
Mike membuka matanya perlahan dan melihat langit - langit kamarnya yang kusam. Matahari pagi menyinari kamarnya dengan sinarnya yang pucat, Itu sudah cukup membangunkannya dari tidur pulasnya. Cukup untuk memutar kembali ingatannya atas apa yang terjadi sebelumnya. Dia ingat dia bermimpi, dia bermimpi melihat Jason duduk dikursi disamping tempat tidurnya, menatapnya lekat - lekat, tapi tidak terlihat raut bahagia diwajahnya. Jason terlihat sedih dan seperti mengkhawatirkan sesuatu. Jason tidak mengatakan apa - apa, hanya menatapnya dengan kasihan. Lalu dia ingat apa yang terjadi tadi malam, ketika dia tak bisa merasakan tubuhnya dan dia melihat hantu anak kecil yang ada di danau berubah menjadi tengkorak dan 4 biarawati mengerikan yang mengejarnya. Dia bergidik ngeri mengingat itu. Mike mencengkram rambutnya dan dalam hati berharap nanti malam tidak seperti itu lagi atau kapanpun itu. Dia sekilas melihat gelang rosarionya dan entah kenapa rasa sedih memenuhi hatinya.
"Tuhan, apa yang terjadi padaku?" Dia menatap salib rosarionya, salib itu seperti balas menatapnya dalam diam, tapi justru itu membuatnya tersadar, dia tidak boleh lemah. Hadapi ini semua, tak lama lagi pasti akan berlalu. Dia menghela napas dan mengucek matanya. Hidungnya masih tersumbat dan tenggorokannya masih agak gatal tapi separah kemarin.
Ponselnya bunyi, ada pesan masuk. Dari Carel.
Carel : Hey, kau ada rencana apa hari ini?
Mike : Belum ada
Carel : Bagaimana kalau kita ke jalan - jalan? Ada pameran foto di museum Kunstpalast.
Mike berpikir sejenak. Sebenarnya dia mau istirahat hari ini, berharap flu nya sembuh jika dia seharian tidak keluar kamar karena besok dia mulai kerja di Think's Art tapi di lain sisi dia tidak enak karena diajak jalan - jalan langsung oleh bosnya. Jadi Mike menjawab,
Mike : Kelihatannya menarik, Okay aku ikut.
Carel : Aku jemput kau jam 11 didepan kampus di jalan Universitatsstrase dekat halte bus. Bersiaplah, perjalanannya agak jauh.
Mike melihat jam di ponselnya, sekarang sudah jam 10 lebih. What? dia tak pernah tidur sampai selama ini sebelumnya. Dia mandi sebentar lalu dia memakai red flanel shirt and unzipped hoodie terry warna abu muda. Terlihat tidak nyambung warnanya, tapi dia tidak peduli karena hanya itu yang ada. Dia memasukan buku sketch dan pensil ke sling bagnya. Dia selalu membawa itu semua jika dia sedang dijalan dan menemukan pemandangan yang bagus untuk digambar. Dia mencari sepatu Converse nya tapi sepertinya dia lupa itu diletakkan dimana.
"Suchst du deine schuhe?" (Apakah kau sedang mencari sepatumu?) sebuah suara tiba - tiba terdengar. Mike kaget dan dia melihat seorang gadis kecil berusia sekitar 7 tahun tengah berdiri didekat pintu kamar. Dia tidak memakai sepatu. Dia memakai gaun terusan berwarna putih dengan renda dan dia terlihat pucat. Transparan.
Mike menelan ludah, dia tak menyangka akan melihat hantu lagi secepat ini. Dan hantu itu ada dikamarnya.
Gadis kecil itu ekspresi wajahnya datar, entah dia sedang senang, sedih atau marah, "Ich weiß wo es ist," (Aku tahu dimana)
"Wo ist es?" (Dimana?) Mike memberanikan diri bertanya kepadanya.
"Es ist unter deinem bett," (Di kolong tempat tidurmu), jawab gadis kecil itu sambil menunjuk dengan jari mungilnya ke kolong tempat tidur.
Mike melihat ke kolong tempat tidurnya, sepatunya ada disana. Dia tidak ingat menaruhnya disini. Dia mengambil sepatunya dan memakainya, dia tidak menoleh melihat hantu gadis kecil itu ketika sedang mengikat tali sepatu, tapi dia bisa merasakan hantu gadis kecil itu masih berdiri disana sambil menatapnya. Mike berdiri dan memakai sling bagnya.
"Wohin gehst du?"(kau mau kemana?), Gadis kecil itu bertanya dengan suaranya yang lembut.
"Irgendwohin gehen, wo es schön ist," (somewhere nice), jawab Mike. Dia merasa seperti orang gila yang berbicara dengan hantu.
"Darf ich mit dir kommen?" (Apakah aku boleh ikut?)
"Nein," (no)
Mike melangkah menuju pintu kamar dan hendak membukanya tapi gadis itu bertanya lagi, "Apa kau melihat adikku?"
Mike terdiam sesaat, dia menatap gadis kecil yang tepat disebelahnya itu. "Dia seperti apa?"
"Lebih pendek dariku. Dia biasa ada didanau itu tapi aku cari tidak ada."
Mike seperti menyadari sesuatu. Mungkin yang dia maksud adalah hantu anak laki - laki yang dia temui sebelumnya. Hantu anak laki - laki yang tadi malam berubah menjadi tengkorak dan abu.
"Aku tidak tahu," jawab Mike sambil membuka kunci pintu.
"Kau bohong." Gadis itu menjawab dengan ekspresi datar.
Apa hantu itu tahu kalau tadi malam dia melihat adiknya didanau? Benarkah hantu itu tahu dia berbohong. Walaupun ekspresi hantu itu datar, tapi dia merasa hantu itu kesal. Sepertinya gadis kecil itu tidak terasa damai seperti sebelumnya. Rasa takut mulai terasa merayapi Mike.
Mike tidak menjawab gadis kecil itu, dia membuka pintu dan menutupnya dengan keras lalu dia berlari menusuri koridor asrama sampai dia menyadari kalau dia belum mengunci pintunya, tapi tidak berani kembali kesana.
Sesampainya diluar area kampus, Mike bernapas sejenak karena ngos - ngosan setelah berlari dari asrama, menyusuri halaman kampus dan sampai kesini, itu membuatnya batuk berat hingga dia membungkuk dan berpegangan pada lututnya. Setelah batuknya reda, dia baru menyadari kalau dia tidak sesak napas ketika bertemu hantu gadis kecil tadi. Itu membuatnya semakin tidak mengerti. Terkadang dia sesak napas jika melihat hantu, terkadang juga tidak. Apa yang sebenarnya terjadi?
Mike mengedarkan pandangan disekelilingnya. Di jalan universitatsstrase, tidak terlalu banyak orang yang lewat. Banyak mobil parkir dipinggir jalan dan deretan pohon maple dan mandelbaum yang daunnya berwarna cokelat dan merah. Mike berjalan menuju halte bus sambil sesekali melihat langit pagi yang putih diatasnya.
Jason, apakah matahari bersinar ditempatmu berada?
__ADS_1
Suara klakson mobil terdengar dibelakangnya. Mike menoleh dan melihat mobil Audi Q8, kepala pengemudinya melongok keluar dari jendela.
"Hey, tadi aku ragu - ragu mau memanggil. Ternyata itu benar kau, ayo masuk." Carel memanggilnya. Mike tersenyum, dia masuk ke mobil duduk di kursi penumpang depan.
"Jak się masz?" (how are you?), tanya Carel sambil menjalankan mobilnya.
"Apa?" Mike tidak mengerti apa yang ditanyakan
Carel, "What language is it?"
"Polandia," jawab Carel dengan bangga.
"Jadi kau bisa bahasa Polandia? Wow,"
"Sebenarnya aku bisa dua bahasa lainnya, Polandia dan Inggris. Itu menarik jika kau mempelajari bahasa - bahasa yang ada didunia. Bahasa adalah kunci untuk membuka jendela dunia.
"Yeah, itu yang aku rasakan ketika mempelajari bahasa Jerman,"
"Ngomong - ngomong, bagaimana kabarmu?"
"Aku okay,"
"Benarkah? kau kelihatan pucat. Mungkin kau kurang kena sinar matahari, sering - seringlah main ke pantai."
Mike tertawa, "Sebenarnya aku sedang flu tapi sudah mulai membaik,"
"Obat flu yang terbaik adalah makan. Seriously, sepertinya kau harus makan yang banyak. Kau kelihatan kurus. Kau sudah makan?"
"Sudah,".
Iya sudah makan. Kemarin.
"Oh, aku dengar dari Audric kalau Ritter teman sekamarmu,"
"Aku harap dia bisa menyelesaikan kuliahnya. Apa dia memperlakukanmu dengan baik? maksudku aku tahu dia agak temperamen,"
"Kau benar, kadang dia galak tapi dia suka membawakanku makanan," Mike jadi teringat kejadian tadi malam, justru dialah yang membahayakan Ritter. "Jadi kita mau kemana?"
"Fremint menggelar pameran foto di galery museum Kunstpalast tepatnya di Ehrenhof. Dia memberiku 2 free entrance, jadi aku mengajakmu,"
"Apa temanya?"
"Judulnya Damals Und Heute (dulu dan sekarang), konsepnya menyatukan 2 foto dalam satu frame dimana sisi sebelah kiri adalah 'dulu' dan yang kanan adalah 'sekarang'."
"Dulu dan Sekarang tentang apa?"
"Tentang Dusseldorf. Jadi kau bisa melihat bagian lama kota Dusseldorf sekaligus melihat keadaannya saat ini dalam satu waktu."
"Itu konsep yang keren,"
"Yeah, dia memang kreatif."
Museum Kunstpalast terletak di Rhine Utara - Westphalia, dekat dengan Sungai Rhine. Museum Kunstpalast adalah museum eklektik yang berfokus pada kerajinan kaca. Eksposisi gelas unik mengaitkan sejarah kaca sebagai bentuk seni dekoratif dari zaman kuno hingga hari ini. Museum ini juga menjadi tuan rumah pameran lukisan-lukisan master tua dan lukisan modern non-kaca terkait lainnya, terutama Jerman tetapi menampilkan beberapa karya seni internasional juga, termasuk seluruh ruangan yang didedikasikan untuk lukisan-lukisan Rubens. Museum ini juga mengadakan pameran seni dan fotografi khusus secara berkala.
Mike melongo kagum ketika masuk ke galery fotografinya. Dia sebenarnya jarang ke museum, mungkin terakhir ke museum ketika dia masih SD, tapi museum ini tampaknya membuatnya terpesona.
"Hay Fremont," panggil Carel ketika Fremont baru selesai berbicara dengan kurator museum.
"Hay Bro, terima kasih sudah datang," jawabnya. Fremont kelihatan bersemangat sekali.
"Good job Fremont, foto - foto nya luar biasa," Carel menepuk pundak Fremont.
__ADS_1
"Hay Freemont, terima kasih untuk tiket masuk gratisnya," kata Mike
"Tak masalah," lalu Fremont bertanya pada Carel sambil nyengir, "Carel, aku minta kau mengajak pacarmu, kau malah mengajak Mike, hahaha."
"Aku tak punya pacar, apa aku harus cari pacar dulu untuk kesini? itu merepotkan. Jadi aku ajak Mike saja, itu lebih baik." jawab Carel dengan santai lalu mereka tertawa terbahak - bahak.
Mike tidak mengerti apa yang mereka tertawakan, dia memilih melihat - lihat foto. Pengunjung galery ini banyak tapi rata - rata manula. Anak muda hanya beberapa, dan sepertinya mereka turis. Mereka sampai menghabiskan waktu lama hanya untuk menatap satu foto. Itu artinya mereka benar - benar menikmatinya hingga terasa seperti menjelajahi ruang dan waktu.
Ada satu foto yang membuatnya tertarik. Foto sebuah pabrik tua dibagian 'dulu' dan sebuah tanah kosong dengan ilalang, hanya ada sedikit sisa pondasi bangunan dibagian 'sekarang'. Yang membuatnya tertarik adalah bentuk pabriknya. Bentuknya sama persis dengan yang dia lihat didekat kampus ketika dia baru tiba di Heinrich Heine. Dia melihat keterangan dibawah frame foto dan dia merinding. Foto bagian 'dulu' diambil tahun 1912, setelah itu pabrik terbakar habis dan keadaannya sekarang di foto bagian 'sekarang'. Lokasinya didekat kampus.
Apa dia waktu itu melihat penampakan hantu pabrik tua ini? seperti ketika dia melihat Balai Kota yang sedang dibangun.
Memikirkan ini membuatnya jadi pusing. Dia tak mau membayangkannya dulu, dia mengalihkan pandangannya ke foto yang lain. Atau mungkin dia pusing karena belum makan? Jujur, sebenarnya dia lapar.
Setelah kurang lebih satu jam di galery foto, mereka ke galery seni dimana banyak terdapat lukisan dari para maestro Belanda dan Belgia serta koleksi seni kontemporer yang lengkap. Di galery seni terdapat koleksi yang dirintis oleh Johann Wilhelm II dan beberapa pelukis Belanda dan Belgia lainnya, termasuk termasuk Kenaikan Perawan Maria (Assumption of the Virgin) karya Peter Paul Rubens. Terdapat juga karya seni Roma dan Italia Utara dari abad ke-17 dan 18. Di antaranya adalah lukisan cat minyak Aleksander dengan Mayat Darius (Alexander with the Body of Darius) karya Giovanni Antonio Pellegrini.
Mike benar - benar terpesona melihat lukisan - lukisan itu, dia sempat berpikir manusia macam apa yang bisa melukis lukisan seperti itu. Lukisannya seperti hidup, seperti menceritakan kisahnya masing - masing tanpa harus ada narasi yang tertulis padanya.
Sebuah tepukan dibahu menyadarkannya,
"Mike, bagaimana menurutmu galery fotonya Fremont?" tanya Carel.
"Jujur, aku lebih memilih galery lukisan ini,"
Carel tertawa, "Kenapa?"
"Karena konsep foto 'Dulu dan Sekarang' dengan foto kuno hitam putih itu agak terlihat mengerikan. Untuk ku. Tapi mungkin itu menarik bagi orang lain, selebihnya aku suka dengan konsepnya."
"Hahaha, kau jujur sekali. Btw setelah ini aku mau ke daerah Ratingen, ada pameran alat musik disana? kau mau ikut?"
"Ratingen dimana?"
"Agak jauh sih, kau mau ikut?"
Masih saja dia tidak mau melihat alat musik sampai saat ini, dia tak mau melihat atau memegangnya. Dia masih ingin lari dari ingatannya dan lagipula dia lapar, jadi dia menolak ajakan Carel.
"Umm...mungkin kau bisa turunkan aku di tepi sungai Rhine,"
"Oh, okay. Kau yakin tak mau ikut?"
Mike mengangguk.
"Apa yang akan kau lakukan disana?"
"Membuat beberapa sketsa, aku tadi sempat melihat jembatannya dalam perjalanan kesini. Jembatan dan sungainya sangat indah,"
"Yeah itu benar. Buatlah yang bagus, nanti kau boleh pajang di Think's Art."
"Bolehkah?"
"Yeah tentu saja. Kau tahu? Think's Art menjual art supplies tapi tak ada pajangan lukisan disana."
"Okay, thank you," jawab Mike dengan wajah berseri - seri.
***
Mike turun di jalan Robert Lehr Ufer. Jalan yang berbatasan langsung dengan sungai Rhine dimana dipinggir jalan terdapat hamparan rumput dengan bangku taman yang menghadap ke sungai Rhine. Dari situ dia bisa melihat jembatan Theodor Heuss yang kokoh. Sebelum mencari spot yang bagus untuk menggambar dia mengambil beberapa foto pemandangan indah tersebut. Ada dua orang nenek - nenek yang sedang mengayuh sepeda di tepi jalan tersebut. Saat Mike mengarahkan kamera ponselnya ke arah mereka, nenek - nenek itu tersenyum. Beberapa menit kemudian, seorang kakek melintas di lokasi yang sama, juga menggunakan sepeda kayuh. Menit-menit berikutnya, pesepeda melaju atau pejalan kaki berjalan santai di jalan bantaran Sungai Rhine ini. Tidak sedikit para pejalan kaki ditemani anjing-anjing kesayangan mereka.
Setelah cukup mengambil foto, dia duduk dikursi taman yang menghadap ke sungai Rhine dan jembatan Theodor Heuss. Baru saja dia mengeluarkan buku sketch nya, ada suara yang terdengar mengajaknya bicara,
"Kannst du mich zeichnen?" tanya orang tersebut, suaranya terdengar seperti suara anak kecil.
__ADS_1
Mike mencari sumber suara tersebut dan melihat seorang gadis kecil seumuran dengan yang dia temui dikamarnya tadi sedang bergandengan tangan dengan seorang anak kecil laki - laki yang lebih pendek darinya, dihadapannya. Gadis itu berambut pendek ikal pirang dengan wajah pucat dan memakai gaun putih tulang dengan hiasan pita, sedangkan anak laki - laki disebelahnya memakai pijama tanpa sepatu dan ada bekas lubang hitam kecil di dahinya, seperti bekas luka tembak. Mereka transparan dan tak punya bayangan.
Oh sial...jangan lagi.