk dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Beberapa mahasiswa ada yang menoleh menatapnya dengan kesal karena kosentrasi mereka jadi terganggu, bahkan mahasiswa yang duduk disebelahnya menggeser posisi duduknya agak jauh dari Mike karena takut ketularan. Dia tidak mempermasalahkan itu, dia bahkan tidak mendengar apa yang dosen jabarkan di kelas, baginya suaranya seperti mengambang dan perlahan lenyap di udara, coretan dan grafik di papan tulis pun terlihat buram dan pikirannya serasa berkabut. Segalanya akan baik - baik saja. Dia hanya bisa mengucapkan itu dalam hatinya sambil bertahan hingga kelas selesai.


Kelasnya selesai pukul 5, saat itu langit diluar sudah gelap dan udara makin terasa dingin. Mike menyeruak di antara mahasiswa - mahasiswa yang berjalan pelan keluar kelas, dia ingin segera kembali ke kamarnya dan rebahan di balik selimut jadi dia menghindari koridor yang banyak terdapat mahasiswa yang baru keluar kelas dan memutar lewat gedung selatan dimana tak banyak orang lewat disana karena terdiri dari ruangan yang jarang dipakai. Memang memutar agak jauh, tapi dia bisa menghindari orang - orang yang menatapnya dengan heran.


Mike menyusuri koridor gedung selatan, keadaannya senyap dan hanya beberapa lampu yang menyala karena tak ada orang disana. Dia melewati ruang latihan paduan suara yang pintunya terbuka, ruang paduan suara tempat dimana dia pernah mengejar hantu anak kecil yang dari danau. Ketika dia melewati ruangan tersebut, dia sempat sekelebat melihat sesuatu berwarna putih di tengah ruangan dari sudut matanya. Mike menghentikan langkahnya, dia terdiam sesaat. Dia tahu itu apa, dia sebenarnya tidak mau mempedulikan itu dan ingin langsung berlari ke kamarnya tapi dia merasakan hawa dingin di punggungnya yang seolah - olah mencengkramnya dan membuatnya tidak bisa pergi dari sana.


Dengan gemetaran, Mike mundur beberapa langkah dan menoleh melihat siapa yang ada di ruang paduan suara itu, dia bisa mendengar jelas suara napasnya sendiri dan jantungnya berdetak. Hantu gadis kecil yang sebelumnya ada dikamarnya dan mencari adiknya tengah berdiri di samping piano dan menatapnya dengan hampa. Mike merasakan napasnya menjadi berat dan terengah - engah karena takut tapi entah kenapa dia tak bisa pergi dari sana.


Hantu itu masih menatapnya dengan hampa, dia pucat dan transparan, "Sekarang aku tahu dimana adiku ku,"


Mike seharusnya pergi dari sana tapi dia malah takut terjadi hal yang lebih buruk jika dia pergi maka dia memberanikan diri menghampiri hantu itu.


"Seharusnya kau bilang saja waktu itu," kata hantu itu dengan ekspresi datar, tidak diketahui dia marah atau sedih.


Mike bingung harus menjawab apa, dia takut salah bicara dan malah memancing emosi hantu itu, jadi dia masih terdiam dengan ketakutan.


"Dia sudah pergi ke surga tapi dia tidak bilang kepadaku oleh karena itu aku akan menyusulnya," tangan mungil hantu itu menyusuri piano yang ada disebelahnya, terlihat seperti itu tapi sebenarnya dia tak bisa menyentuh piano itu, "Waktu aku masih hidup, aku sering bermain piano dengan ibuku tapi setelah aku mati aku tak bisa menyentuh piano lagi,"


Mike menelan ludah, dengan ketakutan dia menunggu apa yang akan dikatakan hantu itu.


Tangan kecil hantu itu masih menyusuri tuts piano tapi dia tak bisa menyentuhnya, "Sebelum aku pergi, aku ingin bermain piano untuk yang terakhir kalinya. Bisakah kau membantuku?"


Mike memberanikan diri bertanya,


"Ba...bagaimana?", suaranya gemetaran karena takut. Walaupun ekspresi hantu itu datar tapi dia tetap terlihat menakutkan.


"Aku tahu kau bisa bermain piano, mainkan sebuah lagu untukku," kali ini ada senyuman tipis yang menghiasi bibirnya.


Mike benar - benar ketakutan sekarang, dia mundur selangkah hendak pergi dari sana.


"Jangan takut, nanti aku tunjukan sesuatu untukmu. Sepenggal memori yang ingin aku ingat sebelum pergi, ini akan indah,"


Mike tidak tahu yang dia lakukan benar atau salah atau malah makin memperburuk keadaan, dengan gemetaran dia menghampiri piano dan duduk dikursinya. Grand piano ini jenis Parlor dengan lis kayu ber cat hitam, dia meraba tuts nya yang kokoh dan mengkilap.


Hantu itu sekarang tersenyum lepas, "Mainkan Piano Sonata No. 14, itu lagu yang sering aku mainkan bersama ibuku" dia tidak mempedulikan Mike yang ketakutan.


Tangan Mike masih gemetaran, dia merasa jarinya kaku karena dingin. Dia mencoba memainkan beberapa baris nada pertama tapi berhenti setelah itu.


"Kenapa?" tanya hantu itu.


"Tanganku sakit," dia merasakan sengatan perih ditelapak tangan kirinya yang dijahit ketika menekan tuts piano.


Hantu itu terlihat agak kecewa, "Pelan - pelan saja, aku tidak bisa pergi sebelum mendengar lagu itu, hanya kau yang bisa menolongku."


Sepertinya ini semakin buruk, dia khawatir hantu itu tidak akan pergi dan akan terus mengikutinya jika dia tidak memainkan piano ini, jadi dia menarik napas dan menghembuskannya lalu dia memainkan Sonata No. 14 sambil berusaha mengabaikan rasa sakit di tangan kirinya yang diperban.

__ADS_1


Hantu itu tersenyum, dia terlihat senang mendengar lagu tersebut. Kakinya terlihat bergerak perlahan dan sepatu baletnya yang mungil mengetuk - ngetuk lantai walaupun tak ada suara ketukan yang terdengar, seperti dia hendak berdansa tapi masih malu - malu, mungkin rona merah akan terlihat di pipinya jika dia masih hidup.


Beruntung hantu itu meminta lagu yang bisa dia mainkan. Mike melirik sepintas melihat hantu itu yang masih berdiri di depan Grand Piano dengan wajah ceria, ketika dia memainkan part 3 hantu itu perlahan bergerak dan menari. Sebuah tarian balet sederhana yang biasa di mainkan anak seusianya. Rok gaunnya yang berenda melambai - lambai ketika dia berdansa dan berputar.


__ADS_2