Der Kreuzer

Der Kreuzer
CHAPTER 14


__ADS_3

Mike tengah duduk ditepi tempat tidurnya, dia menatap jam digital yang ada dimejanya. Jam 2.05 pagi, kenapa dia terbangun jam segini? Dia menapakkan kakinya kelantai dan berdiri. Lagi - lagi dia merasa melayang.


Oh Tuhan, ini terjadi lagi.


Dia tak bisa merasakan tubuhnya lagi. Dia tak bisa merasakan kakinya yang menginjak lantai dan dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Dia hanya melihat apa yang ada dihadapannya dan apa yang akan terjadi pada tubuhnya. Kakinya melangkah membawanya kekamar sebelah, kamar Ritter.


Tidak, tidak. Hentikan. Jangan lagi.


Kakinya melangkah melintasi kamar dan membawa tubuhnya menghampiri Ritter. Dia bisa melihat Ritter yang sedang tidur memeluk bantal. Ketika mendekatinya, dia melihat sebuah pisau cutter di meja disebelahnya.


Tidak. Jangan.


Itu sia - sia, tangannya bergerak mengambil pisau cutter tersebut dan melangkah kembali semakin mendekati Ritter.


Jangan. Jangan bunuh dia.


Kakinya membawanya mendekati Ritter dengan pisau cutter teracung, dia bisa melihat jelas leher Ritter dia bahkan bisa melihat lehernya berdenyut pelan seirama dengan detak jantungnya.


Jangan bunuh dia. Please.


Dia hampir menangis ketika tangannya yang menggenggam cutter mendekatkan ujung mata pisau cutter ke leher Ritter, tapi dia tak punya kuasa atas tubuhnya. Mike berteriak untuk membangunkan Ritter tapi tak ada suara yang keluar dan dia tidak bisa menggerakkan mulutnya.


Ujung mata pisau cutter itu menyentuh leher Ritter dengan perlahan.


Ketika ujung mata pisau cutter itu menyentuh leher, Ritter bergerak sedikit dan menggaruk lehernya sambil tetap tertidur, matanya tetap terpejam. Sepertinya dia menyadari ada sesuatu yang menyentuh lehernya tapi karena mungkin karena ngantuk berat dia tidak mempedulikannya, dia kembali tidur dan memeluk guling dengan erat.


Ritter, bangun.


Tangannya yang menggenggam pisau cutter menjauhi leher Ritter dan meletakan kembali pisau cutter itu ditempat semula, kakinya melangkah lagi membawanya pergi dari kamar Ritter. Dia lega karena yang mengendalikan tubuhnya tidak jadi melukai Ritter dan membawanya kembali kekamarnya. Mungkin setelah ini dia bisa kembali merasakan tubuhnya dan kembali tidur.


Tapi sepertinya tidak semudah itu. Tubuhnya masih berdiri menghadap jendela kamarnya lalu kakinya membawanya melangkah menuju jendela.


Apa - apaan ini? Apa yang terjadi.


Tangannya membuka kunci jendela dengan mudah lalu tangannya membuka jendela perlahan. Dia bisa melihat langit malam tanpa bintang yang sunyi. Dia bisa melihat halaman belakang kampus yang dipenuhi rontokan daun kering. Tak ada siapapun disana.


Dia melihat kakinya yang memakai kaos kaki memanjat jendela dan melompat turun mendarat ditumpukan daun - daun kering.


Kembali. Jangan pergi.


Dia sedang tidur berjalan, jangan sampai dia kejalan raya, bagaimana kalau ada mobil yang melintas. Namun Mike tak punya kuasa atas tubuhnya.


Kakinya melangkah membawanya melintasi halaman kampus. Tubuhnya berjalan menuju danau. Disana gelap karena tak ada lampu taman seperti didekat asrama. Danau yang dikelilingi pohon maple itu terlihat menyeramkan. Air danau terlihat berwarna hitam dan ranting - ranting pohon maple saling bertautan sehingga terlihat seperti cakar mencengkram langit malam diatasnya.


Itu mengerikan. Jangan kesana.

__ADS_1


Percuma. Kakinya tetap melangkah kearah danau. Di dekat danau dia melihat hantu anak kecil yang dulu. Dia putih dan pucat, terlihat kontras dengan latar belakang danau yang hitam. Langkah kakinya semakin cepat mendekati hantu anak kecil itu. Anak kecil itu melihatnya dengan ketakutan. Anak kecil itu berteriak, teriakan yang melengking dan memilukan.


Kakinya membawanya berlari menghampiri anak tersebut. Anak itu masih menjerit lalu tiba - tiba sekujur tubuhnya terlihat retak seperti tanah yang mengering. Kulitnya yang mengering perlahan terkelupas dan potongan - potongan kulitnya jatuh ketanah berubah menjadi abu. Kulitnya terus mengelupas sampai habis, sehingga menyisakan tulang tengkoraknya. Setelah itu tulang tengkorak itu pun retak dan rontok menjadi abu sampai semuanya hilang tak bersisa.


Mungkin Mike bisa pingsan melihat ini jika dia punya kendali atas tubuhnya tapi dia bahkan tak bisa menutup matanya untuk tidak melihat hal mengerikan ini didepan matanya. Dia hanya bisa merasakan hatinya dipenuhi ketakutan yang luar biasa.


Setelah itu kakinya melangkah meninggalkan danau dan berjalan kembali menyusuri halaman kampus menuju gerbang luar.


Tidak. Jangan kejalan.


Dia melihat sesuatu yang berdiri didekat gerbang. Sesuatu yang akan membuatnya menjerit jika dia bisa bersuara saat itu.


Empat orang biarawati tengah berdiri disitu sambil menggenggam salib. Berwajah pucat dengan mulut terkatup rapat namun mereka tidak punya mata. Tempat yang seharusnya terdapat mata hanyalah sebuah rongga kosong berwarna hitam.


Mike ketakutan setengah mati melihat itu, jika dia bisa berlari pasti dia sudah berlari secepat mungkin kembali kekamarnya tapi dia tak punya kuasa atas tubuhnya. Tubuhnya hanya diam disitu, berdiri menghadap 4 biarawati yang mengerikan itu.


Dia melihat 4 biarawati itu berjalan perlahan mendekatinya. Salib yang mereka pegang terpantul cahaya bulan dan pantulan cahayanya membuat matanya sakit. Sakit? Apa dia mulai merasakan kembali tubuhnya?


Kakinya melangkah mundur perlahan seiring dengan langkah maju para biarawati itu. Mulut para biarawati itu sekarang terlihat bergerak, mereka tengah menggumamkan sesuatu dengan cepat, Mike tidak bisa mendengar jelas apa yang mereka katakan.


Kakinya membawanya berlari kembali menuju asramanya. Ketika beberapa meter hampir sampai di asrama, dia melihat tubuhnya terjatuh dan dia bisa merasakan kembali tubuhnya, dia bisa menggerakan kaki dan tangannya. Dia bisa merasakan tumpukan daun kering dibawahnya.


Dia harus kembali ke kamarnya.


Tiba - tiba dia melihat hal mengerikan yang pernah ada ketika dia mengengadahkan wajahnya. Empat biarawati tadi berdiri mengelilinginya, memegang salib dan bergumam dengan bahasa yang Mike tidak mengerti, gumaman itu makin lama makin terdengar jelas dan menusuk masuk ke telingnya.


"Tidak...pergilah kalian..."  Mike bersuara dengan susah payah karena napasnya yang mengi.


Empat biarawati itu tidak bergeming. Mereka masih bergumam dan rongga mata mereka yang hitam seolah menyedot jiwanya.


"Nein..." Mike masih bernapas mengi, dia berusaha bangun dengan memaksa tubuh lemasnya bergerak. Dia harus kembali ke kamarnya atau dia akan mati disini.


Dia tak bisa kembali kekamar melalui jendela karena terlalu tinggi jika dari luar. Dia mengerahkan tenaga yang masih tersisa, dia bangun dan memberanikan diri melewati biarawati itu, dia bisa melihat mereka tembus pandang, membuatnya semakin yakin kalau mereka adalah hantu. Dia  berjalan dengan susah payah sambil berpegangan pada tembok. Dadanya sesak, napasnya mengi dan kepalanya pusing karena hanya ada sedikit oksigen yang bisa dia hirup.


Bertahanlah, sedikit lagi.


Mike merasakan kepalanya berdenyut pusing, penglihatannya berputar dan kakinya gemetaran. Dengan dada sesak dan napas mengi dia membuka pintu utama asrama. Dia berjalan sekuat tenaga menuju pintu kamarnya. Tidak ada orang lain di koridor asrama ini. Dia menoleh sesaat kebelakang dan melihat 4 biarawati itu berdiri dibalik pintu kaca utama asrama sambil tetap memegang salib. Rongga mata kosongnya menatap Mike dengan bengis.


Mike menggedor pintu kamarnya dengan keras. Tidak ada jawaban. Dia merasakan kepalanya pusing dan berputar, kakinya lemas dan dia hampir jatuh. Dia susah payah mempertahankan kesadarannya dengan sedikit udara yang bisa dia hirup.


Mike menggedor lagi pintunya dan dijawab oleh Ritter.


"SIAPA ITU?"


Mike berusaha menjawab, dia membuka mulutnya tapi tak ada suara yang keluar, hanya napas mengi yang terdengar. Dia menggedor lagi pintunya lalu pintunya dibuka oleh Ritter. Ritter yang masih setengah mengantuk terkejut melihat Mike ada disitu.

__ADS_1


"Apa - apaan..." namun Ritter tak sempat melanjutkannya. Melihat Ritter, Mike lega walaupun dia sedang sekarat setidaknya dia sudah kembali kekamarnya, jika dia mati setelah ini, ada Ritter yang akan mengurusnya tubuhnya.


Mike setengah sadar, pusing, dada sesak, napas mengis, badan lemas dan gemetaran semua terasa menjadi satu. Mike merasa sudah tidak kuat lagi berdiri, dia jatuh tapi langsung ditangkap oleh Ritter. Ritter menahan tubuhnya, mendekapnya erat dan membawanya masuk. Ketika itu Ritter sempat melihat beberapa orang terbangun dan penasaran mengintip apa yang terjadi dari balik pintu kamar mereka masing - masing, Ritter segera menutup pintu kamarnya.


Setelah pintu ditutup, Mike bisa bernapas kembali, dadanya tidak sakit lagi dan paru - parunya kembali terisi udara.


"Mike, apa - apaan ini? Kenapa kau bisa ada diluar?" tanya Ritter yang masih menahan Mike agar dia tetap berdiri.


Mike tidak menjawab, dia sibuk bernapas, dia merasakan udara mengalir ke paru - parunya dengan bebas, seolah ikatan yang mengikat erat dadanya sejak tadi sudah lepas dan dia bisa bernapas dengan lega hanya saja pandangannya masih buram dan jantungnya masih berdetak kencang dan keringat membasahi tubuhnya. Dia merasakan Ritter memapahnya ketempat tidurnya lalu dia merebahkannya disana.


"Mike, katakan padaku apa yang terjadi. Kenapa kau bisa ada diluar?" Ritter bertanya kembali.


Mike memejamkan matanya, dia merasakan jantungnya mulai stabil dan kakinya tidak gemetaran lagi, "Aku tidak tahu, Ritter. Aku pikir ini bukan tidur berjalan."


"Kau berjalan sambil tidur?" Ritter duduk ditepi tempat tidur.


Mike menggunakan sisa tenaganya dengan susah payah untuk menjawab, "Awalnya aku pikir aku tidur berjalan,tapi itu salah. Aku sadar total, hanya saja aku tak bisa menggerakkan tubuhku. Ini sudah terjadi dua kali, pertama waktu aku ketiduran dirumah Carel, aku hampir mencekiknya dan tadi aku hampir merobek lehermu dengan pisau cutter yang ada dimejamu."


Ritter tidak menjawab, Mike memberanikan diri membuka mata dan melihat reaksi Ritter. Dia terlihat kaget dan bingung.


"Aku tak bisa mengandalikan tubuhku waktu itu, bahkan saat aku memanjat jendela dan berjalan menuju danau aku tak bisa berbuat apa - apa. Aku melihat hantu anak kecil yang waktu itu dan hantu biarawati disana. Itu sangat mengerikan dan aku tak bisa mengendalikan tubuhku. Biarawati itu mengejarku sampai kepintu asrama dan aku tak bisa bernapas,"


Lagi - lagi Ritter tidak menjawab, dia seperti kehabisan kata - kata melihat apa yang terjadi pada Mike, atau mungkin Mike malah membuatnya bingung.


Mike merasa sedih pada keadaannya sendiri dan tidak tahu harus berbuat apa.


"Apa yang terjadi padaku, Ritter?" tanya Mike dengan suara berbisik.


"Tidurlah, Mike," jawab Ritter.


"Jangan pergi," kata Mike dengan lirih.


"Tidak, aku temani kau disini," jawab Ritter dengan tenang.


Tak lama setelah itu dia merasakan kantuk dan membawanya tidur kembali.


***


Entah berapa lama Ritter duduk di kursi disamping tempat tidur Mike. Dia menoleh melihat jam digital dimeja, 3.30 pagi. Ritter menoleh melihat Mike yang tidur disampingnya, napasnya terdengar mendengkur pelan, dia pasti sudah tidur lelap. Ritter meregangkan tubuhnya dan bersandar di sandaran kursi meja belajar yang ia duduki saat ini. Dia menghela napas dan berpikir. Sebenarnya dia berpikir sejak seharian ini, dimulai dari debat yang terjadi dirumah ibunya dan sekarang dia melihat keadaan Mike yang seperti ini. Apakah benar Mike adalah Der Kreuzer? Bisakah seorang yang religius sepertinya bisa menjadi Der Kreuzer? Baru saja dia mau mencari tahu bagaimana kondisi kesehatannya, dia langsung melihat jawabannya. Mike terlihat sehat - sehat saja ketika baru tiba disini sekarang keadaannya seperti ini, apa ini artinya iblis Der Kreuzer mulai menguasai tubuhnya? Kalau seperti itu, itu artinya mike adalah Der Kreuzer, tapi apakah bukti - buktinya sudah cukup? Dari 119 mahasiswa baru yang tersisa, dia tidak yakin ada yang keadaannya seperti Mike, atau mungkin ada ditempat lain? Tapi dia tak punya waktu untuk mencari diluar kampus sedangkan teman sekamarnya sendiri menunjukkan gejalanya.


Ini belum cukup bukti. Der Kreuzer akan menandai korbannya dengan darahnya, tapi dia belum melihat ada darah pada Mike. Apa dia harus menunggu sampai teman sekamarnya berdarah? Bagaimana kalau saat itu ternyata iblis Der kreuzer sudah menguasai penuh tubuhnya lalu Darek dan pihak gereja mengetahui ini semua dan Mike akan dibakar atau ditenggelamkan oleh mereka? Itu semua sudah terlambat. Tapi Ritter tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mencegah hal itu terjadi, bagaimana menolong Mike sebelum terlambat? tanpa harus ada korban jiwa.


Ritter menghela napas, dia agak lelah memikirkan ini. Mungkin dia bisa menemukan jalan keluarnya setelah ini, dia perlu tidur sebentar. Dia berjalan kekamarnya, mengambil bantal dan kembali kekamar Mike. Tadinya dia mau tidur dikamarnya sendiri tapi dia takut nanti Mike tidur berjalan dan keluar kamar lagi, daripada terjadi hal yang tidak diinginkan, lebih baik dia tidur sambil bersandar di meja belajarnya Mike saja. Dia akan tahu jika Mike tiba - tiba terbangun dan tidur berjalan lagi.


Ritter meletakkan bantalnya di meja lalu dia menyandarkan kepalanya disitu, memejamkan matanya dan mengosongkan sejenak pikirannya. Tak lama kemudian dia pun tertidur.

__ADS_1


__ADS_2