Der Kreuzer

Der Kreuzer
CHAPTER 12


__ADS_3

Ritter tidak percaya akhirnya dia benar - benar datang ke acara ulang tahun pernikahan ibunya dengan ayah tirinya. Sebenarnya dia kangen ibunya tapi dia agak enggan untuk bertemu dengan Darek, apalagi setelah debat yang terjadi direstorannya beberapa hari yang lalu. Dia berharap di hari yang spesial ini Darek tidak membahas yang aneh - aneh dengannya.


Setelah turun dari mobil, dia tidak langsung masuk kerumah tapi dia diam sesaat dihalaman depan sambil memandang rumah tersebut. Rumah masa kecilnya. Dia ingat dulu dia senang tinggal dirumah yang besar seperti ini membuatnya serasa tinggal didalam benteng lalu setelah dia dewasa, dia berharap tangganya tidak terlalu banyak.


Ritter masuk kedalam rumah dan melihat Aylin sedang menuruni tangga sambil membawa vas berisi bunga lily yang cantik. Dia terkejut melihat Ritter.


"Ritter, aku pikir kau tidak akan datang. Aku senang melihatmu datang." kata Aylin sambil menuruni tangga, dia terlihat gembira melihat Ritter datang.


"Jika bukan karena ibuku," jawab Ritter.


"Oh...jangan begitu, Darek sudah berusaha baik denganmu. Oh iya, aku pinjam bunga dikamarmu untuk hiasan dihalaman belakang ya. Temanya garden party, kau pasti suka melihat dekorasinya,"


"Aku bahkan tidak tahu ada bunga dikamarku,"


"Makanya kau pulang kesini atau sekali - kali menginap disini, Ibumu selalu membersihkan kamarmu setiap hari jikalau tiba - tiba kau datang kesini,"


Ritter menghela napas, "Sebenarnya aku mau, tapi..."


"Apa? karena Darek? Ayolah, jika aku punya ibu yang sayang kepadaku dan memintaku untuk tinggal dirumah sebesar ini aku pasti akan melakukannya daripada tinggal diasrama atau paling tidak menginap saat weekend, tak peduli disini ada ayah tiri atau apapun itu," kata Aylin sambil merapikan kelopak bunga lily yang dia bawa, "Bahkan aku bingung bagaimana ibumu bisa mendapatkan bunga lily secantik ini dimusim gugur, jika ibuku memberikan ini kepadaku, hatiku akan meleleh dan aku akan menangis memeluknya sambil berkata 'ibu maafkan aku'."


Ritter terdiam sesaat mendengarnya. Yang dikatakan Aylin ada benarnya. Dia jadi jauh dari ibunya karena Darek, tapi seharusnya tidak boleh seperti itu. Sebenarnya bukan karena dia benci dengan ayahtirinya secara personal tapi dia tidak suka apa yang kerjakan olehnya. Tentang Der Kreuzer. Bahkan dengan bangganya dia mengatakan kalau Ritter harus melanjutkan pekerjaannya ini jika dia wafat lebih dulu.


Aylin tersenyum dan berkata berkata, "Sudahlah tak usah bingung," lalu dia pergi kehalaman belakang.


Ritter menghela napas lalu dia naik keatas. Dia hendak melihat kamarnya dan memastikan apa yang dikatakan Aylin benar atau tidak.


Ritter membuka pintu kamarnya dan melangkah kedalam. Dia melayangkan pandangannya kesekeliling kamarnya. Tidak ada yang berubah. Masih seperti dulu saat terakhir dia tinggalkan.


Benar yang dikatakan Aylin, kamarnya rapih dan tak ada debu tertinggal. Tidak terasa seperti kamar yang sudah lama tidak dihuni. Dia berjalan menuju tempat tidur dan melempar tubuhnya kekasur. Dia memejamkan mata sesaat, rasanya sudah bertahun - tahun berlalu sejak terakhir dia tidur kasur ini.


Ritter mendengar suara yang sudah dia kenal dari kejauhan. Suara ibunya. Ritter bangun dan mengampiri jendela, dia menyibakkan tirai dan melihat halaman belakang dibawahnya. Disitu ada ibunya, Aylin, beberapa saudara dari pihak ibunya dan beberapa orang dari vendor party crew yang menyiapkan dekorasi untuk garden partynya. Aylin benar, dekorasinya bagus. Penuh beraneka macam bunga warna - warni. Entah mereka dapat bunga itu darimana dimusim gugur ini, mungkin dikirim dari negara lain. Dia mendengar percakapan mereka dari balik jendela.


"Aylin, itu kan untuk dikamar Ritter, itu kejutan untuknya ketika dia kekamarnya nanti," kata ibunya.


Aylin tersenyum, "Dia sudah lihat bu, katanya bunganya cantik. Aku sudah bilang padanya mau pinjam sebentar untuk menambah dekorasi disini,"


"Ritter sudah datang?" wajah ibunya berseri - seri.


"Sudah, mungkin dia masih bernostalgia dikamarnya."


Ritter tersenyum melihat mereka lalu dia keluar kamar hendak menghampiri mereka dihalaman belakang tapi langkahnya terhenti ketika dia berpapasan dengan Darek didepan kamarnya. Darek terkejut lalu wajahnya sumringah ketika melihat Ritter.


"Ritter mein sohn, aku senang melihat kau datang," kata Darek lalu dia memeluk Ritter.


Dengan canggung Ritter membalas pelukannya, "Yeah, dan sekarang aku sedang memikirkan mau memasak apa nanti,"

__ADS_1


"Dari catering sudah menyiapkan menu masakan Itali, Mungkin nanti bisa kau tambahkan dengan masakan yang tidak mengandung terlalu banyak kolesterol, kau tahu? akan banyak tamu usia manula yang akan datang. Dan jangan lupa masakan favorit ibumu," kata Darek sambil melepas pelukannya.


"Okay, aku mau menemui ibu dihalaman belakang," jawab Ritter yang hendak melangkah menuruni tangga.


"Tunggu sebentar nak, ada yang mau aku tunjukan kepadamu," kata Darek sambil menepuk pundak Ritter.


"Apa itu?" tanya Ritter dengan heran.


"Ayo ikut keruanganku," jawab Darek. Dia berjalan keruang kerjanya yang tidak jauh dari kamar Ritter.


Ritter setengah hati mengikutinya dan dia curiga atas apa yang nanti akan ditunjukan oleh ayahtirinya. Mudah - mudahan bukan tentang Der Kreuzer.


Ruang kerja Darek sudah banyak berubah dari terakhir dia lihat bertahun - tahun yang lalu. Sekarang hampir seperti perpustakaan di museum. Koleksi bukunya sepertinya bertambah dan foto - foto hitam putih kuno mengenai sejarah kota Dusseldorf banyak menghiasi dinding. Selagi menuggu Darek menyiapkan entah apa itu yang akan dia tunjukan dilaptopnya, Ritter melihat - lihat foto - foto hitam putih tersebut. Dia tertarik melihat sebuah foto pabrik dengan puluhan buruhnya berbaris rapih didepan bangunan pabrik tersebut. Bukan tertarik dengan pabriknya sebenarnya, tapi Ritter melihat tulisan kecil dibawah foto itu. Tertulis tahun dan lokasi pabrik dan beberapa keterangan. Lokasinya didekat kampusnya. Tahun 1912. Disitu juga tertulis bahwa tidak lama setelah foto itu diambil, pabrik tersebut mengalami kebakaran hebat yang menelan puluhan korban jiwa. Setelah itu, bangunannya runtuh tak bersisa. Ritter bergidik melihat foto itu, ekspresi buruh pabrik difoto itu terlihat bahagia, mereka tidak mengetahui ada musibah apa setelah itu.


Ritter jadi teringat dengan apa yang dikatakan Mike. Dia bilang dia pernah melihat pabrik tua didekat kampus tapi sekarang sudah tidak boleh membangun pabrik disana. Apa Mike melihat penampakan masa lalu pabrik tua ini? seperti ketika Mike melihat gedung balai kota yang sedang dibangun?


"Ritter, coba kau lihat ini," kata Darek sambil menunjukkan laptopnya. Ritter menghampirinya dan melihat layar laptop tersebut.


Layar laptop itu menampilkan seorang gadis yang tengah di exorcise oleh seorang pastor, gadis itu berteriak keras dan menatap salib yang dipegang pastor itu dengan tatapan bengis. Lalu gadis itu berkata "Kami harus sembunyi dibalik jiwa yang murni agar Der Kreuzer tidak bisa menyentuh kita. Agar darahnya tidak mengenai kita, jika tersentuh darahnya akan menandai kita" lalu Darek menekan tombol forward dan play, layar itu menampilkan ketika gadis itu berkata "UNTUK APA KAMI BERBOHONG, ORANG TUA SIAL! Lihat itu, kau sudah puluhan tahun mencari Der Kreuzer dan bahkan kau tidak tahu dia ada dibawah hidungmu? BUKA MATAMU, ORANG TUA BODOH! DER KREUZER ADA DI DUSSELDORF!"


"Apa - apaan itu?" tanya Ritter, dia mulai paham apa yang sedang ditunjukkan ini.


"Sudah 2 kasus kerasukan yang terjadi, yang ini terjadi di perumahan Mendelweg dan ada kasus kerasukan lagi di St. Andreas tadi pagi, 2 orang yang sedang latihan paduan suara tiba - tiba kerasukan. Setan yang merasuki gadis di Mendelweg itu mengatakan kalau Der Kreuzer ada di Dusseldorf."


"Ritter, lihatlah itu, Der Kreuzer itu nyata. Setan pun ketakutan dengannya,"


"Setan bisa saja berbohong,"


"Tidak. Dia tidak akan berbohong dibawah salib,"


"Kalau memang itu benar, bagaimana mencarinya? Dusseldorf itu luas,"


"Kau benar, tapi setidaknya ada satu tempat yang bisa kita periksa. Heinrich Heine University,"


"Kita?"


"Ya, aku perlu bantuanmu Ritter,"


"Darek, bisakah kita tidak membicarakan ini dihari ulang tahun pernikahan kalian?"


"Aku jamin ini tidak mengganggu acaranya. Aku benar - benar butuh bantuanmu, jangan sampai kita terlambat bertindak,"


Ritter terlihat kecewa lalu dia duduk di sofa didekat lemari buku dengan kesal, "Apa seharusnya aku tidak datang kesini?"


"Bukan seperti itu, kau harus yakin mengenai Der Kreuzer dan aku butuh bantuanmu," Darek mengambil setumpuk kertas dan menaruhnya dimeja kaca didepan Ritter lalu Darek duduk disofa dihadapannya.

__ADS_1


Ritter melihat tumpukan kertas itu, "Apa lagi itu?"


"Aku minta data mahasiswa kepada administrasi kampus. Ada 120 mahasiswa baru yang masuk tahun ini. 30 orang diantaranya tinggal di asrama, 15 orang di asrama putra dan 15 orang di asrama putri. Ini data ke 15 orang yang tinggal di asrama putra, dan yang menarik, berdasarkan data ini salah satunya ada yang menjadi teman sekamarmu. Kenapa kau tidak bilang itu ketika aku membicarakan ini di restoranmu?"


Ritter berdecak kesal dan hendak berdiri dari sofa, "Sebaiknya aku kembali ke asrama saja,"


Darek menahannya, "Tolonglah, Aku berjanji kepadamu, jika Der Kreuzer ini terbukti tidak benar, terbukti hanya omong kosong belaka, maka kau boleh membenciku selamanya,"


Ritter terkejut mendengarnya lalu dia menatap wajah tua Darek yang sangat berharap kepadanya.


Darek berkata, "Aku serius Ritter, jika semua ini terbukti hanya omong kosong belaka, kau boleh membenciku selamanya, kau boleh memukulku, kau boleh permalukan aku di kampus, lakukan itu apapun yang kau suka,"


Ritter menghela napas, dia menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata, "Baiklah, aku akan membantumu," jawab Ritter lalu sambil memijit - mijit dahinya.


Ekspresi wajah Darek berubah menjadi lega dan ceria, "Terima kasih Ritter,"


Ritter menatap tumpukan kertas tersebut, "Bisa kau jelaskan sekali lagi bagaimana Der Kreuzer itu?"


"Orang itu tidak akan menyadari kalau dia menjadi Der Kreuzer, dia sebenarnya dirasuki oleh iblis yang dulu membuat perjanjian dengan Heinrich IV, ciri ciri yang bisa dilihat jelas adalah dia bisa melihat hantu, dan tentu saja kesehatannya semakin menurun karena iblis yang merasukinya mencoba mengambil alih tubuhnya, itu akan terlihat jelas"


Mendengar itu Ritter jadi teringat Mike lagi, Mike bisa melihat hantu tapi Ritter tidak tahu bagaimana kondisi kesehatannya , "Kau pernah bilang kalau Der Kreuzer mengincar jiwa pendosa yang mati danĀ  yang hidup, bagaimana cara dia melakukannya?"


"Awalnya aku tidak tahu itu, karena selama penyelidikanku orang yang menjadi Der Kreuzer sudah mati sebelum aku sempat bertemu langsung dengannya. Tapi setelah melihat exorcise gadis itu akhirnya aku mengerti. Dia perlu darah manusia untuk menandai pendosa, itulah sebabnya dia mengambil alih tubuh manusia yang dia rasuki,"


"Lalu bagaimana cara menghentikannya?"


"Orang itu harus dibakar atau ditenggelamkan, tapi itu tidak akan membunuh iblis itu, hanya akan mengusirnya keluar dari tubuh orang tersebut. Setidaknya Der Kreuzer akan menghilang untuk beberapa saat sampai dia menemukan korban baru lagi untuk diambil alih tubuhnya,"


"What? Kalau seperti itu tidak akan selesai sampai kiamat. Lagipula apa tidak ada cara lain untuk menghentikannya? Apakah tidak bisa di exorcise?"


"Tidak bisa, butuh lebih dari sekedar exorcise,"


"Lebih dari sekedar exorcise? Ini bisa jadi pembunuhan, jika kau membakar atau menenggelamkan orang yang menjadi Der Kreuzer, orang itu juga bisa mati,"


"Hanya ini cara yang bisa kita lakukan,"


"Darek, kau melakukan penelitian ini bersama pihak gereja selama bertahun tahun, apakah hanya ini yang bisa kau lakukan?"


Darek menghela napas, "Pihak gerja sudah memutuskan itu, mereka menyatakan bahwa jika orang yang menjadi Der Kreuzer itu harus mati maka dia akan mati dalam damai, Tuhan Yesus akan bersamanya dan surga akan terbuka untuknya,"


Ritter kesal mendengarnya, dia hendak mengatakan sesuatu dengan kasar untuk menjawab debat ini tapi dia menahan diri, dia menghela napas dan menggelengkan kepalanya, "Kau tahu Darek? Kalian semua gila. Persetan dengan gereja. Aku tidak mau terlibat ini," jawab Ritter sambil menahan marah lalu dia berdiri dan keluar dari ruang kerja Darek.


"Ritter, tolonglah..." panggil Darek dengan pasrah. Darek tidak mengejar Ritter, dia tahu itu percuma. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk meyakinkan Ritter.


Ritter pun tidak menghiraukannya, dia berjalan menuruni tangga sambil meredakan amarahnya dan mengubah suasana hatinya. Dia harus terlihat ceria saat bertemu ibunya.

__ADS_1


__ADS_2