
Ritter tengah menatap langit jingga yang mulai redup karena semburat sinar matahari mulai menghilang dibalik awan dan matahari mulai terbenam perlahan menuju garis horizon. Garis horizon yang tidak terlihat karena tertutup oleh bangunan dan deretan pohon maple. Saat ini pukul 5 dan matahari sudah mulai terbenam padahal sekarang baru awal bulan oktober. Sepertinya musim dingin datang lebih cepat tahun ini.
Setelah mengikuti beberapa kelas tadi siang, Ritter memutuskan beristirahat sejenak. Dia menyandarkan kedua sikunya di bingkai jendela sambil melihat pemandangan matahari terbenam. Dihadapannya adalah lapangan rumput luas dengan danau buatan dimana ada beberapa mahsiswa yang juga beristirahat dipinggir danau sambil menikmati matahari terbenam. Setelah kelas selesai seharusnya dia langsung pergi ke restoran. Dia sebenarnya jarang pergi restorannya kecuali jika untuk mengawasi atau memasak langsung khusus untuk tamu spesial. Ritter pandai memasak terutama masakan khas Eropa. Dulu dia berencana untuk ikut audisi acara Master Chef tetapi akhirnya tidak jadi karena waktu itu dia mendapat musibah. Ayahnya meninggal karena kecelakaan. Ayahnya mewariskan restorannya kepada Ritter dan dia berhasil mengelola dan mengembangkan restoran itu bahkan saat ini telah menjadi salah satu restoran favorit di Dusselford.
Ritter menghela napas dan menepis ingatan masa lalu dari pikirannya. Ketika dia hendak beranjak, sebuah suara yang sudah dia kenal memanggilnya.
"Ritter, mein sohn," kata Darek sambil menepuk pundak Ritter.
Ritter menghela napas lagi dia tak menyangka bertemu dengan ayah tirinya disaat seperti ini. Walaupun mereka satu kampus tapi mereka jarang bertemu.
"Hey Darek," jawab Ritter yang tidak mengalihkan pandangannya dari danau depannya.
"Schon dich hier zu sehen, aku sudah 8 tahun mengajar disini dan kau sudah hampir 4 tahun kuliah disini tapi kita jarang bertemu," kata Darek.
"Aku agak sibuk," jawab Ritter yang masih tidak menatap Darek.
"Kau juga sudah lama tidak datang kerumah," kata Darek sambil menyandarkan sikunya juga dibingkai jendela disebelah Ritter.
Ritter tidak menjawab.
"Jika weekend nanti kau tidak sibuk, datanglah kerumah. Ada acara pesta kebun untuk merayakan ulang tahun pernikahan ke 20 kami," kata Darek.
Ritter masih tidak menjawab.
__ADS_1
"Suatu kehormatan buat kami jika kau juga memasak menu spesial untuk acara nanti. Ibumu pasti akan senang jika kau datang, dia sangat suka masakan buatanmu."
Ritter menoleh menatap ayah tirinya. Menatap wajah tuanya dan baru menyadari banyaknya kerutan yang menghiasinya. Rambutnya juga sebagian besar telah memutih dan sedikit bagian yang masih berwarna kelabu dipelipisnya. Ritter menghela napas dan berkata, "Baiklah, aku akan datang."
Senyuman hangat langsung menghiasi wajah tua Darek. "Das ist mein junge," katanya lalu dia berbalik dan pergi.
Setelah Darek berbelok diujung koridor dan menghilang dari pandangan Ritter, dia melangkah menyusuri koridor, keluar menuju halaman depan kampus. Sesampainya dihalaman depan, dia langsung disambut dengan hembusan angin dingin musim gugur dan beberapa daun Maple kering yang terbang kearahnya tertiup angin. Beberapa temannya yang masih ada disekitar menyapanya ketika berpapasan dengannya, Ritter membalasnya dengan senyuman saja. Dia merapatkan jaketnya dan berjalan menyebrangi halaman depan kampus yang dipenuhi rontokan daun maple. Dia hendak pergi ke restorannya dengan mobilnya, hanya saja mobilnya tidak diparkir dikampus. Pihak kampus tidak mengijinkan mahasiswa yang tinggal di asrama membawa mobil, jadi Ritter memarkirkan mobilnya disebuah tanah kosong yang disewakan warga setempat untuk parkiran.
Ritter masih menyusuri halaman depan kampus ketika dia melihat seorang pria berwajah setengah asia setengah Amerika, rambut hitam shaggy yang poni nya hampir menutupi dahinya dan memakai scraf cokelat motif square. Dia tengah membaca dengan serius beberapa lembar kertas yang Ritter hapal betul kertas apa itu, kertas administrasi terdaftar di kampus ini. Ritter menghampiri pria tersebut, matanya sekarang tertuju pada ransel dan 1 buah koper yang diletakan didekat kakinya.
"Hey, kau mahasiswa baru disini? Kann ich dir helfen?" tanya Ritter.
"Ja, aku sedang mempelajari denah kampus dan mencari asrama putra," jawabnya.
"Dankeschon," jawabnya sambil memakai ranselnya dan menyeret kopernya.
Ritter menghela napas dan melanjutkan perjalanannya sambil berharap orang tadi tidak menjadi teman sekamarnya.
Setelah beberapa menit menelusuri halaman depan kampus, Michael sampai didepan 'gedung jelek dengan cat abu putih' yang dimaksud orang tadi. Mungkin disebut jelek karena bangunan ini agak berbeda dengan gedung utama kampus dan asrama putri.
Bangunan ini designnya lebih kuno, mungkin lebih mirip barak tentara jaman dulu daripada asrama mahasiswa. Michael menghela napas, dia harus terima apapun yang terjadi karena ini adalah kampus favoritnya. Berawal dari kekagumannya pada tim sepak bola terkenal Jerman, Bayern Munchen, saat dia remaja, membuatnya mulai tertarik dan mempelajari apapun tentang negara tersebut, termasuk bahasanya. Beberapa tahun yang lalu Michael sempat kuliah jurusan seni di negaranya tetapi akhirnya berhenti dipertengahan tahun karena fokus dengan bandnya. Dia gitaris dan backing vokal di band tersebut. Walaupun belum go international, bandnya cukup terkenal dinegaranya. Namun sayangnya setelah mengeluarkan 2 album, ada musibah yang menimpa Michael yang membuatnya harus meninggalkan band dan negaranya. Satu - satunya hal yang membuatnya terhibur waktu itu adalah diterimanya resume pengajuan beasiswa untuk belajar di Heinrich Heine Dusseldorf, kampus yang dicita - citakannya sejak lulus SMA. Michael berharap ini semua dapat membuatnya melupakan musibah dimasa lalunya, walaupun harapannya tipis.
Michael tengah menyusuri koridor bagian dalam gedung tersebut, setidaknya bagian dalam tidak seburuk tampilan luarnya, cat di temboknya baru dan tidak terkelupas. Dia menyeret kopernya dan berjalan kekamarnya yang ada diujung koridor.
__ADS_1
Seorang pria gendut berwajah merah dan berambut pirang menatapnya dengan heran ketika berpapasan dengannya. Sepasang kekasih yang tengah cekikikan sambil berjalan dikoridor juga berhenti mengikik dan menatap Michael dengan heran ketika berpapasan. Michael tidak ambil pusing mengenai itu, dia tahu mereka seperti itu karena mungkin mereka jarang melihat orang Asia disini, walaupun Michael yakin wajahnya tidak terlalu Asia hanya sekilas sepersekian detik terlihat seperti itu.
Dia sudah sampai didepan pintu kamar diujung koridor. Michael menghembuskan napas dan memutar kuncinya. Kunci pintu terbuka lalu dia membuka pintunya pelan - pelan. Tidak ada orang didalam. Michael melangkah masuk dan menutup pintunya. Dia memperhatikan sekeliling kamar tersebut. Kamar ini terbagi dua sisi yang bisa dilihat jelas jika berdiri didepan pintu, di bagian tengah diberi pembatas tembok mungkin untuk membuat kesan memberi privasi tapi sepertinya akan percuma. Hampir sulit memiliki privasi jika punya teman sekamar. Michael memperhatikan kamar sisi kanan. Kasur yang spreinya berantakan, meja yang berantakan dan tumpukan pakaian kotor disudut ruangnya. Dia agak kecewa teman sekamarnya tipe orang yang berantakan, walaupun dia sendiri tidak terlalu rapih tapi setidaknya dia akan merapihkan kamarnya sebelum pergi. Michael melihat gitar akustik dipojok dekat meja, satu nilai tambah setidaknya teman sekamarnya menyukai musik.
Michael menyeret kopernya ke kamar sebelah kiri. Dia menaruh ranselnya dikasur lalu dia menoleh menatap jendela yang ada dekat mejanya. Jendela itu tak ada tirainya, dia bisa melihat dengan jelas pekarangan kampus, deretan pohon maple, batas tembok kampus, deretan atap rumah warga setempat dan bulan purnama yang bersinar redup tertutup awan. Dia memperhatikan pekarangan kampus tempat dia tersesat tadi lalu dia memperhatikan atap - atap bangunan rumah warga dikejauhan diluar jangkauan tembok kampus. Dia heran sesaat, karena ketika dia dipekarangan tadi, dia sempat melihat bangunan pabrik dengan cerobong asap. Pabrik itu terlihat kusam dan tua karena dindingnya terbuat dari batu bata, tapi dari pemandangan melalui jendela ini dia tidak menemukan banguanan seperti itu. Mungkin dia salah lihat karena baru pertama sampai disini.
Michael mengalihkan pandangannya dari jendela dan beralih ke ranselnya. Dia membuka ranselnya, mengeluarkan laptop dan beberapa buku lalu dia menaruhnya dengan rapih dimeja. Setelah itu dia membongkar kopernya, mengeluarkan pakaiannya lalu dia letakan sementara dikasur. Ketika semua pakaian sudah dikeluarkan, dia melihat sebuah frame foto ukuran 3R didasar kopernya. Dia mengambil foto tersebut dan memperhatikannya. Itu adalah foto dirinya dengan Jason, adiknya. Dia hanya berbeda 4 tahun dengannya tapi Jason lebih besar dan lebih tinggi darinya.
Sebuah flashback melintas dalam ingatannya membuat tangannya yang sedang menggenggam frame foto itu gemetaran.
Malam itu mereka berjanji makan malam di restoran ramen favorit mereka. Mereka sering makan ramen disana untuk melepas penat dan lapar setelah bekerja dan Jason tidak pernah menolak atau tidak bisa hadir, tapi malam itu berbeda. Michael sudah menunggu disana tapi Jason tak kunjung datang dan ponselnya pun tidak dijawab. Ini bukan tipikal Jason, dia tak pernah seperti itu, oleh karena itu Michael menghampiri apartmentnya.
Dia berjalan tanpa suara di apartmentnya Jason yang gelap. Ini sudah malam dan Jason tidak menyalakan lampunya, hanya ada cahaya remang - remang dari cahaya bulan dari jendela yang bertirai. Michael menekan saklar lampu dan lampunya tidak menyala. Ini aneh karena kamar lain di apartment ini lampunya menyala. Michael mengarahkan pandangan kesekeliling ruang tengah yang remang - remang, tapi tidak ada tanda - tanda Jason disana. Michael memanggil namanya, tidak ada jawaban.
Ruangan terakhir yang belum dia periksa adalah kamarnya. Dia membuka pintu kamar Jason yang tidak terkunci, dia merasakan hembusan angin malam membelai wajah dan rambutnya. Dia melihat kearah jendela. Jendela itu terbuka dan tirai putihnya melambai - lambai tertiup angin. Diluar jendela itu ada beranda dan...Jason.
Jason tengah berdiri di pagar beranda, kemeja dan rambutnya melambai - lambai karena tertiup angin. Michael terkejut melihatnya lalu memanggil namanya, Jason perlahan menoleh kepadanya. Seperti ada yang salah, wajahnya terlihat ketakutan seperti seseorang yang nyawanya sedang terancam diujung tanduk. Michael tidak tahu apa yang terjadi padanya, dia kembali memanggil Jason.
Jason tidak menjawab tetapi mulutnya bergetar seperti hendak mengatakan sesuatu dibawah ketakutannya namun tak ada suara yang keluar.
Michael langsung berlari menuju beranda namun Jason lebih cepat, dia melompat dari berandanya seperti tanpa keraguan. Michael tak sempat meraihnya, dia melihat adiknya terjun bebas dari lantai 8 dan terjatuh kejalan dibawahnya dengan suara yang mengerikan. Michael melihat semua itu, dia melihat tubuhnya adiknya hancur dibawah, darah terciprat dan tulang - tulang menyeruak keluar dari kulitnya bahkan kepalanya pun pecah mengeluarkan serpihan gumpalan kecil berwarna kelabu diaspal.
Michael berteriak keras atau mungkin dia menangis, dia tak ingat jelas waktu itu tapi rasa sakit dan sedih dihatinya tidak akan pernah hilang sampai kapanpun. Bahkan sampai saat ini dia masih tak mengerti kenapa Jason mengakhiri hidupnya seperti itu.
__ADS_1
Michael menepis kembali ingatan tersebut. Dia menghela napas dan menenangkan dirinya. Dia menaruh foto tersebut dimeja didekat laptopnya dan lanjut membereskan pakaiannya