Der Kreuzer

Der Kreuzer
CHAPTER 7


__ADS_3

Pukul 10.15 PM saat ini, Ritter memutuskan kembali ke asramanya, dia sangat lelah karena emosinya yang tersulut seharian ini. Resto nya tutup pukul 10.30, dia pulang duluan dan membiarkan karyawannya membereskan dapur dan meja sebelum tutup.


Ritter membuka pintu utama resto nya dan disambut dengan hembusan angin dingin dimalam musim gugur ini. Dia bergidik dan merapatkan jaketnya. Tiba - tiba pandangannya terhenti pada seseorang yang tengah bersandar dimobilnya. Ritter memfokuskan pandangannya dan melihat siapa itu.


Ternyata itu Mike. Wajahnya terlihat lelah, matanya sayu mengantuk dan dia menguap.


Entah apa yang dia lakukan disitu, Ritter menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ritter.


Mike tampak terkejut melihat Ritter tapi matanya masih tetap mengantuk, "Hey Ritter, aku menunggumu disini,"


"Untuk apa kau menungguku?" tanya Ritter dengan heran. "Sudah berapa lama kau disini?"


Mike menguap lagi lalu menjawab, "Aku tidak ingat, sepertinya sudah beberapa jam berlalu,"


"Kenapa kau menungguku?"


Mike menunduk lalu dia menjawab dengan suara pelan, "Ada hantu dikamarku, aku takut dengannya."


Ritter tidak mendengar dengan jelas jawaban Mike,


"Apa?"


Mike menegakkan kepalanya, menatap Ritter dengan mata mengantuk dan menjawab, "Ada hantu dikamarku. Aku takut kalau sendiri jadi aku menunggumu disini."


Ritter terkejut mendengar jawaban Mike sekaligus heran. Apa Mike sedang bercanda? atau dia sedang membuat lelucon konyol dan tidak lucu untuknya? Sepertinya tidak, Mike terlihat serius, dia terlihat seperti habis berdiri lama disini, dia tidak memakai jaket dan sarung tangan, dia terlihat seperti anak kecil yang kepalanya terantuk - antuk menahan ngantuk. Dia berusaha menahan matanya agar tetap terbuka dan bahkan nyaris tertidur disitu.


"Kau ini benar - benar aneh. Ayo masuk ke mobil," kata Ritter. Mike mengangguk, Mereka masuk ke mobil. Mike duduk dikursi penumpang depan dan Ritter memasang sit beltnya.


"Dankeschon," jawab Mike dengan mengantuk.


Ritter menghela napas dan geleng - geleng kepala melihat kelakuan teman sekamarnya yang aneh. Dia masuk ke mobil dan menyalakan mesinnya. Dia hendak bertanya lagi kepada Mike tapi urung karena Mike tampaknya sudah tidur. Kepalanya terkulai dan mulutnya setengah terbuka. Ritter memperhatikan dengan seksama teman sekamarnya itu. Dia belum melihatnya sedekat ini sebelumnya, dia bahkan belum mengobrol dengannya. Mike itu kurus, hampir sekurus dirinya. Dia bahkan bisa melihat tulang selangkanya menonjol dari balik leher kaosnya. Rambutnya hitam pekat dengan poni berantakan yang menutup dahinya.


Pandangan Ritter beralih melihat tangan kanan Mike yang tampak memegang sesuatu. Ritter membuka genggaman tangan Mike, dia tidak bangun sama sekali ketika Ritter membuka genggaman tangannya. Sebuah gelang rosario yang salibnya terbuat dari kayu berwarna cokelat gelap yang indah.


Jadi Mike menunggunya berjam - jam didepan restonya sambil menggenggam rosario? ini mulai tidak terlihat seperti sebuah lelucon. Apakah benar - benar ada hantu dikamarnya? Lagipula jika ini hanya lelucon, untuk apa Mike menunggu lama disini tanpa jaket dan sarung tangan dan membawa rosario?


Ritter sejenak membayangkan keadaan kamarnya, selama dia tinggal disana dia tak pernah melihat atau merasakan yang aneh - aneh, apalagi sampai melihat hantu. Seumur hidup dia belum pernah melihat hantu, dia bahkan tidak yakin bentuk hantu itu seperti apa.


Ritter menghela napas dan memikirkan ini nanti, dia menjalankan mobilnya dan memutuskan berjalan - jalan sebentar ke Marktplatz karena Mike baru saja tidur. Dia membiarkan Mike tidur untuk beberapa saat dimobilnya sebelum kembali ke asrama.


Setelah setengah jam perjalanan, Ritter sampai di Markplatz. Ritter memarkirkan mobilnya dipinggir trotoar dekat Balai Kota Dusseldorf. Dia membuka sedikit jendela mobilnya dan sekelebat angin musim gugur berhembus membelai rambut keritingnya. Dia menyandarkan kepalanya sambil menikmati hembusan angin itu untuk beberapa saat.


Setelah itu Ritter keluar dari mobil, bersandar dan melihat - lihat pemandangan disekitarnya. Beberapa mobil masih terlihat melintasi jalan tersebut.


Ritter mengalihkan pandangannya menatap gedung Balai Kota yang ada disitu. Di Balai Kota itu terdapat 3 kompleks bangunan yang mewakili arsitektur dari 3 zaman. Pertama dibangun pada akhir tahun 1500an, kemudian dirancang ulang pada abad ke 18 dan abad 20. Disebelah utara terdapat Balai Kota lama. Arsitek Renaisans H. Tussmann merancangnya pada tahun 1570. Ciri khasnya yang paling menonjol adalah menara jam. Bangunan itu kemudian dirancang kembali dalam gaya Barok pada tahun 1749. Disebelahnya terdapat rumah Grupello yang di bangun pada tahun 1706 dan dirancang ulang dalam gaya neo-renaisans pada tahun 1880an, kini bangunan ini berfungsi sebagai balai sidang.


Meskipun Ritter sudah sering melihat Balai Kota ini tapi dia tetap saja terpesona setiap kali dia melihatnya. Entah sudah berapa lama Ritter berdiri disitu, dia sering berdiam diri di pinggir jalan dengan mobilnya dimalam hari sebelum kembali ke asrama. Dia perlu waktu dan tempat terbuka untuk berpikir, terkadang sampai tidak berasa waktu telah berlalu.


Ritter melihat jam tangannya dan melihat waktu menunjukan pukul 12.38 AM, benar - benar tidak terasa waktu telah berlalu. Ritter masuk kedalam mobil dan menutup pintunya. Ketika pintu ditutup,


Mike bergerak dan terbangun. Dia melihat pemandangan disekitar dengan mata yang masih mengantuk.


"Was ist das?" tanya Mike yang sedang melihat gedung Balai Kota dengan mata yang masih mengantuk.


"Itu gedung Balai Kota," jawab Ritter sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Kenapa pekerja bangunannya masih bekerja malam - malam begini?"


"Apa?" Ritter tidak yakin apa yang ditanyakan Mike, dia melihat kembali gedung Balai Kota dan tidak melihat ada pekerja bangunan digedung itu.

__ADS_1


"Mereka hebat, bisa membangun gedung itu tanpa penerangan,"


Ritter lagi - lagi memperhatikan kembali gedung Balai Kota itu, tak ada orang disana, tak ada pekerja banguanan, cahaya lampu LED yang terang menyinari gedung tersebut.


"Mike, gedung itu sudah selesai dibanguan tahun 1749. Kau ini ngantuk atau mabuk?" kata Ritter dengan heran.


Mike tidak menjawab, dia terlihat kembali mengantuk. Ritter menjalankan mobilnya,


"Kembalilah tidur, tak ada siapa - siapa disana. Kau cuma bermimpi,"


***


Mike membuka matanya perlahan dan melihat langit - langit kamar yang dia kenal betul. Dia ada dikamar asramanya. Sekilas dia melihat semburat sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela kamarnya lalu dia melihat jam dimejanya. 07.05 AM. Dia bangun dari tidurnya dan duduk sejenak, dia baru menyadari ada selimut yang menutup tubuhnya. Dia tidak ingat bagaimana dia bisa kembali kekamarnya tadi malam, dia tidak ingat memakai selimut dan dia juga tidak ingat melepas sepatunya, yang dia ingat adalah tadi malam dia berlari menuju restorannya Ritter karena ada hantu anak kecil dikamarnya. Hantu? itu membuatnya terlonjak kaget ketika dia teringat itu. Dia memperhatikan sekeliling kamarnya, tampaknya dia sendirian disini, tak terdengar ada suara orang lain dari balik tembok sebelah. Perlahan rasa takut kembali merayapinya, dia takut hantu itu datang lagi kesini.


"Ritter," panggil Mike. Tak ada jawaban. Dia jadi takut berada dikamarnya sendiri.


Mike teringat dengan gelang rosarionya. Dia ingat tadi malam dia membawanya, sekarang rosario itu tidak ada ditangannya dan tidak ada juga di saku celananya. Dia membuka selimutnya dan mencari rosario itu dikasurnya. Tidak ada.


Oh tidak, jangan sampai rosario itu hilang.


Tiba - tiba terdengar suara kunci pintu dibuka. Mike menahan napas sejenak dan menunggu siapa yang akan muncul dari balik pintu itu, pintu yang sama dengan pintu yang digedor - gedor oleh hantu kemarin.


Ritter muncul dari balik pintu itu sambil membawa bungkusan makanan. Mike menghembuskan napas lega melihat Ritter yang datang.


Ritter menatap Mike dengan heran, "Kau kenapa? seperti habis melihat hantu?"


"Yeah, aku memang habis melihat hantu. Kemarin," jawab Mike sambil merapikan selimutnya.


Ritter tertawa, "Kau habis minum berapa botol kemarin?", dia menutup pintu dan menguncinya.


"Aku tidak minum,"


"Oh aku pikir kemarin kau mabuk sehingga kau melihat yang aneh - aneh disini,"


Ritter duduk dikursi meja belajarnya Mike, "Okey, aku belum tahu banyak tentangmu. Kita satu kamar tapi baru kali ini kita ngobrol. Jadi...kau ini apa? semacam mahasiswa aneh yang bisa melihat hantu? Paranormal?"


"Aku bukan paranormal, tapi jika aku cerita mungkin kau tidak akan percaya."


"Tidak juga, sebenarnya aku sudah terbiasa dengan yang aneh - aneh. Ayah tiriku bahkan terobsesi dengan sebuah mitos yang tidak pernah ada. Jadi...kau benar - benar melihat hantu disini?"


"Iya, tidak hanya disini sebenarnya. Awalnya aku melihat hantu itu ada di danau lalu hantu itu mencariku sampai kesini,"


"Seperti apa hantu itu?"


"Anak kecil, laki - laki dengan gaya pakaian tahun 30an,"


"Apa dia mengatakan sesuatu?"


"Dia mengajakku bermain petak umpet,"


"Oh itu sebabnya kau kabur dari sini dan menungguku di restoranku?"


"Ya, bahkan aku keluar dari jendela karena hantu itu terus menggedor - gedor pintu itu,"


Ritter geleng - geleng kepala mendengarnya, "Aku belum pernah melihat hantu sebelumnya, jika bisa melihat, mungkin itu akan menyenangkan,"


"Itu sama sekali tidak menyenangkan. Untukku,"


"Apa kau sudah dari kecil seperti itu?"


"Tidak. Sebenarnya ini bermula setelah..." Mike tidak melanjutkan jawabannya, dia menatap foto dirinya dengan Jason yang ada dimeja disebelahnya. Ritter mengikuti arah pandangan matanya dan dia melihat foto itu.

__ADS_1


Ritter mengambil foto tersebut dan mengamatinya, "Ini kau dengan siapa?"


"Jason. Adikku."


"Dia di Jepang?"


"Tidak. Dia sudah meninggal,"


"Oh aku turut berduka cita," kata Ritter sambil meletakkan kembali foto itu. "Dia meninggal kenapa? sakit?"


Mike tidak menjawab itu, dia kembali mencari rosarionya, "Apa kau melihat rosarioku? sepertinya aku bawa itu tadi malam,"


"Aku taruh itu dibawah bantalmu,"


Mike mengangkat bantalnya, dia melihat gelang rosarionya disitu lalu dia mengambil dan memakainya. Dia bernapas lega sejenak karena dia sudah menemukan kembali rosarionya.


"Kau menaruh ini dibawah bantalku? aku bahkan tidak ingat bagaimana bisa kembali kekamar ini, ngomong - ngomong kau membawaku kemana tadi malam?"


"Ke Balai Kota,"


"Oh yeah aku ingat, Gedung besar yang sedang dibangun itu,"


"Memang apa saja yang kau lihat disana?" Ritter agak kaget mendengar jawaban Mike, dia mengira Mike sedang ngelindur ketika itu mengatakan itu tadi malam dimobilnya.


"Banyak pekerja bangunan yang membangun gedung itu hanya dengan peralatan sederhana. Maksudku disana tidak ada excavator ataupun crane, kau bisa bayangkan itu berapa lama bangunan itu akan selesai,"


Ritter terdiam sesaat, "Sepertinya kau melihat hantu lagi disitu,"


"Apa? Benarkah?"


"Mike, gedung Balai Kota itu sudah selesai dibangun sejak tahun 1749,"


Sekarang Mike yang terdiam, dia tidak menyangka penampakan yang dia lihat semakin masiv. Dia tidak menyangka akan semakin sering melihat hantu dari hari ke hari. Ini sepertinya mulai tidak beres, apa yang terjadi padanya?


Ritter bangkit berdiri dari kursinya, "Sudahlah, lupakan itu. Ini aku bawakan kau sarapan," kata Ritter sambil menaruh bungkusan makanan yang dia bawa tadi.


"Dankeschon," jawab Mike dengan pelan karena pikirannya masih berputar. Dia takut ada sesuatu yang buruk pada dirinya dan dia tidak menyadarinya.


Ritter berjalan kekamarnya dan bicara dari balik tembok, "Apa rencanamu hari ini?"


Mike tersadar dari pikirannya, dia menghela napas sejenak dan menjawab, "Aku ada interview kerja di Think's Art,"


Ritter kembali lagi ke kamar Mike, "Think's Art yang didekat restoran ku?"


"Iya, kau tahu toko itu?"


"Iya, bahkan aku kenal pemiliknya. Carel Errando,"


"Bagaimana kau bisa kenal dengannya?"


"Dia seniorku ketika aku baru masuk dikampus ini, dan sekarang aku satu band dengannya,"


"Kau punya band dengannya?"


"Iya, aku sering latihan di malam hari sebelum kembali ke asrama, kita membuat musik yang bagus, lirik yang dalam dan berarti, anggota band yang gila, sepertinya ini band terbaik yang pernah aku ikuti,"


"Wow, setidaknya aku sudah tahu bagaimana calon bosku sebelum aku bertemu dengannya,"


"Yeah, tenang saja, dia orangnya baik," jawab Ritter sambil melangkah kembali ke kamarnya.


Ritter membuka kaca jendela kamarnya dan menikmati pemandangan pagi halaman kampus. Tidak sepenuhnya menikamti sebenarnya, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Entah kenapa dia jadi teringat yang diucapkan oleh ayah tirinya, tentang Der Kreuzer. Dia ingat Darek pernah bilang bahwa tanda - tanda kedatangan Der Kreuzer biasanya berhubungan dengan kedatangan orang baru, orang itu bisa melihat hantu dan ada kasus kerasukan yang terjadi. Apakah benar seperti itu? Jika memang itu benar, maka tanda - tanda itu ada pada Mike.

__ADS_1


Mike orang baru disini, dia bisa melihat hantu dan kemarin kabarnya ada kasus kerasukan di St. Maximilian.  Apakah dia...Der Kreuzer?


Ritter menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran tersebut. Dia tak mau berkesimpulan seperti itu, dia mulai terdengar seperti ayah tirinya. Mungkin ini cuma kebetulan atau... mungkin sebaiknya dia lihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


__ADS_2