Der Kreuzer

Der Kreuzer
CHAPTER 26


__ADS_3

Mike terbangun, tapi dia tak kuasa membuka matanya, kelopak matanya terasa berat. Dia merasa badannya sakit, tulangnya ngilu dan napasnya berat terengah - engah. Dia merasa ada kain basah di dahinya tapi sepertinya itu tidak terlalu membantunya. Awalnya dia merasa kedinginan saja tapi sekarang dia juga merasakan panas dikepala dan lehernya, seperti terasa panas dan dingin dalam satu waktu.


Dia bergerak perlahan dan berbaring dengan sisinya, kain basah di dahinya perlahan jatuh ke bantal. Dia meringkuk di balik selimut tapi rasanya sama saja, seluruh badannya terasa sakit. Dia jadi bingung, sepertinya pikirannya berputar - putar sekaligus mengambang, dia jadi tidak ingat kenapa dia bisa sakit seperti ini, pikirannya hanya fokus mencari kenyamanan untuk tubuhnya yang sakit, kenyamanan yang tak kunjung ditemukan.


Mike perlahan telentang kebali, setiap gerakan membuat badannya sakit dan tulangnya ngilu, dia merintih. Tak lama setelah itu dia merasakan kain basah kembali diletakkan di dahinya. Mike mengerahkan sisa tenaganya untuk membuka matanya, pandangannya terlihat kabur, dia melihat Ritter duduk di sampingnya, dia terlihat tersenyum tapi senyumnya sedih, baru kali ini dia melihat Ritter seperti itu. Kenapa dia seperti itu? Mike tidak mengerti. Namun ada sesuatu yang menarik, sesuatu yang menarik perhatiannya di langit - langit, hal itu sepertinya membuat Ritter khawatir karena Mike mendongak menatap lama sesuatu diatasnya seperti seseorang yang hampir sawan.


Ritter membelai rambut Mike, "Hay, apa yang kau lihat?" Dia bertanya dengan suara lembut.


"Ada...sesuatu...di atas..." jawab Mike yang napasnya terengah - engah, dia tidak terlihat ketakutan dengan sesuatu di atasnya tapi kurang lebih seperti terpesona.


"Apakah itu hantu?" Ritter masih membelai rambut mike dengan lembut.


"Itu...pohon natal,"


"Apa?"


"Itu...dengan hiasan yang indah...dan banyak hadian di bawahnya,"


"Maksudmu ada pohon natal di atas sana?"


"Yeah...bahkan sekarang turun salju...apa aku tertidur hingga natal?" Mike mengangkat tangan kanannya perlahan hendak meraih serpihan salju yang turun di atasnya, namun Ritter meraih tangannya dan menahannya di atas dadanya.


"Tidurlah kembali, kau hanya bermimpi," Ritter said.


"No Ritter, itu sungguhan...apakah rambutku sudah tertutup salju?" Mike bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pohon natal yang di atasnya.


"Mike, kau hanya bermimpi,"


"Tidak, pohon natal itu sungguh ada di atas sana...it's so beautiful...apakah aku bisa pergi kesana?"


Ritter menahan tangan kanan Mike yang hendak terangkat lagi, "Tak ada apa - apa di atas sana. Itu hanya langit - langit. Itu hanya halusinasi karena kau sedang demam."


"Tapi itu terlihat nyata," menatap pohon natal dengan hiasannya yang gemerlap di atas sana membuatnya terbuai, tapi tiba - tiba pandangannya jadi gelap, dia merasakan telapak tangan Ritter menutup kedua matanya, dia jadi kesal, dia ingin marah, dia ingin bangun dan meloncat keatas sana, ketempat pohon natal itu berada dan sembunyi di sana selamanya tapi dia tak kuasa menggerakkan tubuhnya seperti ada tangan tak terlihat yang menahannya agar tubuhnya tetap rebah.


"Ritter...bisakah kau singkirkan tanganmu?" Mike whispered.


"Aku akan singkirkan tanganku jika kau memejamkan matamu dan kembali tidur."


"..."

__ADS_1


"Mike?"


"...Okay..."


"Jangan melihat lagi ke atas, tak ada apa - apa disana." Ritter perlahan menarik tangannya.


Tapi Mike tak bisa memejamkan matanya dengan nyaman, badannya sakit dan kepalanya pusing. Bagaimana dia bisa tidur jika seperti ini? Sepertinya pikirannya berputar - putar, dia tidak bisa mengingat kenapa dia bisa seperti ini atau bahkan dia tak bisa mengingat siapa dirinya.


Mike berbisik dengan mata terpejam, "Aku tidak bisa tidur, badanku sakit," Dia merasakan kain basah didahinya diambil dan diganti dengan telapak tangan.


"Hell...you fucking burn," kata Ritter tapi Mike tak bisa menangkap dengan jelas apa yang Ritter tadi katakan, suaranya seperti terdengar di dalam air. Tak lama setelah itu, dia merasakan sepasang tangan yang membangunkannya dan menahan punggungnya dalam posisi duduk. Oh God...kepalanya benar - benar pusing dan berat, sekarang dia malah tak kuat membuka kedua matanya untuk melihat apa yang terjadi. Dia merasakan dua tablet obat dimasukan ke mulutnya dan gelas berisi air dipaksa ke mulutnya sehingga dia menelan airnya. Air segar yang mengalir ke perutnya membuatnya merasa lebih baik.


"Jika besok kau tidak membaik, aku akan membawamu kerumah sakit." Ritter merebahkan Mike perlahan.


"No way..." dia meringkuk dibalik selimut menghadap dinding.


"but you fucking burn." Dia merasakan punggungnya diusap - usap oleh Ritter dan membuatnya merasa nyaman dan mengantuk. Dia menjawab tapi hanya suara gumaman dan rintihan yang keluar dari mulutnya, entah obat apa yang tadi diberikan oleh Ritter tapi obat itu bereaksi cepat, pikirannya berhenti berputar dan tiba - tiba terasa kosong dan perlahan membawanya jatuh tertidur.


***


Setelah yakin Mike sudah tidur kembali, Ritter menghembuskan napas lega dan kembali ke mejanya. Saat ini pukul 2 pagi dan dia sedang membaca copian jurnal milik Darek. Jurnal tersebut berisi catatan perjalanan dan penelitian mengenai Der Kreuzer yang Darek kerjakan bersama pihak gereja. Catatan itu dimulai tahun 1977. Catatan itu juga disertai potongan - potongan koran dari puluhan tahun yang lalu dan foto 2 mayat mengenaskan yang diduga sebagai Der Kreuzer. Mayat pertama hangus terbakar dan yang kedua tenggelam di bak mandi.


Ritter meletakkan pulpennya dimeja dan menoleh melihat Mike yang tidur di tempat tidur disampingnya. Entah kenapa dalam hatinya tiba - tiba berdesir sebuah niatan. Dia seperti ingin melakukan sesuatu, sesuatu untuk mengakhiri ini semua dengan segera, kenapa tidak dia lakukan sejak sebelumnya?


Ritter menatap punggung Mike yang meringkuk dibalik selimut. Dia bisa melihat gerakan napasnya yang pelan, dia benar - benar terlihat rapuh saat tidur, itu akan memudahkan Ritter untuk melakukannya.


Melakukan apa? Menurutmu apa?


Dia merasa terjepit, semua ini benar - benar membuatnya stres. Ingatannya kembali ketika setan yang merasuki Odile bicara kepadanya, setan itu mengatakan Ritter memilih untuk menyimpan wabah itu maka dia juga akan terkena dampaknya. Setan itu benar. Ritter meraba kembali lehernya yang memar, dia memang terkena dampaknya.


Damn it! Apa yang dia pikirkan?


Ritter melempar pulpennya ke tembok, dia menyandarkan kepalanya dilengannya sambil meredakkan emosinya. Apa yang dia pikirkan tadi? Membunuh Mike? Dia memang bisa melakukannya sekarang juga tapi...ah **** that, apa dia terprovokasi oleh setan sekarang? Dia harus tetap teguh pada pendiriannya, dia sudah berjanji dia akan mengakhiri ini semua tanpa ada korban jiwa.


Entah bagaimana itu caranya?


Ritter sesaat merasa buntu, dia menutup copian jurnal tersebut dan berjalan menuju kamarnya. Dia ingin melepas keruwetan dipikirannya dan kegundahan dihatinya. Hanya untuk sesaat sebelum dia mulai berpikir lagi dan menghadapi segala kegilaan yang ada.


Dia mengambil gitarnya dan duduk ditempat tidurnya sambil bersandar pada dinding. Dia memainkan lagu dari Robbie Williams yang berjudul Angels, dia menyukai lagu tersebut karena liriknya yang indah seperti puisi.

__ADS_1


I sit and wait


Does an angel contemplate my fate


And do they know


The places where we go


When we're grey and old


'Cause I have been told


That salvation lets their wings unfold


So when I'm lying in my bed


Thoughts running through my head


And I feel the love is dead


I'm loving angels instead


And through it all she offers me protection


A lot of love and affection


Whether I'm right or wrong


And down the waterfall


Wherever it may take me


I know that life won't break me


When I come to call, she won't forsake me


I'm loving angels instead


Sejenak dia merasa tenang mendengar alunan melodi gitar akustiknya dan terhibur mendengar suaranya sendiri. Ritter menyelesaikan lagu tersebut sambil berharap Mike tidak terbangun mendengar suaranya. Setelah itu Ritter meletakkan gitarnya dikasur lalu dia menyandarkan kepalanya di tembok sambil menghela napas.

__ADS_1


"Come on Ritter, you have to strong." dia berujar untuk dirinya sendiri, dia jarang melakukan itu tapi jika sedang terjebak dalam kesulitan seperti ini, it would be nice to say.


__ADS_2