Der Kreuzer

Der Kreuzer
CHAPTER 6


__ADS_3

"Kau tahu apa yang terjadi saat aku di St. Maximilian tadi malam?" tanya Darek yang saat ini tengah berada di restoran Im Schiffchen bersama Justus


"Tidak, ceritakan padaku," jawab Justus yang duduk dihadapan Darek.


"Ada biarawati yang kerasukan disana,"


"Benarkah? terjadi di St. Maximilian?"


"Benar. Kau tahu, jika ada kasus kerasukan di tempat ibadah itu biasanya menandakan bahwa tempat itu tidak suci lagi atau..."


"Atau apa?"


"Mungkin pertanda kedatangan Der Kreuzer,"


"Apa? bukankah terlalu dini untuk kesimpulan itu? bisa saja ini hanya kasus kerasukan biasa."


"Entahlah,"


"Apakah ada kerasukan lagi setelah biarawati itu?"


"Tidak. Belum ada."


"Lalu apa yang selanjutnya terjadi pada biarawati itu?"


"Dia sudah tidak apa - apa sekarang, setelah dilakukan exorcise oleh pastur setempat,"


"Apakah exorcise nya berjalan lancar?"


"Iya. Tidak ada gangguan apapun, setan yang merasukinya pun segera hilang setelah itu,"


"ini belum tentu Der Kreuzer, jangan berpikiran buruk dulu."


"Iya, Pastur Hendrik juga berpikiran seperti itu, masih terlalu dini untuk menyimpulkan ini tanda - tanda kedatangan Der Kreuzer,"


"Apakah seburuk itu tanda - tanda kedatangannya? seperti kedatangan Anti Christ?"


"Hampir seperti itu, tak hanya yang hidup yang terkena imbasnya tapi mereka yang mati juga takut padanya."


Justus menelan ludah, "Well, jika memang seperti itu yang terjadi nantinya, kau harus segera temukan orangnya sebelum menjadi lebih buruk."


"Ya, sudah seharusnya seperti itu,"


"Ngomong - ngomong jika nanti kau temukan orangnya, apa yang akan kau lakukan


kepadanya? meng-exorcise nya?"


"iya, jika masih bisa."


"Jika tidak?"


"Ada dua cara terakhir untuk menghentikannya, dibakar atau ditenggelamkan."


Justus menelan ludah lagi, "Mengerikan sekali, lalu bagaimana kalau ternyata Der Kreuzer itu salah satu dari kenalan kita, murid kita atau bahkan keluarga kita? Apakah cara itu juga berlaku?"


"Ya, tidak pandang siapapun itu orangnya."


Pembicaraan mereka terhenti ketika seorang pelayan menghampirinya, "Apakah sudah siap memesan?"


"Aku pesan 2 Falscher Hase," jawab Darek. Pelayan itu mengangguk dan hendak kedapur tapi ditanya kembali oleh Darek, "Oh iya, apakah Ritter ada?"


"Ada pak, ada yang mau disampaikan?"


"Tolong panggilkan dia, ada yang mau aku bicarakan dengannya,"


"Baik pak," jawab pelayan itu lalu dia pergi ke dapur.


Justus berkata, "Kau tahu, aku sudah dua kali makan disini, yang sebelumnya aku tidak tahu jika restoran ini milik salah satu muridku. Aku tidak menyangka seusianya mampu mengelola resto bintang 4 seperti ini."


"Iya, dia memang hebat, aku bangga kepadanya,"


***


"Kau lihat ini? Apa ini yang kau sebut setengah matang? Coba kau belah daging ini," seru Ritter yang sedang kesal dengan Pepin salah satu juru masaknya yang hendak menyajikan steak buatannya. Dengan ketakutan Pepin membelah daging  steak tersebut dengan pisau, terlihat sudah tidak ada warna merah ditengah bagian dalam dagingnya dan itu artinya daging itu matang.


"Kau tahu apa itu steak setengah matang?"


"Yes Chef," jawab Pepin sambil menunduk, tidak berani bertatap mata dengan Ritter.


"Lalu ini apa?"


"Ini  matang , Chef."

__ADS_1


"Aku bahkan bisa tahu jika ini matang hanya dengan tampilannya, apa customernya meminta steaknya matang?"


"Tidak, chef."


"Kenapa kau membuatnya seperti ini?"


"Maaf Chef, saya kurang konsentrasi."


"Kau tahu siapa yang memesan steak ini?"


"Salah satu anggota parlemen, Chef."


Ritter tidak menjawab, dengan menggebrak meja dan membuat beberapa pisau, garpu dan sendok bergetar dan jatuh bergemerincing ke lantai. Ini membuat suasana dapur menjadi senyap sesaat, jika sudah seperti ini para pekerja dapur tidak ada yang berani menjawab atau menatap Ritter, itu hanya akan membuat suasana dapur yang panas karena kompor dan panggangan menjadi tambah panas lagi.


"Rupert, kau gantikan Pepin," Ritter berteriak sambil menatap tajam Rupert yang sedang membuat kuah sop. Tanpa bersuara mereka pun segera bertukar tempat.


Salah satu juru masak ada yang berbisik ke salah satu temannya yang ada disebelahnya, "Kenapa belakangan ini suasananya seperti di The Hell's Kitchen disini?"


"Iya, dia semakin emosi dari hari ke hari. Memang Pepin melakukan kesalahan tapi seharusnya dia tak perlu teriak - teriak seperti itu juga." jawab temannya yang satu lagi.


"Siapa yang bisa tahan jika seperti itu?"


"Apa itu alasan Arvin tidak masuk beberapa hari ini?"


"Entahlah, bisa saja. Berat menjadi asisten chef disini."


Seorang pramusaji masuk ke dapur dan menghampiri Ritter yang sedang mengawasi bagian deep fry. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi ragu - ragu begitu melihat ekspresi Ritter yang berkerut kesal.


"APA?" tanya Ritter dengan suara keras sehingga membuat pramusaji itu terlonjak kaget.


"Ayah mu ada disini, di..dia mau memesan 2 Falscher Hase dan...katanya dia mau...bicara denganmu," jawab pramusaji itu dengan takut.


"Oh...jangan lagi." jawab Ritter sambil melepas celemek nya dan membuka pintu dapur dengan keras sehingga membuat para pekerja dapur menahan napas sejenak.


Ayah tirinya sebenarnya jarang makan disini. Terakhir dia kesini beberapa bulan yang lalu bersama ibunya dan biasanya mereka akan mengabarinya dulu sebelum datang. Tapi kali ini Darek tiba - tiba datang, entah dengan siapa dan entah apa yang akan dia bicarakan.


Ritter melihat Darek duduk didekat jendela bersama seseorang, posisi mereka agak jauh dari meja anggota parlemen yang sedang makan disana. Ritter belum melihat dengan jelas siapa yang bersama dengan Darek sebelum dia menghampiri mejanya. Ternyata dia bersama dosen hukumnya, Justus Hewett.


"Ritter, mein sohn. Wie gehts" tanya Darek.


"Hey Darek, ich bin gut, ada apa?" tanya Ritter yang masih berdiri didekatnya.


Justus berdiri dari kursinya, "Restoran yang bagus, Ritter. Ngomong - ngomong aku mau ke toilet sebentar," katanya lalu dia pergi ke toilet, mungkin dia tidak enak berada disana sambil mendengarkan pembicaraan pribadi antara anak dan ayah tirinya.


"Sepertinya resto mu semakin hari semakin maju, aku bangga kepadamu." Ritter tidak menjawab, dia hanya menatap taplak putih dimejanya.


"Aku lihat ada anggota parlemen yang makan disini, itu bagus. Aku harap suatu saat nanti Kanselir Jerman Angela Merkel akan datang kesini."


Ritter menghela napas lagi, lalu dia bertanya, "ada apa Darek?"


"Aku mau bertanya kepadamu? apakah ada mahasiswa baru di asramamu?"


Ritter terdiam sejenak, dia menatap Darek dengan tajam, "Apa inti pembicaraan ini?"


"Kau tahu persis apa yang aku maksud, aku hanya bertanya, apakah ada mahasiswa baru di asrama?"


"Kenapa kau tidak cari tahu dari pihak administrasi kampus?"


"Aku tak punya kenalan dekat di bagian administrasi, mereka tidak akan sembarangan menjawab itu kepada orang lain, bahkan kepada dosen sekalipun."


Ritter menghela napas lalu menjawab, "Ada,"


"Siapa?"


"Banyak, kampus itu kan selalu kedatangan mahasiswa baru. Aku tidak tahu siapa saja orangnya."


"Aku perlu bantuanmu, bisakah kau menyelidiki siapa saja orangnya?"


"Aku tanya sekali lagi kepadamu Darek, apa intinya ini?"


"Aku jawab sekali lagi kepadamu, kau tahu persis apa yang aku maksud,"


"Tidak. Aku tidak tahu,"


"Tadi malam ada biarawati yang kerasukan di St. Maximilian, aku khawatir ini tanda - tanda kedatangan Der Kreuzer. Aku pernah bilang kepadamu kalau munculnya Der Kreuzer berhubungan dengan kedatangan orang baru."


"Itu tidak berarti apa - apa,"


"Itu bisa berarti sesuatu, kerasukan di lingkungan gereja itu jarang terjadi,"


"Tetap saja itu tidak berarti apa - apa, mungkin itu hanya kebetulan,"

__ADS_1


"Awalnya aku juga tidak mau langsung berkesimpulan seperti itu, tapi setelah itu aku makin khawatir kasus kerasukan ini akan berlanjut,"


Ritter berdecak kesal, "Darek...hentikan ini,"


"Ritter, ini untuk keberlangsungan kehidupan di Dusseldorf dan mungkin untuk keseluruhan Eropa,"


"Darek, hentikan ini... tolonglah,"


Darek terdiam, ekspresi wajahnya melunak membuat


kerutan tua diwajahnya semakin terlihat, dia menatap Ritter dan menunggu apa yang akan dikatakannya.


"Darek, kau harus hentikan ini. Ini hanya mitos, hanya sebuah cerita omong kosong yang terjadi tahun 1600an ketika seorang raja membuat perjanjiannya dengan iblis,  itu tidak berarti apapun."


Darek masih terdiam, menghela napas sambil dia mengusap - usap dahinya.


"Kau sudah habiskan 20 tahunmu untuk mencari sesuatu yang tidak ada, kau sia - siakan umurmu begitu saja. Darek, kembalilah kedunia nyata. Pikirkan tentang ibu, tentang keluargamu...dan...tentangku. Apakah kau pernah berpikir tentangku?"


Darek agak terkejut mendengarnya, dia tidak menyangka Ritter berkata seperti itu. Itu membuatnya seperti menyadari sesuatu. Dia pikir selama ini Ritter menghindarinya karena mungkin Ritter merasa tidak ada yang bisa menggantikan ayah kandungnya dan kesal karena kasus Der Kreuzer ini, tapi mungkin sebenarnya karena Darek kurang memberi perhatian kepadanya.


"Oh Ritter, maafkan aku. Aku tidak bisa menggantikan ayahmu, aku juga tidak bisa sebaik beliau tapi aku berjanji akan berusaha sebaiknya untuk keluarga kita."


"Darek, bukan seperti itu caranya. Hentikan semua omong kosong tentang Der Kreuzer sialan ini,"


Darek terdiam sejenak lalu dia menggeleng,


"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa hentikan yang satu ini,"


Ritter tidak menjawab, dia terlihat kesal dan kecewa lalu dia berdiri dan berjalan kembali menuju dapur tanpa mengatakan sepatah katapun untuk Darek.


Darek menghela napas untuk menenangkan diri, dia menyandarkan kepalanya ditangannya. Selang beberap detik kemudian Justus kembali dari toilet dan duduk kembali dihadapan Darek.


"Kelihatannya pembicaraannya menyenangkan dan berjalan lancar," kata Justus dengan sarkas. Darek hanya menjawab dengan senyuman sedih yang terpancar di wajah tuanya.


***


Di sore yang mulai gelap dan berangin ini, Mike tengah berbaring telentang dikasur dikamar asramanya. Dia tidak tidur, hanya memejamkan mata untuk menenangkan diri setelah tadi dia melihat hantu didanau kampus. Dia yakin itu hantu. Dia sedang tidak bermimpi atau berhalusinasi, dia sadar betul waktu itu. Dia tidak menyangka dia melihat hantu lagi disini. Lagi? ya, dia sudah 2 kali melihat hantu. Pertama kali dia melihat hantu ketika dia di Jepang, berwujud menyeramkan dan membuatnya merinding jika mengingatnya. Dia melihat itu ketika...tidak, dia tidak mau mengingatnya.


Mengingatnya lagi hanya akan membuatnya bergidik ketakutan dan mungkin tidak bisa tidur dimalam hari.


Suara getaran handphonenya menyadarkan lamunannya. Dia mengambil ponselnya yang ada didekat bantal dan melihat sebuah nomor yang belum dia kenal di layar ponselnya.


"Hello?"


"Guten nachmittag, ist das Tadashi?"


"Ja, wer ist das?"


"Aku Carel Errando dari Think's Art. Aku sudah baca


form lamaran pekerjaan yang kau isi, aku tertarik dan hendak bertemu denganmu, kapan kira - kira kau bisa datang lagi kesini?"


"Oh iya, sepertinya aku bisa kesana besok pagi jam 10,"


"Gut, aku tunggu kehadiranmu, terima kasih,"


"Terima kasih," Mike menutup ponselnya dan melemparnya ke kasur.


Akhirnya ada yang membuatnya lupa sejenak mengenai hantu. Jika dia diterima kerja disana, ini bisa mengalihkan ingatannya yang terkadang mengalami flash back mengingat kejadian tragis di Jepang yang menimpanya. Sepercik semangat mulai merayapi dirinya. Mike bangun dari kasurnya dan hendak mandi. Tiba - tiba suara ketukan keras terdengar dipintu kamarnya. Siapakah itu? Apakah Ritter? Tapi dia kan punya kunci.


Mike menghampiri pintu dan membuka kuncinya. Dia membuka pintunya pelan - pelan dan melongok melihat ke sekeliling koridor kamar asrama ini. Tidak ada siapa - siapa. Ini aneh, terlalu sepi diluar, biasanya ada beberapa orang yang lalu lalang di koridor ini. Tapi ini benar - benar kosong, tak ada orang lewat, tak ada suara apapun dan bahkan udara dikoridor ini terasa pengap dan berat. Lalu tadi siapa yang mengetuk pintunya?


Mike menutup pintunya dan bersandar dipintu.


Jangan - jangan hantu yang mengetuk pintu kamarnya? Oh tidak, tidak lagi. Itu pasti hanya orang lewat yang iseng mengetuk pintu kamarnya.


Mike memberanikan diri membuka pintunya lagi dan melihat diujung koridor dekat pintu masuk asrama. Tubuhnya merinding dan jantungnya berdetak keras di dadanya. Hantu anak kecil yang tadi didanau ada disitu, menatapnya dengan tajam dan berjalan perlahan kearahnya. Kaki hantu itu bahkan tidak menapak ke lantai koridor dan tidak ada bayangannya ditembok dan dilantai.


Mike menutup pintu dan menguncinya, dia merosot duduk dan bersandar dipintu. Ketakutan benar - benar menguasai dirinya, lututnya lemas, dia gemetaran dan jantungnya berdetak keras. Bagaimana mungkin hantu itu masih mengejarnya sampai kesini?


Mike memejamkan matanya, melipat jari - jarinya yang gemetaran kebawah dagunya. Dia berdoa dengan suara yang bergetar karena takut. Ketika dia masih berdoa, pintu dibelakangnya digedor - gedor lagi lebih keras dari sebelumnya bahkan pintunya sampai bergerak karena gedoran itu. Mike berusaha sekuat tenaga untuk tetap berdoa walaupun sedang dilanda ketakutan yang luar biasa.


Dia menyelesaikan doanya dan membuat tanda salib sambil menahan pintu yang bergetar dengan punggungnya karena gedoran dibelakangnya. Setelah itu tiba - tiba menjadi hening dan gedoran pintunya berhenti.


Mike masih terengah - engah dan gemetaran. Dia mencoba menenangkan diri sambil berharap hantu itu sudah pergi tapi dia tidak berani melihat kembali keadaan diluar kamar ini. Mike menarik dan menghembuskan napasnya untuk menenangkan jantungnya yang masih berdebar - debar.


Mungkin hantu itu sudah pergi, karena hening sekali disini dan udara dikamar ini mulai terasa berat.


Oh tidak, tidak...tidak...


Yang dikhawatirkannya terjadi, dia mendengar suara anak kecil berbisik pelan ditelinga kanannya, "Kau mau bermain petak umpet denganku?"

__ADS_1


Sekuat tenaga Mike memaksa lututnya yang lemas untuk berdiri dan berlari menuju mejanya, membuka lacinya dan mengambil gelang rosario dan menggenggamnya dengan erat. Dia naik ke meja, memanjat ke jendela dan pergi dari kamarnya. Dia berlari sekencang mungkin dan tidak mau memikirkan apa yang akan dilakukan hantu itu dikamarnya.


__ADS_2