
Ritter tidak yakin jam tangannya menunjukkan waktu yang tepat atau tidak karena sekarang pukul 10.48 PM yang artinya ini masih sore baginya. Dia biasa kembali ke asramanya lewat tengah malam, karena baginya dikamar itu hanya sebagai tempat numpang tidur saja, terlebih saat ini dia sendiri, belum ada orang yang menjadi teman sekamarnya lagi semenjak 2 orang terakhir yang berakhir ricuh dengannya. Satu orang sebelumnya berkelahi dengannya karena mabuk dan Ritter melemparnya melalui jendela dan yang terakhir adalah Tibalt yang bokongnya tersulut api karena amplifier Ritter meledak. Setelah kejadian pada 2 orang itu, Ritter tidak yakin ada lagi yang mau sekamar dengannya.
Saat ini koridor asrama sudah sepi tak ada orang yang lewat ataupun terdengar suara orang yang bernyanyi atau berteriak - teriak tidak jelas. Ritter melenggang dengan santai tanpa perlu khawatir orang - orang berpapasan dengannya sambil menatapnya dengan ketakutan.
Ritter hendak memasukan kunci ke lubang kunci pintunya tapi tiba - tiba tertahan karena dia mendengar sesuatu. Seperti suara seseorang yang sedang bicara dengan lirih dari dalam kamarnya. Siapakah yang ada dikamarnya? Apakah maling? atau jangan - jangan lebih parah lagi...teman sekamar yang baru? Ritter memutar kuncinya dan membuka pintunya perlahan, dia melihat sisi samping seorang pria berambut hitam tengah berlutut disamping tempat tidurnya, jari - jari tangannya terlipat dibawah dagunya dan dia menunduk. Dia terlihat serius mengucapkan sesuatu. Ritter tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang itu dan apa yang dia ucapkan, dia melangkah mendekati orang tersebut dan orang itu sepertinya tidak menyadarinya. Ketika sudah cukup dekat Ritter baru mendengar apa yang diucapkan orang tersebut.
"...give us day our daily bread and forgive us our trespasses as we forgive those who trespass against us lead us not into temptation but deliver us from evil"
"Amen," jawab Ritter.
Orang itu kaget, dia menoleh menatap Ritter. Ritter pun kaget melihat siapa orang tersebut, dia reflek menunjuk dan berkata, "Kau? Kau bukannya yang tadi sore nyasar dipekarangan kampus?"
Dia juga kaget dan menunjuk Ritter, "Kau kan yang waktu itu bilang ini gedung jelek?".
"Yeah itu aku. Tapi itu benar, bangunan yang satu ini paling jelek diantara yang lain. Jadi...apa yang kau lakukan disini?" tanya Ritter sambil membuka jaketnya.
"Aku teman sekamarmu." dia berdiri dan mengulurkan tangan kanannya hendak berjabat tangan dengan
Ritter, "Aku Michael Tadashi. Panggil saja Mike."
Ritter menatap tangan tersebut lalu dia berjabat tangan dengan ragu - ragu, "Ritter Gilleasbuig, Michael siapa?"
"Tadashi."
"Tadashi? Kau bukan orang sini ya?"
"Aku dari Jepang."
"Apa? maksudmu kau orang Jepang?"
"Setengah Jepang sebenarnya. Ibuku Amerika."
"Orang Jepang macam apa yang bicara bahasa Jerman?"
__ADS_1
"Kau seharusnya bangga ada orang asing yang fasih bicara bahasamu, aku belajar bahasa Jerman dari kecil, aku bahkan tidak bisa bahasa Inggris."
"Baiklah, lalu apa yang kau lakukan disini?"
"Ya aku kuliah disini. Jurusan seni."
"Maksudku kenapa kau jauh - jauh kesini? Jepang kan jauh sekali."
Mike tidak menjawab dia duduk ditepi tempat tidurnya dan menunduk.
"Yeah itu urusanmu. Selamat datang di Jerman dan kuharap kau bisa sabar disini sebagai teman sekamarku, aku orangnya agak temperamen." kata Ritter sambil melangkah kekamarnya yang dipisah dengan selapis tembok dengan kamarnya Mike, tapi suaranya masih terdengar dari balik tembok. "Oh iya, aku ada saran untukmu. Aku bukan orang yang religius tapi setidaknya jika kau sedang berdoa sebaiknya kau juga waspada dengan keadaan disekitar. Kau bahkan tadi seperti tidak menyadari ketika aku masuk kekamar. Bagaimana kalau nanti ketika kau sedang berdoa tiba - tiba rumahmu terbakar? Ritter menunggu respon dari Mike tapi tidak terdengar jawaban apapun. "Kau orangnya pendiam ya?" tanya Ritter lagi dan lagi - lagi tidak direspon.
Ritter menghela napas sambil geleng - geleng kepala, dalam hati dia berpikir sepertinya dia yang harus sabar satu kamar dengan orang yang pendiam.
Ritter tidak lagi menunggu jawaban Mike, dia melempar jaketnya kekasur, menaruh tasnya dimeja dan melepas celana jeansnya. Dia melempar tubuhnya kekasur dan merasakan pegal - pegal dipunggungnya perlahan menghilang. Dia benar - benar bekerja keras tadi, asisten ketua chef di restorannya tidak masuk jadi dia harus turun langsung untuk mengawasi dapur karena dia sebagai owner dan ketua chef disana. Ritter memejamkan mata sejenak dan mengistirahatkan pikirannya.
"Hey Ritter," panggil Mike dari balik tembok.
Ritter membuka matanya dan menatap langit - langit. Dia mencoba menjawab dengan sabar, "Yeah?" katanya.
"Tidak ada. Hanya ada perumahan dan panti jompo, tidak boleh mendirikan pabrik disekitar sini."
Tidak ada jawaban lagi dari Mike. Pertanyaan yang unik untuk memulai percakapan, sepertinya benar dia lah yang harus bersabar menghadapi teman sekamarnya yang pendiam dan aneh. Ritter menghela napas dan menarik selimutnya.
Mike menatap jendela lagi untuk yang kesekian kalinya. Dia melihat pelataran halaman depan kampus yang dipenuhi rontokan daun maple. Tidak ada orang melintas disana saat ini. Lalu dia menatap deretan atap rumah susun khas Eropa diluar area kampus. Tidak ada pabrik atau bangunan yang menyerupainya disekitar situ. Dia yakin melihat bangunan pabrik tua dengan cerobong asap tidak juah dari kampus ketika dia baru sampai disini, padahal dia berniat mau menggambar bangunan tersebut di sketch booknya dari jendela ini. Tapi sepertinya dia memang salah lihat, dia memutuskan mencari objek lain untuk digambar besok.
***
Malam musim gugur yang tenang senada dengan sunyinya suasana di Katedral St. Maximilian yang berada di Citadellstrasse - Dusseldorf. Katedral yang dibangun pada tahun 1668 ini merupakan salah satu daya tarik kawasan kota tua Dusseldorf. Penampakan interior gereja yang bergaya baroque ini sungguh indah. Ornamen penghias seperti patung-patung malaikat dan santo di setiap sudut semakin menambah keindahan gereja. Langit-langit gereja yang tinggi dan berbentuk melengkung jadi ciri khas gereja bergaya baroque. Langit-langit gereja juga tak sepi dari ornamen penghias, sehingga makin menambah keindahan yang ada.
Katedral St Maximilian yang selesai dibangun pada tahun 1668 ini pernah tenggelam ke dalam tanah. Katedral akhirnya dibangun ulang pada tahun 1735 dengan gaya baroque yang khas. Jika dihitung-hitung berarti usia katedral ini sudah mencapai 284 tahun. Sungguh luar biasa bagaimana bangunan katedral ini bisa bertahan sampai sekarang. Di dalam Katedral ini juga terdapat perpustakaan megah yang menyediakan literatur sejarah dari berbagai dunia.
Darek sudah menghabiskan waktu hampir 4 jam diperpustakaan tersebut membaca buku - buku tebal dan menulis catatan - catatan di jurnalnya berdasarkan apa yang dia pelajari dari buku - buku itu. Wajahnya terlihat berkerut dan serius dibalik kaca matanya, tidak terlihat ekspresi lelah sedikitpun. Darek memiliki akses ke Katedral ini karena ada kerjasama dengan uskup dan pastur setempat dalam penelitian kasus Der Kreuzer.
__ADS_1
Konsentrasi Darek tiba - tiba terpecah karena mendengar suara bisikan diarah pintu masuk perpustakaan. Darek melihat 2 orang Suster yang sedang berbisik satu sama lain. Ekspresi mereka terlihat serius bahkan cenderung takut.
Darek menutup jurnalnya dan menghampiri 2 Suster itu. Suster itu berhenti berbisik dan menatap Darek dengan ekspresi khawatir.
"Ada apa?" tanya Darek.
2 Suster itu masih terdiam dan bertatapan satu sama lain. Mereka terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi ragu - ragu.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Darek lagi.
Salah satu Suster mengangguk dan menjawab,
"Sesuatu terjadi pada Suster Irene."
"Kenapa?"
"Ketika sedang istirahat tiba - tiba dia..."
"Dia kenapa?"
2 Suster itu ragu - ragu lagi untuk menjawabnya, lalu Suster yang satu menjawab, "Dia tertawa."
"Tertawa? tertawa bagaimana?"
"Tawa yang mengerikan, seperti...bukan manusia. Aku belum pernah mendengar tawa seperti itu."
"Lalu bagaimana dia sekarang?"
"Dia pingsan dan belum sadar hingga sekarang."
"Kalian tidak membawanya ke rumah sakit?"
"Suster kepala melarangnya. Katanya...kemungkinan dia kerasukan."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, 2 Suster itu pergi dengan tergesa - gesa meninggalkan Darek yang masih bertanya - tanya. Entah benar kerasukan atau tidak tapi kerasukan dilingkungan Katedral sebenarnya jarang terjadi. Sudah lama sekali tidak ada laporan mengenai kasus kerasukan. Ada pertanda apakah ini? Apakah pertanda datangnya der kreuzer? Masih terlalu dini untuk menyimpulkannya. Dia harus bertanya pada Suster kepala dan memastikannya.