
Aldo, Leon, Maya dan Keyra langsung ke rumah sakit tempat Devano dirawat.
Keyra merasakan jantungnya berdegup lebih cepat, apalagi saat tahu Devano dirawat di rumah sakit.
"Emang Devano kenapa sih sampai harus dirawat?" tanya Keyra.
"Iya, gue juga kok ketinggalan berita!" ujar Maya.
"Eng---" Aldo dan Leon saling tatap. Belum sempat menjawab, Momy-nya Devano datang bak penyelamat. Bukan datang, mungkin karena kebetulan mereka berpapasan.
"Tante," sapa Aldo dan Leon barengan.
"Ya, ampun! Mau nengok Devano ya? Eh, Keyra! Bareng mereka juga?" tanya Keyra pada putrinya Bram.
"Iya, Tante! Diajakin mereka, lagian aku sama Devano satu kelas jadi kami berinisiatif jenguk kesini," alibi Keyra.
"Yaudah kalian masuk aja dulu, kebetulan! Tante nitip sebentar, ya? Mau pulang ngabarin Omanya Devano."
"Iya Tante," jawab mereka serempak.
"Al, anterin Tante bisa? Papanya Devano soalnya lagi kerja," pinta Keyra.
"Bisa, Tan! Leon, lo anter mereka ke ruangan Devano!"
"Oke, beres."
Sebenarnya, Keyra tak pernah menyangka jikalau sang putra ternyata mengenal anak-anak Bram, bahkan Devano sempat berpacaran dengan almarhum Arin. Hal itu membuat Keyra merasa semua ini bukan hanya kebetulan, apalagi mengingat dulu saat Bram masih menjadi suami Elen, betapa Keyra sangat membenci laki-laki kasar itu hingga pernah menyumpah serapahinya.
Namun, kembali takdir Tuhan tidak ada yang tau bagaimana benang kusutnya.
"Devano!" panggil Leon begitu masuk ruang rawat Devano. Devano yang membelakangi posisi pintu pun membaringkan badannya perlahan.
Syok, mungkin itu yang membuatnya hampir lupa bernapas. Bagaimana Keyra datang bersama Leon dan Maya di ruang rawatnya.
Saat tahu marga Keyra sama dengan Arin, pikiran Devano bertindak menyambungkan satu persatu sekelumit rahasia. Dan benang kusut itu terpecahkan dengan datangnya Om Bram kemarin menceritakan semuanya.
"Astaga, itu hidung aman?" pekik Maya heboh saat melihat wajah Devano bagian hidung tertutup perban.
"Ya, sakit!"
Keyra salah tingkah hingga lebih memilih diam.
"Siapa dia? Makhluk mana kok cantik," kelakar Devano semakin membuat jantung Keyra serasa ingin melompat keluar.
"Gembel mukidi, jangan pura-pura amnesia!" cibir Keyra dengan pipi sudah merona.
"Yang luka bukan kepala, tapi hidung!"sambungnya lagi.
"Dih, cupu! Gue lagi sakit bukannya berempati malah mencak-mencak, kasih vitamin dikit kek." Devano mengulum senyum.
"Hati-hati Key, Devano ini suka modus!" canda Leon.
__ADS_1
"Gimana kabar lo, masih sakit ya?" tanya Leon dengan gubluknya.
"Ya sakit, dari tadi gue bilang sakit masa iya pura-pura!"
"Udah-udah, kita kesini mau nengok Devano kan! Bukan malah adu debat lu pada. Jadi gimana ceritanya tukang hukum murid bonyok gini?" tanya Maya menelisik wajah Devano.
"Gegara buntutin Keyra! Gue kan khawatir dia diapa-apain Moza makanya gue ikutin ke belakang sekolah!"
Keyra melongo dengan cengo, perasaan kemarin ia sama sekali gak melihat Devano mengikutinya. Kenapa sekarang ia bilang kalau Devano mengikutinya?
"Yakin lo ngikutin gue?" tanya Keyra tak percaya.
"Iya, tapi gue gak muncul pas elo disana! Lagian lo baik-baik aja gini, gue jadi nyesel nyusulin kesana karena malah gue sendiri yang bonyok."
"Ohhh..." Keyra mengangguk-angguk.
"Masalahnya kemarin gue udah cosplay jadi macan dan bikin tato cakar di wajah Moza, masa iya lo kaya gini gegara mereka?"
Maya menatap horor kuku-kuku Keyra, memang panjang dan bahkan terawat cantik. Wajar jika wajah Moza penuh cakaran, membayangkan saja sudah membuat bulu kudu Maya berdiri.
"Leon, bisa anter gue ke kantin bentar!" pinta Maya. Bukan meminta diantar Keyra, tapi Maya malah meminta Leon yang mengantarnya.
"Wait, terus gue?" tanya Keyra.
"Bentaran doang, ya lo jaga Devano disini! Gak inget tadi nyokapnya bilang apa?"
"Ah ya udah."
"Jadi bener lo anaknya Om Bram?" tanya Devano berbasa-basi, ia tak akan menyinggung apapun soal Arin saat ini.
"Hm, ya! Dan gue pindah sekolah ke Dirgantara buat menyelidiki hal janggal kematian saudara kembar gue!"
"Apa??? Saudara kembar??? Jadi bener."
"Kok lo kaget gitu, kenal sama Arin?" tanya Keyra.
Deg.
Jantung Devano berdegup kencang, bukan karena gugup hanya ia bingung harus menjawab apa pertanyaan Keyra. Kerongkongannya tiba-tiba kering, ia memilih mengambil air minum di atas nakas, akan tetapi karena selang infus yang menjadi penghalang, Devano pun sedikit kesusahan mengambilnya.
"Haus ya, kok gak bilang? Kan bisa gue ambilin!" Keyra dengan sigap mengambilkan segelas air putih untuk Devano.
"Bisa nggak, atau mau gue bantu?" tawar Keyra.
"Bisa kok bisa..."
Sekelebat bayangan sikap semena-menanya melintas di kepala. Devano jadi menyesal pernah memperlakukan Keyra seenak jidatnya, padahal Keyra orang yang cukup asik dan baik.
"Makasih, cu-- ! Maksud gue makasih, Key. Nama lo sama dengan nyokap jadi agak bingung juga," alibi Devano.
"Lo bisa panggil gue Rara, kalau emang susah panggil Keyra!"
__ADS_1
"Panggil cupu aja ya," Devano mengerlingkan matanya.
"Gue patahin tangan lo, mau?"
"Hahaha, bar-bar banget sih lo jadi cewek! Lembutan dikit napa! Atau mau gue panggil sayang," Devano meringis.
"Sayang pala lo peyang," gerutu Keyra.
Sementara di kantin, Maya dan Leon justru asik minum es saking hausnya.
"Lima belas menit lumayan lah buat mereka berduaan."
"Baru juga lima menit, Mae. Lagian jarang-jarang gue berduaan sama cecan gini, apalagi lo agresif banget narik gue. Berasa gak jomlo haha," kelakar Leon sambil menyeruput esnya.
Maya memutar bola matanya, "lo emang ganteng sih! Tapi masih gantengan Aldo," aku Maya.
"Sialan lo," gerutu Leon.
Puas meninggalkan Devano dan Keyra, mereka kembali tanpa dosa ke ruangan.
Namun, yang terjadi dua insan itu tengah saling melempar candaan akrab sehingga Maya dan Leon tertahan di dekat pintu masuk.
Momy Keyra, Oma Idha dan Aldo pun yang baru datang ikut menghentikan langkahnya di depan pintu.
"Oalah jadi ada yang lagi pedekate," goda Keyra masuk disusul Oma idha, sementara yang lain memilih duduk di luar sementara waktu.
"Enggak, iya nih!" jawab Keyra dan Devano tak kompak.
"Hm, jadi gak dapat..."
"Stttt..." potong Devano mengisyaratkan agar momy merahasiakannya.
"Oke oke, sukses buat anak Momy!" Keyra tersenyum. Idha mendekat ke arah cucu satu-satunya. Seperti biasa, Devano akan bermanja-manja dengan Oma kesayangannya.
"Key? Gimana perkembangan kasusnya? Papamu udah lapor?" tanya Momy-nya Devano.
"Iya, Tante! Tapi masih susah juga karena saksinya Devano masih sakit."
Devano pun mengambil ponselnya, "mana nomer ponsel, lo?"
"Sini hape lo biar gue tulis," pinta Keyra.
"Eh jangan! Gue aja yang nulis lo sebut," ujar Devano. Ia tak mungkin membiarkan Keyra tahu kalau walpaper ponselnya saat ini adalah Arin, bisa-bisa rencana mendekati gadis itu gagal sebelum berjuang.
"Ah, oke."
Devano mengirim video kejadian sebenarnya ke nomor ponsel Keyra.
"Pakai itu buat bukti, kasih aja ke Om Bram!"
Keyra mengangguk, hingga hari sudah sore mereka semua masuk dan pamit pulang.
__ADS_1